Mencintai Dalam Diam

Mencintai Dalam Diam
Bab 133 Anton Meninggal


__ADS_3

Setiadi tertegun sejenak setelah mendenar penjelasan Elang


" Anton masih hidup!?"


' Iya, kek,l. Saat ini sedang di rawat di rumag sakit karena tertembak.."


" Apa kau bahagia mengetahui kenyataan ini, maaf Elang, kakek sangat membenci pria itu..dia sudah membunuh Dewi dan istriku sekaligus.."


Elang diam sejenak, sedikit kecewa karena tidak bisa membujuk sang kakek menemui Anton .


Flash back on.


" Tuan...bapak Anton Sudan sadarkan diri. Apakah anda mau menemuinya?' tanya seorang perawat, begitu keluar dari ruangan perawatan milik Anton.


" Apakah sudah sadar!? syukurlah! saya akan menemuinya, sus."


Sedikit ragu Elang kemudian membuka pintu itu, ruangan serba putih dan steril, bau obat-obatan menyengat menyambut. Anton terbaring dengan mata terpejam,dada nya turun naik dengan teratur.


Saat saat derit pintu menutup berbunyi


Pria itu membuka mata, sedikit terkejut melihat saat melihat Elang mendekat perlahan ke arah ranjang.


Di


Anton ingin bicara namun mulutnya di bungkam oleh selang oksigen.


dia hanya bisa bicara lewat tatapan mata, menyiratkan isi hati Anton saat ini.


' Aku sudah tahu semua....anda pria dari masa laluku yang kelam."


Elang melihat laki laki itu dengan sorot dingin.


Sejujurnya Elang sangat membencinya.


tapi pengorbanan yang baru di lakukan pria itu membuat serba salah.


" terima kasih sudah menyelamatkan aku..."


Elang melihat jari Anton bergerak pelan


" Tidak perlu mengucapkan apapun.. Aku paham apa yang ingin anda katakan...sebaiknya anda istirahat l. Setelah sembuh aku ingin mengajak Anda berkunjung ke makam ibu.."


setetes air mata luruh dari wajah keriput itu.


Air mata haru dan penyesalan.


Dia sudah tidak tahan


Anton berkedip


pria itu berusaha melepaskan selang yang terpasang sebagai alat bantu pasokan oksigen ke tubuhnya.


" Hei apa yang anda lajukan!?"

__ADS_1


sontak Elang menjadi panik ingin mencegah Pria itu melanjutkan aksinya.


" hentikan ! Anda bisa membahayakan diri sendiri..."


" T- ti- dak biarkan...Aku bicara " kata Anton terbata-bata.


" aku harus bicara...pada putra ku.." Anton tersenyum getir mengabaikan kepanikan Elang.


" Ma- ma afkan-ba-ba


pak...Elang. Ba- bapak menyesal sudah banyak menyakiti kamu dan I-bumu..."


Tangan Anton terjulur menyentuh Elang.


tangan tua kurus dan keriput itu menggenggamnya.


"bapak memang pria bodoh! sudah menyia- nyia kan kamu dan ibumu...percayalah elang, selama ini bapak sudah menerima setengah dari hukumannya. "


Elang diam matanya mulai berkaca menahan tangis.


Rasa benci itu menyakitkan tapi melihat laki-laki itu begitu lemah hati Elang terluka..


" Bo- boleh bapak memelukmu' tanyanya penuh harap.


Elang meraih tangan Anton, tanpa bicara dia memeluk laki laki itu yang kian tersedu.


hening beberapa saat hanya terdengar suara serak Anton yang menangis.


" Bapak ingin bertemu Tuan Setiadi , biskqh kamu membawanya kemari. Bapak juga ingin Minda maaf pada beliau ..."


" Tolong...Bapak tidak bisa tenang sebelum bertemu dengannya.


Tuan Setiadi adalah kakekmu, Nak.."


"Aku sudah tahu...Kami bertemu beberapa kali dan hubungan saya dengan kakek cukup baik." sahur Elang


Anton terpana.


" k-kamu sudah bertemu?"


" Saya akan coba minta kakek datang kemari menemui Anda..." sahut Elang singkat.


Mata Anton berbinar senang.


flashback off


Elang kembali ke rumah sakit tanpa kehadiran Setiadi seperti permintaan Anton.


Setiadi menolak mentah-mentah keinginan Anton.


pria itu sudah memaafkan Anton hanya saja belum siap bertemu dengan lelaki yang sudah membuat putri dan cucunya begitu menderita.


" Sus ada apa!? " Elang menghentikan seorang perawat wnauta karena merasa heran bahkan jantungnya terasa berdebar ketika melihat kamar Anton sudah ada dokter dan beberapa tenaga medis memasang wajah pucat dan panik.

__ADS_1


" Bapak Anton kritis. kemungkinan nyawanya tidak bisa tertolong lagi.."jelas perawat itu.


" Apa!?"


Elang segera berlari masuk ke dalam ruangan serba putih itu.


kakinya seketika melemas saat melihat tubuh Anton sudah terbujur kaku, semua peralatan bantu medis yang terpasang di tubuhnya di copot satu persatu."


" Innalillahi wa Inna ilaihi Raji'un"kalimat yang di lafazkan dokter itu menyadarkan Elang bila Anton sudah pergi untuk selamanya.


hati Elang bagai teriris.


menyaksikan tubuh Anton seluruhnya di tutupi oleh selimut.


" maaafkan kami Tuan...Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi sudah takdir beliau harus pergi sekarang.." Dokter berparas cantik itu berkata sendu dengan sorot penyesalan.


" Saya mengerti, terimakasih, dokter Rani, saya akan segera mengurus kepulangan nya.." sahut Elang tanpa menatap dokter itu.


matanya hanya terpaku ada jasad kaku milik Anton.


Perasaan Elang terasa campur aduk.


Gundukan tanah merah itu di taburi bunga dan air mawar.


Anara terisak dalam pelukan Elang.


" kakek Anton, Eh! maksudku bapak itu pria yang baik dan menyenangkan.


Aku tidak menyangka beliau akan pergi secepat ini"


" Sayang..Ikhlaskan saja...sudah ketentuan namanya juga takdir...siapa yang bisa nolak takdir..."


Anara menyeka air matanya. lalu melihat Elang intens


" Aku heran, sama kamu .. kenapa nggak ada sedih sedihnya.


Kakek itu bapak kandung kamu, El.."


Elang menghela nafas.


Lalu mengacak rambut panjang Anara.


" pulang yuk! udah sepi , udah panas juga." Elang berusaha melindungi kepala Anara dengan payung yang di bawanya.


"Ish! nyebelin! orang ngomong di cuekin." Anara memalingkan muka dan mengerucutkan bibirnya.


" Sayang....Ayo. nanti aku gendong loh!"


Elang kangsung melingkarkan tangan di area pinggang Istrinya.


" Iya..ok! Kita pulang."


Anara bergerak gesit berusaha menghindar rangkulan sang suami

__ADS_1


Elang tersenyum saat Anara mendahului nya


menuju mobil mereka.


__ADS_2