
Dari atas balkon di pandangnya langit semburat jingga bagaikan lukisan alam mulai nampak. Burung-burung beterbengan beriring membelah langit yang mulai temaram. Pohon-pohon dengan dedaunan yang menghijau,kini nampak mulai bagaikan siluet,dengan dahan-dahan yang membentang berayun lembut bersama hembusan angin.
"Nug.....apa kabarmu saat ini. Aku kangen suaramu,kangen manjamu. Adakah kamu merasakan sama seperti yang aku rasa Nug......?"Tanya hati Rose. Hatinya begitu terasa perih dalam ketidak berdayaannya. Pandangan matanya nanar menatap langit yang mulai redup. Matanya nampak berembun,bulir-bulir kristal bening menggenang di sudut matanya,dan akhirnya luruh menganak sungai,membelai pipi mulusnya.
Rindu yang di genggamnya dan hati yang di jaganya,bagaikan menjaga harta karun yang sangat berharga. Ada perasaan takut kehilangan dan takut di tinggalkan. Kenangan demi kenangan bagaikan rangkaian film yang berputar,menayangkan adegan demi adegan perjalanan kisah cintanya.
Hati yang awalnya beku dan hampa,lambat laun mencair dan tumbuh cinta yang bersemi. Yang semakin lama semakin tumbuh mengakar dan berbunga.
"Walaupun kamu berada nun jauh disana,aku kan menjaga cinta ini,menjaga janji kita untuk hidup berasama Nug.....ku titipkan rindu ini bersama semilir angin yang berhembus. Semoga rindu ini akan sampai kepadamu,di manapun dan dalam kondisi apapun dirimu." rintih hati Rose menahan perih hatinya.
Tak di sadarinya ada sepasang mata yang tengah mengawasinya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Jika cintaku hanya boleh sebatas memandangmu,aku rela. Namun jika kau ijinkan,berbagilah cerita denganku.Jangan kamu tanghung sendiri lara hatimu. Aku tak sanggup melihatmu terluka Rose....." keluh Satya dalam hati.
Satya yang sore ini,mau mengajak Rose menemaninya membeli kebutuhan asrama,akhirnya di urungkannya. Begitu melihat Rose yang tengah merenung dan menangis,hatinya tak tega untuk mengganggunya. Satya memberikan waktu untuk Rose melepaskan beban hatinya. Dan harapan Satya Rose mampu melewati hari-harinya dengan baik.
"Yu......." sapa Janti tanpa mandang Rose. Namun tangannya melingkar di lengan Rose dengan cantiknya. Pandangan matanya mengikuti arah pandang Rose.
" Ada apa Janti.....?" tanya Rose sambil menoleh sekilas. Dan kembali menoleh langit yang semakin jingga.
"Kamu pasti sedang merindukannya ya.....
"Belum Jan....bahkan suratku sampai yang ke 4 kalinya belum berbalas juga." jawab Rose lirih.
__ADS_1
"Mungkin masih di daerah konflik,jadi belum sampai di tangannya." kata Rose menenangkan diri sendiri. Tersungging senyum getir menghiasi bibir ranumnya. Sesekali di sekanya bulir bening yang meluncur membasahi pipi halusnya.
Janti yang menyadari Rose semakin terluka hanya mampu mengelus lengannya.
"Surat pengajuan juga sudah di kirim juga Yu.....?" tanya Janti.
" Sudah. Mungkin ini cara Allah memberikan waktu supaya aku bisa lulus dulu ya Jan.....
"Semoga niat baik kami si ijabah Allah." jawab Rose yang di amini di dalam hati.
"Aamiin....." jawab Janti. Pandangannya tertuju pada wajah Rose. Nampak luka dari sinar matanya yang nampak sendu.
__ADS_1
"Jangan bersedih Yu.....kamu wanita kuat,manita hebat. Tetep semangat. Apalagi kita sudah masuk tingkat akhir. Jangan sampai nilai-nilai kita hancur di tahun-tahun terakhir kita." kata Janti menyemangati Rose.
" Iya....aku harua semangat. Dan nggak boleh loyo. Apapun yang terjadi,cita-citaku harus tercapai. Untuk diriku sendiri dan juga kedua orang tuaku." kata Rose sambil memeluk sahabatnya. Keduanya saling menguatkan dan saling memberikan support.