
Rose dan teman-temannya pergi ke pantai. Sebagian dari mereka berlari-lari kecil,dan ada pula yang berboncengan naik motor.Namun Rose dan Janti lebih menikmati udara pagi ini dengan berjalan kaki. Satya yang melihat Rose berjalan kaki ke arah pantai mengikutinya dari belakang.
Satya dan Adi berjalan tak jauh di belakang Rose.
"Rose orangnya anggun banget ya.....kalau aku belum punya anak dan istri pasti aku pacari dia." kata Adi berbisik di dekat Satya. Adi menggoda Satya karena dari tadi dirinya melihat Satya tak lepas memandangi Rose.
"Ish...... Apaan sich. Inget umur." kata Satya yang kemudian mengalihkan pandangannya. Satya merasa malu karena ketahuan Adi sedang mengagumi Rose.
" Kejar dia....sebelum di ambil orang lain !" kata Adi meprofokasi Satya.
"Nggak lah....cukup aku mengaguminya dalam hati dan dari jauh. Dia sudah punya tunangan.Dan sedang berdinas di luar pulau. Dan kemarin tunangannya sudah mengajaknya menikah. Aku nggak mau hadir sebagai orang ketiga. Walaupun aku tahu saat ini dirinya sedang rapuh. Dia sedang kecewa dengan tunangannya karena sudah menyalahi perjanjian yang sudah di buat. Mereka sudah sepakat untuk menikah setelah Rose lulus kuliah. Tapi entah ada alasan apa,tiba-tiba tunangannya meminta Rose segera mengirimkan berkas untuk nikah kantor." jawab Satya menjelaskan kepada Adi.
"Kamu tahu banyak tentang dia. Apa dia banyak cerita ke kamu Sat?" tanya Adi penuh selidik.
" Nggak....dia nggak pernah cerita apapun . Bahkan kita juga jarang bertemu. Namun semalam Janti banyak cerita tanpa sengaja. Semalam kamu nggak melihatnya di pendopo setelah makan malam kan....dan kamu juga tahu aku nggak ada di pendopo semalam. Itu karena aku menemani Janti mencari Rose. Dan saat itu aku melihat sisi rapunhnya. Sekaligus aku melihat sisi lembutnya bersamaa. Dia gadis yang hangat dan penuh kasih sayang. Terlihat begitu perhatiaanya kepada Janti. Dan Janti bisa begitu manja. Seperti saat ini. Coba lihatlah......" kata Satya sambil menunjuk dengan dagunya. Di depannya Janti sedang bermanja-manja dengan Rose. Rose layaknya seorang kakak melindungi adiknya.
"Hebatnya lagi....Rose pintar sekali menyembunyikan perasaannya. Semalam aku melihatnya menangis tanpa suara. Gestur tubuhnya menyiratkan hatinya sangat bersedih. Namun ketika kami datang,dia bisa menunjukkan wajah ceria dan penuh tawa." kata Satya lagi.
"Gadis yang sangat luar biasa. Aku kagum dan jatuh cinta padanya Di...." kata Satya lagi.
"Aku tahu dari caramu memandangnya Sat.....tapi kamu juga beruntung bisa mendekatinya. Semoga kamu adalah jodoh yang di siapkan Tuhan untuknya." jawab Adi dengan menyelipkan doa di perkataannya.
__ADS_1
"Aamiin" jawab Satya mengaminkan perkataan Adi.
Rose sudah berada di pinggiran pantai. Rose nampak memandang lurus ke arah lautan. Dia berdiri kokoh sambil merentangkan tangannya. Deburan ombak yang menyapa tubuhnya di biarkan begitu saja. Terkadang ombak menghantam begitu kuat,dan membuat tubuhnya bergetar dan terhuyung. Namun dia tetap menantang ombak yang datang dengan tubuh mungilnya.
"Sat.....dekati dia... Kelihatannya kondisinya tidak baik-baik saja. " kata Adi.
"Biarkan saja. Dia tidak suka ada orang lain mencampuri urusannya. Biarkan dia seperti itu,supaya hatinya lega." jawab Satya. Namun dirinya selalu mengawasi Rose dari jarak yang tak begitu jauh.
Tiba-tiba terdengar suara Rose menjerit....bersamaan dengan ombak yang datang menerpanya. Bima berlari hendak menghampiri Rose. Namun Satya yang melihatnya segera mencegah.
" Biarkan dia....jangan mengganggunya. Dia akan baik-baik saja." kata Satya menarik tangan Bima menjauh.
Dan benar kata-kata Satya. Sesaat berikutnya Rose nampak meraup pasir pantai dan melemparkannya ke tengah ombak yang menyapanya.
Rambut panjangnya yang ďi kepang dan di sampirkan di pundak kanannya beriap-riap terhembus angin pantai. Kaki putihnya dengan tanpa alas kaki menapaki pasir di pesisir pantai.
Rose meraih sebilah bambu yang terbawa ombak. Dia menuliskan sesuatu di pasir pantai dengan bambu itu. Satya mendekat ingin tahu apa yang di tuliskan Rose di sana. Sedangkan Janti selalu berada di dekatnya.
"Nug....aku lelah" Satya membaca tulisan Rose di atas pasir,dan tulisan itu terhapus oleh riak ombak yang menyapa bibir pantai.
Janti memeluk sahabatnya dan membisikkan kata-kata
__ADS_1
" Lepaskan bebanmu yu....dan biarkan semuanya terbawa ombak. Selanjutnya kita fokus ke kuliah kita. Serahkan semuanya kepad kuasa Tuhan"
Rose menghembuskan nafasnya kasar. Setelah itu sebersit senyum terukir di bibir Rose.
"Makasih Jan....kamu selalu ada di dekatku manakala aku terpuruk sekalipun ." kata Rose merentangkan tanganny dan memeluk erat sahabatnya.
Satya merasa sangat lega melihat Rose yang kembali tersenyum. Dan mendekati Rose juga Janti di ikuti Adi dan Bima.
" Wah asyik sekali main berdua. Ajak kita gabung kenapa?" kata Adi mencairkan suasana.
"Sini mas Adi....kita main pasir." jawab Janti.
"Kita bikin istana pasir yuk....!" kata Adi sambil beraimpuh di pasir dan mengumpulkannya untuk membangun istana pasir.
"Aku boleh bergabung ?" tanya Bima.
" Ayok...kita bangun istana pasir bersama-sama." kata Rose melambaikan tangannya ke arah Bima dan ekor matanya menangkap senyum Satya kepadanya. Lagi-lagi manik mata Satya menghujam memandang manik mata Rose.
Rose segera menetralisir kondisi hatinya. Rose tidak ingin melihat Satya mencari tahu apa yang sedang dalam pemikirannya.
Jati yang senang memotret ikut bergabung dan sesekali mengambil gambar mereka.
__ADS_1