
" Tapi apapun kamu harus bertanggung jawab kepadaku. Dan kakak sudah berjanji ke papa juga." jawab Ana dengan sengit.
Tidak terima dirinya terlalu disalahkan,Ana menggunakan kekuasaan orang tuanya untuk memperingatkan Nugraha.
"Ya.....aku akan bertanggung jawab seperti maumu,tapi jangan harap aku akan memberikan hatiku sebesar rasa cintaku untuk Rose.Camkan itu.....!" seru Nugraha menimpali perkataan Ana.
Hati Nugraha merasa begitu marah atas kecurangan yang di terimanya. Hatinya belum bisa menerima dengan kejadian yang menimpanya.
"Dan ada satu hal lagi yang harus kamu ketahui. Aku bertanggung jawab kepadamu bukan semata-mata karena memenuhi keinginanmu. Tapi semua yang aku lakukan,tak lain dan tak bukan karena permintaan Rose."
"Untuk itu.....jangan pernah salahkan aku jika aku masih berhubungan dengan Rose kedepannya. Dan jangan pernah menuntut apapun kepadaku melebihi batas kemampuanku." kata Nugraha berapi-api.
Ana yang mendengar setiap ucap yang meluncur dari bibir Nugraha hanya bisa menangis. Sakit hati pastinya. Tapi itulah konsekuensi yang di terimanya,karena kesalahannya telah memanfaatkan kondisi Nugraha dalam kondisi sakitnya,untuk merebut hatinya. Tapi rasa cinta Ana pada Nugraha,telah membutakan logikanya.
"Aku pulang...." kata Ana meminta ijin kepada Nugraha untuk segera keluar dari rumah dinas itu.
Ana tak ingin berlama-lama di rumah dinas Nugraha,karena tak ingin hatinya semakin sakit oleh setiap kata-kata kasar Nugraha.
Sedangkan Nugraha tak bergeming sedikitpun melihat kepergian Ana.
__ADS_1
Nugraha sangat bersyukur Ana segera berlalu dari hadapannya,supaya dirinya merasa lebih tenang.
**********
Sementara itu,Satya dan Rose di dalam taxi tengah menuju asrama mereka. Banyak cerita yang di bicarakan mereka berdua dan di selingi dengan canda dan tawa.
"Libur 2 minggu perasaan pipinya tambah kaya bakpao ya mba....?" tanya Satya mengomentari Rose yang dilihatnya lebih segar,di bandingkan saat mau pulang.
"Iya kah.....?" tanya Rose sembari melihat wajahnya di spion depan dalam taxi. Pengemudi taxi sampai tersenyum melihat keramaian dua penumpangnya yang duduk tepat di kursi belakang .
"Mungkin aku di rumah perbaikan gizi Sat....Bunda selalu memintaku masak makanan yang enak. Jadi berat badanku semakin menambah. "jawab Rose asal.
"Nggak....biar aja gendut. Yang penting sehat." jawab Rose.
"Nanti pak polisi keberatan angkatnya kalau gendut ." goda Satya lagi sembari terkekeh.
"Emang pak polisi sekarang tugasnya ada tambahan jadi tukang angkat-angkat orang apa,kurang kerjaan banget ." banyol Rose menanggapi gurauan Satya.
"Maksudku pak polisi yang ada di seberang pulau sana yang angkat mba Rose. Polisi spesial di hati...." jawab Satya sembari menabrakkan pundaknya ke punggung Rose.
__ADS_1
" Yang di angkat udah beda. Aku nggak masuk kriteria. Lagi pula aku kalau diangkat juga nggak bakal mau,kan bukan karung. Iya nggak Pak.....?" jawab Rose sembari melempar pertanyaan ke pak sopir taxi.
"Bisa jadi mba.....Tapi aku perhatikan,kelihatannya kalian berjodoh. "jawab pak sopir taxi,sambil memandang kedua penumpangnya dari spion depan.
"Aamiin" jawab Satya mengaminkan perkataan pak sopir taxi.
Berbeda dengan jawaban Rose yang menjawab secara bersamaan tapi dengan jawaban yang berbeda.
"Mana ada jodoh pak.....kita kan layaknya kucing dan anjing yang selalu bertengkar pak....." jawab Rose dengan mimik lucu. Bibir merah mudanya mengerucut dengan pipinya yang agak lebih tembem.
"Biasanya yang musuhan terus justru jodoh mba.....kalau mesra terus malah kadang-kadang nggak langgeng hubungannya." kata pak sopir taxi berargumen.
"Biasanya kan pak......berarti bisa iya bisa enggak." jawab Rose.
"Kalau aku sich iyes...." jawab Satya yang langsung di pelototi oleh Rose.
" Ich....takut....." kata Satya begitu melihat netra Rose membola melihat ke arahnya. Namun dengan kata-kata takut yang di ucapkan bibirnya,matanya menggoda Rose dengan kedipan sebelah mata.
Pak sopir taxi tertawa terkekeh melihat interaksi kedua penumpangnya yang absurd itu.
__ADS_1
Sedangkan Rose mengalihkan pandangannya ke sisi lain untuk menutupi rasa malunya.