
" Menurut Bapak itu lebih Rose....semua harus dengan pemikiran panjang. Bapak setuju dengan keinginanmu" kata pak Maulana memecah lamunan Rose.
" Iya Pak.....Rose tidak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan,takutnya fatal seperti yang telah terjadi." jawab Rose.
" Bagaimana kalau kita makan di luar Rose. Coba kau hubungi Satya. Kita keluar makan bersama. Dan kita bicarakan semuanya bersama. Supaya tidak ada kesalah pahaman nantinya." kata Pak Maulana lagi.
"Iya....panggilah Satya Nduk. Kita makan di luar supaya pembicaraan kita nanti lebih tenang." sambung bu Dewi.
"Rose ijin sebentar untuk telpon Satya Pak....Bu..." pamit Rose.
Kini mereka tengah berada di sebuah resto rumah apung. Di mana terdapat banyak gasebo untuk singgah pengunjung. Suasana yang sangat privacy di sajikan oleh restoran tersebut.
" Bapak Ibu koq datangnya ke asrama putri,kenapa nggak nemuin aku dulu sich...." protes Satya kepada orang tuanya.
" Aku ada rahasia sama Rose....jadi kamu nggak perlu tahu urusan kami..." kata pak Maulana sembari terkekeh menggoda putranya.
__ADS_1
"Main rahasia-rahasia segala....emang apa yang di bicarakan kalian. Sampai-sampai aku nggak di libatkan ?" tanya Satya.
"Bapak udah ngelamar Rose buat kamu. Apa kamu mau tahu jawabannya?" tanya pak Maulana .
"Benarkah.....?" tanya Satya. Pandangan matanya langsung tertuju kepada Rose yang saat ini tengah tersipu malu.
"Apa jawabanmu di lamar Bapakku....?" tanya Satya sembari mengenggol pundak Rose yang tengah duduk di sampingnya dengan pundaknya.
" Ish....apaan sich. Sakit tahu.....!" sungut Rose sembari mengusap pundaknya.
"Makanya jawab ya....kan aku penasaran ." kata Satya sembari menopang kepalanya dengan tangan kanannya. Sembari kedua alisnya di naik turunkan menggoda Rose.
Mereka tergelak dengan tawa berderai. Pak Maulana mempunyai jiwa humoris yang tinggi,dan nampaknya menurun kepada putra sulungnya,Satya.
" Beri aku waktu untuk meyakinkan hatiku Sat....sampai wisuda nanti. Dan selama menunggu jawabanku,kalau di waktu itu kamu menemukan gadis yang cocok dengan kamu,nggak mengapa jika kamu beralih kepadanya.." jawab Rose.
__ADS_1
" Nggak usah tergesa-gesa. Beri Rose waktu. Kamu harus bersabar jika kamu memang mau memperjuangkannya. Yang jelas Bapak dan Ibu setuju dengan hubungan kalian. Dari awal mengenal dan melihat Nak Rose,Bapak dan Ibu sudah merasa cocok." kata Pak Maulana.
Pembicaraan mereka terhenti manakala pesanan makanan mereka telah sampai. Mereka menikmati makanan dengan sedikit bicara. Rose terbawa dalam keheningan hatinya dan memikirkan keputusan apa yang akan di ambilnya nanti.
Gerak-gerik Satya dan Rose tak pernah lepas dari pengamatan Bapak dan Ibunya Satya. Rose yang begitu telaten meladeni Satya manakala makan,dan perhatian Satya kepada Rose juga tak terlepas dari pengamatan mereka.
" Kamu kalau makan bisa nggak sich,nggak belepotan. Kaya anak kecil tau...." kata Rose sembari mengelap mulut Satya dengan tissue di dekatnya.
Semuanya terekam di penglihatan kedua orang tua Satya. Kemanjaan Satya kepada Rose dan perhatian Rose kepada Satya sebenarnya sudah sangat menunjukkan perasaan mereka.
"Aku mau daging ikan yang di depanmu....." kata Satya kepada Rose.
" Sebentar aku ambilkan yang nggak ada durinya. Ini cobalah....enak nggak?" tanya Rose yang telah menyuapkan sepotong ikan bakar ke mulut Satya.
"Enak....apalagi makannya di suapin. Jadi tambah enak. " kata Satya sembari memandang manik mata Rose.
__ADS_1
Sejenak pandangan mata mereka terkunci,desir aneh terasa sekali di hati Rose. Terasa menggelitik perasaannya dan membiaskan rona wajah memerah di pipi Rose yang putih mulus.
"Apakah aku bemar-benar memiliki perasaan yamg sama dengan Satya. Ya Allah.....tolong aku untuk meyakinkan perasaanku ." jerit hati Rose.