
Rose meraup wajahnya. Ada berbagai macam pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya. Semua yang di ucapkannya sangat bertentangan dengan hatinya. Bukan berarti hatinya tidak senang, dengan ajakan tunangannya untuk menikah. Tapi keinginan hatinya untuk bisa meraih cita-citanya,menumbuhkan ego yang tinggi pada Rose. Saat ini Rose harus mencari jalan,supaya pernikahannya berjalan sesuai rencana awal,setelah selesai kulihanya.
Saat ini Rose merasakan ada bongkahan batu besar yang menimpa dadanya. Dan tiba-tiba Rose tergugu dalam tangisnya. Bahunya terguncang,tak terdengar tangisnya,namun air mata menganak sungai membasahi pipi mulusnya. Sungguh keputusan yang sangat berat yang di hadapinya.
Janti dan Bu Ati menyadari kondisi Rose saat ini,dan keduanya mendekat memberikan empatinya untuk Rose. Dan hal itu semakin membuat Rose merasa semakin rapuh.
"Tenangkan pikiranmu Rose.....semua yang telah kamu katakan, menanggung resiko yang besar. Ibu berharap akan ada jalan keluar yang terbaik untuk kalian berdua. Bicarakanlah dengan orang tuamu ataupun orang tua Nugraha,supaya para tetua yang mencari solusi untuk masalahmu. Jangan kamu pendam sendiri masalah ini,kamu tidak akan kuat menanggungnya. Semua karena emosi Nugraha,yang mungkin selama ini selalu tergantung padamu untuk berbagai hal. Makanya Nugraha tak bisa terlalu lama berjauhan denganmu. Hatinya sudah terlalu nyaman dengan berada di dekatmu." perkataan nasihat bu Ati untuk Rose. Dengan mendengar langsung perkataan pasangan Rose Nugraha,bu Ati mampu menyimpulkan tingakat kedewasaan Rose dalam berfikir. Namun di rasa terlalu gegabah,karena Rose begitu ngemong dan mengorbankan perasaannya, untuk menenangkan hati Nugraha. Pantas saja selama ini Nugraha begitu manja kepada Rose.
__ADS_1
"Selama 3 tahun kami selalu bersama. Dan setiap ada masalah Nug selalu tergesa-gesa ingin menyelesaikannya,tapi tanpa berfikir akibat yang akan terjadi. Tapi kalau diberi pengertian pelan-pelan,bisa paham dan bisa merubah keputusannya. Saya butuh waktu Bu.....hanya kendalanya karena intensitas komunikasi kami. Doakan saja Bu...semoga Nug bisa segera menyadari kalau permintaannya belum pas untuk saat ini." jawab Rose. Saat ini semuanya Rose pasrahkan kepada kuasa Allah SWT. Apapun hasilnya.
" Ibu akan bantu bicara dengan Nugraha saat dia menghubungimu nanti. Sekarang biarkan sesuai kemauannya. Saat ini emosinya belum stabil. Semoga nanti Nugraha bisa mengerti ." jawab Bu Ati. Beliau merasa kasihan kepada Rose. Bu Ati sangat paham betapa sulitnya di posisi Rose saat ini.
"Rumit sekali sich ya.....untung aku belum punya pacar." pikir Janti.
"Kenapa Janti....kamu jadi takut untuk memiliki hubungan dengan orang lain?" tanya Bu Ati. Seulas senyum terbersit di bibir Bu Ati.
__ADS_1
" Agak takut Bu....tapi masa mau jadi jomblo terus ya Bu....lama-lama aku jadi perawan tua dong nantinya....
Kan aku pingin di panggil "Sayang" juga kaya yu Rose....rasanya kaya bagaimana gitu....geli-geli sedap dengarnya ." jawab Janti dengan gaya manja sambil terkekeh.
"Ya besok mas Depri tak suruh panggil kamu sayang......" jawab Rose ikut-ikutan seperti suara manja Janti.
"Ich...nggak asyik kalau harus disuruh dulu, nggak dari hati....pasti nggak menggetarkan hati seperti suara Nugraha kalau lagi panggil kamu Yu....." komentar Janti.
__ADS_1
"Tapi kamu juga harus panggil dengan mesra juga,jangan seperti Rose kalau panggil tunangannya masih pakai namanya saja ." protes Bu Ati. Mereka tertawa bersama mendengar komentar Bu Ati.