Mencintai Dalam Diam

Mencintai Dalam Diam
MDD episode 107


__ADS_3

Perkuliahan berjalan lancar. Dari jam pertama sampai jam terakhir terlewati tanpa kendala. Kesepakatan menemui dosen pembimbing mata kuliah jiwa,setelah mereka selesai makan siang di asrama masing-masing.


"Rose....ke bu Widya nanti habis jam makan siang kita ya. Nanti aku samper ke asrama putri ." kata Budi.


"Ok....aku dan teman-teman aspi lainnya nunggu kalian di perpustakaan kampus saja. Nanti kita ketemu di sana." jawab Rose.


Lokasi kantor dosen memang berdekatan dengan asrama putri,karena satu area. Hanya kampus yang letaknya agak jauh,namun masih di area rumah sakit,karena akper tempat Rose kuliah merupakan pengembangan dari yayasan rumah sakit, dan untuk ke kampus bisa di jangkau dengan jalan kaki. Untuk praktek keperawatan juga masih di area rumah sakit.


Sepulang kuliah Rose berencana mampir ke teler bank yang berada di rumah sakit. Satya yang melihat arah berbeda yang di lalui Rose segera mengikutinya. Rose yang tersadar ada yang mengikutinya segera menoleh ke belakang.


"Mau kemana ?" tanya Rose yang melihat Satya di belakangnya.

__ADS_1


" Mau ke teller mba....?" jawab Satya yang tahu arah jalan yang di tempuh Rose.


"Oh...ok. Aku juga ." keduanya jalan beriringan. Dan akhirnya mereka duduk di kursi depan teller sambil menunggu urutan antrian.


"Kenapa kemarin sore menangis ?" tanya Satya tanpa memandang Rose.


"Siapa.....?" tanya Rose kaget dan pura-pura tak tahu siapa yang di maksud Satya.


" Darimana Satya tahu aku menangis" tanya hati Rose.


" Bukan urusanmu Sat...." jawab Rose dengan tegas. Namun tanpa kemarahan.

__ADS_1


"Memang betul itu bukan urusanku mba....tapi sebagai sahabat,aku merasa ikut sakit kalau melihat mba menangis." jawab Satya sambil mengamati reaksi wajah Rose.


"Aku merasa menambah beban mba Rose....masalah yang pelik yang mungkin sedang mba hadapi,di tambah dengan masalahku dan May,rasanya aku semakin memperberat pikiran mba Rose." jawab Satya lagi.


"Nggak usah di pikirkan. Semuanya sama sekali nggak ada sangkut pautnya dengan masalahmu dan May. Aku melakukan dengan ikhlas,supaya kamu bisa kuliah sampai selesai,bisa lulus,tercapai cita-citanya dan bisa membuat orang tuamu bangga." jawab Rose. Setiap kata-katanya seakan bantuannya untuk Satya tak menjadi beban pikirannya.


" Tapi aku nggak bisa kalau melihat mba Rose terluka hatinya,hatiku merasa sangat tak rela." jawab Satya lagi.


"Nggak usah pedulika aku. In sya Allah aku bisa menghadapi semuanya sendiri." lagi-lagi Rose berusaha menutup diri.


"Aku percaya mba bisa. Apalagi untuk masalah sendiri,untuk masalah orang lain saja mba bisa mencari jalan keluar dengan berbagai solusi. Untuk masalah sendiri yang sudah tahu sumbernya,pasti akan teratasi juga."jawab Satya terjeda. Sambil menunggu respon Rose. Namun yang di tunggu interaksinya hanya diam tak berkomentar.

__ADS_1


" Mba sudah menguatkan aku,sudah mbantu memecahkan masalahku. Apa salahnya kita saling mendukung. Jangan pernah sungkan. Kalau kita sharing,kita saling komunikasi,semoga masalah akan lebih cepat teratasi." lanjut Satya.


" Kenapa kamu begitu peduli denganku ?" tanya Rose. Ada perasaan perih yang menyayat hatinya. Sudah 2 bulan lebih tak berkomunikasi dengan tunangannya,membuat tanda tanya besar di hatinya. Jangankan telephon. Bahkan surat yang di kirimkannya setiap minggunya tak satupun berbalas . Nugraha bagaikan hilang di telan bumi. Bagaimana hatinya tak berasa hancur. Namun Rose tak mau menceritakan sedikitpun kepada Satya yang dianggapnya sahabat. Karena prinsip Rose, tak ada persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan tanpa menggunakan hati. Rose tak ingin terjebak di dalamnya.


__ADS_2