
Seminggu berlalu setelah kehadiran Arya menemui Rose di asramanya. Rose saat ini banyak berubah. Sikapnya kembali dingin,tak seperti 1 bulan yang lalu yang sudah nampak ceria dan banyak bicara. Kini sikapnya kembali menjadi gunung es. Bicaranya sangat irit dan cenderung banyak menyendiri. Kegiatannya hanya berkutat pada buku dan tugas-tugas kuliahnya.
Biasanya hari-harinya sering bersama Satya. Namun kali ini Rose terkesan menghindari Satya.
Tugas-tugas kuliahnya sekarang selalu di pegang sendiri,walaupun kondisi tangannya belum lepas dari gisp. Dan ini semua membuat Satya kelimpungan.
Rasa rindunya kepada Rose seakan tak mampu di bendungnya. Hampir setiap hari Satya menyambangi Rose di asrama putri,namun Rose selalu punya alasan untuk tak menemui Satya.
Di kampuspun Rose selalu sulit untuk di temui,setiap kali jam istirahat,Rose selalu sudah tidak ada di kelasnya. Entah kemana perginya,yang jelas teman-temannya tidak pernah tahu di mana Rose berada.
"Apa salahku sebenarnya. Kenapa dia berubah seperti ini." tanya Satya dalam hati.
Saat ini Satya tengah mencari-cari keberadaan Rose. Fellingnya mengatakan Rose berada di panti asuhan yang di kelola rumah sakit.
__ADS_1
Benar saja,Satya melihat Rose tengah memangku seorang bayi perempuan yang montok,yang sudah mulai bisa mengoceh,anak panti yang di tinggalkan orang tuanya. Tangannya begitu lembut memberikan kasih sayang kepada bayi itu. Dengan telatennya Rose memberikan susu formula dengan botol yang berada di tangannya.
"Cantik ya bayinya....." tanya Satya di telinga Rose.
Rose kaget karena tidak menyangka Satya akan menemukannya di panti asuhan milik rumah sakit.
"Kenapa menghindariku,apa aku punya salah ke kamu mba Rose.....?" pertanyaan Satya penuh penekanan dalam kata-katanya.
Namun pandangan matanya tertuju pada bayi cantik dalam pangkuan Rose,seakan-akan bayi itu yang sedang diajak bicara.
"Besok jadwalmu buka gips mba Rose.....perhatikan kesehatanmu sendiri ."kata Satya..
"Besok mau atau nggak mau aku akan menemanimu ." kata Satya sambil menusap puncak kepala Rose.
__ADS_1
"Dan sekarang kembalilah ke kampus. Sebentar lagi ada mata kuliah. Kalaupun tidak mau bercerita tidak mengapa,tapi janganlah merubah sikap. Berlakulah biasa saja jangan seperti anak kecil,yang senangnya menghindar." kata Satya lagi. Sikap posesifnya sudah di tunjukkan untuk Rose.
"Adek.....kak Rose tinggal sekolah dulu ya....besok kakak temeni lagi." kata Rose sembari mencium kening bayi panti.
"Mba......Rose kuliah dulu,besok kalau ada waktu aku main ke sini lagi...." kata Rose sembari menyerahkan baby gemoy ke tangan pengasuh panti.
"Makasih Rose...." jawab pengasuh panti bernama mba Santi dengan senyum manisnya.
Satya ternyata masih menunggu Rose di luar gedung panti.Pandangan matanya menghunus mandang tepat ke manik mata Rose,yang saat itu terkejut karena Satya masih menantinya.
Pandangan mata mereka terkunci satu sama lain. Nampak binar kerinduan yang terpendam dari sorot mata Satya. Namun nampak benteng menjulang yang Rose tampilkan dari kelamnya pandangan netra Rose.
"Maaf.....aku tak bermaksud untuk mengganggumu,tapi aku mohon jangan pernah mengabaikanku dan mendiamkanku. Aku tak sanggup Rose....." kata Satya.
__ADS_1
"Aku sangat merindukanmu sebagai sahabat yang penuh ceria serta terbuka seperti kemarin-kemarin." sambung Satya sambil menatap Rose.
Rose masih diam seribu bahasa,namun dari sorot matamya seakan menuntut kesabaran dari Satya. Seakan dirinya tahu,senyum Satya mengbang menanggapinya. Satya merengkuh pundak Rose ke dalam pelukannya,dan Rose tak menolaknya. Hanya sesaat pelukan itu harus terurai,untuk menjaga kenyamanan sang gadis yang di rindukannya.