
Bu Maria nampak gelisah. Pikirannya tidak tenang. Bayangan kembali terlintas di saat Ana dan Nugraha begitu intim.
"Pah.....bagaimana ini. Apa yang harus kita sampaikan kepada Rose. Mamah sangat kasihan padanya. Secara tidak langsung kita sudah menggantungnya,mengurangi ruang geraknya. Mama nggak bisa membayangkan betapa kecewanya Rose jika tahu akan hal ini.." kata Bu Maria dengan mata berkaca-kaca.
"Kita tunggu perkembangan saja Mah....bagaimana nanti reaksi Nugraha." kata Pak Yudha.
"Apa sebaiknya kita tanyakan saja ke Nugraha ya Pah.....pelan-pelan saja. Atau kita tanyakan ke nak Ana ada apa sebenarnya di antara mereka." usul bu Maria.
"Jangan gegabah Mah.....kondisi Nug belum baik. Papa takut akan membebani pikirannya dan memperburuk keadaannya. Dan kalau kita menanyakan kepada nak Ana,papa takut akan salah paham." jawab pak Yudha.
"Dan kita tidak perlu cerita apapun tentang hal ini. Cukup sampaikan Nugraha baik-baik saja.Aku tidak ingin Rose berfikiran macam-macam dan akhirnya akan membenci Nug. Kalaupun jika hal terburuk akan terjadi,biarlah jangan sampai ada kebencian diantara Nug dan Rose" komentar pak Yudha.
"Maksud papa apa....jangan menakuti mama dong Pa ..." tanya Bu Maria,dirinya tidak bisa mengerti jalan pikiran suaminya.
"Ma.....seandainya mama punya anak perempuan,dan punya hubungan yang begitu intim dengan laki-laki. Apa yang akan mama lakukan....akankah mama merelakan anak perempuan kita hanya di jadikan perempuan yang bisa di sentuh-sentuh tanpa ada pertanggungjawaban. Coba mama pikirkan!" kata pak Yudha. Bu Maria terdiam sambil memikirkan perkataan suaminya.
__ADS_1
"Apa bedanya dengan Rose pah.....selama ini Nug juga seperti itu ke Rose." protes bu Maria.
"Tapi itu dalam pengawasan kita. Dan aku tahu Nug dan Rose tidak sejauh itu. Masih di bilamg wajar. Dan setelah itu mereka berjauhan,bahkan tak pernah bertemu. Lha ini.....Nugraha setiap hari bersama Ana..kemungkinan mereka akan melakukan hal yang lebih jauh,kemungkinannya sangat besar. Apa kamu tidak membayangkan hal itu Mah......
Anak kita di perantauan Mah.....dan Ana adalah anak pimpinan Nugraha. Apa kamu nggak bisa berfikir,jika nanti anak kita mengalami sesuatu di sini. Biarkan ikuti saja dulu. Biarkan waktu yang menjawabnya.." jelas pak Yudha. Sebenarnya pak Yudha juga merasa kalut,namun Pak Yudha meencoba berfikir logis. Menimbang baik dan buruknya situasi.
"Trus untuk Rose bagaimana cara menjelaskannya Pah.....bagaimana kita mau menjelaskan jika hal yang di pikirkan papa terjadi."Bu Maria masih merasa cemas,sekaligus takut membayangkan jika yang di katakan suaminya menjadi kenyataan.
"Untuk Rose kita pikirkan nanti Mah....yang terpenting kali ini adalah kesehatan Nugraha dulu." jawab pak Yudha.
"Mamah......" panggil Nugraha.
"Iya Nug....ini mamah. Tidurlah lagi,mama akan menjagamu di sini" kata bu Maria lembut. Pak Yudha juga turut duduk tepi tempat tidur Nugraha.
"Apa yang kamu rasakan Nug...." tanya pak Yudha.
__ADS_1
"Masih sedikit pusing Pah.....aku jatuh di mana ya Pah.....?" tanya Nugraha. Ingatannya masih belum pulih.
"Apa kamu belum mengingat apapun Nug...... ?" tanya Bu Maria.
"Selain mama,papa....siapa lagi yang kamu ingat Nug....?" tanya Bu Maria penasaran.
"Mama....papa.....Arya.....Ana........dan ada bayangan gadis bermata tajam,tapi aku tak tahu siapa dia Mah.....!" jawab Nugraha.
"Apa gadis bermata tajam itu kekasihmu.....?" tanya bu Maria penasaran.
"Bukankah kekasihku Ana mah.....Ana bilang dia kekasihku. Entahlah aku belum bisa mengingatnya. Kepalaku pusing Mah....." kata Nugraha.
"Baiklah....tidurlah Nug.....kamu lelah. Jangan terlalu capek supaya lekas sembuh ya....." kata Bu Maria.
Hatinya sangat sedih melihat kondisi putranya. Harapan terbesarnya adalah kesehatan putranya.
__ADS_1