
Eylina merasa sangat tidak tenang. Hingga waktu telah menunjukkan pukul 11.30 WIB, Morgan belum juga menampakkan dirinya ataupun memberikan kabar. Eylina mengirimkan pesan melalui aplikasi, namun tidak dibalas ataupun dibaca oleh suaminya. Sedangkan jelas sekali lelaki itu terhitung aktif menggunakan aplikasi tersebut sejak tadi.
Eylina mencoba menghubungi lagi melalui telepon, tapi lagi - lagi tidak diangkat oleh Morgan. Begitu juga dengan sekertaris Rey.
Santi dan yang lainnya pun juga ikut gelisah melihat wajah Eylina yang sangat muram.
"Bagaimana, Nak?" tanyanya pelan.
Eylina tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang muram.
Dia sangat aktif dalam aplikasi. Tapi kenapa dia tidak mengangkat teleponku? Bahkan dia tidak membalas ataupun membaca pesan - pesan yang ku kirimkan.
Baru kali ini ia merasa benar - benar terabaikan oleh sikap suaminya. Semalam saat berpamitan, lelaki itu masih sangat manis memperlakukan dirinya. Morgan bahkan memeluk Eylina dengan saat erat sebelum ia pergi meninggalkan gadis itu bersama Rey.
Tapi sekarang ... Morgan bahkan tidak mengirimkan kabar apapun, juga tidak menanyakan kabarnya sama sekali.
Melihat putrinya yang semakin murung, Santi pun berusaha menenangkannya. Wanita paruh baya itu mengusap punggung Eylina dengan lembut. "Mungkin nak Morgan sedang sibuk, Lin. Coba telepon ke kantornya!" saran Santi.
"Eylin nggak punya nomor telepon kantornya, Buk. Disini hanya ada nomor Morgan, sekertaris Rey, adik ipar dan juga nomor telepon rumah saja. Selain itu Eylin hanya menambahkan nomor Dara sama Sista saja."
"Kalau begitu, mungkin nak Sista tau nomor kantor?" tanya Santi seraya menoleh ke arah gadis itu dengan penuh harap.
"Sista juga belum menyimpan nomor telepon kantor Tuan Morgan, Tante. Tapi ... bentar deh, Sista coba telepon sekertaris Rey pakai nomor Sista," kata Sista kemudian. Ia pun merogoh saku blazernya dan mengambil benda tersebut. Sista mencari nomor sekertaris Rey, lalu menghubunginya.
Setelah beberapa saat, telepon pun tersambung. Namun sekertaris itu juga tak mengangkat teleponnya. Tak putus asa, Sista mencoba lagi dan lagi, hingga beberapa kali.
Gadis itu kemudian menatap Eylina dan menggelengkan kepalanya, tanda bahwa usahanya tak membuahkan hasil.
Detik demi detik berlalu, berganti dengan menit - menit yang juga terus bergulir.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Sista pun dengan sigap membukanya untuk melihat siapa yang datang. Tapi yang jelas itu pasti bukan Morgan dan sekertaris Rey.
Sosok berpakaian serba putih berdiri di depan pintu dengan senyum yang mengembang.
"Selamat siang, ini ada kiriman makanan dari Tuan Morgan untuk Nona Eylina dan keluarga." Suster itu menjelaskan seraya menyerahkan beberapa kantong plastik berlabel nama sebuah restoran.
"Ah, iya ... terimakasih," jawab Sista seraya menerima bungkusan tersebut.
__ADS_1
Setelah itu, suster itupun undur diri dari sana. Sementara Sista masuk kembali dengan membawa makanan tersebut.
"Lin ... nih ada kiriman dari suami lo," kata Sista sambil menunjukkan beberapa kantong plastik yang ditentengnya.
"Yang ngantar siapa?" tanya Eylina antusias.
"Suster."
"Hhh ... ya udah taruh aja disitu!" kata Eylina dengan wajah yang seketika berubah menjadi malas. Ia sangat tidak bersemangat.
"Lin, jangan begitu. Nak Morgan dan keluarganya mungkin memang sangat sibuk sekarang. Tuh buktinya, nak Morgan membelikan makanan dari restoran, bukan kiriman dari rumah." Santi yang masih duduk di samping Eylina itupun membelai dan mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
Setelah mendengar perkataan ibunya, Eylina pun sedikit lebih bisa mengendalikan kegelisahannya. Ia pun juga akhirnya mau makan dengan disuapi oleh ibunya.
Tak lama kemudian dokter Mira pun datang bersama dua orang suster untuk memeriksa dan memberikan obat untuk diminum oleh Eylina.
Karena siang ini Eylina sudah boleh pulang, jadi suster pun juga melepaskan selang infus dari punggung tangan Eylina.
Hhh ... lega sekali rasanya, bisa bergerak lebih bebas tanpa jarum yang menancap di tanganku.
Dokter Mira menoleh dan meminta obat yang dibawa oleh suster tadi "Nona Eylina, nanti setelah pulang kerumah, obatnya diminum secara teratur, ya!" kata dokter Mira seraya menyerahkan beberapa strip obat dan vitamin yang telah terbungkus rapi kepada Eylina.
"Iya, terimakasih Dokter." Eylina pun tersenyum.
Setelah itu dokter Mira beserta dua orang suster itupun pamit dari sana. Karena dokter Mira harus memeriksa pasien yang lain juga. Mereka keluar dan menutup kembali pintu itu dengan sangat pelan.
Eylina kemudian meminta ibu dan yang lainnya untuk makan terlebih dahulu sebelum mereka pulang. Sementara dirinya masih berusaha menghubungi suaminya.
Hatinya benar - benar terasa sesak, pikirannya sedikit kacau karena pesan yang dikirimkannya sejak tadi saja belum dibaca oleh Morgan. Dan lagi - lagi, lelaki tampan itu tak menjawab teleponnya sama sekali.
Eylina melempar ponselnya dengan kesal ke sampingnya. Ia membuang pandangannya ke luar jendela.
Dia ini kemana sih? Dari tadi dihubungi tidak mau menjawab. Tidak memberi kabar juga! Awas saja nanti kalau ketemu, ya!
Sungguh kesal sekali rasa batin Eylina.
Setelah selesai dengan makanannya, Santi dan yang lainnya pun bersiap - siap. Sista membereskan bekas makan tadi pagi. Ia mencuci perabotannya dan menyusunnya dengan rapi di rak yang tersedia disana.
__ADS_1
Sementara Santi merapikan kamar yang ia pakai untuk tidur bersama Sista dan Dara semalam. Meskipun nantinya juga ada orang yang membersihkan kamar rawat ini, tapi tetap saja, ia tidak sampai hati meninggalkan ruangan ini dalam kondisi berantakan.
Disisi lain, Dara tengah membantu kakaknya bersiap - siap dan merapikan diri. Ia juga membantu Eylina ke kursi rodanya. Dan disaat bersamaan itu pula beberapa suster datang lagi ke kamar Eylina untuk membantunya berkemas.
Namun rasanya sia - sia saja kedatangan mereka, karena Ibu dan Sista sudah menyelesaikannya. Kamar itu terlihat bersih seperti sedia kala. Hanya ranjang yang dipakai Eylina saja yang belum dirapikan.
Setelah semuanya beres, Dara pun mendorong kursi roda kakaknya, keluar dari ruangan itu. Sementara Santi, Sista dan beberapa perawat tadi hanya mengekor dibelakangnya.
Dari ujung lorong rumah sakit, dokter Mira nampak berjalan tergesa - gesa mendekati Eylina.
"Nona, Eylina," sapanya seraya tersenyum. Dokter Mira nampaknya sangat sibuk sekali. Tapi ia tetap menyempatkan diri untuk mengantarkan Eylina.
"Dokter Mira? Ada apa?" tanya Eylina.
"Tidak ada apa - apa Nona, saya hanya ingin mengantar Nona saja. Semoga lekas pulih dan bisa segera menjalani program kehamilan."
"Terimakasih, Dokter. Kalau dokter Mira sibuk, Dokter tidak perlu mengantar saya," kata Eylina ramah.
"Tidak Nona, saya tidak terlalu sibuk."
Mereka kemudian berjalan melewati lorong itu tanpa banyak obrolan lagi.
Dokter Mira dan para suster itu melambaikan tangannya saat Eylina dan keluarga telah memasuki mobilnya. Begitu pun Eylina, ia juga membalas lambaian tangan mereka dengan senyum yang lebar.
Mobil tersebut kemudian melaju dengan perlahan meninggalkan gedung yang mayoritas bangunannya di cat berwarna putih itu.
Sista membawa mobil tersebut menuju ke kediaman Wiratmadja tanpa banyak perbincangan, karena Dara dan Santi tengah tertidur, sedangkan Eylina sibuk dengan pikirannya.
Setelah beberapa waktu berlalu, mobil yang dikemudikan Sista pun memasuki gerbang rumah Wiratmadja.
Sista menghentikan mobil itu tepat di depan pintu utama, agar Eylina tak terlalu jauh berjalan.
Aneh ... kenapa suasananya terasa sepi sekali? Biasanya saat ada salah satu mobil penghuni rumah datang, para pelayan beserta Pak Gunawan sudah membukakan pintu dan menyambutnya.
Eylina bertanya - tanya dalam hatinya.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1