
Keesokan harinya setelah sarapan, Santi dan Dara berpamitan dari kediaman Wiratmadja. Ia dan putrinya diantarkan oleh Sista.
Tidak seperti biasanya, Sista nampak diam hari ini. Ia sepertinya masih memikirkan tentang apa yang didengarnya semalam.
Setelah sampai dikediaman Santi pun dia hanya sedikit mengobrol, lalu berpamitan.
Sebelum kembali ke kediaman tuannya, Sista mampir dan membeli kue untuk sahabatnya.
Karena pegawai di toko kue milik Santi sudah hapal dengan Sista, akhirnya gadis itu pun tidak diperbolehkan membayar kue tersebut.
Sista melajukan mobilnya kembali ke kediaman Wiratmadja. Sesampainya disana ia langsung memarkir mobil tersebut sesuai tempatnya. Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar Eylina.
Namun baru saja ia akan menginjak anak tangga pertama, Pak Gun memanggilnya. Sista pun menoleh dan menundukkan kepalanya.
"Pak Gun? Ada yang bisa Sista bantu?" tanyanya kemudian.
"Apa yang kau bawa? Jangan sembarangan memberikan makanan untuk Nona muda! Nona muda masih dalam masa pemulihan," kata Pak Gun tanpa ekspresi.
"Ini? Ini adalah kue dari toko kue Ibu Santi, ibunya Nona muda. Ada tiga kotak, saya akan mengantarkan yang satu kotak untuk Nona muda." Sista menjelaskannya dan menyerahkan dua kotak lainnya kepada Pak Gun.
"Baiklah, bawa keatas! Dan tentang yang kau dengar semalam, jangan menceritakannya pada Nona muda!"
Setelah mendengar jawaban Pak Gun, Sista menganggukkan kepalanya dengan yakin. Ia juga tidak akan sampai hati membebani sahabatnya dengan masalah ini. Sista pun kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar Eylina.
Ia mengetuk pintunya dengan pelan. Setelah mendengar jawaban dari Eylina yang menyuruhnya masuk, Sista pun dengan segera membuka pintu kamar tersebut.
Eylina tersenyum melihat kedatangan sahabatnya.
"Sista? Ada apa?" tanyanya seraya beringsut dari tempat tidurnya.
Melihat hal itu, Sista pun bergegas berlari mendekati Eylina.
"Eh ... eh, udah lo disitu aja! Gue mau ngantar ini," Sista menunjukkan kantong berlogo toko kue ibunya.
"Kue? Ini dari ibuk?" tanya Eylina dengan mata berbinar seraya mengambil dan membuka kotak kue brownis tersebut. "Hhhmmm ... harum banget, ini bikinan karyawan ya? kalau ibu yang bikin, rasanya pasti lebih enak."
"Iya, kue brownis buatan tangan Tante Santi emang paling enak pokoknya."
__ADS_1
Kedua gadis itu lalu menyantap kue tersebut dan saling bercerita satu sama lain.
Tak lama setelah itu dua orang gadis manis pun turut bergabung bersama mereka. Emily dan Luna ikut menyantap kue brownis tersebut. Suasana dalam kamar menjadi riuh setelah kedatangan dua bocah pembuat onar tersebut.
****
Sementara di satu tempat yang lain, Morgan sedang mengadakan pertemuan dengan sejumlah staf penting di perusahaannya.
Di ruangan kedap suara ini ia membahas tentang pengkhianatan Mathias.
Di sana ada sekertaris Ji yang sekarang telah berganti kedudukan menjadi penasehat. Lelaki paruh baya itu bersama stafnya dihadirkan disana.
Rey juga menyuruh seluruh bagian keuangan untuk hadir dalam acara ini. Karena divisi itulah yang paling vital disini saat ini.
"Katakan padaku, bagaimana Mathias bisa melakukan hal ini tanpa ada yang mencurigainya?" Morgan menginterogasi para bawahannya, khususnya staf keuangan.
Matanya mengintimidasi satu persatu lawan bicaranya.
Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Semua orang di ruangan itu diam seribu bahasa dengan tubuh yang gemetar serta wajah yang pucat. Tidak ada yang berani membuka suara.
"JAWAB!" Lelaki itu menggebrak mejanya dan berdiri dari tempatnya.
"Diam, Rey!"
"Katakan padaku, apapun yang kalian ketahui jika kalian masih ingin berada diposisi kalian!" bentak Morgan.
"Tu ... Tuan, untuk kasus penggelapan dana perusahaan, kami bisa memberikan bukti - buktinya. Tapi untuk kepergian Pak Mathias, kami sungguh tidak mengetahuinya," kata salah satu staf keuangan.
"Lalu bagaimana bisa kalian tidak menyadari jika lelaki itu telah menggelapkan uang perusahaan sebanyak itu? Apa saja yabg kalian kerjakan selama ini, hah?" tanya Morgan dengan tatapan yang lebih menusuk.
"Ka ... kami memang salah, Tuan. Mohon maafkan kami, selama ini kami percaya begitu saja pada Pak Mathias. Melihat beliau juga sangat setia selama ini. Pihak audit juga tidak mencurigai apapun, jadi kami percaya begitu saja." Dengan tubuh yang gemetaran, Rina yang merupakan salah satu staf keuangan itu menjelaskan.
"Hhaaahhh ... dasar tidak berguna!" Morgan lagi - lagi menggebrak meja yang ada dihadapannya. Membuat seisi ruangan menjadi semakin mencekam.
"Rey! Periksa semua bagian dan pastikan tidak ada lagi orang seperti Mathias ada di perusahaan ini lagi! Ledakkan kepala mereka jika kau menemukan lagi pengkhianat di dalam perusahaan ini!"
Mendengar titah Morgan, semua orang yang ada disana semakin gemetaran. Tulang - tulang mereka rasanya telah tercabut dari tempatnya, jika mereka tidak sedang duduk mungkin mereka akan terkulai dilantai melihat kemarahan dan sorot mata Morgan yang memerah.
__ADS_1
Rey yang mendengar perintah tersebut pun kemudian menyuruh orang - orang yang ada di dalam ruangan tersebut untuk keluar dan kembali pada pekerjaan mereka masing - masing.
Di depan pintu, Rey kembali memberi peringatan keras pada para staf tadi.
"Kembalilah bekerja dengan baik! Jika satu lagi kutemukan ada orang yang mencoba bermain - main di perusahaan ini, kupastikan sampai menjelang ajal pun kalian tidak akan bisa tenang, PAHAM?!" Rey memberikan tatapan tajam pada satu persatu staf tersebut.
Rey kemudian menuju ke tempat informasi dan menyuruhnya memberikan pengumuman agar setiap kepala divisi pergi ke ruangan meeting secepatnya.
Mendapat perintah dari Rey, bagian informasi pun menyampaikan hal tersebut. Dan bisa dibayangkan, seisi gedung ini menjadi terasa begitu dingin seperti sebuah istana es.
Sekertaris Rey kemudian juga pergi ke ruangan meeting yang dimaksud dan menunggu satu persatu kepala divisi datang kesana.
Ruangan putih bersih ini terasa begitu beku, aura sekertaris Rey terasa sesak memenuhi ruangan ini.
Satu persatu kepala divisi pun datang ke ruangan tersebut, mereka menundukkan kepalanya saat memasuki ruangan meeting itu. Di sana hanya ada sekertaris Rey, karena Morgan dan sekertaris Ji masih berada diruangan yang tadi.
Setelah semua kepala divisi beserta staf utamanya hadir di ruangan, Rey pun memulai pembicaraannya. Ia memerintahkan agar semua divisi melakukan audit ulang data mereka, terutama perihal keuangan.
Rey juga menjelaskan situasi terkini dari perusahaan dan juga tentang kedatangan rival perusahaan yang telah lama menghilang.
Semua orang yang berada disana mendengarkan dengan seksama dan saling memandang satu sama lain. Diantara mereka ada beberapa kepala divisi yang baru, yang belum mengenal seluk beluk perusahaan ini.
Mereka terlihat berpikir mengenai apa yang dibicarakan oleh sekertaris Rey. Sementara sebagian kepala divisi lainnya manggut - manggut setelah mengerti arah pembicaraan orang kepercayaan Morgan tersebut.
Saat ini perusahaan memang masih berdiri dengan sangat kokoh. Tapi tetap saja, semua harus dipersiapkan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi di kemudian hari. Terlebih lagi sekarang Mathias berada dalam genggaman perusahaan Phanom. Dan sialnya, Robin dan timnya belum menemukan titik terang tentang keberadaan lelaki pengkhianat tersebut.
"Kalian tahu konsekuensi dari setiap perbuatan yang kalian lakukan, bukan? Selama ini perusahaan memberikan fasilitas yang begitu baik untuk kalian semua yang bekerja dengan giat. Perusahaan tidak pernah menahan hak kalian, bahkan perusahaan selalu memberikan bonus tepat waktu atas kerja keras kalian. Jadi kuperingatkan sekali lagi pada kalian, berpikirlah ribuan kali sebelum kalian memilih jalan seperti jalan yang dipilih oleh Mathias. Kalian Mengerti?!"
Rey menatap satu persatu orang - orang yang tertunduk di tempat duduknya masing - masing.
Mereka semua menganggukkan kepalanya. Tentu saja, memilih berkhianat, itu berarti sama saja dengan menyetorkan nyawa mereka.
Bagi para kepala divisi ini ataupun karyawan lainnya, perusahaan milik Wiratmadja adalah salah satu tempat berkarir yang sangat bagus, karena perusahaannya sangat profesional dan juga gaji yang diberikan jauh diatas rata - rata dari gaji yang ditawarkan oleh perusahaan lain.
Entah apa yang ada di dalam kepala Mathias, sehingga lebih memilih jalan berduri dari pada memilih setia pada perusahaan yang telah memberinya jaminan hidup mewah.
Selesai meeting, semua kepala divisi itupun membubarkan diri dan kembali pada pekerjaannya lagi.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗