
Ayu dan putra putrinya masih berada diruang makan meski acara makan sudah selesai.
Kebiasaan itu sudah sejak lama terbentuk, karena hanya pada saat inilah dulu keluarga ini bisa saling berbagi.
"Kenapa Miss Anna dan Willy kesini sekarang? Bukankah mereka harusnya datang besok pagi?" tanya Ayu pada Morgan.
"Ya Ma ... karena Morgan yang memintanya."
"Kenapa?"
"Tidak apa - apa, Morgan hanya ingin sedikit mengobrol saja dengan Willy."
Ayu hanya mencebik saat mendengar jawaban yang terlontar dari bibir putranya.
"Ya sudah mama ke kamar dulu." Ayu kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya melewati lorong yang menuju ke kamar utama rumah ini.
Morgan menatap kepergian wanita yang telah melahirkannya dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
*****
"Beraninya kau menaikkan kakimu ke atas meja." Morgan datang dengan tiba - tiba saat Willy baru saja duduk dan mencoba meluruskan kakinya dengan menaikkannya ke atas meja.
Sial, kenapa beruang gila ini datang di saat yang tidak tepat seperti ini. Wajah Willy menjadi pias seketika. Ia pun segera menurunkan kakinya.
"Hai sahabat terbaikku, kau pasti salah lihat. Aku mana berani seperti itu." Bak seorang penjilat profesional, Willy mencoba mencairkan suasana dan merayu sahabatnya.
"Apa kau pikir mataku buta?" Dengan wajah datar, Morgan menatap ke arah Willy.
"Bukan aku yang mengatakannya kan?" Hehehe ... ayolah jangan memasang wajahmu seperti itu. Lanjut Willy dalam hatinya.
"Apa kau bilang?"
"Ahaha ... bukan apa - apa. Ayo silahkan duduk, kau bilang ingin bercerita sedikit hal padaku. Ceritakan lah!" Willy merangkul bahu sahabatnya dan mengajaknya duduk di sofa.
"Ayo, cerita lah! ada apa?" Willy tersenyum pada Morgan.
"Aku sudah tidak berselera untuk bercerita, lagipula akan sangat mustahil kau bisa mengerti apa yang akan ku ceritakan." Morgan memandang remeh pada Willy.
Hal itu bukan tanpa alasan, lelaki itu selalu apes saat mencoba mendekati wanita. Ia seperti mendapat sebuah kutukan. Bayangkan saja di usianya yang kini sudah hampir 35 tahun, pria itu masih hidup sendiri. "Jomblo abadi" mungkin itulah gelar yang cocok untuk sahabat Morgan yang satu ini.
Padahal jika dilihat, Willy ini seperti memiliki kharisma yang kuat. Namun hal itu seolah menjadi sirna saat kalian mencoba mengobrol dan dekat dengannya. Dia gila, gila bekerja. Tak ada seorang pun wanita yang terlihat betah bersamanya. Karena dalam dunianya, uang adalah yang utama. Profesionalismenya pada apa yang ia kerjakan tak bisa ditawar. Ia akan siap bekerja kapanpun, ketika sang pemilik uang memintanya.
__ADS_1
Apa maksudmu hey beruang gila? batin Willy.
Sialnya aku hanya bisa mengatai mu dengan membatin saja. Lanjutnya.
"Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan seperti itu?"
"Bukankah hal itu benar? Aku bahkan tak pernah melihatmu menjalin hubungan bersama seorang wanita. Dan aku tidak yakin jika yang terlihat beberapa kali berkencan denganmu itu benar - benar wanita. Jadi kurasa kau tidak akan paham." Morgan tergelak setelah mengatakan hal itu.
"Maksudmu? Ya, tentu saja. Aku masih sibuk bekerja, jadi aku tidak punya waktu untuk bermain - main sepertimu, Alex ataupun Alan dan kurasa aku perlu menegaskannya, bahwa yang berkencan denganku itu adalah wanita asli, Morgan. Apa kau kira mereka itu boneka?" Willy mengedihkan bahunya dan mencoba bersikap santai meskipun batinnya meronta.
"Hemm ya, kuharap itu benar"
"Tentu saja benar, aku masih waras Morgan."
Memangnya dia pikir aku berkencan dengan wanita jadi - jadian? ihh membayangkannya saja membuat bulu kudukku berdiri. Willy.
"Ssst ... pergilah sana. Aku tidak jadi bercerita. Lebih baik kau tidur saja sana, dan bekerjalah dengan baik besok. Jika tidak aku tidak akan memakai jasamu lagi." Dengan santainya Morgan berlalu dan meninggalkan Willy seorang diri.
*****
Dasar pria aneh, terkadang kau begitu menyebalkan. Tapi terkadang kau juga membuatku terkejut akan sikapmu. Kadang kau nampak seperti pahlawan yang menyelamatkanku, tapi saat aku ingin berterimakasih kau selalu kembali seperti orang yang kukenal sebelumnya. Ya, Tuan tidak waras yang tak punya hati. Tapi saat aku menjaga jarak denganmu, kau seolah mendekat dan memberiku harapan lebih atas hubungan ini. Kau bahkan suka membuat jantungku berdebar - debar setengah mati. Tapi mungkin memang lebih baik aku harus menjaga jarak untuk diriku dan juga hatiku.
Ya, Eylin. Bagaimanapun juga hubungan ini tercipta dari sebuah awal yang tidak baik. Tak seharusnya aku berharap lebih.
___________
Gadis itu berbaring di sofa dan memejamkan matanya. Sementara pikirannya berkeliaran kesana kemari. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
Jika Morgan bersikap baik dan manis padanya dihadapan semua orang, itu sudah menjadi hal yang biasa baginya.
Tapi beberapa saat yang lalu, saat mereka baru saja sama - sama sampai didepan kamar. Morgan lagi - lagi mencium keningnya, lelaki itu bahkan mengusap lembut puncak kepalanya. Seolah menyalurkan sebuah rasa yang terpendam. Bahkan Eylina dapat merasakan ketulusan melalui sentuhan tersebut. Membuat jantungnya berdegup tak karuan dan juga menimbulkan perasaan aneh dalam dirinya.
Eylina terlalu larut dalam pikirannya, hingga tak sadar jika lelaki yang berstatus sebagai suaminya itu telah masuk ke dalam kamar.
Morgan terdiam cukup lama di depan pintu, gelenyar aneh tiba - tiba mengalir dalam dirinya. Dengan perlahan ia melangkahkan kakinya ke arah gadis yang kini terlihat terbaring tak berdaya dengan mata terpejam.
Dia sudah tidur rupanya. Dasar tukang tidur. Gumam Morgan.
Ia duduk berjongkok disisi sofa.
Memandangi pesona yang terpancar dari wajah cantik seorang gadis yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Ada rasa yang ia sendiri bahkan tak bisa mengungkapkannya. Perasaan itu semakin membuncah dari hari ke hari.
Ada rasa mengagumi, dan rasa ingin memiliki lebih dari sekedar "mainan".
Ia terhanyut, dan entah dorongan dari mana yang membuatnya mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya pada bibir mungil Eylina.
Tuan Muda?
Eylina terkejut dan langsung membuka matanya.
Morgan menarik dirinya, ia pun sama terkejutnya. Ia yang tadinya mengira gadis itu sedang terlelap kini menjadi canggung karena tertangkap basah sedang mencuri ciuman dari gadis yang ia tawan dalam ikatan pernikahan.
"Tuan?" Eylina pun tak kalah canggung, pipinya bersemu merah. Sentuhan bibir Morgan itu masih sangat jelas terasa.
"Maafkan aku." Lelaki itu menunduk.
Apa maksudmu dengan semua ini Tuan? bisakah kau tidak membuatku berpikir macam - macam?
Ah ya Tuhan, apakah yang kurasakan malam itu benar - benar sebuah ciuman darinya?
Eylina menggigit bibir bawahnya saat tiba - tiba teringat mimpinya yang terasa begitu nyata waktu itu.
"Hey, gadis bodoh. Apa yang kau pikirkan hah? Jangan kau pikir aku akan berbuat macam - macam padamu." Dengan tanpa beban Morgan mengatakan semuanya, meski didalam dadanya sedang bergemuruh.
"Yang tadi itu tidak sengaja kau tahu. Lupakan saja." Lelaki itu kemudian melangkahkan kakinya lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut tebalnya.
Eylina merasakan pipinya basah, ya! air matanya jatuh tanpa ia sadari. Perasaannya seperti dipermainkan oleh lelaki yang kini menjadi suaminya.
Aku tahu pernikahan ini hanya permainan, Tuan. Tapi bisakah kita bermain sandiwara dengan sewajarnya? Bermain sandiwara hanya di hadapan orang - orang saja?
Eylina menundukkan kepalanya, ia menangis tanpa suara.
Kurasa memang aku seharusnya menjaga hatiku seperti sejak awal. Seharusnya aku tak membiarkan perasaan apapun mempengaruhiku. Eylina.
Perasaan apa ini? Setiap hari rasanya hatiku bergetar saat bersamanya. Aku merasa gila saat tak melihat wajahnya sebentar saja. Sial!
ini tidak boleh terjadi. Seharusnya aku mengeraskan hatiku dan tetap menjaganya.
Morgan pun sama, ia merasakan sakit di dadanya.
Malam itu berlalu dengan begitu hening setelah kejadian tersebut. Eylina berusaha memejamkan matanya dan melupakan apa yang baru saja terjadi. Begitu juga dengan Morgan.
__ADS_1
Setelah berusaha cukup keras, keduanya pun berhasil menembus dunia mimpi masing - masing.
💗💗💗💗💗💗