
Pagi - pagi sekali Eylina bangun. Ia meraba bibirnya.
Semalam itu cuma mimpi kan? tapi kenapa rasanya sangat nyata?
Ah dasar bodoh, apa saja yang kupikirkan. Dia tidak mungkin melakukan hal itu. Ingat Eylin derajat kalian berbeda, pasti seleranya juga berbeda. Kau harus sadar diri. Gadis itu berkata pada dirinya sendiri.
Eylina menengok ke arah ranjang tempat tidur Morgan, namun tempat tidur itu sudah kosong.
Eh? kemana dia?
Ia kemudian masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Lalu keluar dari kamar setelah selesai berganti baju dan memoleskan sedikit make up ke wajahnya.
Sepi sekali? dimana semua orang?
Eylina melewati ruang tengah dan menuju meja makan.
Tidak ada seorang anggota keluarga disana.
Hanya ada pelayan - pelayan yang terlihat berlalu lalang mengerjakan pekerjaan mereka masing - masing.
Ah itu Pak Gunawan.
Eylina berjalan ke arah Pak Gun yang sedang memberi arahan pada beberapa pelayan.
"Pak Gun ...."
Suara Eylina membuat lelaki itu menghentikan aktivitasnya.
"Iya nona, ada yang bisa saya bantu?"
"Dimana semua orang?"
"Tuan Wira sudah pergi sejak tadi pagi bersama tuan muda, Nona".
"Dan yang lain?"
"Mungkin masih bersiap - siap Nona." Pak Gun tersenyum ramah.
"Ah, ya sudah terimakasih Pak Gun."
"Sama - sama Nona."
Eylina kemudian berlalu dan menunggu di meja makan.
Sementara Pak Gunawan melanjutkan aktivitasnya.
"Tundukkan pandangan kalian!" Kata - kata lelaki itu sudah seperti mantra yang dapat mengendalikan semua orang yang ada dihadapannya saat ini. Ia menatap tidak suka pada beberapa orang yang terlihat mengamati nona mudanya.
"Beraninya kalian bersikap tidak sopan seperti itu."
*****
"Wah ... wah ... wah ... apa kau sudah sangat kelaparan sampai pagi - pagi seperti ini kau sudah duduk disini hah?"
__ADS_1
Ibu mertua Eylina itu memandangnya dengan sinis.
"Tidak juga, Eylina hanya merasa bosan dikamar." Eylina berusaha tersenyum ramah. Selama hampir tiga minggu ia menjadi istri Morgan, ia belum pernah sekalipun mengobrol langsung dengan ibu mertuanya tersebut.
"Sebenarnya apa yang dilihat Morgan darimu hingga mau menikahi gadis sepertimu? Benar - benar tidak layak."
"Saya juga tidak tahu Ma, tapi kurasa itu pasti karena ada hal yang menarik dari diriku yang membuat suamiku tertarik padaku." Eylina tersenyum lagi. Meski ia ragu untuk mengatakannya, tapi ia tetap berusaha.
Dia harus tetap menjaga sandiwara pernikahannya dengan baik agar tidak ada yang tahu kebenarannya.
"Rupanya kau sangat percaya diri hah. Aku yakin kau pasti menggunakan cara kotor dan licik untuk menjerat putraku bukan? Dan satu lagi ku peringatkan padamu, jangan pernah panggil aku mama, karena aku bukan mama mu atau pun mama mertuamu. Cih ... aku tidak sudi jika harus mengakui mu sebagai menantu." Ayu memberikan tatapan sinis dan merendahkan pada gadis itu.
"Maaf Ma, tapi memang begitulah kenyataannya. Tuan Morgan yang memilihku dan memintaku menikah dengannya." Eylina tersenyum meski dalam hatinya merasakan perih karena ucapan ibu mertuanya. Ia memang gadis miskin dan sudah sering dihina karena hutangnya yang menumpuk dimana - mana. Tapi ia tidak pernah direndahkan harga dirinya seperti ini.
Terlebih lagi, ia tidak pernah sekalipun mengharapkan pernikahan ini.
"Pagi Ma ... pagi kak Eylin." Emily dan Luna datang bersamaan.
"Selamat pagi ...." Eylina tersenyum pada kedua adik iparnya.
"Papa sama kak Morgan kemana?" Luna mencari tahu.
"Papamu ada urusan bersama kakakmu. Mereka pergi bersama sekertaris Rey." Ayu memberi penjelasan singkat.
"Ke kantor?" Luna.
"Ke Singapore sayang."
"Tumben mendadak Ma?" Emily.
Pembicaraan mereka terhenti saat para pelayan datang untuk menyajikan makanan di atas meja.
"Kak Eylin, yuk makan." Ajak Emily.
"Tunggu! kita masih menunggu seseorang." Ayu menatap tajam dan mengiris pada Eylina.
Hhh ... ibu mertua. Sebenarnya apa salahku padamu? Kenapa kau begitu membenciku? Kumohon tenanglah, pernikahan ini hanya sebuah sandiwara yang akan segera berakhir dengan cepat. Eylina berusaha untuk tenang menghadapi sikap ibu mertuanya. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Selamat pagi semua ...." Dengan wajah sangat ceria, seseorang yang ditunggu - tunggu oleh Ayu pun datang dan menyapa semua orang yang sedang duduk dimeja makan.
Kak Bella?
Ish ... ngapain sih pagi - pagi kesini? Gerutu Emily dalam hatinya.
"Pagi sayang, ayo duduk sini sama Tante." Ayu menepuk kursi kosong disebelahnya.
"Muah ... muah." Bella mendekat dan mencium pipi Ayu di kanan dan kiri.
"Hai Emily ... hai Luna." Bella menyapa kedua adik perempuan Morgan dengan gaya sok akrab.
"Ngapain kak Bella kesini? Semalam kan udah makan malam disini." Emily menatap sinis ke arah Bella.
"Emily! Bersikaplah dengan sopan pada calon kakak ipar mu." Bentak Ayu.
"Kak Morgan udah menikah ma, dan kak Eylina lah yang menjadi kakak ipar disini." Emily merasa kesal dengan ucapan mamanya.
__ADS_1
Hhh ... masa iya sih pagi - pagi harus ada keributan disini. Eylina.
"Aduuuhhh ... udah ah. Luna pusing dengernya. Makan dulu yuk, lapar tau."
Mereka pun akhirnya menyantap makanan itu dengan suasana yang hening.
Namun mata Bella dan Ayu tak berhenti menatap Eylina dengan tajam, seolah mengintimidasi gadis tersebut. Membuat Eylina menghentikan aktivitas makannya walaupun perutnya belum terasa kenyang.
Ia meletakkan sendoknya dan meneguk air putih yang berada didepannya hingga habis.
"Kak Eylin ... kenapa tidak dihabiskan?" Emily heran melihat kakak iparnya. Ia melihat, Eylina baru menyuapkan tiga hingga empat sendok makan ke dalam mulutnya namun sudah meletakkan kembali sendoknya.
"Kakak sudah kenyang Emil." Gadis itu tersenyum manis.
Cih ... gaya sekali. Dasar murahan. Bella.
"Ah iya sayang. Tante mengundang teman - teman tante hari ini. Tante akan memperkenalkan mu pada mereka sebagai calon menantu yang akan menggantikan posisinya." Ayu menunjuk dengan ekor matanya ke arah Eylina.
Ya ... ya. Terserah kalian saja. Aku juga sudah malas berada dirumah ini. Aku ingin segera kembali ke pangkuan ibuku. Menjalani hidupku dengan normal dan mencari jodoh sejati ku. Eylina.
"Mama apa - apaan sih? Nggak seharusnya mama bilang kayak gitu. Istri kak Morgan tuh cuma satu Ma dan hubungan mereka juga baik - baik aja. Dan kak Bella, kakak sama - sama perempuan. Harusnya kak Bella tau diri dan berhenti menghasut mama!" Emily memandang tidak suka pada Bella.
Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa mamanya diperalat oleh wanita licik itu.
"Emily! Jaga bicaramu!" Ayu membulatkan matanya.
"Emily, jangan berkata kasar seperti itu." Eylina mengusap bahu adik iparnya, untuk menenangkannya.
"Yuk kak, tidak ada gunanya kita meladeni kak Bella. Nanti kakak hanya akan sakit hati mendengar ucapannya." Emily berdiri dan menarik tangan Eylina.
Mereka kemudian meninggalkan meja makan.
"Kak tungguin Luna." Gadis kecil yang masih asik makan itu lalu terburu - buru meletakkan sendoknya dan menyusul dibelakang Emily dan Eylina yang sedang berjalan menuju taman belakang.
"Apapun yang dikatakan kak Bella, kak Eylin nggak usah dengerin. Dia itu cewek gila, dari dulu ngejar - ngejar kak Morgan. Tapi kak Eylin tenang aja, kak Morgan nggak akan tergoda sama dia. Karena kak Morgan udah tau kebusukannya." Emily kemudian duduk di bangku taman.
"Maksudnya?" Eylina mengernyitkan dahinya dan duduk di depan Emily.
"Iya ... aku dan kak Morgan tuh udah tau semua kebusukan kak Bella. Kak Morgan tuh cukup dekat dengan adik kak Bella. Namanya Gavin." Wajah Emily bersemu merah saat menyebutkan nama Gavin.
"Cie ... cie." Luna menggoda kakaknya.
Sementara Eylina makin mengerutkan dahinya.
"Kak Gavin itu cowoknya kak Emil, kak." Luna tertawa terbahak - bahak. Membuat kakaknya memukul lengannya.
"Aw ... sakit tau." Luna mengusap lengannya yang terasa panas.
"Udah ah. Jadi Gavin itu tau semua kebobrokan kak Bella. Dia cerita semuanya ke aku dan kak Morgan. Dulu kak Morgan pernah hampir setuju dijodohkan sama kak Bella karena kak Morgan udah kehilangan semangat hidup waktu itu." Emily menatap mata Eylina.
"Kehilangan semangat hidup?" Eylina terheran mendengarnya.
"Iya, tapi ceritanya panjang kak, Emil nggak berhak buat nyeritainnya hehehe ...."
Eylina memonyongkan bibirnya, seolah kecewa karena karena tidak dapat mendengar ceritanya.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗💗