
Morgan kemudian berlalu dan terlihat masuk ke dalam ruangan kerjanya.
Sementara Eylina yang masih terkejut karena serangan tiba - tiba dari Morgan itupun hanya bisa diam terpaku sambil berusaha mengembalikan kesadarannya.
Selama ia tumbuh menjadi remaja hingga saat ini ia belum pernah merasakan berciuman dengan seorang lelaki. Bahkan untuk membayangkannya pun ia tidak sempat.
Ia kemudian terduduk di bawah tiang besar yang berada di depan kamarnya. Kakinya terasa lemas dan jantungnya masih berdegup tak beraturan.
Apa yang baru saja terjadi ya Tuhan? kenapa tuan muda melakukannya? *K*apan permainan ini akan berakhir?
Air matanya mulai menetes, bukan karena ia merasa baru saja dilecehkan. Namun ia justru sangat takut jika ia tak bisa lagi menjaga hatinya. Karena ia sendiripun saat ini sedang merasakan gejolak yang tak bisa digambarkan di dalam hatinya.
Ia takut jika harus jatuh kedalam buaian Morgan. Seorang lelaki yang menurutnya tak punya perasaan. Lelaki yang bahkan bisa membuangnya kapanpun dia mau.
Gadis itu menyeka air matanya lalu meraih tasnya yang tergeletak di lantai kemudian berdiri dan masuk kedalam kamarnya.
Ia lalu membersihkan tubuhnya dan berendam cukup lama di dalam bak mandi. Gadis itu nampak sedang menghibur dirinya, sesekali membiarkan kepalanya hingga tenggelam lalu muncul kembali.
Ia bermain - main sampai puas dan merasa bebannya telah berkurang.
Eylina membilas tubuhnya di bawah guyuran air shower hingga bersih lalu memakai handuknya.
Tenangkan dirimu Eylina, kendalikan dirimu. Ingatlah jika hubungan ini hanyalah sebatas kesepakatan. Kau dan dia punya hidup kalian masing - masing. Dan saat kontrak ini berakhir kalian akan hidup sesuai jalan hidup kalian masing - masing. Jaga hatimu dan juga jauhkan pikiranmu. Semangat!
Begitulah Eylina saat bermonolog di depan cermin kamar mandi. Ia kemudian mengepalkan tangannya di udara.
Dirinya kini jauh lebih bersemangat, senyum cerianya pun nampak sudah terlihat.
Setelah berganti pakaian, ia merias tipis wajahnya di depan cermin kamar.
Kepalanya menengok ke arah jam dinding yang tergantung tak jauh dari meja riasnya. Sebuah jam dinding mewah dengan design elegan yang dipesan khusus dan didatangkan dari luar negeri itu nampak terus berdetak tanpa lelah.
Aneh, sudah hampir jam 19.00 malam tapi tuan muda tidak terlihat dari tadi?
Kemana dia?
Gadis itupun kemudian turun untuk melihat keadaan dibawah dan juga karena ini adalah saatnya makan malam.
"Hey, wanita murahan." Suara seseorang membuat langkah Eylina terhenti seketika saat ia menginjak anak tangga terakhir.
Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat ibu mertuanya nampak sedang berjalan kearahnya.
"Mama?"
"Sudah kubilang padamu, jangan panggil aku Mama. Apa telingamu tuli?"
"Tentu saja tidak Ma, ah maksudku Nyonya. Oh ya, ada perlu apa Nyonya?"
Eylina berusaha tersenyum.
"Apa kau merasa bangga karena putraku telah memperkenalkan mu di hadapan banyak orang hah?" Ayu berjalan mengelilingi menantunya.
__ADS_1
"Tentu saja Nyonya, wanita manapun pasti merasa bangga jika suaminya mengakui keberadaannya." Eylina masih tersenyum.
"Jangan kau pikir putraku mencintaimu, dasar gadis murahan. Karena jika dia mencintaimu, pastilah dia akan betah dirumah bersamamu. Bahkan sekarang kau pasti tidak tahu dimana suamimu berada kan?"
Ayu tersenyum sinis pada Eylina.
"Tentu saja saya tahu Nyonya, karena dia adalah suami saya. Apa yang menjadi bagiannya juga menjadi bagian dari saya. Karena kami adalah satu dan saling terhubung satu sama lain."
Wah, bukankah aktingku bagus sekali? Aku mungkin akan mendaftar menjadi pemeran disalah satu film nanti.
Ayolah ibu mertua kenapa kita tidak bekerjasama saja? Anda bujuk tuan Wira agar mau dengan segera menyerahkan posisi Presdir pada putra anda. Dan anda tidak akan melihatku berkeliaran dirumah ini lagi.
Dan masalah akan selesai, bukan begitu?
Batin Eylina.
"Hahaha, rupanya kau terlalu percaya diri hah?" Ayu sudah merasa geram karena Eylina tak sedikitpun terpancing.
"Maaf Nyonya, tapi Eylina hanya mengatakan kebenarannya." Gadis itu dengan tidak berdosa menatap penuh arti ke dalam mata ibu mertuanya.
"Cih ... kita lihat saja. Seberapa lama Morgan akan mempertahankan mu dan jangan pernah mengeluarkan air matamu saat putraku membuang mu suatu saat nanti." Ayu tersenyum sinis.
"Baiklah" Eylina justru membalas tatapan ibu mertuanya dengan senyuman.
"Permisi Nyonya, makan malam sudah siap." Pak Gun datang dari arah samping.
"Ah, ya terimakasih pak Gun." Perempuan paruh baya itu kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan Eylina yang masih berdiri disana.
"Terimakasih pak Gun." Gadis itu tersenyum ramah pada Gun dan dibalas anggukan kepala oleh kepala pelayan tersebut.
Eylina pun kemudian berjalan menuju ruang makan, namun baru saja ia melangkahkan kakinya beberapa langkah.
Dua orang gadis dari arah belakang memanggilnya.
"Kak Eylin." Kedua gadis itu berlari ke arah kakak iparnya.
Eylina seperti sebuah magnet yang bisa membuat Emily dan Luna sama - sama menempel padanya.
Kedua gadis itu berebut menggandeng tangan kakak iparnya saat mereka sampai di hadapan Eylina.
"Kalian kenapa sih?"
Eylina mengernyitkan dahinya karena heran melihat tingkah kedua adik iparnya.
"Nggak papa hehehe, kangen aja sama kak Eylin." Jawab Luna dengan enteng.
"Ya udah yuk kita makan dulu." Ajak Emily seraya menarik tangan kakak iparnya.
Ya ampun, kalian lucu banget sih. Emily, bahkan usianya hanya selisih 2 tahun denganku. Tapi dia masih imut dan gemes banget. Luna apalagi, cute banget.
Terimakasih ya Tuhan, setidaknya aku tak merasa kesepian menjalani hari - hariku di dalam rumah besar ini. Batin Eylina seraya tersenyum melihat tingkah kedua adik iparnya.
__ADS_1
Mereka kemudian duduk lalu menikmati makan malam yang telah disediakan oleh para pelayan.
Ya Tuhan, enak sekali rasanya. Batin Eylina saat ia memasukkan suapan pertamanya.
Menu spaghetti bolognaise favorite keluarga ini disajikan dengan sangat menggoda serta dibuat dengan cita rasa yang mampu membuat lidah penikmatnya bergoyang - goyang nikmat karena teksturnya yang lembut dan kenyal serta daging yang terasa begitu empuk dan gurih.
Semua orang yang berada di meja makan terlihat sangat menikmati hidangan malam hari ini.
Membuat pak Gun bisa tersenyum puas karena kerja keras dari anak buahnya yang tak mengecewakan.
"Sayang sekali kak Morgan nggak ikut makan malam dirumah hari ini. Padahal ini menu kesukaan kak Morgan loh." Luna meletakkan peralatan makannya kemudian mengambil dan meminum segelas air yang ada di hadapannya sampai habis.
"Oh ya?" Jawab Eylina antusias.
"Memangnya apa yang kau tau tentang suamimu hingga makanan kesukaannya saja kau tidak tau." Kata Ayu sembari melirik Eylina dengan sinis.
"Oh, kami memang tidak melalui tahap pendekatan atau pacaran Ma. Jadi pasti ada beberapa hal yang belum sempat kami bagi satu sama lain terlebih lagi, suami Eylina juga sangat sibuk." Eylina menjawab dengan tenang seraya tersenyum.
"Ah, kalau begitu kak Eylin sama kak Morgan bulan madu aja." Sahut Emily.
Deg ....
Aduuuhh,, sial. Kenapa malah jadi seperti ini sih?
Wajah Eylina berubah menjadi pias.
"Mana mungkin Emily, Morgan tidak mencintainya. Mama juga nggak yakin kalau kakak kalian sudah tidur bersamanya."
Ayu memandang menantunya seolah sedang merendahkan gadis itu.
"Mama, cukup dong Ma. Jangan bahas hal itu terus, lagian Emily juga lihat hubungan mereka baik kok. Mama juga lihat sendiri kan tadi? Kak Morgan bahkan dengan bangga memperkenalkan kak Eylin di depan publik." Gadis yang merupakan adik kandung Morgan itu terlihat heran dengan cara berpikir Mamanya.
Sementara Eylina hanya menunduk dan mencoba tetap tenang serta menjaga senyumnya.
"Mama yang lebih hafal bagaimana sifat dari kakak kalian. Kakak kalian jelas tidak akan berselera dengan gadis ini. Sekalipun memang dia cantik dan bersih tapi tetap saja, mama tidak yakin Morgan mencintainya dan mau tidur bersamanya." Ayu melirik tajam pada Eylina lalu berdiri dari tempat duduknya kemudian meninggalkan ketiga gadis tersebut.
Sementara pak Gun hanya bisa diam, ekor matanya terlihat mengikuti kemana Nyonya Besarnya melangkah. Wanita paruh baya tersebut terlihat memasuki sebuah ruangan.
"Kak Eylin sabar ya." Emily mengusap bahu kakak iparnya.
"Kakak nggak papa kok. Kakak tahu, Mama pasti menginginkan yang terbaik untuk kakak kalian." Eylina tersenyum pada Emily, untuk memastikan pada gadis itu bahwa dirinya tidak apa - apa.
Kedua adik iparnya itu kemudian memeluk dirinya dari samping kiri dan kanan.
Ya ampun, kalian pengertian banget sih.
Eylina merasa terharu atas dukungan dari kedua adik iparnya. Ia memejamkan matanya, merasakan ketulusan dari kedua gadis yang kini memeluknya.
💗💗💗💗💗
Mulai besok novel ini ganti cover ya gais, karena author menemukan ada novel yang covernya sama dengan novel ini.
__ADS_1