Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Pasca Operasi (Part 3)


__ADS_3

Di halaman rumah sakit, dua orang yang tak lain adalah Rey dan Sista sedang berjalan beriringan. Sista memijat keningnya yang masih terasa berdenyut karena terbentur pintu tadi.


"Bisakah kau berjalan sedikit lebih cepat?" tanya Rey saat gadis itu tertinggal di sedikit jauh darinya.


"Ah, iya ...." Sista pun sedikit berlari mengejar pria itu.


Kakimu panjang sekali. Apa iya aku harus berlari untuk mengimbangi langkahmu.


"Dasar lamban!"


"Hey, bukan aku yang lamban. Tapi kakimu yang terlalu panjang!"


Aku terus yang disalahkan!


"Kurangi porsi makan mu! Sebagai bodyguard , kau harus cekatan. Jangan lamban seperti siput!" kata Rey tanpa menoleh sedikitpun ke arah lawan bicaranya.


Wajah datarnya dan tutur katanya yang seenaknya sendiri, membuat Sista ingin sekali menendang lelaki tersebut. Tapi sayangnya itu cuma bisa ia lakukan dalam mimpi saja.


"Nona Eylina justru menyuruhku banyak makan. Agar aku kuat. Lagipula aku sedikit lambat karena kau baru saja membuatku terbentur pintu itu. Aku jadi kehilangan fokus sekarang!"


"Aku tidak merasa membenturkan kepalamu, kau saja yang tidak bisa memposisikan dirimu."


Entah apa yang dipikirkan Sista. Saat keluar dari ruangan Eylina, gadis itu hendak melongokkan kepalanya kedalam, namun disaat bersamaan Rey justru menarik pintu tersebut. Tidak disengaja namun yang jelas benturan itu sukses membuat keningnya berdenyut - denyut.


"Dasar makhluk aneh!" kata Sista lirih.


"Apa?"


"Bukan apa - apa! Kau salah dengar, aku tidak mengatakan apapun. Lagipula kau bilang aku tidak boleh banyak bicara. Ya sudah, mari kita sama - sama diam,"


Jelas - jelas aku mendengarnya, kau mengatai ku aneh! gumam Rey.


Perdebatan kecil membuat mereka berdua tak terasa telah sampai pada mobil mewah yang terparkir di parkiran khusus untuk tamu VVIP. Ya, siapa lagi kalau bukan dari keluarga besar Wiratmadja.


Rey duduk di belakang kemudinya, dan Sista juga menempati posisinya. Rey melajukan mobil itu keluar dari area rumah sakit. Menyusuri jalanan untuk mencari restoran terdekat yang menyediakan menu bubur yang di dibutuhkan oleh nona muda mereka.


"Jangan diam saja! Cari di aplikasi, dimana ada restoran yang menyediakan bubur."


"Baiklah!" Sista merogoh kantong blazernya, mengambil dan mengotak atik ponselnya kemudian mencari di laman penelusuran.


"Bagaimana?"


"Ada beberapa restoran di dekat sini," Sista menunjukkan layar ponselnya.


"Restoran Bekisar, hanya berjarak sekitar beberapa ratus meter dari sini," tambah gadis itu, Sista lalu menatap depan dan juga sekeliling jalanan. Karena restoran yang dia maksud pasti sudah sangat dekat dari mereka.


Rey pun juga mengurangi kecepatan mobilnya. Ia ikut menyapukan pandangannya ke sekitar jalanan yang ia lalui. Ada banyak bangunan besar, dan juga ruko - ruko disana.


Dan akhirnya nampak lah sebuah tulisan besar pada sebuah baliho, Hotel Panama. Di baliho tersebut tertulis juga nama restoran yang disebutkan oleh Sista. Restoran Bekisar yang dimaksud Sista ternyata berada di dalam sebuah hotel tersebut.


Rey membelokkan mobil yang dikemudikannya ke dalam area hotel. Mobil itu berhenti tepat di depan loby. Tak lama, seorang pegawai hotel datang menyambut mereka dan menundukkan kepalanya. Pegawai itu sedikit terkejut saat tau siapa yang ada di depan matanya. Jelas saja, Rey bahkan sama terkenalnya dengan Morgan. Banyak orang juga bahkan lebih penasaran dengan kehidupan orang yang selalu setia berada dibelakang Morgan itu.


"Selamat sore, selamat datang di hotel kami," sapa pegawai itu.

__ADS_1


Namun Rey hanya menganggukkan kepalanya, tanpa ekspresi apapun. Lelaki itu menyerahkan kunci mobilnya agar pegawai itu mengurusnya. Sedangkan Sista tersenyum lebar kepada pegawai itu.


Rey masuk ke dalam dan menyapukan pandangan ke seluruh sudut bangunan itu, ia kemudian langsung menuju restoran yang ada di sisi kiri di lantai dasar bangunan yang terdiri dari 14 lantai tersebut.


Seseorang menyambut kedatangan mereka dengan sangat ramah.


"Selamat datang di Restoran Bekisar," ucap salah seorang yang ada di depan pintu masuk restoran itu seraya menyatukan kedua telapak tangannya dan membungkukkan badannya.


Ia tersenyum sangat ramah pada Sista dan Rey.


"Apa disini menyediakan menu bubur?" tanya Rey datar tanpa basa basi.


"Benar, Tuan," jawab seorang waitress itu. "Mari silahkan duduk, dulu." Waitress yang berperawakan tinggi dan langsing itu membentangkan tangannya sebagai isyarat mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Tidak perlu! Berikan buku menunya!" perintah Rey dengan satu tangannya terangkat dan ditengadahkan meminta benda yang dimaksud.


Pelayan restoran itupun mengambil dan memberikan sebuah buku menu kepada dua orang tamu spesialnya. Rey membuka buku tersebut dan menimbang - nimbang.


"Aku pesan ini, take away!" Rey menunjuk salah satu menu.


"Baik Tuan, ada lagi?"


"Tidak!"


"Baiklah, silahkan duduk dulu sambil menunggu pesanan anda, Tuan."


Pelayan itu pun pergi, ia menulis pesanannya dan menyerahkan ke bagian food product. Dan tak perlu menunggu terlalu lama, pesanan itupun telah siap dan sudah dikemas rapi. Dengan segera pelayan itu menyerahkannya pada Sista karena Rey sedang sibuk menerima telepon.


"Tujuh puluh sembilan ribu rupiah, Nona,"


Wow ... lumayan juga harganya, batin Sista seraya membuka dompetnya. Namun sial, ia hanya punya selembar uang pecahan lima puluh ribuan.


"Sebentar ya, Mbak," katanya, ia pun menghampiri Rey.


"Emm ... sekertaris Rey, aku ingin meminta uang untuk membayar bill nya," katanya ragu - ragu.


Rey memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya dan mengambil dompetnya, serta menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan yang langsung diterima oleh Sista.


Gadis itu kemudian menuju kembali ke arah kasir dan menyerahkan uang itu. Ia tak menyadari jika uang yang diterimanya ada dua lembar. Dan baru sadar saat kasir restoran itu mengembalikan yang satu lembar lainnya bersamaan dengan kembaliannya.


"Terimakasih atas kunjungannya," kata kasir itu saat Rey dan Sista meninggalkan tempat itu.


Rey tidak menyahuti, ia tidak mengangguk atau bahkan tersenyum. Hanya Sista yang dari tadi meladeni sapaan dan juga ucapan terimakasih dari para pegawai yang berinteraksi dengan mereka.


Dasar sombong sekali! Apa salahnya sih, hanya menjawab salam dan sapaan mereka?


Gerutu Sista yang berjalan di belakang Rey.


Mereka berhenti di depan loby sambil menunggu petugas vallet parking membawakan mobil mereka.


Mereka masuk ke dalam mobil sesaat setelah mobil mereka tiba di depan loby.


Tanpa banyak obrolan, Rey melajukan mobil itu kembali ke rumah sakit.

__ADS_1


Sesampainya disana, ia dan Sista pun turun dan berjalan beriringan menuju kamar perawatan Eylina. Tangannya masih menggenggam uang kembalian dari kasir tadi.


"Sekertaris Rey, ini kembaliannya."


"Ambil saja!" kata Rey dengan tanpa beban, seolah sedang membuang debu.


Dia ini memang sombong atau bagaimana? Hhh ... ya sudah, lagipula lumayan hahaha ... seratus dua puluh ribu, hihihi ... batin Sista.


Sista lalu mengekor dan masuk ke dalam ruangan setelah Rey membuka tersebut.


"Permisi Tuan,"


"Kau dapat buburnya?"


"Iya, Tuan." Sista menyerahkan kantong yang dibawanya. Kemudian memundurkan kembali posisinya.


"Sayang, kau makan dulu." Morgan membuka kotak makanan berisi bubur dengan topping sayuran cincang dan abon sapi. Aroma gurih dari kaldu sapinya sangat menggoda.


"Tapi aku tidak bisa bangun, sayang."


Morgan lalu menyerahkan bubur itu ke tangan Sista yang masih berdiri disana. Ia kemudian mengatur sandaran brankar itu agar sedikit lebih tinggi. Ia dengan pelan - pelan melakukannya.


"Aww ... cukup sayang, perutku perih sekali."


"Terlalu tinggi ya?"


"Tidak, perutku hanya sedikit terguncang tadi." Ya, begitulah ... sedikit saja tubuhnya terguncang, maka luka bekas sayatan diperutnya itu seolah tertarik. Perih dan ngilu sekali.


"Maafkan aku," Morgan lalu mengambil posisi dan bersiap untuk menyuapi istri tercintanya.


Dengan sangat telaten Morgan menyuapkan bubur itu satu demi satu suap ke dalam mulut Eylina. Sesekali ia juga menawarkan minum pada gadis itu. Entah kenapa ia merasa senang sekali bisa merawat istri tercintanya itu.


"Sudah sayang, aku sudah kenyang." Eylina menolak suapan dari suaminya. Makan bubur memang membuat perut lebih cepat merasa kenyang.


"Baiklah, apa kau ingin minum?"


"Mmm ..." Eylina mengangguk sambil mengusap sisa makanan di bibirnya. Ia lalu menerima botol air mineral yang disodorkan suaminya dan menyedotnya pelan - pelan.


"Sayang, aku sudah makan. Sekarang kau makanlah! Aku tidak ingin kau ikut sakit karena kelaparan dan kelelahan," kata Eylina dengan lembut.


"Baiklah, Rey ... bawa kesini makanan ku!"


Dengan sigap Rey membawa makanan yang tadi di belikannya pada Morgan.


"Tuan, tapi sepertinya makanan ini sudah dingin. Apa perlu saya menghangatkannya? Atau Tuan ingin saya belikan makanan lagi?"


"Tidak perlu, aku makan itu saja."


Mendengar perkataan Morgan, Rey sedikit terkejut. Pria yang sangat dihormatinya itu tidak biasanya seperti ini. Morgan sangat menyukai kesempurnaan, terlebih lagi soal makanan. Makanan yang ia makan haruslah memenuhi standar gizi yang lengkap dan seimbang. Dan harus disajikan dengan menarik diatas piring. Ia juga pria yang sangat menjaga dan peduli akan kebersihan makanan. Karena hal itulah ia sangat jarang sekali membeli makanan diluar.


Untuk sekian waktu yang lama, setelah bertahun - tahun Rey menemaninya, ini adalah hari pertama lelaki terhormat itu tidak mempermasalahkan tentang makanan. Bahkan meski makanan itu telah menjadi dingin sejak tadi. Benar - benar sebuah keajaiban. Atau mungkin memang lelaki itu sudah banyak berubah, termasuk menurunkan semua standar hidupnya.


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2