
Menit demi menit telah berlalu, Rey masih sibuk melatih otot - ototnya.
Sementara Sista masih berlari mengelilingi taman.
Tinggal satu putaran lagi, gumamnya.
Dan ....
Ya, akhirnya dia menyelesaikan misi pertamanya. Sista berhenti tepat didekat Rey. Lelaki itu pun menghentikan aktivitasnya, ia mengambil handuk yang ada di dalam tasnya.
Sista mengatur nafasnya, dan menyeka wajahnya yang mengeluarkan banyak keringat. Pakaian yang dipakainya pun juga menjadi lembab karena peluh.
Ia lalu menyambar air mineral yang ada di bangku tak jauh dari tempat Rey berdiri.
"Lambat sekali!" sindir Rey secara acuh. Lelaki itu menatap jauh ke arah Tuan Mudanya berada.
Hah? Dasar makhluk menyebalkan! Bisanya hanya mengkritik orang.
Sista menghentikan aktivitasnya beberapa saat. Ia menikmati air minum yang ada ditangannya. Membiarkan air itu membasahi kerongkongannya.
"Hey! Apa maksudmu?"
"Jika cara berlari mu hanya seperti itu, bagaimana kau bisa mengejar penjahat? Bagaimana kau bisa melindungi Nona Muda?"
"Hey, dengar ya! Dari dulu aku memang tidak suka olahraga cardio seperti ini. Aku tidak kuat jika disuruh berlari. Lagi pula melindungi Nona Muda bukan dengan berlari, tapi dengan bela diri!"
"Oya? Tapi sayangnya sekarang kau harus mau berlari. Setiap hari ditempat dan waktu yang sama, aku akan melatih mu! Paham!" Mata Rey menatap tajam ke arah Sista.
"Apa? Mana bisa seperti itu? Apa aku akan menjadi atlit lari dan akan mengikuti kompetisi, hah? Aku hanya seorang bodyguard, tidak perlu latihan lari!"
"Ini sudah peraturan!"
"Ya ... ya baiklah! Kau yang menang, terserah! Itu urusan mu!"
Apa - apaan ini? Dia pikir dia siapa seenaknya memerintah dan menentukan segalanya. Dengan sesuka hatinya membuat keputusan sepihak seperti itu.
"Letakkan botol minuman mu!"
"Kenapa?"
"Jangan banyak bertanya! Ikuti saja apa yang kukatakan!"
"Ya ... terserah kau saja! Aku hanya anak buah, dan kau bosnya!"
Sista mengekor dibelakang Rey dengan hati yang kesal. Ia belum merilekskan otot - ototnya yang tegang. Dan sekarang, entah misi apa lagi yang sedang direncanakan oleh lelaki itu. Ia hanya bisa menurut apa yang dikatakan oleh atasannya itu.
__ADS_1
Lelaki itu pergi menuju mobil Eylina yang terparkir di ujung taman.
Mau apa lagi dia? Hhh ...
Rey berdiri disamping mobil, ia membalikkan badannya dan menatap gadis yang penampilannya sudah kacau itu.
"Kau bawa mobilnya!" kata Rey dengan enteng. Ia melemparkan kunci mobil pada Sista. Beruntung Sista sangat sigap dan bisa menangkapnya.
"Apa? Hey, jangan bercanda! Aku tidak bisa membawa mobil jenis ini. Ini mobil mewah. Bagaimana kalau nanti aku tiba - tiba menabrakkannya ke tiang listrik, ke pohon atau justru membuat mobil ini terbalik? Bagaimana aku akan menggantinya?"
"Diam! Bisakah kau diam? Telingaku sampai sakit mendengar suaramu! Cepat masuk!" perintah Rey. Ia pun membuka pintu yang ada dihadapannya.
Sista tidak punya pilihan, toh sekertaris itu juga ikut naik ke dalam mobil ini. Kalaupun celaka juga mereka akan celaka bersama pikirnya.
Ia pun lalu masuk dan duduk dibelakang kemudinya. Jantungnya terasa dipompa lebih cepat. Tangannya mengeluarkan keringat dingin saat telapak tangannya menyentuh bagian kemudi mobil.
Gadis itu mengambil napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan dirinya.
"Jangan tegang seperti itu!"
"Sudah kubilang dari awal, aku tidak pandai membawa mobil! Apalagi mobil mewah super mahal seperti ini?"
"Sudah kubilang jangan banyak bicara! Kau cukup mendengar arahan ku dan mempraktekannya, paham?!" Rey menggelengkan kepalanya. Sungguh kepalanya terasa sakit menghadapi Sista.
Bisa - bisanya aku memiliki anak buah seperti ini. Sangat berisik sekali!
Setelah dirasa suasananya lebih kondusif, Rey mulai menjelaskan panjang lebar mengenai cara kerja mobil tersebut serta fungsi dari berbagai tombol yang ada di hadapan Sista. Gadis itu hanya manggut - manggut mendengar penjelasan dari Rey. Sesekali tatapan mereka bertemu, terkadang keduanya juga berada dalam jarak yang sangat dekat. Hingga membuat mereka bisa saling bertukar hembusan napas.
Hal itu membuat suasana menjadi sedikit canggung. Namun dengan segera, baik Rey maupun Sista langsung kembali pada mode profesional nya.
"Apa kau sudah mengerti?" tanya Rey setelah mengakhiri penjelasannya.
"Lumayan," jawab Sista seraya mencebik.
"Apa itu lumayan? Mengerti atau tidak?" tanya Rey dengan sedikit penekanan.
"Ya ... ya, aku mengerti Tuan Sekertaris," jawab Sista tak kalah sengit. Gadis itu lalu membuang mukanya dan memutar bola matanya. Ia lelah.
"Kalau begitu cobalah! Tunggu apa lagi?"
"Baiklah," Sista mulai memencet sebuah tombol dan menyalakan mesinnya. Gadis itu perlahan mulai melajukan mobil itu dengan halus menyusuri jalanan di sekitar taman itu. Ia cukup lancar, tidak! Gadis itu terhitung lumayan lihai disaat percobaan pertama ini.
Ternyata lebih gampang dari yang kubayangkan. Keren! Semuanya serba pakai tombol. Bahkan dilengkapi dengan sensor yang bisa mengukur jarak di setiap sisi mobil untuk menghindari benturan. Super keren! Nanti walaupun aku mengantuk juga tetap bisa membawanya dengan santai tanpa takut menabrak sisi depan belakang ataupun samping. Apa mobil ini memang dipesan khusus? Keren sekali, coba ah ....
Sista melajukan mobil itu dengan lebih kencang, ia sengaja mengarahkan pada sebuah pohon besar yang ada disisi jalan. Lalu membiarkan kemudinya begitu saja. Dan benar saja, dalam jarak sekian meter kecepatan mobil itu mulai berkurang secara otomatis dan berhenti tepat di dekat pohon tersebut dengan jarak beberapa inci.
__ADS_1
Sekertaris Rey lalu menoleh dan menatap tajam pada gadis disampingnya.
"Kau pikir, latihan ini untuk main - main, hah?" Sebuah sentilan keras mengenai telinga Sista. Namun gadis itu tak berani mengaduh sama sekali.
"Ma ... maafkan aku, aku hanya penasaran saja atas apa yang kau jelaskan tadi. Kau bilang mobil ini dilengkapi sensor ...."
"Cukup!" Rey memotong kalimat Sista, ia menatap tajam pada gadis itu dan mendekatkan wajahnya.
"Sekalipun mobil ini dirancang khusus dengan segala kecanggihannya. Namun tetap saja mobil ini hanyalah sebuah barang buatan manusia yang bisa saja tidak berfungsi dengan semestinya, kau paham? Jangan bermain - main dengan tugasmu! Keselamatan Nona Muda adalah tanggung jawab mu. Jadi lakukan tugasmu dengan baik, atau kau akan membayarnya dengan mahal nantinya!"
"Iy ... iya, aku mengerti," Sista menundukkan kepala. Ia menyesali perbuatannya. Ya, dia tahu jika dirinya telah salah. Apa yang dikatakan sekertaris Rey memang benar. Secanggih apapun mobil ini, tetap saja ... barang ini hanyalah buatan tangan manusia.
"Jalankan kembali mobilnya, kita kembali ke tempat Tuan dan Nona Muda," perintah Rey.
"Baik,"
Sista kemudian membawa mobil itu dengan hati - hati, ia mengemudikannya kembali ke taman tempat Eylina berada.
Beberapa saat kemudian mobil itu telah kembali masuk area taman. Meski gadis itu terlihat sedikit slengean dimatanya, namun entah kenapa Rey merasa Sista sudah cukup bisa dipercaya. Alasannya yang paling kuat adalah karena gadis itu memang berhubungan baik dengan Eylina.
Mereka lalu turun dan berjalan beriringan ke arah Morgan. Tanpa obrolan, tanpa basa basi.
Morgan dan Eylina tengah duduk di rerumputan dipinggir danau, tangan Morgan merangkul pinggang Eylina. Sementara Eylina meletakkan kepalanya di bahu suaminya.
Luna pun juga berada disana, gadis kecil itu justru berbaring di rerumputan dan meletakkan kepalanya dipangkuan Eylina.
"Sekertaris Rey," panggil Sista.
"Mmm ..." sahut Rey tanpa menoleh.
"Tuan Morgan dan Nona Eylina benar - benar serasi, mereka juga mesra sekali. Apa mereka selalu seperti itu setiap hari?"
"Tentu saja, mereka adalah suami istri," jawab Rey datar.
Mendengar jawaban dari Rey, wajah Sista berubah seketika.
Aku juga tau mereka suami istri! Menyesal sekali aku mencoba mengajakmu bicara. Ternyata memang tidak berfaedah sama sekali. Nggak asik!
"Hai Sis, sini duduk!" Eylina melambaikan tangannya. Ia tersenyum ceria ke arah sahabatnya.
Namun dengan secepat kilat tangan Morgan meraih dagu Eylina dan menghadapkannya kembali ke arahnya.
Apaan sih?
Tak berpikir lama, Eylina mendaratkan sebuah ciuman di pipi suaminya. Ini adalah cara terbaik menghadapi sikap manja dari Morgan, yang kadang - kadang terasa sedikit berlebihan. Dan benar saja, wajah Morgan tersenyum lebar setelah mendapatkan ciuman dari istrinya.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗