
Sore itu setelah cukup puas bermain di taman, Morgan, Eylina beserta yang lainnya pun pulang kerumah.
Eylina masuk dan langsung naik ke atas. Sementara Luna juga langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Eylina menuju ke arah balkon dan berdiri disana. Terlihat dibawah sana para pelayan sedang melakukan pekerjaan mereka membersihkan area samping rumah. Gadis itu lalu melihat ponselnya, mengamati satu persatu foto yang ia ambil bersama suaminya tadi. Tak terasa ia tersenyum - senyum sendiri melihat gambar - gambar tersebut.
Oh iya, aku belum memberi tau ibuk kalau besok aku akan operasi. Kasih tau atau tidak ya? Bagaimana kalau ibuk pengen ikut ke rumah sakit? Ibuk pasti akan berpikir sedikit berlebihan dan mengkhawatirkan ku nanti. Tapi kalau tidak diberi tahu ... ah ya sudah ....
Eylina menekan nomor Dara, lalu menghapusnya kembali. Berulang - ulang ia lakukan hal itu. Hingga tidak menyadari jika suaminya telah berdiri di belakangnya.
"Hai Sayang," bisik Morgan ditelinga istrinya. Yang seketika membuat gadis itu terkejut dan langsung menoleh hingga pipinya otomatis menyentuh bibir Morgan.
"Sayang, kau mengagetkanku!" katanya seraya membalikkan badan.
"Oya?" Morgan tersenyum nakal. Ia mengunci tubuh Eylina di pinggir pagar balkon.
"Mau apa? Sayang aku ...." belum sempat Eylina menyelesaikan kalimatnya, Morgan sudah lebih dulu menyusuri leher jenjangnya dengan bibirnya. Sensasi yang dibuat oleh Morgan membuat Eylina memejamkan matanya.
"Sayang hentikan! Jangan membuat tanda merah disitu!"
"Uhmm ..." tak menghiraukan Eylina, Morgan terus melanjutkan aksinya.
"Sayang ayolah! Aku belum membersihkan badanku," Eylina berusaha mendorong tubuh kekar suaminya. Namun usahanya sia - sia. Tubuhnya justru terperangkap dalam pelukan Morgan.
"Kau mau menghubungi siapa?" tanya Morgan setelah menghentikan aktivitasnya.
"Ibu," jawab Eylina seraya menengadahkan wajahnya.
"Lalu kenapa tidak jadi?" tangan Morgan menangkup wajah Eylina yang sendu.
"Aku ragu,"
"Kenapa?"
"Tidak apa - apa, aku hanya takut ibu khawatir. Bagaimana kalau Ibu ingin datang dan menemaniku?"
"Tidak masalah kan? Ibu bisa datang kalau beliau mau. Akan ku suruh sopir untuk menjemputnya besok."
"Lalu bagaimana jika Mama dan Papa juga tiba - tiba datang?"
"Mmm ... sudahlah, tidak apa - apa. Biarkan saja mereka bertemu, mungkin sudah waktunya mereka bertemu kan?" jawab Morgan dengan enteng.
"Jangan bercanda! Mama belum sepenuhnya menerimaku, kan? Hubunganku dengan Mama belum terlalu baik sayang, lalu bagaimana tanggapan Mama kalau Mama tahu identitas ku?"
__ADS_1
"Mmm ... baiklah, aku akan usahakan secepatnya memberi tahu Papa dan Mama tentang identitas mu. Kau tidak perlu takut, aku yakin Papa bisa menerimamu seperti saat sebelum - sebelumnya." Morgan lalu meraih tubuh Eylina dan memeluknya dengan erat.
Bagaimana aku tidak takut? Belum tau identitas ku saja Mama seperti itu. Bahkan sampai sekarang saja aku tidak bisa memastikan jika Mama sudah menganggap ku menantunya. Lalu bagaimana reaksi Mama nanti saat benar - benar tau asal usul ku.
"Dengarkan aku! Aku yang memilihmu dan membawamu masuk ke dalam kehidupanku. Meski saat itu semuanya terjadi bukan karena kita saling menyukai. Tapi percayalah Eylina, aku tidak akan membiarkanmu terlepas dariku. Aku tidak akan meninggalkanmu, apapun yang terjadi. Jadi jangan pernah khawatir ataupun takut. Kau mengerti?" Morgan meraih dagu Eylina.
Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tangannya mengusap lembut pipi Morgan.
"Baiklah kalau begitu, sekarang saatnya kau mandi!" Morgan lalu mengangkat tubuh Eylina dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Lelaki itu membuka satu persatu pakaian gadis itu lalu mengangkat tubuhnya dan menurunkannya di bak mandi.
Mereka melakukan ritual mandi bersama dengan sedikit bumbu manis di dalamnya, sehingga acara mandinya menjadi lebih lama.
*****
Semua orang telah berkumpul di meja makan saat kedua sejoli itu turun.
"Malam Pa," sapa Morgan.
"Malam Nak, duduklah!" lelaki paruh baya itu tersenyum lebar.
"Papa pulang lebih cepat? Bagaimana urusannya?" tanya Morgan.
"Hahaha ... semua baik - baik saja, bukan begitu Ma?"
"Oh ya, Emily ... bagaimana denganmu? Lancar?"
"Tentu saja Kak, mereka sangat menyukai desain yang Emil buat," jawab Emily dengan antusias.
"Lalu bagaimana selanjutnya?"
"Ya, Emil akan segera mengerjakan gaun - gaun yang lain. Peragaannya satu bulan lagi. Jadi Emil kayaknya harus kerja keras untuk menyelesaikan semuanya."
"Baguslah, akhirnya kerja kerasmu membuahkan hasil."
Diantara semua orang yang ada disana, hanya Eylina yang belum mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh suami dan adik iparnya. Selama ini yang Eylina tahu dari Emily adalah gadis itu suka nonton drama, suka menghalu tentang Lee Min Ho dan pemain - pemain drama yang lainnya. Gadis itu terlihat tidak punya kesibukan dan kerjaannya hanya curhat masalah Gavin. Ya, hanya sebatas itu yang Eylina tahu.
"Sayang, apakah Emily adalah designer pakaian?" tanya Eylina dengan berbisik di telinga suaminya.
"Ya ... begitulah,"
"Oya?" Eylina sampai membelalakkan matanya, setengah tidak percaya.
"Kau tanya saja padanya! Apa selama ini dia tidak pernah menunjukkan hasil karyanya padamu?"
__ADS_1
Eylina menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Hahaha, adikku masih sama seperti dulu. Ia selalu menyembunyikan keahliannya. Di sebelah kamarnya ada galery tempat gaun - gaun rancangannya disimpan. Apa bocah nakal itu tidak menunjukkannya padamu?"
Lagi - lagi Eylina hanya menggelengkan kepalanya. Ia tidak menyangka, ternyata dirinya belum benar - benar dekat dengan adik iparnya itu. Sampai - sampai ia tidak mengetahui hal penting seperti ini.
"Hahaha ... dia mengelabuhi mu ternyata. Hey, Emily! Jadi kau tidak pernah menceritakan hal ini pada kakak ipar mu?" tanya Morgan pada adiknya.
"Hehehe ... iya, maaf ya Kak Eylin. Bukan aku tidak mau menceritakannya. Tapi kurasa memang belum saatnya aku menceritakannya. Karena aku juga masih berjuang memperkenalkannya. Selama ini aku berusaha mengenalkan karyaku di dunia luar, namun lagi - lagi aku masih gagal. Tapi hari ini seperti mimpi untukku, semua harapanku akhirnya akan bisa terwujud."
Mendengar hal itu, Eylina semakin bingung. Jika hanya memperkenalkan karyanya saja, tentu akan mudah sekali bukan? Emily adalah putri dari seorang yang sangat ternama. Tidak mungkin karyanya akan ditolak masyarakat. Ia bahkan bisa dengan mudah memakai gedung milik Papa dan menggelar peragaan busana rancangannya disana. Dengan begitu karyanya akan langsung dikenal banyak orang dan pasti diminati. Karir Emily akan langsung melejit dengan mudah, kan? Ia akan terkenal bahkan bukan hanya di Indonesia saja, tapi juga terkenal se-Asia dalam waktu yang singkat.
Namun belum sempat Eylina menanyakannya, Pak Gunawan sudah lebih dulu datang. Lelaki paruh baya itu datang bersama beberapa pelayan lain yang bertugas menyajikan hidangan ke atas meja.
Malam itu, obrolan mereka ditutup dengan makan malam yang hangat.
Semua orang menyantap hidangan di piring masing - masing.
"Sayang, sejak kapan Emily memulai mendesain pakaian?" tanya Eylina. Ia dan suaminya duduk di taman belakang setelah acara makan malam selesai.
"Sudah lama sebenarnya,"
"Oya? Mmm ... kenapa tidak langsung mengadakan peragaan busana sendiri saja? Bukankah Papa memiliki banyak gedung besar?"
"Emily bukan orang yang suka cara instan, sayang. Dia ingin karyanya dikenal karena benar - benar berkualitas. Dia ingin menggunakan namanya sendiri. Bukan nama dan ketenaran dari Papa."
"Benarkah?" Eylina membulatkan matanya.
"Ya, begitulah ..."
"Keren sekali, aku salut dengan cara berpikirnya. Jadi selama ini Emily bekerja keras sendiri?"
"Ya, sudah bertahun - tahun ia memperkenalkan karyanya. Dan baru sekarang impiannya mulai terjawab."
"Apa mereka semua tidak mengenal Emily? Keluarga kalian kan sering muncul di televisi?"
"Kau pikir Emily bodoh? Dia tidak menggunakan nama aslinya. Dan juga bukan dia sendiri yang mengirimkan karya - karya buatannya."
Wah ... Emily memang benar - benar luar biasa.
Eylina kagum pada adik iparnya itu. Ia tersenyum - senyum sendiri.
"Ayo masuk! Udara sudah mulai dingin, kau harus istirahat," ajak Morgan, ia berdiri dan mengulurkan tangannya pada Eylina. Gadis itu langsung menyambutnya dan menggenggamnya. Mereka masuk ke dalam dan naik ke atas.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗