
Semua orang yang berada dilantai bawah nampak bingung, lantaran kedua orang yang berada di kamar lantai atas itu tak ada satupun yang menampakkan batang hidungnya.
Waktu sarapan sudah lewat sejak 45 menit yang lalu, namun semua orang belum ada yang menyentuh makanannya.
Baik Ayu maupun kedua putrinya serta pak Gun pun tampak beberapa kali menoleh ke arah tangga sejak tadi. Namun hingga kini kedua orang yang tak lain adalah Morgan dan Eylina, tak terlihat muncul juga.
"Kak Morgan sama kak Eylin kok lama banget sih?" Luna yang merasa sudah sangat lapar itu pun akhirnya angkat bicara.
"Mungkin masih bersiap - siap Luna." Emily mencoba menenangkan adiknya.
"Pak Gun, apa Morgan tidak memberi tahu apapun?" Ayu bertanya pada seorang pria yang berdiri tak jauh dari kursi yang biasa di duduki Wira.
"Hingga saat ini tuan muda tidak menyampaikan apapun Nyonya." Kepala pelayan itu menjawab dengan sangat sopan.
Apa sebenarnya yang mereka lakukan? Tidak biasanya Morgan telat seperti ini.
Apa gadis murahan itu yang menjadi penyebabnya?
Ayu mendengus karena kesal.
****
Sementara di dalam kamar.
"Tetaplah disini." Morgan seperti seorang anak balita yang enggan ditinggal oleh ibunya.
Ia mendekap erat tubuh polos istrinya. Mereka berdua sama - sama tenggelam di bawah selimut.
"Tapi aku ingin membersihkan tubuhku."
"Sebentar lagi." Lelaki yang tengah asik menciumi leher jenjang istrinya itu semakin menenggelamkan wajahnya di balik tengkuk Eylina dan mengendus - ngendusnya. Aroma tubuh Eylina mulai menjadi candu baginya.
"Tuan, ah ... maksudku ... sayang, Bukankah biasanya pagi - pagi seperti ini kau harus ke kantor?" Eylina terus berusaha mencari alasan yang tepat agar lelaki itu mau melepaskannya.
Bagaimana caranya membuat dia melepaskan ku? Ya ampun tubuhku terasa lengket semua.
"Aku ingin dirumah hari ini."
Lelaki itu menjawab dengan enteng.
"Ah ya, sayang. Orang - orang mungkin sudah menunggu kita dibawah. Bukankah waktu sarapan sudah lewat? Mereka pasti khawatir karena kita tak kunjung turun."
"Kenapa kau cerewet sekali hah?" Morgan lalu bangun dan mengambil ponselnya diatas nakas. Lalu menekan sebuah nomor.
"Pak Gun, aku dan nona muda sarapan dikamar. Jadi mama dan yang lainnya tidak perlu menunggu kami. Ah ya, antarkan sarapannya satu jam lagi." Morgan lalu meletakkan kembali ponselnya.
Lelaki itu kemudian kembali menyusup di bawah selimut.
Bagaimana ada orang yang seenaknya sendiri seperti ini. Eylina menggelengkan kepalanya melihat ulah suaminya.
Apa memang orang kaya dan berkuasa bisa melakukan segalanya semaunya?
"Tuan, maksudku ... sayang, mana bisa begitu? Mama dan kedua adik ipar sudah menunggu kita dari tadi. Dan kau tiba - tiba mengatakan jika tidak ingin sarapan bersama mereka? Mereka pasti sangat kecewa."
__ADS_1
Ayolah, ayolah ....
"Kenapa kau masih terus berbicara? aku sedang tidak ingin makan." Jawab Morgan dengan tanpa beban. Ia bahkan sudah memposisikan tubuhnya diatas tubuh Eylina.
Tapi aku sedang lapar sekali. Apa kau tidak merasa lapar? Batin gadis itu.
"Sa ... sayang." Gadis itu mulai panik karena Morgan sudah memulai aksinya kembali. Bibirnya terus bergerak menyusuri setiap inci bagian tubuh Eylina. Sambil sesekali memainkan bagiannya yang sensitif.
Eylina yang merasa sudah tak bertenaga itu tak bisa berbuat apa - apa lantaran tubuhnya juga menuntut lebih. Ia ingin menyudahi aksi suaminya, namun tubuhnya justru bereaksi lain. Ia kini justru menikmati setiap permainan dari suaminya. Sampai akhirnya pergulatan panjang itupun kembali terjadi, membuat keduanya bermandikan keringat meski di ruangan yang dingin. Hingga semuanya berakhir pada sebuah puncak dari segala rasa yang ada.
Gadis berkulit putih bersih itu nampak terkulai, begitupun dengan Morgan.
Lelaki yang telah berhasil merenggut mahkota kehormatan gadis itupun membaringkan tubuhnya disamping tubuh polos Eylina. Ia menciumi seluruh bagian wajah gadis itu.
"Terimakasih." Bisik nya lirih ditelinga gadis itu kemudian mencium bagian tersebut.
Hari ini ia dan Eylina benar - benar telah menyatu. Baik tubuh dan juga hatinya. Lelaki itu merasa sangat bahagia karena bisa menumpahkan segala perasaan yang mengganjal di dalam hatinya selama ini. Rasa yang baru saja tersalurkan itu justru semakin tumbuh besar di hatinya. Seperti tanaman yang baru saja diberi pupuk.
Aku mencintaimu Eylina.
Batin Morgan seraya memandangi wajah cantik yang sedang memejamkan mata dihadapannya.
Namun hal berbeda justru dialami Eylina, gadis itu belum bisa sepenuhnya percaya pada lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu.
Bagaimanapun juga, lelaki itu adalah seorang Tuan Muda. Dia punya kuasa dan mungkin sebentar lagi akan sangat berkuasa setelah semua hak itu jatuh ke tangannya.
Ada sedikit sesal di dalam hatinya, kenapa ia harus menyerahkan mahkotanya begitu saja. Perasaan takut pun tiba - tiba datang menyerangnya. Bagaimana jika tiba - tiba tuan muda itu membuangnya?
Morgan mengernyitkan dahinya saat tiba - tiba ada air mata mengalir dari mata Eylina yang terpejam.
"Sayang?" Tangan Morgan membelai lembut wajah cantik tersebut. Menyeka air mata yang merembes melalui celah mata Eylina.
"Ada apa?" Lanjut Morgan kemudian.
Eylina membuka matanya dan menoleh ke arah lelaki yang berbaring di sampingnya.
Gadis itu menatap Morgan dengan sayu.
"Kenapa kau menangis?" Karena Eylina tak kunjung menjawab, ia pun semakin khawatir.
"Tidak apa - apa." Gadis itu mencoba tersenyum. Namun bukannya lega, Morgan justru semakin khawatir.
"Tunggu, tunggu ... apa kau menyesal melakukan hal ini bersamaku?" Lelaki itu membalikkan tubuhnya. Kini ia tengah tengkurap di samping Eylina.
Lelaki itu bertambah khawatir karena gadis yang ia tanyai bukan memberikan jawaban namun justru semakin terisak.
"Jadi kau menyesal, melakukan ini?"
Morgan kini sedang duduk, ia juga membantu Eylina bangun dan menyandarkannya di kepala tempat tidur. Kemudian menutupi tubuh gadis itu dengan selimut.
"Tidak Tuan, maksudku ...."
"Kenapa?" Morgan menyambar begitu saja meski Eylina belum menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Aku takut." Eylina menjawab lirih.
"Takut?" Lelaki yang tidak mengerti maksud Eylina itupun mengernyitkan dahinya.
"Bukankah sebentar lagi perjanjian ini akan segera berakhir?" Eylina tidak mungkin menanyakan perasaan Morgan. Ia tidak ingin berharap terlalu tinggi. Lagipula baginya, tidak mungkin juga lelaki itu akan mencintainya. Semua ini pasti terjadi hanya karena hasrat semata. Begitulah yang ia pikirkan. Jadi hanya perjanjian itulah satu - satunya yang bisa ia gunakan sebagai alasan.
"Bukankah sudah kubilang, lupakan perjanjian itu. Dan tetaplah disini bersamaku."
Kata Morgan berusaha meyakinkan.
"Atas dasar apa?" Dengan mata yang sedikit sembab, Eylina menatap ke dalam mata suaminya.
"Atas dasar ikatan suci ini." Morgan memegang kedua bahu Eylina.
Hanya itu? bukankah itu juga berarti jika kau bosan denganku kau bisa saja menceraikan ku dan membuang ku suatu saat nanti?
Hhhh baiklah, tidak ada gunanya juga aku berharap lebih. Mungkin memang ini sudah takdirku.
Batin Eylina. Ia lalu menundukkan kepalanya.
Dasar gadis bodoh, ternyata kau memang polos sekali. Kau bahkan tidak bisa menyadari perasaanku.
Lelaki itu lalu memeluk tubuh Eylina, mengusap kepala gadis itu dengan lembut.
"Tentu saja karena aku mencintaimu, dasar bodoh." Morgan kemudian melepaskan pelukannya.
Ia menatap ke dalam mata Eylina dengan penuh arti.
Benarkah?
"Tuan sedang bercanda kan?" Gadis itu berusaha memastikan.
Namun bukan sebuah jawaban yang ia dapatkan, melainkan ciuman beruntun dari lelaki yang disebut sebagai Tuan Muda itu.
"Bukankah sudah kubilang, berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan atau kau akan mendapat hukuman."
"Iya sayang, kau pasti sedang bercanda kan?"
Tanya Eylina ragu - ragu.
Mana mungkin kau mencintaiku? Memangnya siapa aku? Berjalan denganmu saja aku tidak pantas.
Morgan meraih dagu Eylina, lelaki itu kemudian mendaratkan ciuman di bibir gadis itu dan memperdalam ciumannya.
Lelaki itu kemudian melepaskan ciumannya setelah beberapa menit berlalu. Ia kemudian membelai wajah cantik Eylina.
"Bersiap - siaplah! sebentar lagi pelayan akan mengantarkan makanan kemari." Lelaki itu mengakhirinya dengan sebuah kecupan di kening Eylina.
Dengan dibalut selimut, Eylina berjalan tertatih - tatih ke kamar mandi.
Sementara Morgan menatap punggung gadis itu dengan tersenyum. Ia pun tidak menyangka jika perasaan yang telah lama mati itu bisa tumbuh kembali berkat keberadaan gadis tersebut.
💗💗💗💗💗
__ADS_1