
Eylina sedang mengeringkan rambutnya di depan cermin. Hari ini ia merasa segar sekali karena bisa mandi dengan leluasa tanpa bantuan suaminya.
Gadis itu melihat pantulan bayangan Morgan di cermin, lelaki itu seperti sedang menyimpan beban di dalam pikirannya. Wajahnya nampak kusut dengan kerutan di dahinya.
Eylina pun berjalan ke arah lelaki tersebut, ia duduk di samping Morgan dan meraih tangan lelaki itu. Eylina melihat wajah suaminya yang tak seperti biasanya.
"Sayang, kau baik - baik saja? Apa kau sakit?" tanyanya dengan lembut seraya memegang sebelah pipi suaminya lalu menyentuh kening Morgan dengan punggung tangannya.
"Hemm ... ya, aku baik - baik saja. Kenapa memangnya?" jawab Morgan seraya tersenyum. Kerutan di dahinya memudar perlahan. Ia lalu meraih tangan lembut Eylina dan menggenggamnya.
"Lalu ada apa? Kau lebih banyak diam dari tadi, apa itu karena aku?"
"Kau bicara apa? Satu - satunya yang berasal darimu adalah sumber kebahagiaan. Kemari lah!" Morgan meminta Eylina untuk naik ke atas tempat tidur.
"Tunggu sebentar, ku letakkan handukku dulu." Eylina hendak berdiri namun ditahan oleh tangan Morgan.
"Apa lebih penting handuk itu dari pada aku? Kemari lah! Aku ingin memelukmu."
Nada bicara Morgan tidak seperti biasanya, Eylina merasa asing dengan hal ini. Akhirnya ia pun meletakkan handuk yang lembab itu diatas nakas, dengan rambutnya yang belum disisir dan acak - acakan ia naik ke atas tempat tidur.
Morgan meraih tubuhnya dan merengkuhnya, tapi entah kenapa suasananya tidak seperti biasanya. Tidak ada tingkah manja ataupun rengekannya yang berlebihan. Tapi Morgan memeluknya dengan erat. Nafasnya terasa berat sekali.
Dia kenapa sih?
Eylina mendongakkan wajahnya, "Sayang, apa ada masalah?" tanyanya kemudian.
"Tidak ada, sayang. Aku hanya sedikit lelah."
Morgan lalu mencium puncak kepala istrinya.
Malam itu akhirnya mereka makan malam dikamar, dan melewatkan malam itu tanpa banyak mengobrol. Morgan tidur lebih dulu, tapi nampaknya memang lelaki itu sedang memikirkan sesuatu.
Eylina mengusap lembut kepala suaminya dan mencium keningnya.
__ADS_1
Kau tidak seperti biasanya, tapi kau tidak mau bercerita padaku. Apa aku belum cukup pantas untuk tahu semua tentangmu?
Eylina lalu mematikan lampu kamar dan kembali berbaring disamping suaminya.
Beberapa waktu yang lalu saat Eylina sedang berada dikamar mandi, Morgan menerima pesan dari Rey. Sekertaris itu memberitahukan bahwa sebagian anak buah Jordan dan Hendrawan telah disebar di Indonesia.
Hal itu tentu saja membuat Morgan sedikit khawatir. Saat itu mungkin dia masih muda dan tidak tahu banyak tentang kegilaan dari dua orang tersebut. Tapi semua kejadian yang menimpa keluarga ini, ia sangat bisa merasakannya. Bahkan dulu ia turut berada di tengah - tengah situasi mencekam itu.
Tapi untungnya dulu sekertaris Ji dan timnya telah berhasil menjegal langkah mereka dan membuat mereka tumbang serta membuat kedua pentolan Phanom group mendekam dalam jeruji besi. Sekertaris Ji juga berhasil mengambil alih beberapa aset yang mereka punya sebagai kompensasi atas kesalahan mereka karena hampir membuat gedung utama perusahaan Globalindo dalam bahaya.
Tapi nampaknya memenjarakan dua orang tersebut bukanlah opsi terbaik. Dan benar saja, dua orang itu sekarang telah kembali. Entah mendapatkan suntikan dana dari mana, sehingga mereka bisa membuat Phanom kembali bangkit dan berdiri. Ditambah lagi putra kedua orang itu yang sekarang telah tumbuh dewasa. Jelas ini akan lebih sulit.
Morgan merasa ini bukanlah masalah yang mudah, tapi ia tidak mungkin melibatkan kembali ayahnya dalam hal ini. Wira telah melalui tahun - tahun sulit itu dulu, dan sekarang tidak sepantasnya ia kembali direpotkan dengan masalah lama ini.
Setelah kedamaian ini tercipta, haruskah Morgan menghancurkannya dan membuat trauma adik - adiknya itu kembali menghantui?
Emily dan Luna sangat terguncang saat itu. Saat dimana mereka berada ditengah - tengah kejadian, dimana putri sekertaris Ji dibawa paksa dengan ditodongkan pistol di kepalanya oleh segerombolan orang berpakaian serba hitam. Luna yang saat itu masih berusia 7 hingga 8 tahunan menyaksikan sendiri ketakutan dan jeritan Aiko, putri sekertaris Ji.
Semenjak kejadian tersebut, Emily dan Luna tidak pernah berani keluar rumah sendirian. Luna sering tiba - tiba histeris setelah kejadian tersebut. Dan karena kejadian itu juga, kedua gadis tersebut harus menjalani pendidikan dengan jalur homeschooling hingga beberapa tahun kemudian.
Morgan terbangun setelah Eylina membangunkannya dengan menepuk lembut pipinya.
"Ada apa, sayang?" tanya Eylina seraya membantu suaminya untuk bangun dan bersandar, ia lalu menyerahkan air minum untuk suaminya.
Morgan menerimanya, ia menyeka keringat dingin yang ada di dahinya. Wajahnya nampak sangat kusut dan tidak segar.
"Sayang, jika kau sakit aku akan menelepon dokter sekarang," kata Eylina dengan khawatir.
"Aku hanya bermimpi buruk, sayang. Tenanglah! Ayo kembali tidur."
Morgan tersenyum kemudian membaringkan istrinya dan menarikan selimut hingga menutupi dadanya. Ia kemudian mencium kening Eylina. "Maafkan aku telah mengagetkan mu," kata Morgan kemudian. Ia lalu beringsut dan masuk kedalam selimut, memeluk tubuh istrinya dan memejamkan matanya.
Jordan! Jika kau berani mengusik keluargaku lagi, aku bersumpah, aku akan meledakkan isi kepalamu dengan tanganku sendiri.
__ADS_1
Mendekap tubuh Eylina membuat Morgan menjadi sedikit tenang. Ia kembali terlelap malam itu.
Sementara ditempat yang lain,di dalam kamarnya Rey sedang fokus di depan layar laptopnya. Ia nampak sedang serius. Rey mencari semua informasi dari berbagai sumber yang bisa ia gali.
Sesekali ia memeriksa layar ponselnya saat menerima pesan dari Robin ataupun yang lainnya.
Disaat sedang fokus, Bi Ani datang membawakan minuman hangat padanya.
"Nak Rey, Bibi bikinkan minuman hangat. Udara hari ini sangat dingin, jangan lupa diminum ya nak Rey," katanya seraya meletakkan cangkir di samping Rey serta menyerahkan pakaian hangat untuk majikannya tersebut.
"Terimakasih, Bi. Bibi beristirahatlah!" Rey mengalihkan pandangannya sejenak dan tersenyum pada Bi Ani.
"Baiklah. Nak Rey juga jangan lupa istirahat." Bi Ani lalu pergi dari ruang kerja Rey.
Kasian, nak Rey. Setiap hari harus tidur larut malam. Jika nak Rey punya pasangan mungkin akan lebih baik, batin Bi Ani saat berada di ujung pintu.
Tak berapa lama setelah itu Robin menelepon, Rey nampak mendengarkan suara yang berasal dari ujung telepon itu dengan serius.
"Perketat keamanan di segala sisi! Terutama rumah utama dan gedung utama. Kita tidak tahu bagian mana yang menjadi sasaran mereka. Minta semua anggota The Lion untuk menyebar di segala titik vital."
Begitulah reaksi Rey setelah menerima telepon tersebut. Ia kemudian berjalan ke arah jendela.
"Bagaimana semua bisa menjadi seperti ini? Apa mereka semua tidak tahu balas budi sama sekali?"
Rey bermonolog dengan nada geram dan tangannya mengepal keras mengingat apa yang pernah dilakukan oleh Jordan dan Hendrawan.
Jordan, Hendrawan dan Wira pernah berhubungan baik. Namun setelah Jordan menjadi pewaris Phanom group, sifat rakusnya mulai tumbuh. Perusahaan Wira dan istrinya saat itu tengah berkembang pesat, sedangkan Phanom saat itu performanya menurun, bahkan hampir bangkrut.
Melalui tangan Wira juga Phanom akhirnya bisa kembali berdiri, namun Jordan sudah gelap mata. Menyaksikan Globalindo semakin menjadi besar, ia seolah tidak terima kemudian menggandeng Hendrawan untuk meruntuhkan perusahaan Wira tersebut.
Rencana peledakan gedung baru Globalindo saat itu telah dirancang dengan sangat matang, bahkan Hendrawan dan Jordan juga masih turut hadir disana.
Namun Dewi keberuntungan nampaknya masih berpihak pada keluarga Wiratmadja. Disaat semua telah siap, salah seorang anak buah sekertaris Ji menemukan seorang sekuriti mencurigakan yang meletakkan sebuah kotak diruang tunggu. Ruangan khusus yang diperuntukkan bagi keluarga Wira saat itu.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗