Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Seberkas Kenangan


__ADS_3

"Luna, bagi dong! Pelit amat sih?"


Emily berusaha merebut snack yang dipegang oleh adiknya.


"Ih ... kak Emil kan udah tadi, ini punya Luna," rengek gadis kecil itu seraya berusaha mempertahankan snack tersebut di pelukannya.


Sementara Eylina hanya tertawa cekikikan melihat ulah kedua adik iparnya itu. Ada saja yang mereka ributkan dari tadi, mulai dari pemeran drama di TV , ponsel dan sekarang sebungkus keripik. Entah kenapa mereka selalu merebutkan sesuatu yang bahkan bisa mereka dapatkan hanya dengan menjentikkan jari mereka. Hanya sebuah snack kripik kentang saja juga ada banyak di gudang penyimpanan bahan makanan kering.


"Kalian ini, ada apa sih? Dari tadi ribut terus, Papa perhatikan," tanya Wira dari arah belakang mereka.


"Ah ... nggak kok Pa, kami cuma bercanda aja," jawab Emily seraya mengusap puncak kepala adiknya.


"Bercanda apanya? Kak Emil tuh, suka banget ngerebut makanan Luna," sahut Luna tak mau kalah.


"Sudah ... sudah, nanti Papa suruh pelayan beli yang banyak buat kalian."


"Nggak usah Pa, di gudang masih banyak kok. Kak Emil aja yang males, nggak mau ambil sendiri." Gadis kecil itu memonyongkan bibirnya.


"Apaan sih, Luna? Lebay deh ...." tak kalah dengan Luna, Emily pun mengerucutkan bibirnya.


"Papa sama Mama mau kemana? Kok rapi banget?" tanya Luna.


Karena perdebatan receh, mereka bahkan hampir tak menyadari ada yang berbeda dari penampilan kedua orangtuanya.


Lelaki paruh baya itu nampak berpenampilan sangat rapi malam ini, tubuhnya terbalut setelan jas rancangan designer ternama, disampingnya juga berdiri seorang wanita yang nampak anggun dan elegan yang mengenakan gaun mewah berwarna hitam. Ditambah dengan perhiasan mewah yang menghiasi jemari tangan dan juga di lehernya, Ayu nampak benar - benar sangat cantik malam hari ini.


"Papa ada undangan makan malam, nanti kalian makan sama Kak Morgan dan Kak Eylin saja, ya?"


"Mmm ... oke deh, hati - hati ya Pa ... Ma," kata Emily dan Luna secara serentak.


Sementara Eylina hanya melempar senyum ramah pada kedua mertuanya.


"Jaga rumah baik - baik, ya!" tambah Ayu.


"Siap Boss," jawab Luna seraya mengangkat tangannya, dan hormat pada papa dan mamanya.


Wira menggelengkan kepalanya melihat ulah putri kecilnya.


Kedua orang itu melangkahkan kakinya menjauh dari ruang keluarga, dan tak berselang lama Pak Gun menyusul di belakang mereka untuk mengantar kedua majikannya ke depan.


Eylina menatap kepergian ibu mertuanya dengan ujung bibir yang sedikit terangkat.


Ia bersyukur, setidaknya dalam beberapa hari terakhir ini meskipun wanita itu tidak mengatakan jika sudah menerimanya sebagai menantu, tapi paling tidak bara api permusuhan dimatanya sudah terlihat meredup. Ya, bara api itu tak lagi berkobar seperti dulu. Rumah ini nampak lebih tenang dan nyaman dari pada beberapa waktu yang lalu.


Terlebih lagi sekarang Bella pun sudah menyerah dan tak ingin lagi berusaha mendapatkan Morgan. Tidak ada alasan dan harapan lagi bagi Ayu untuk menjodohkan putranya dengan perempuan itu.


Terimakasih, Tuhan ... gumam Eylina.


Seperti ini saja sudah sangat cukup bagi Eylina, ia tak ingin serakah dengan mengharapkan ibu mertuanya bisa menganggapnya sebagai menantu keluarga ini. Baginya, bisa hidup berdampingan tanpa hinaan dan cacian saja ia sudah bahagia.

__ADS_1


Eylina tersentak saat sebuah suara melengking di dekatnya.


"Luna ... mau kemana?" panggil Emily seraya mengalihkan pandangannya dari layar televisi. Ia melihat adiknya berlari terburu - buru.


"Kamar mandi Kak ...."


"Tuh kan, makanya jangan banyak - banyak makan keripiknya," teriak Emily.


Namun tak ada jawaban lagi dari gadis kecil itu. Ia pun menoleh kembali ke arah televisi di hadapannya.


Untuk sesaat hanya hening yang tercipta. Emily terlihat antusias melihat drama kesukaannya di televisi.


"Emil ..." panggil Eylina dengan lirih.


"Ya, Kak?" jawab gadis itu, namun ia tak mengalihkan pandangannya dari layar.


"Kamu tahu nggak, Bella mau nikah sama siapa?" tanya Eylina ragu - ragu.


"Kenapa Kak? Kak Eylin masih takut ya, kalau Kak Bella berusaha mendekati Kak Morgan lagi?"


"Tidak, aku hanya ingin tahu saja," lirih Eylina.


"Oh, itu ... kata Gavin sih dia mau nikah sama Kak Martin," jawab Emily, gadis itu menoleh pada Eylina.


"Kak Martin? Kamu kenal baik ya? Kok manggilnya kakak?"


"Iya, Kak Martin itu dulu juga salah satu sahabat baiknya Kak Morgan waktu masih sekolah, sering main kesini malah. Dulu rumah ini jadi markas teman - temannya Kak Morgan, Kak. Tapi Emil nggak pernah berani mendekat, Emil cuma suka menguping mereka aja. Setelah mereka semua pulang, baru deh Kak Morgan cerita sama Emil."


"Oh ... itu, jadi Kak Martin sama Kak Bella tuh sebenarnya udah pacaran lama banget. Sejak mereka masih sama - sama sekolah malah,"


"Masa sih? Selama itu?"


Yang benar saja? Usia suamiku saja 32 tahun, berarti mereka pacaran udah belasan tahun?


"Iya, tapi nggak mulus juga, mereka berdua kayak putus nyambung gitu."


"Kok bisa?"


"Karena persahabatan mereka sudah tak lagi sama, semuanya berubah Kak ... Kak Bella yang mulai berubah. Kak Bella diam - diam tertarik dan mulai suka sama Kak Morgan, walaupun saat itu Kak Morgan juga udah sama - sama punya pacar. Dan lebih parahnya pacar Kak Morgan itu adalah teman dekatnya Kak Bella lho. Tapi Kak Bella nggak peduli sama semua itu, dia diam - diam perhatian sama Kak Morgan. Suka ngirimin makanan, kado - kado, pokoknya banyak lah. Sampai akhirnya Kak Martin menjadi salah paham. Dan dari situlah, hubungan antara Kak Morgan dan Kak Martin mulai renggang. Kak Martin pikir, kak Morgan lah yang menggoda dan mau merebut Kak Bella."


"Wah rumit juga ya?" Eylina menaikkan kedua kakinya dan melipatnya, ia membenarkan posisi duduknya dan mencari posisi yang enak untuk mendengar cerita dari adik iparnya.


"Iya, tapi berkat bantuan teman - teman yang lain, termasuk Gavin ... lama - lama Kak Martin akhirnya tau, kalau Kak Bella lah yang sudah memercikkan api disini. Tapi meski begitu, Kak Bella tetap nggak berubah, dan karena itu hubungan antara Kak Morgan sama Kak Martin nggak bisa kembali seperti dulu lagi. Kak Bella semakin lama semakin terobsesi sama Kak Morgan, meski Kak Morgan sudah bertunangan dengan Kak Alice waktu itu," seketika Emily menutup mulutnya. Ia berbicara dengan setengah kesal hingga tak ingat batasan yang diberikan oleh Morgan.


Aduh ... pakai keceplosan sampai sana lagi, gimana ini?


"Tenanglah, aku sudah tau tentang Alice," kata Eylina dengan santai, walaupun sebenarnya ia hanya tau nama dan hubungan masa lalunya saja. Ia masih sangat penasaran dengan sosok Alice.


Apakah Morgan mencintai gadis itu seperti mencintainya saat ini? Atau bahkan lebih? Seperti apa kisah mereka, dulu?

__ADS_1


"Benarkah? Jadi Kak Morgan sudah cerita?"


Emily membulatkan matanya. Ia tidak percaya.


"Iya Emil, kakakmu sudah menceritakannya, jadi santai saja."


Tenang saja, aku tidak akan cemburu. Aku hanya ingin tau saja, batin Eylina.


"Syukurlah," lirih Emily, ia menghembuskan nafas lega.


"Kenapa?" Eylina menoleh seketika.


"Oh ... nggak papa, Kak," Gadis itu tersenyum kaku.


Kak Morgan memintaku untuk tidak mengungkit nama Kak Alice setelah kepergiannya. Maafkan aku ya, Kak Eylin.


"Ehem ... sepertinya seru sekali ceritanya?"


Sesosok lelaki muncul bersama sekertarisnya.


"Hai sayang, kau sudah pulang? Kami hanya bercerita sedikit saja." Eylina bangun dan berjalan mendekati suaminya. Memeluk tubuh kekar lelaki itu serta mencium kedua pipinya.


"Tumben sekali?" tanya Morgan yang merasa heran dengan sikap manis istrinya.


"Memangnya tidak boleh? Ya sudah, aku peluk dan cium sekertaris Rey saja." Eylina pun melepaskan pelukannya dan berbalik.


Sementara Rey, ia mematung dan membulatkan matanya.


Apa saja yang anda katakan, Nona.


"Apa kau punya hubungan dengannya, hah?"


Dengan cepat Morgan meraih tubuh Eylina kembali ke pelukannya.


"Hehe ... tentu saja tidak, tapi jika kau mengijinkannya aku akan coba menjalin hubungan dengannya, hahaha ...."


Dengan secepat kilat Eylina melepaskan pelukannya dan berlari menjauhi suaminya.


"Kau?"


Benar - benar rubah kecil yang nakal, ya.


Morgan menyeringai lebar menatap istrinya yang tengah menaiki tangga menuju ke kamarnya.


"Rey, jika kau benar - benar berani berhubungan dengan istriku, aku akan memotong senjata masa depanmu dengan tanganku sendiri!" ancam Morgan seraya memberi tatapan peringatan pada Rey. Ia lalu berbalik dan menyusul rubah kecilnya yang naik ke atas.


Anda membuat masalah saja, Nona. Sepertinya aku harus segera mencari pasangan, jika tidak aku akan menerima fitnah terus menerus.


Rey menggelengkan kepalanya, ia kemudian menoleh pada suara tawa cekikikan dari balik sofa.

__ADS_1


"Nona Emily, saya permisi," ucapnya seraya melangkahkan kakinya keluar dari rumah keluarga Wira.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2