Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Bisakah Ku Pinjam Uangmu?


__ADS_3

"Pasang sabuk pengaman mu dengan baik!" perintah Rey seraya melirik ke arah Sista.


Gadis itu nampak terlihat sedikit pucat dan memegangi perutnya.


"Ada apa? Kau baik - baik saja?" tanya Rey.


Gadis itu hanya mengangguk sambil masih terus memegangi perutnya.


"Kau kenapa?"


"Tuan, maksudku ... sekertaris Rey, bisakah aku meminjam uangmu sedikit? Aku janji akan mengembalikannya saat aku menerima gaji pertamaku nanti." Sista memberanikan dirinya.


"Untuk apa?"


"Aku ingin membeli sepaket burger untuk mengisi perutku, aku lapar sekali." Kegalakannya memudar entah kemana, ia hanya tau jika perutnya butuh diisi makanan. Sejak tadi siang ia belum makan hingga pukul 20.00 saat ini.


Rey kemudian melepaskan kembali sabuk pengamannya dan turun dari mobilnya, ia melangkahkan kakinya menuju pintu masuk mall tadi. Melihat hal itu, Sista pun ikut turun dan berjalan di belakangnya.


"Tuan, sekertaris Rey," panggilnya.


Lelaki itu menghentikan kakinya dan menoleh ke arah Sista, matanya menatap datar.


"Ada apa lagi?"


"Kita mau kemana?"


Mendengar pertanyaan Sista, Rey pun melangkahkan kakinya mendekati gadis itu dan berdiri dihadapannya.


"Aw ... sakit sekali!" pekiknya, telinganya terasa panas karena sentilan dari tangan Rey.


"Kau bilang kau lapar? Mau makan atau tidak?"


"Iya ... mau," Sista lalu mengekor di belakang Rey sambil mengusap telinganya.


Aduh ... dia ini benar - benar makhluk aneh. Ini sudah kedua kalinya dia menyentil telingaku sembarangan. Awas saja jika aku punya kesempatan bagus, akan ku balas kau!


Rey dan Sista berhenti di sebuah restoran Chinesse, mereka disambut hangat oleh para pelayan disana.


Tak perlu menunggu lama. Setelah mereka duduk dan menerima buku menu, Sista langsung memesan beberapa menu untuknya sendiri karena Rey tidak ingin makan. Lelaki itu hanya memesan fresh orange saja.


"Sekertaris Rey, kenapa kau tidak memesan makan? Apa kau sudah makan?" tanya Sista memecah keheningan diantara keduanya.


"Itu bukan urusanmu," jawabnya tanpa menatap pada Sista. Ia fokus pada layar ponselnya.


Hhh ... menyesal aku bertanya padamu.


Sista mengepalkan tangannya dibawah meja.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya makanan yang dipesan oleh Sista pun datang. Gadis itu memesan menu chicken kungpao, sapo tofu, nasi putih dan juga teh hangat.


Sista mengelap sendok dan garpunya dengan tisu. Ia menarik piring nasinya dan mengambil lauk serta sayur yang baru saja disajikan itu lalu menaruhnya di piringnya. Ia mulai menyendok dan menyuapkan suapan pertamanya. Makanan itu terasa hangat dan juga lezat.


Gadis itu begitu menikmati makanan tersebut, lega sekali rasanya bisa bertemu dan menikmati makanan saat perut sedang lapar - laparnya seperti ini.


Ia tidak memperdulikan Rey yang duduk di depannya. Lelaki itu sesekali melirik gadis itu, ia menggelengkan kepalanya dengan pelan melihat Sista yang sedang menikmati makanannya.


Rey mengambil minumannya dan meminumnya hingga tersisa setengahnya, lalu kembali melihat layar ponselnya.


Sista telah selesai dengan makanannya, perutnya terasa penuh sekarang. Ia meraih gelas yang ada dihadapannya dan meminum teh hangat yang dipesannya tadi.


"Apa kau sudah selesai?"


"Ya, aku sudah selesai," jawab Sista bersemangat. Tentu saja, hal itu karena lambungnya telah terisi hingga penuh.


Lelaki itu kemudian berdiri dan merapikan jasnya sebelum melangkahkan kakinya. Ia menuju meja kasir dan menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan pada kasir disana kemudian pergi begitu saja.


Sista yang melihat hal itu mengernyitkan dahinya.


Apa kau juga punya banyak sekali uang? Dengan mudahnya mengeluarkan uang, tidak peduli berapa jumlahnya dan langsung meninggalkannya begitu saja.


Rey dan Sista langsung keluar dari gedung tersebut, lalu masuk kembali ke dalam mobil.


Mereka memasang sabuk pengamannya masing - masing. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan lembut, keluar dari area pusat perbelanjaan itu.


Drrrtt ... drrrttt ....


Ponsel di dalam tasnya bergetar, Sista lalu merogoh isi tasnya dan mengambil benda itu. Melihat nama yang tertera disana. Ia dengan segera mengangkat panggilan tersebut.


"Halo Tante? Iya Sista masih dijalan Tante, Sista tadi ada urusan sebentar. Maaf tidak sempat mengabari."


Sista tersenyum setelah menerima telepon dari Santi, ibu Eylina. Sejak tinggal bersama wanita itu, ia jadi seperti memiliki ibu lagi. Ada yang memperhatikan dirinya, menyayangi dan juga mengkhawatirkannya.


Hanya butuh waktu 20 menit untuk sampai kerumah Bu Santi. Rey menghentikan mobilnya tepat di halaman depan rumah wanita paruh baya itu.


Sang pemilik rumah keluar saat Sista menekan bel pintu rumah itu.


"Sista ... kamu kenapa, Nak? Kenapa memar - memar seperti ini?" tanya Bu Santi sesaat setelah membuka pintu.


"Nggak apa - apa, Tante. Sista tadi hanya berlatih saja."


"Yang benar? Eh ... ada Nak Rey, mari masuk."


Rey dan Sista pun masuk ke dalam rumah Bu Santi. Mereka duduk diruang tamu.


"Dara ... ambilkan minum, ya Nak," perintah Santi dengan halus.

__ADS_1


"Baik, Buk." Gadis belia itu lalu pergi ke belakang.


"Kalau Tante tau Sista pergi sama Nak Rey, Tante nggak akan khawatir tadi."


"Nggak Tante, tadi cuma nggak sengaja ketemu aja," jawab Sista.


Tak lama setelah itu Dara datang dengan membawa minuman untuk mereka. Tidak banyak obrolan basa - basi, setelah meminum minuman yang disuguhkan, Rey pun berpamitan pada Bu Santi. Tak lupa ia mengeluarkan belanjaan itu dari dalam mobilnya. Sista membawanya masuk dengan bantuan Dara dan Bu Santi.


Rey melajukan mobilnya meninggalkan kediaman tersebut, roda mobil itu terus berputar membawa kendaraan itu semakin menjauh.


Hingar bingar kehidupan kota nampak masih terlihat di sepanjang jalan yang dilaluinya. Bahkan terlihat banyak orang baru akan menata dagangannya di pinggir jalan. Sebagian orang - orang itu menjadikan malam sebagai ladang mengais rejeki.


Sesekali Rey melirik orang - orang yang terlihat sibuk dengan aktivitasnya di pinggir - pinggir jalan itu.


Tak terasa, mobil yang dikemudikannya telah sampai pada tempat dimana ia tinggal. Rey membelokannya mobilnya dan menghentikannya di halaman rumahnya.


Lelaki itu turun dan masuk ke dalam rumahnya yang cukup mewah, ia menuju mini bar yang ada diruang tengahnya. Mengambil minuman dari sana dan meneguknya. Membawa sisanya dan meletakkan di meja yang ada didekatnya.


Suasana dalam rumah sangat sepi dan tenang. Terlebih diruang tengah ini, cahaya lampunya sengaja dibuat hanya remang - remang untuk memberi kesan santai dan tenang. Rey tengah memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya di sofa, saat seorang pelayan datang menghampirinya.


"Permisi, Nak Rey ... apa Nak Rey membutuhkan sesuatu?"


"Tidak Bi, Bibi istirahat saja," kata Rey.


"Baiklah kalau begitu, apa Nak Rey sudah makan?"


Rey menggelengkan kepalanya. "Apa Bibi masak?"


"Tentu saja Nak Rey, tapi mungkin sudah dingin. Bibi akan menghangatkannya kalau Nak Rey mau makan."


"Tidak usah Bi, aku akan menghangatkannya sendiri nanti. Bibi istirahat saja," jawabnya seraya membuka matanya.


"Baiklah kalau begitu, bibi tibggal ke belakang dulu, Nak Rey," jawab pelayan itu dengan sopan, wanita itu lalu meninggalkan Rey di ruang tengah sendirian. Namun langkahnya terhenti di ujung ruangan, wanita itu menoleh dan terlihat memperhatikan majikannya.


Tatapannya lebih dari tatapan seorang pelayan, tatapannya sangat teduh seperti tatapan seorang ibu pada putranya. Wanita itu terkadang juga sering terlihat khawatir pada Rey.


Entah sudah berapa tahun wanita paruh baya itu bekerja padanya. Rasanya sudah cukup lama, sejak Tuan Besarnya memindahkannya dari rumah besar itu.


Selama itu pula Bi Ani menyayangi majikannya seperti seorang putranya sendiri, karena Bi Ani sendiri hanya hidup sebatang kara. Suaminya menceraikannya dan putrinya meninggal saat masih berusia tujuh tahun karena kanker hati.


Wanita itu pun kemudian melanjutkan langkahnya dan pergi ke kamarnya.


Rey bangun dari tempatnya dan mengayunkan kakinya menuju kamarnya.


Tangannya meraih sebuah buku di dalam lacinya dan membukanya. Ada sebuah foto dan catatan kecil yang diberikan oleh seseorang kepadanya sejak 17 tahun silam. Ia memandangi foto itu dan mengusapnya.


Dimana keberadaan kalian saat ini? Apakah kalian baik - baik saja? Kenapa aku tidak bisa menemukan keberadaan kalian?

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2