
"Sayang, ayo minumlah. Hey sahabatmu pasti baik - baik saja." Morgan berusaha menenangkan gadis itu dengan mengusap lembut pundaknya. Ia lalu merangkul Eylina seraya mencoba memberinya minum.
"Terimakasih sayang." Gadis itu lalu menerima minuman yang diberikan oleh suaminya dan meneguknya sedikit demi menghargai usaha suaminya.
Gadis itu tidak bisa merasa tenang, ia terus berjalan mondar mandir di depan ruangan tersebut.
Setelah selang hampir 30 menit, seorang suster keluar dari ruangan tersebut.
Eylina yang melihat hal itu pun langsung menghampiri suster tersebut.
"Suster, bagaimana keadaan sahabat saya?" Tanya gadis itu dengan tidak sabar.
"Keadaannya mulai stabil Nona, namun belum sadarkan diri. Mungkin sebentar lagi. Pasien kehabisan darah cukup banyak tapi beruntung golongan darahnya bukan golongan darah yang langka dan kami masih punya stoknya." Jawab suster itu dengan ramah.
"Syukurlah, apa saya boleh masuk?" Gadis itu akhirnya bisa bernafas dengan sedikit lega.
"Tentu saja Nona." Suster itu mempersilahkan dan membukakan pintu untuk Eylina.
"Terimakasih Suster." Eylina sedikit tersenyum pada suster tersebut, sebelum suster itu pergi.
"Sayang, aku masuk dulu." Pamit Eylina pada suaminya.
"Ya, jangan menangis lagi." Morgan mendaratkan ciuman singkat di kening Eylina dan membelai pipinya dengan lembut.
Gadis itupun masuk, ia merasa iba melihat keadaan sahabatnya yang terbaring tak berdaya.
Kenapa lo jadi kayak gini sih Sis? Lo kan perempuan yang kuat dan ceria? Apa yang terjadi?
Gue sedih tau nggak lihat keadaan lo kayak gini. Lo yang dulu selalu nyemangatin gue, selalu dukung gue, bantuin gue, jadi penasehat terbaik gue. Kenapa sekarang jadi gini sih? Gue udah nemuin kebahagiaan gue, gue datang karena pengen ngebagi kebahagiaan gue sama lo. Tapi kenapa lo malah kayak gini?
Eylina meraih tangan sahabatnya dan mengusapnya dengan lembut.
"Bangun dong Sis, nih gue disini. Gue kangen banget sama lo, lo nggak kangen apa sama gue. Tega banget lo sampai mau ninggalin gue. Kalau lo pergi, siapa lagi teman curhat gue? Banyak yang mau gue ceritain sama lo."
Gadis itu meneteskan air matanya. Ia kembali terisak melihat keadaan sahabatnya.
Eylina tak bisa membayangkan jika Sista benar - benar pergi.
Tak berapa lama kemudian Morgan pun ikut masuk.
"Sayang, hari sudah semakin sore. Pak Gun memberi kabar jika papa sudah berada dirumah." Ucap Morgan seraya mengusap kepala Eylina.
"Sayang, maafkan aku. Tapi aku tidak bisa meninggalkan Sista dengan keadaan seperti ini sendirian." Gadis itu menatap suaminya dengan penuh harap.
"Rey sudah mengirimkan orang untuk menjaganya. Mereka masih berada dalam perjalanan. Kau jangan khawatir."
"Baiklah. Bolehkah aku kesini lagi saat dia siuman? Dia lebih dari sahabat bagiku." Gadis itu menatap Morgan dengan matanya yang masih sembab.
"Tentu saja."
Eylina lalu memeluk suaminya dan terisak. Ia tak menyangka pria itu mengabulkan apa yang dikatakannya.
"Tenanglah, dia akan baik - baik saja." Morgan meraih wajah Eylina dan menghadapkannya padanya. Lelaki itu tersenyum hangat. Senyum yang sangat meneduhkan bagi Eylina.
"Bisa kita pergi sekarang?" Lanjutnya.
"Ya ...." Gadis itu kemudian mengangguk dan menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
"Ro ... ny ...." Sebuah suara terdengar sangat lirih saat Eylina baru saja melangkahkan langkah pertamanya.
__ADS_1
Dengan seketika ia membalikkan badannya dan meraih kembali tangan sahabatnya.
"Sis ... Sista?" Gadis itu memandangi wajah sahabatnya, berharap Sista menjawabnya.
"Rony ...."
"Buka mata lo Sis, ada gue disini." Eylina nampak antusias
"Rony ...." Gadis itu perlahan membuka matanya. Keadaannya masih lemah.
"Sis, ini gue. Lihat, gue ada disini buat lo." Eylina mengusap lembut rambut sahabatnya.
"Li ... iin?" Sista terlihat tersenyum tipis melihat kehadiran sahabatnya.
"Iya ini gue." Eylina lalu memencet tombol di samping ranjang tempat Sista terbaring.
Dan tak lama kemudian tim medis pun berdatangan. Tidak heran, semua pasien yang datang dengan disertai nama keluarga Wiratmadja akan menjadi pasien dengan perawatan yang terbaik di manapun dan kapanpun.
"Permisi Nona, ijinkan saya untuk memeriksa pasien." Ucap seorang dokter pada Eylina.
"Ya, tentu saja. Silahkan Dokter." Eylina pun melepaskan tangan sahabatnya dan sedikit menjauh.
Ia melihat dokter tersebut memeriksa sahabatnya dengan seksama.
"Keadaan pasien sudah lebih baik, hanya saja masih sedikit lemah." Kata dokter itu dengan ramah disertai senyum diwajahnya.
"Terimakasih Dokter." Ucap Eylina seraya tersenyum balik.
Namun senyumnya dan senyum dokter itu tiba - tiba lenyap saat Morgan berdehem dengan cukup keras.
"Saya permisi Tuan." Ucap dokter itu dengan wajah piasnya. Dokter lelaki itu pun berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut berikut para perawat yang menyertainya.
"Sayang, kenapa?" Gadis dengan mata yang sedikit bengkak itu mengernyitkan dahinya.
Kata Morgan dengan santai.
"Kau cemburu padanya juga? Tadi kau cemburu pada sekertaris Rey, dan sekarang kau cemburu pada dokter itu? Aku bahkan tidak mengenalnya."
"Hey, aku tidak cemburu. Lagipula dokter itu tidak ada apa - apanya jika dibandingkan denganku. Aku hanya tidak suka kau melempar senyum padanya."
Kedua orang itu berdebat dan lupa jika mereka saat ini berada di ruang UGD, menunggui seorang gadis yang hampir saja kehilangan nyawanya.
Namun siapa sangka, pemandangan itu ternyata justru mampu menghibur seorang gadis yang saat ini terbaring tak berdaya di ranjang pasien. Sista tersenyum tipis melihat sahabatnya.
"Itu artinya kau cemburu sayang. Kau masih tidak mengaku?"
"Tidak."
"Baiklah, aku akan tersenyum lagi dengannya jika aku melihatnya nanti. Dan akan kusapa semua orang yang melintas di depanku."
"Hey, mana bisa begitu. Kau adalah milikku, termasuk senyummu. Jangan kau bagi sembarangan."
"Jadi kau cemburu?"
"Tentu saja. Seharusnya kau tau itu." Kata Morgan dengan kesal. Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.
"Hey sayang, kau melupakan temanmu."
Kata Morgan seraya membalikkan badan Eylina agar menghadap ke arah ranjang pasien tempat Sista.
__ADS_1
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa lupa jika aku sedang disini menunggu Sista.
Eylina berjalan cepat ke arah sahabatnya.
"Sis ... Sista?" Ia meraih tangan sahabatnya.
"Hemm .... " Gadis itu nampak tersenyum tipis.
"Lo kenapa bisa jadi kayak gini sih? apa yang terjadi? Lo bikin gue khawatir tau nggak? Gimana kalau gue datang terlambat dan ... gue bisa gila tau nggak?" Eylina memberondong Sista dengan pertanyaan.
Namun bukannya menjawab, Sista justru memejamkan matanya dan membiarkan buliran air mata yang menggenang di matanya itu mengalir dari deras.
"Sis? Ada apa sih? Cerita sama gue?"
Kata Eylina dengan lembut seraya duduk di samping sahabatnya.
"Rony .... "
"Kenapa dia? Kalian berdua nggak lagi bertengkar kan? Ada apa? Kalian sebentar lagi kan mau nikah?"
Mendengar hal itu, Sista semakin terisak dan membuat Eylina menjadi bingung.
"Sis? Rony baik - baik aja kan? ...."
Perkataan Eylina terhenti saat seseorang masuk ke dalam ruangan. Dia adalah sekertaris Rey, lelaki itu nampak melirik sekilas ke arah sahabatnya yang tengah terbaring itu. Rey kemudian berbicara dengan berbisik pada suaminya. Mereka terlihat mengobrol dengan suara yang sangat pelan hingga Eylina tak bisa mendengarnya.
Ia kemudian fokus kembali pada sahabatnya yang masih terisak.
"Sis? Cerita dong sama gue? Kenapa lo sampai bisa berpikir untuk mengakhiri hidup lo kayak gini?"
"Rony Lin ... dia selingkuh sama anak buahnya sendiri. Dan cewek itu sekarang hamil anaknya Rony Lin." Gadis itu makin terisak karena merasakan sakit di dadanya saat mengingat semua pengkhianatan dari seorang lelaki yang sangat dicintainya. Setelah semua pengorbanan yang ia berikan.
"Gimana bisa?"
"Gue juga nggak tau Lin. Kurang apa gue sama dia? Lo juga tahu perjuangan gue buat dia selama ini. Dan lo juga lihat sendiri kan dia kayak apa? dia baik banget selama ini, nggak pernah terlihat macam - macam. Tapi ternyata ...."
Air mata Sista semakin deras mengalir hingga membuat bantalnya menjadi basah.
"Sabar ya Sis, lo pasti bisa lewatin ini semua." Eylina merasa sangat prihatin pada sahabatnya. Ia memeluk sahabatnya untuk memberikan dukungan.
"Gue nggak nyangka Lin, gue dibohongin selama ini. Gue udah percaya banget sama dia, gue nyaman banget sama dia. Gue punya harapan besar sama Rony. Gue pikir dia cinta sama gue dan mau membangun keluarga yang bahagia sama gue. Tapi ternyata dia main di belakang gue sampai separah itu. Sakit banget hati gue Lin. Semalem selingkuhannya datang ke rumah gue dengan perutnya yang udah membuncit, dia mohon - mohon sama gue buat lepasin Rony." Tangis gadis itu semakin menjadi - jadi hingga membuat kedua lelaki yang tak lain adalah Morgan dan Rey, yang tengah berbicara itupun menoleh kearahnya.
Eylina mendekap tangan sahabatnya di dadanya. Ia pun merasakan sakit melihat sahabatnya dikhianati oleh tunangannya.
Setelah kepergian orang tuanya. Selain Eylina, Sista hanya punya Rony seorang. Namun siapa sangka lelaki yang datang bak malaikat tak bersayap itu justru pada akhirnya menghancurkan hati gadis itu.
"Lo udah pastiin semuanya?"
"Udah, cewek itu nunjukin foto - foto syur mereka dan juga video mereka saat di hotel."
Sista memejamkan matanya. Mencoba menahan rasa sakit di hatinya.
"Sis, lo harus kuat lewatin semua ini. Gue yakin lo bisa. Tuhan masih sayang sama lo, Tuhan tunjukin semua sama lo sebelum lo melangkah lebih jauh. Beruntung lo tahu hal ini sebelum lo sah menjadi istrinya."
"Tapi sebagian undangan udah gue sebar Lin, mau ditaruh dimana muka gue jika ternyata gue nggak jadi nikah? Tetangga juga udah pada tau semuanya."
"Sis, lebih baik sedikit menahan malu daripada lo tetep nikah tapi seumur hidup lo bakalan menderita. Ntar lama - lama orang juga bakal lupain kejadian ini kok. Lo harus kuat. Lupain dia! Oke? Gue tau ini nggak mudah, tapi gue yakin lo bisa."
Kata Eylina seraya menatap lekat ke dalam mata sahabatnya. Mencoba meyakinkannya.
__ADS_1
Sista pun mengangguk, lalu Eylina memeluknya untuk membuat gadis itu merasa sedikit nyaman.
💗💗💗💗💗