
Morgan nampak tersenyum melihat Eylina membantu Ibu dan adiknya melayani pembeli.
Gadis itu nampak sangat cekatan dalam melakukan pekerjaannya. Ia terlihat tersenyum tulus pada setiap pembeli yang datang.
Sementara sekertaris Rey yang duduk satu meja dengannya nampak sibuk memeriksa ponselnya.
"Tuan Muda, nona Jessica memajukan jadwal penerbangannya. Beliau akan sampai di bandara sore ini." Rey memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kau bilang dia akan kemari minggu depan?"
"Seharusnya seperti itu Tuan, namun suami nona Jessica mengubah semua jadwalnya. Dan memajukannya, untuk urusan terkait bisnis tentunya."
"Ah, ya kau benar. Arnold pasti ada kepentingan terkait bisnisnya. Ya sudah kau atur saja semuanya."
"Baik Tuan."
Kedua lelaki itu kemudian menyesap kopinya masing - masing. Entah kenapa kopi sederhana itu terasa sangat nikmat di lidah Morgan, meski uap panasnya telah habis.
Morgan berdiri dari tempat duduknya, ia merapikan jasnya lalu berjalan ke arah Eylina yang tengah mengobrol bersama para karyawan dan juga ibu serta adiknya.
Toko sudah nampak sedikit lengang sehingga mereka bisa sedikit beristirahat dan bernafas lega.
"Sayang, apa kita bisa pamit sekarang?" Morgan masuk ke area dalam toko dan mendekati istrinya.
Apa? Apa telingaku sudah rusak? Aku tidak salah dengar kan?
Ah, dasar bodoh, ini kan bagian dari sandiwara. Pikir Eylina.
"Ah, iya. Tentu saja, aku sudah puas bertemu ibu dan juga Dara." Gadis itu nampak tersenyum dengan sangat manis.
"Bu, kami permisi dulu." Morgan terlebih dulu membuka suara saat Eylina baru saja akan berbicara. Lelaki itu bahkan dengan sopan membungkukkan badannya pada ibu Eylina.
Rupanya keberadaan nona muda benar - benar bukan hanya mengubah hati anda, namun juga sikap anda, Tuan. Tuan besar pasti sangat senang jika melihat hal ini. Tapi sayangnya aku bahkan tak bisa merekam kejadian ini dalam sebuah video karena tuan muda menginginkan privasi nona muda dan keluarganya tetap terjaga tanpa diketahui siapapun. Termasuk tuan besar sekalipun.
Sekertaris Rey memandang tuan mudanya dari kejauhan.
"Iya Nak, kalian hati - hati dijalan ya." Santi mengusap bahu putrinya.
"Iya Buk." Eylina kemudian memeluk ibunya dan juga adiknya.
Ia dan suaminya kemudian melangkahkan kaki dan melambaikan tangannya ke arah Dara dan Santi.
Morgan melangkahkan kakinya dan merangkul bahu Eylina, ia nampak sangat bahagia hari ini.
Setelah Morgan dan Eylina masuk ke dalam mobil, Rey lalu melajukan mobil tersebut. Mengantarkan tuan dan nona mudanya ke istana keluarga Wiratmadja.
Tidak seperti biasanya, Rey melajukan mobilnya sedikit lebih cepat kali ini.
Namun hal itu tak mempengaruhi apapun. Karena mobil ini teramat nyaman bagi siapa saja yang menaikinya.
Morgan kembali menggenggam tangan Eylina dan memainkannya di depan bibirnya. Lelaki tersebut terlihat beberapa kali menciumi punggung tangan Eylina.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan gadis itu. Seluruh isi di dalam dadanya terasa hampir meledak. Jantungnya terasa terpacu, hingga seperti hampir melompat keluar.
"Kenapa tanganmu semakin dingin?" Morgan yang sedari tadi menggenggam tangan gadis itu merasa heran.
"Ah, tidak, tidak apa - apa Tuan."
Apa kau merasa grogi? Hahaha ... wajahmu bahkan nampak pucat sekali.
Ingin rasanya Morgan tergelak karena gemas melihat wajah istrinya, tapi tidak bisa dia pungkiri. Bahwa jantungnya sendiripun terasa hampir meledak.
"Apa kau senang melihat kehidupan ibu dan adikmu sekarang?"
__ADS_1
Lelaki itupun akhirnya mengalihkan pembicaraan untuk meredakan gejolak yang ada dalam dirinya. Namun tangannya tak melepaskan genggamannya pada jemari gadis yang duduk disampingnya.
"Tentu saja Tuan, mereka nampak bahagia sekarang. Dan juga, karena hidup mereka sudah terjamin." Eylina tersenyum kecut.
"Kau tahu apa itu artinya?"
"Maksud Tuan?" Eylina mengernyitkan dahinya dan menatap lelaki yang berada disampingnya.
"Apa aku harus mengajarimu terus?"
Apaan coba? bisa nggak sih langsung bilang aja tanpa memberi teka - teki?
"Tuan, hehe ... aku benar - benar tidak mengerti maksud anda." Eylina tersenyum polos, senyum yang sangat menggemaskan bagi Morgan.
"Berterimakasih lah!" Morgan berkata tanpa melihat ke arah Eylina.
"Oh, iya tentu saja. Terimakasih karena Tuan Muda sudah sangat bermurah hati pada ibu dan adik saya." Gadis itu lalu tersenyum.
Hhh ... pamrih sekali. Itu kan sudah kesepakatan kita. Tidak seharusnya aku berterimakasih. Karena aku juga sudah menyerahkan harga diriku padamu. Batin Eylina.
"Tapi aku sedang tidak ingin ucapan terimakasih yang hanya sekedar kata - kata." Ucap Morgan setelah terdiam cukup lama.
"Maksud Tuan?"
"Ah, tidak. Lupakan saja!" Morgan merasakan kegelisahan dalam dirinya. Ada sesuatu yang mengganjal dan seperti sedang menekan dadanya hingga terasa sesak.
Apa saja yang kupikirkan dasar bodoh? Hhh sial, kenapa aku membayangkannya? arrgggh**!!!
Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar lalu membuang pandangannya ke samping, menatap jalanan.
Apa yang terjadi pada Tuan Muda?
Batin sekertaris Rey. Lelaki itu nampak khawatir karena akhir - akhir ini ia sering melihat Morgan nampak gelisah dan gusar.
Tapi ia tidak mungkin menanyakan kekhawatirannya di depan Nona Mudanya.
Sebelum akhirnya sebuah panggilan telepon terdengar berdering di saku jasnya.
Ia pun menghubungkan sambungan telepon tersebut pada earphone yang dikenakannya.
"Baik Tuan". Hanya itu kata yang terdengar setelah beberapa saat Rey mendengarkan apa yang dikatakan oleh si penelepon.
"Siapa Rey?" tanya Morgan.
"Tuan besar, Tuan."
"Ada apa?" Morgan nampak mengernyitkan dahinya.
"Tuan Besar akan kembali besok sore, Tuan. Beliau ingin Tuan Muda berada dirumah besok."
"Ada apa memangnya?" wajah Morgan semakin penasaran.
"Ada hal penting yang ingin Tuan Besar sampaikan."
"Hal penting apa?"
"Saya kurang tahu Tuan, tuan besar tidak mengatakannya. Tapi firasat saya mengatakan, jika tuan besar akan segera menyerahkan kuasanya pada Tuan Muda."
"Oh, hal itu."
"Apa Tuan Muda sudah tidak tertarik?"
"Tidak juga." Entah kenapa Morgan tiba - tiba merasa takut.
__ADS_1
Jika aku sudah resmi menjadi Presdir Globalindo, artinya aku harus melepaskannya. Lelaki yang masih menggenggam tangan istrinya itupun lalu mencium tangan tersebut.
Apakah ini artinya aku akan segera bebas dari jeratan tuan muda? Kenapa hatiku tidak merasa senang? Bukankah ini hal yang paling kutunggu - tunggu? Seharusnya kabar ini adalah hal yang paling menyenangkan, tapi kenapa ada yang mengganjal di dalam dadaku?
Eylina pun merasakan sesak di dadanya. Entah kenapa, meski lelaki yang kini berada disampingnya itu sangat menjengkelkan, namun dirinya merasa aman jika bersamanya.
Terlebih lagi, Emily dan Luna juga sudah sangat baik selama ini.
Baik Eylina maupun Morgan sama - sama tak bersuara. Mereka hanyut dalam pikiran masing - masing. Hingga tak terasa jika mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman rumah keluarga Wiratmadja.
"Tuan Muda, saya langsung pamit." Ucap sekertaris Rey setelah membukakan pintu untuk tuan dan nona mudanya.
"Ya, pastikan Jessica dan Arnold aman!". Jawab Morgan yang nampak tak begitu bersemangat.
"Baik Tuan." Lelaki itu lalu membungkukkan badannya kemudian masuk ke mobil dan melajukannya hingga menghilang di balik gerbang utama.
Sementara Morgan masuk kedalam rumah, terlihat para pelayan berbaris rapi menyambut kedatangannya. Termasuk pak Gunawan.
"Selamat sore Tuan Muda, selamat sore Nona." Sapa pak Gun seraya membungkukkan badannya dan diikuti oleh semua anak buahnya yang berada disana.
"Sore pak Gun, apa Mama dan kedua adikku sudah tiba dirumah?" Morgan berhenti menghentikan langkahnya.
"Sudah Tuan, nyonya Besar bersama nona Emily dan nona Luna sedang berada di taman belakang, Tuan."
"Oh, ya sudah. Terimakasih pak Gun."
"Sama - sama Tuan." Lelaki itu lalu melanjutkan langkahnya. Eylina setengah berlari untuk mensejajarkan dirinya dengan suaminya.
"Tuan, Tuan Muda." Panggilnya saat hampir sampai di kamarnya.
Huh, kenapa dia berjalan cepat sekali. Batin Eylina.
"Ada apa?" Jawab Morgan dengan datar, ia menghentikan langkahnya namun tak berbalik maupun menoleh pada Eylina.
"Bolehkah aku bertanya?"
"Tanyakan!"
"Apa aku akan segera bebas?"
"Apa kau bilang?" Morgan membalikkan badannya dan berjalan mendekati gadis tersebut hingga membuat Eylina memundurkan langkahnya. Namun sial, ia malah terjebak karena tubuhnya menabrak tiang besar rumah ini.
Kenapa? apa dia marah?
Jantung Eylina semakin berdebar - debar saat Morgan mengunci tubuhnya dengan kedua tangan kekarnya yang disandarkan pada tiang tersebut.
"Apa kau sudah tidak tahan denganku hah?"
Morgan berkata dengan pelan, namun justru suaranya terdengar semakin menakutkan bagi Eylina.
"Ti ... tidak Tuan. Tentu saja tidak, tapi ... bukankah tadi sekertaris Rey bilang Tuan Muda akan segera menggantikan tuan Wira?"
Dengan segala keberaniannya yang tersisa, Eylina berusaha mencari jawaban.
Lelaki itu tidak memberikan jawaban dan justru mendekatkan wajahnya ke hadapan wajah Eylina. Hanya tersisa jarak beberapa inci saja.
Dengan reflek Eylina memejamkan matanya. Hingga akhirnya sebuah sentuhan hangat mendarat di bibirnya dan ******* bibir mungil itu beberapa saat.
Gadis yang tidak siap dan tidak mengerti harus berbuat apa, itupun hanya bisa diam sambil menahan nafas.
Membuat Morgan menghentikan aktivitasnya. "Buka matamu, dan bernafas lah!"
Dengan wajah yang memerah, Eylina mengikuti instruksi dari Morgan.
__ADS_1
"Jangan pernah bahas hal itu lagi, kau mengerti?" Masih dengan ekspresi datar.
💗💗💗💗💗💗