Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Bonus 2


__ADS_3

Rey melajukan mobilnya menuju rumahnya. Di dalam mobil itu, selain ada dirinya dan istrinya juga ada bi Ani.


"Bi Ani, mungkin lusa kita akan pindah dari rumah itu," kata Rey membuka obrolan.


"Pindah? Kenapa, nak Rey?" tanya bi Ani sedikit bingung. Rumah itu baru saja selesai direnovasi, tapi Rey justru memberi kabar akan pindah.


"Tuan muda memberikan hadiah rumah baru, Bi. Bibi tau sendiri, Tuan Morgan tidak bisa dibantah."


"Oh ... iya, iya ... bibi mengerti," jawab wanita paruh baya yang duduk dibelakang.


Setelah itu tidak ada lagi obrolan. Jangan berharap Rey akan cerewet, karena karakter lelaki tersebut sudah dicetak untuk irit bicara.


Tapi saat ini tidaklah separah dulu, pria itu sudah banyak kemajuan. Salah satu orang yang berjasa adalah bi Ani.


Keramahan wanita itu membuat Rey nyaman. Dikarenakan dirinya tidak memiliki orang tua, dan juga bi Ani yang tidak memiliki anak, hubungan keduanya menjadi lebih dekat satu sama lain.


Lebih dari sekedar majikan, bi Ani menyayangi Rey seperti putranya sendiri. Begitupun Rey, ia sudah menganggap bi Ani seperti ibu baginya.


Hari ini pun bi Ani sangat senang sekali, meski Rey hanya mengajak Sista berkunjung ke rumahnya satu kali tapi bi Ani tahu betul jika gadis itu adalah gadis yang baik.


Hal itu bisa bi Ani rasakan dari cara berbicara dan sikap Sista. Meski banyak bicara namun gadis itu cukup tau sopan santun.


Lewat 30 menit telah berlalu, mobil sekertaris Rey memasuki halaman rumahnya. Terlihat di dalam bagian rumah itu hanya ada beberapa lampu yang menyala.


Bi Ani dengan sigap membukakan pintu untuk Sista yang duduk di depan.


"Bibi, seharusnya tidak usah memperlakukan Sista seperti ini," kata Sista ramah.


"Tidak apa - apa nak Sista, bibi senang melakukannya. Lagipula nak Sista kan penghuni baru rumah ini, jadi bibi harus memberikan yang terbaik untuk nak Sista."


Mereka lalu masuk ke dalam rumah Rey. Rumah yang juga merupakan fasilitas dari tuan besarnya, yang diberikan sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

__ADS_1


Hari ini sangat melelahkan, sehingga Sista dan Rey langsung menuju ke kamar utama yang juga merupakan kamar pengantin.


Tidak banyak hiasan disana, hanya beberapa lilin dan kelopak bunga berwarna merah yang ditabur di atas tempat tidur.


Melihat hal itu Sista tersipu malu, pipinya bersemu merah. Ia tidak menyangka, hari bahagianya yang dulu pernah gagal, kini diganti oleh Tuhan.


Jujur saja jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat ini. Ia tidak bisa melukiskan perasaannya, antara bahagia, sedih dan juga haru bercampur menjadi satu.


Ia tentu sangat bahagia lantaran dipersunting oleh lelaki yang tampan dan cukup berpengaruh, tapi ia juga sedih karena kedua orang tuanya tidak dapat menyaksikan kebahagiaannya hari ini.


Andai saja mereka masih hidup, Sista pasti sangat bahagia hari ini. Kak Reynard nya telah kembali dan mempersuntingnya sesuai keinginan almarhumah ibunya.


Perlahan namun pasti, buliran bening lolos begitu saja dari kelopak matanya. Membasahi pipinya yang masih terlapisi make up.


"Masuklah!" pinta Rey yang melihat gadis itu hanya mematung di depan pintu. Rey tidak menyadari jika Amel kecilnya telah meneteskan air mata.


Mendengar suaminya memanggilnya, ia pun menyeka sisa air mata yang masih ada di pipinya.


Namun ia tetap masuk ke dalam kamar itu, "Kak, ini kado yang tadi diberikan oleh Tuan Morgan," lanjutnya seraya menyerahkan sebuah bingkisan yang tak lagi rapi.


"Buang saja! Lagipula itu bukan dari tuan muda,"


"Ke-kenapa? Kenapa kau tidak menghargai pemberian seseorang?" tanya Sista keheranan.


"Itu ... kau lihat saja sendiri isinya!" ujarnya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.


Kenapa menyebalkan begitu sih? Nggak ada manis - manisnya sama sekali. Seperti bukan kak Reynard.


Sista yang penasaran pun membuka kotak itu seraya menjatuhkan beban tubuhnya di sofa kamar.


Apa sih isinya?

__ADS_1


Gadis itu mengeluarkan satu kotak pembungkus lainnya, lalu melihat dan membaca tulisan yang ada disana.


Astaga! gumam Sista dalam hatinya. Tak lupa juga ia membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan suara setelah membaca brosur yang ia ambil dari kotak pembungkus satu strip obat ditangannya. Salah satu jenis obat kuat produksi luar negeri, tentu saja membuatnya terkejut.


Entah apa maksud orang yang memberikan kado ini, tapi Sista tau itu bukanlah suami Eylina. Tuan muda itu tidak sampai hati melakukan ini. Ya, bukankah tadi suaminya bilang bahwa itu bukan dari Morgan?


Setelah beberapa saat mengalami keterkejutan, ia pun lalu melempar benda itu ke dalam keranjang sampah yang ada disana.


Gila apa? Dikasih obat kuat segala? Lagipula aku juga tidak yakin kak Reynard akan menyentuhku malam ini. Hubungan kami masih sangat canggung. Kadang bagiku dia masih sekertaris Rey menyebalkan itu, tapi kadang juga teramat baik hati dan dewasa seperti kak Reynard yang dulu menenangkan ku saat mainan ku jatuh ke danau.


Sista masih memonyongkan bibirnya saat suaminya telah selesai urusan dengan kamar mandi.


"Aaaaa ...." pekiknya saat mendapati suaminya keluar dengan bertelanjang dada. Dengan reflek ia pun menutup matanya.


"Ada apa?"


"Ke-kenapa kau berpenampilan begitu? Itu sungguh tidak sopan!" protesnya.


"Diam lah! Jangan berteriak seperti itu, nanti bi Ani datang dan berprasangka yang tidak - tidak," Rey membekap dan merangkul istrinya yang duduk di sofa.


"Apa yang kau lakukan? Aku masih virgin, jangan macam - macam!"


"Hhhh ... kau ini kenapa? Aku adalah suamimu, kenapa Amel ku jadi seperti ini? Apa kau salah makan sehingga membuatmu tumbuh dengan buruk,"


Oh iya ... dia adalah suamiku. Lagipula selama bersama Rony pun aku juga tidak pernah melakukan apapun. Lelaki itu juga bahkan hanya mencium kening dan pipiku satu kali. Setelah itu aku selalu memarahinya jika dia akan menyentuhku.


"Maafkan aku, aku sangat terkejut. Aku tidak pernah melihat lelaki bertelanjang dada sedekat ini. Aku sering melihatnya di TV, tapi aku tidak menyangka jika berada di depan mata seperti ini membuatku takut dan gugup."


Lancar sekali Sista berbicara, sehingga membuat Rey menyunggingkan senyum tipisnya. Cerewet tapi sangat jujur, itulah hal yang diketahui Rey sejak awal.


Namun yang paling membuatnya bahagia adalah, Amel kecilnya masih polos.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2