Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Selamat Datang


__ADS_3

Eylina menjejakkan kakinya di lantai teras, ia turun dari mobil itu dengan bantuan Sista. Dara dan ibunya juga ikut turun. Mereka berdua membenarkan pakaiannya dan juga mengusap wajah mereka yang baru saja bangun dari tidurnya.


Dara dan ibunya sungguh tercengang saat melihat bangunan yang sangat megah dihadapannya. Pilar - pilar penyangganya sangat besar dan terlihat benar - benar sangat kokoh. Pintu utama yang tinggi dan berwarna abu - abu tua, dihiasi ukiran - ukiran memberi kesan klasik dan juga mewah.


Santi mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh bagian luar rumah tersebut, semuanya terlihat begitu tertata rapi, indah dan mewah. Bahkan lantainya juga terlihat begitu bersih dan berkilat saat terkena sinar.


Kedua wanita itu mencubit lengannya masing - masing untuk memastikan bahwa yang mereka lihat bukanlah mimpi. Dan ya, keduanya merasa kesakitan. Dara bahkan sampai meringis karena ulahnya sendiri.


Ini bukan mimpi, batin Santi.


Serasa tak percaya, tapi ini jelas terlihat nyata di depan matanya.


Ia pun mengayunkan kakinya mendekati Eylina yang tengah berjalan mendekati pintu.


Ingin bertanya, tapi sungguh tidak enak juga. Tapi ini benar - benar seperti sebuah mimpi bagi Santi. Apa yang terlihat oleh matanya bahkan jauh sekali diatas ekspektasinya selama ini. Sista memang sedikit banyak telah menceritakan jika keluarga yang meminang Eylina adalah keluarga yang sangat kaya. Tapi Santi tidak mengira jika keluarga yang diceritakan itu akan sekaya ini. Melebihi batas tertinggi dalam angan - angannya.


Sista membuka pintu besar tersebut, namun ia tidak bisa melihat dengan maksimal karena seluruh tirai rumah itu tertutup. Bahkan hampir tidak ada cahaya dari luar yang masuk ke dalam bangunan itu.


Gelap sekali, batin Eylina.


"Kok sunyi banget sih Sis? Orang - orang pada pergi ya?" tanya Eylina dengan berbisik.


"Gue juga nggak tau, nggak ada pesan atau apapun dari Pak Gunawan atau sekertaris Rey. Ya udah masuk aja lah. Ini kan juga rumah suami lo," jawab Sista dengan berbisik juga.


Gadis itu menuntun Eylina masuk kedalam, dan saat Eylina baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu, seluruh lampu rumah tiba - tiba menyala. Ruangan menjadi terang benderang. Tepat ditempat Eylina berdiri, kelopak bunga - bunga berwarna - warni berjatuhan mengenai dirinya dan Sista yang ada disampingnya.


Eylina sungguh terkejut dibuatnya, begitupun Sista, Ibu dan Dara. Ia tidak menyangka jika semua orang akan menyambutnya dan berteriak mengucapkan selamat datang padanya.


Namun satu - satunya yang tertangkap pertama kali oleh mata Eylina dan membuatnya tercengang adalah tulisan besar SELAMAT DATANG ISTRIKU. Disertai tulisan - tulisan yang indah lainnya, ada banyak sekali yang dibawa oleh para pelayan. Jelas sekali itu adalah ucapan dari Morgan.


Lelaki itu nampak tersenyum lebar dan berjalan kearahnya dengan tangannya yang tersembunyi dibelakang. Ia kemudian berlutut dihadapannya, meraih salah satu tangan Eylina lalu mempersembahkan satu bouqet bunga mawar merah segar padanya.


"Selamat datang kembali, sayang. Kami sangat merindukanmu," katanya dengan bibir yang masih dihiasi senyuman. Lelaki itu juga mencium tangan Eylina.


Eylina terharu, sangat terharu. Rupanya lelaki tampan ini sengaja ingin membuat kejutan untuknya. Namun ia juga sebal sekali dibuatnya, mengingat betapa ia gelisah sekali sejak tadi pagi karena tidak berhasil menghubunginya sama sekali.


Jadi dia sengaja mengabaikan ku untuk memberiku kejutan ini?

__ADS_1


Eylina menerima bunga tersebut, ia tersenyum dan menatap suaminya yang kini telah kembali berdiri dihadapannya. Morgan menangkup wajah Eylina lalu mencium keningnya dengan lembut.


Semua orang yang melihat adegan ini tersenyum - senyum sendiri, terlebih lagi Emily dan Luna. Mereka sejak tadi sudah heboh berteriak - teriak menyambut kakak iparnya sesaat setelah lampu dinyalakan. Dan kini mereka disuguhkan adegan mesra sepasang sejoli, jelas mereka semakin histeris bahkan melompat - lompat gemas.


Kedua gadis itu kemudian berlarian dan berebut untuk memeluk kakak iparnya, namun sayangnya usaha mereka gagal karena Morgan merentangkan kedua tangannya di hadapan Eylina untuk menghalangi kedua adik perempuannya tersebut.


"Ih ... kak Morgan apa - apaan sih?" tanya Luna dengan kesal.


"Kakak ipar hanya milik kak Morgan, paham?"


"Apaan sih? Luna cuma pengen meluk aja, pelit banget ah!" gadis kecil yang sedang memegang satu bouqet bunga itu memonyongkan bibirnya dan menatap sebal pada kakaknya.


Melihat hal itu, semua orang yang ada disana pun tertawa, termasuk Santi, Sista dan juga Dara.


Santi merasa bahagia sekali, melihat putrinya begitu disayangi di keluarga ini. Begitu juga Sista, ia sangat bersyukur melihat Eylina begitu diperlakukan dengan sangat baik oleh keluarga suaminya.


"Luna, kakak ipar itu masih lemah. Perutnya masih sakit, ada luka jahitan yang belum kering disana," terang Morgan seraya menangkup wajah dan membelai rambut adiknya. Ia lalu meraih dagunya gadis kecil itu, "Sini, peluk kak Morgan saja," tambahnya seraya meraih tubuh mungil adik perempuannya.


Luna pun menurut saja, ia pun kemudian tenggelam di pelukan kakaknya yang bertubuh tinggi besar. Terasa hangat sekali. Sudah lama juga rasanya gadis itu tidak merasakan pelukan hangat dari kakak lelakinya.


Wira yang melihat hal itu merasa sangat bahagia. Ia tersenyum lebar dan menghampiri anak - anaknya tersebut.


"Mau sampai kapan dramanya? Kita kedatangan tamu spesial, apa kalian tidak ingin mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam?" kata Wira. Ia lalu menoleh pada Santi dan putrinya yang masih berdiri di depan pintu. "Mari Bu Santi, silahkan masuk," ucapnya dengan tersenyum ramah dan merentangkan sebelah tangannya.


"Oh ... iya, Dara, Tante, silahkan masuk," ucap Emily seraya melepaskan pelukannya.


Santi dan putrinya tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya dengan sopan. "Terimakasih Pak Wira, nak Emily," jawabnya sopan, lalu melangkahkan kakinya mengikuti Eylina dan orang - orang yang berjalan di depannya.


Sista menggandeng tangan Dara, karena Morgan sudah mengambil alih tugasnya. Lelaki itu menuntun Eylina dengan sangat hati - hati.


Mereka berhenti di ruang tengah, semua orang juga duduk disana. Sementara para pelayan telah kembali pada tugasnya masing - masing. Hanya Pak Gun saja yang masih tinggal disana. Lelaki paruh baya itu berdiri sejajar bersama sekertaris Rey dan juga Sista.


"Eylina, maafkan Papa dan yang lainnya, karena tidak menjemput mu ke rumah sakit." Wira membuka percakapan.


"Tidak masalah, Pa. Sudah ada Ibuk, Dara sama Sista yang menemani Eylin."


"Suami dan juga adik - adik iparmu yang telah merencanakan ini semua. Papa tidak bisa berbuat apa - apa ataupun melarangnya."

__ADS_1


"Hehehe ... iya, tidak masalah, Pa. Eylina justru terharu dengan kejutan ini."


"Kau tahu? Ponsel kami disita semua oleh gadis kecil Papa ini, kami dilarang menghubungimu ataupun menerima panggilan darimu," kata Wira menjelaskan seraya memeluk putrinya yang paling kecil.


"Hehehe ... maafin Luna ya, Kak!" ujar Luna kemudian menyeringai.


"Tidak masalah, Luna," jawab Eylina dengan lembut.


Hari itu semua orang bahagia atas kembalinya Eylina ke rumah besar itu. Wira ingin mengadakan jamuan makan malam bersama untuk hari ini, sebagai acara penyambutan untuk menantu rumah ini bersama Santi dan juga putrinya.


Tapi sebelum makan malam itu berlangsung, mereka pergi beristirahat ke kamar masing - masing, juga untuk bersiap - siap tentunya.


Semua orang pergi meninggalkan ruang keluarga, begitupun Dara dan ibunya. Pak Gunawan mengantarkan mereka ke kamar tamu yang ada di lantai dasar. Sebuah kamar bernuansa krem, dengan dekorasi ruangan yang simpel dan terlihat sangat elegan. Ruangannya luas, sama seperti kamar - kamar yang lainnya. Jendela kamarnya menghadap ke arah taman samping, sengaja dibuat seperti ini agar tamu yang menginap disini merasa senang karena di taman samping banyak tanaman bunga - bunga yang indah. Ada akses pintu yang membuat mereka bisa langsung menuju taman tersebut kapanpun mereka mau.


Sementara Eylina, Morgan mengangkat tubuhnya dan membawanya naik ke kamar. Bagi Eylina ini terlalu berlebihan, karena ia sebenarnya bisa berjalan sendiri. Namun bukan Morgan namanya, kalau tidak bisa memaksa gadis itu untuk menurut padanya.


Meski merasa ini sangat berlebihan, tapi dalam hati Eylina sangat merasa bahagia saat digendong ala bridal seperti ini. Ia melingkarkan tangannya di leher kekar suaminya. Sementara matanya tertuju pada wajah tampan Morgan yang nampak sangat teduh dan menenangkan.


"Sudah puas memandangiku?" tanya Morgan saat sampai di anak tangga paling atas. Lelaki itu melirik gadis yang ada di dalam gendongannya.


Hal itu tentu saja membuat Eylina mati gaya, gadis itu lalu dengan cepat membuang pandangannya kebawah.


"Apa kau malu? Padahal aku senang sekali,"


"Hemm ... benarkah?" tanya Eylina malu - malu.


"Tentu saja," jawab Morgan. Ia memonyongkan bibirnya, tanda meminta sebuah ciuman.


Eylina juga tanpa segan menyambut harapan suaminya, dan sebuah ciuman hangat yang singkat namun terasa begitu dalam pun terjadi sebelum mereka masuk kedalam kamar.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Jangan lupa πŸ‘ dong gais😭😭


Sampai hari ini udah di ❀️ (favoritkan) sama hampir 9000 orang, tapi yang kasih πŸ‘ minimalis banget 😭😭😭


Pengen nangis guling - guling rasanya. Nggak vote nggak papa, cukup tekan πŸ‘ ini di tiap episodenya juga udah cukup.

__ADS_1


__ADS_2