Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Kedatangan Papa dan Mama


__ADS_3

Cahaya senja di ufuk barat mulai terlihat temaram, menghantarkan sang Surya kembali ke peraduannya.


Samar - samar sinar jingga itu menelisik masuk ke dalam ruangan Eylina. Membuat seorang lelaki berparas tampan yang sedang duduk seraya membaringkan kepalanya diatas ranjang pasien itu memicingkan matanya.


Ia mengerjapkan matanya dan melihat keadaan sekitarnya, matanya menyapu seluruh isi ruangan disana. Tidak ada siapa - siapa. Hanya ada sekertarisnya yang duduk di sofa. Ia merasakan pegal di seluruh tubuhnya setelah beberapa saat yang lalu larut dalam dunia mimpi, setelah menyantap makanannya tadi.


Ia menarik napas dalam dan menggeliatkan badannya, lalu meraih tangan Eylina dan mengusapnya.


Morgan lalu memandangi sesosok gadis cantik yang terbaring di depan matanya dengan wajah yang sedikit pucat karena pulasan make up nya telah memudar. Ia menarik sudut - sudut bibirnya dan mengusap lembut pipi gadis itu.


Aku sangat mencintaimu, gumamnya seraya menciumi punggung tangan Eylina.


Morgan sedikit mengangkat tubuhnya dan menempelkan bibirnya dengan lembut di kening istrinya yang masih memejamkan mata. Ia terus memandangi wajah yang nampak menggemaskan dimatanya itu dengan menopangkan dagunya pada kedua tangannya.


"Permisi Tuan," ucap Rey yang berdiri di belakangnya. Lelaki itu juga pasti sangat lelah seharian ini. Namun profesionalisme tetap nomor satu baginya. Terlebih kepada keluarga Wiratmadja. Ia merasa apapun yang dilakukannya seolah tidak pernah cukup untuk membalas budinya pada keluarga ini. Terutama pada Tuan Wira.


"Sssttt ... pelankan suaramu, Rey. Kau bisa membangunkannya!" Morgan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya dengan mata yang sedikit melotot. "Pergilah! Nanti jika aku memerlukan mu aku akan memanggilmu. Beristirahatlah sana, aku tahu kau lelah."


"Baik, Tuan." Rey pun kembali ke tempatnya semula.


Sementara Morgan kembali memandangi wajah istrinya sambil sesekali mengusap lembut pipi gembung Eylina dengan ujung jarinya.


"Mmm .... aaww," Eylina menggeliat dengan tanpa sadar, ia lupa jika dirinya baru saja habis dioperasi. Bekas luka itu terasa berkedut dan terasa sakit sekali, hingga membuat Eylina sedikit berteriak.


Ia pun lantas membuka matanya. Dan mendapati suaminya berada disampingnya.


"Sayang, hati - hati! Masih sangat sakit ya?" Morgan mengusap puncak kepala gadis itu.


"Mmm ...." Eylina menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Sabar, ya ...." Morgan menggenggam dan mengusap pipi Eylina. Ia merasa kasihan sekali melihat gadisnya kesakitan seperti ini. Jika saja ia bisa menggantikannya, ia dengan senang hati rela menanggung rasa sakit itu untuk istrinya.


"Ada apa, Nak?" Santi datang dan berdiri dibelakang Morgan.


"Tidak apa - apa, Bu. Eylina hanya baru bangun dari tidurnya, dia lupa jika dirinya baru saja dioperasi," kata Morgan memberi penjelasan.

__ADS_1


"Oh, Ibu kira ada apa. Oh iya, Nak ... nak Morgan sebaiknya mandi dan istirahat dulu. Biar Ibu yang menjaga Eylin. Nak Morgan tidak istirahat dari tadi, nanti nak Morgan kelelahan." Santi berkata lembut pada menantunya.


"Iya, Kak ... kak Morgan istirahat saja dulu. Dara juga mau kok jagain kak Eylin." Gadis itu tersenyum lebar, manis sekali. Mengingatkan Morgan pada adiknya, Luna.


"Baiklah, kak Morgan titip bidadari kakak sama Dara, ya?" Morgan berkata pada Dara, dengan nada bicara seolah ia sedang berkata pada anak - anak balita. Lelaki itu kemudian berdiri dan mengusap puncak kepala adik iparnya. Ia juga membelai pipi Dara seperti ia sedang memperlakukan adik kandungnya.


Hal itu membuat Dara tersenyum lebar, begitu juga Santi, Sista dan Eylina.


"Sayang, ku tinggal dulu sebentar. Nanti aku akan kembali dan membawakan mu makanan. Oke? Jangan nakal, dengarkan apa kata Ibu dengan baik!" kata Morgan. Tangannya mentowel hidung Eylina, seolah ia sedang menasehati anaknya.


"Siap Mister!" Eylina mengangkat tangannya dan menempelkannya di keningnya. Pose hormat, seraya tersenyum.


Uh ... gemas sekali, melihatmu yang seperti ini. Cepatlah sembuh, agar aku bisa mengajakmu jalan - jalan dan berlibur. Morgan tertawa, tangannya mengusap gemas di kepala istrinya.


"Morgan pamit dulu, Bu. Titip Eylina," pamit Morgan pada mertuanya.


Setelah itu, ia pun pergi bersama Rey. Tidak lupa, sebelum pergi bersama tuan mudanya, Rey sudah mewanti - wanti agar Sista bekerja dengan benar saat ia dan Morgan pergi. Tentu saja mereka bukan seperti atasan dan bawahan yang semestinya. Entah sepertinya ada saja yang mereka perdebatkan. Tapi tetap saja, ujung - ujungnya Sista lah yang mengalah dan menurut pada atasannya itu.


Rey dan Morgan menghilang di balik pintu. Morgan memutuskan untuk pulang kerumah, karena ia tidak membawa pakaian ganti sama sekali. Sebenarnya ia bisa saja memerintahkan seseorang untuk mengirimkan pakaian untuk dirinya dan istrinya, atau justru memesan pakaian baru pada Miss Anna. Tapi nyatanya ia lebih memilih pulang ke rumah bersama sekertarisnya. Ada hal penting yang harus ia urusi dan harus segera diselesaikan malam itu.


"Selamat petang, Nona Eylina," sapa seorang diantara mereka, membuat keempat orang itu menghentikan pembicaraannya dan menoleh pada sumber suara.


"Selamat petang, Suster," jawab Eylina ramah.


"Permisi, ya Nona ... kami akan memeriksa keadaan, Nona Eylina."


"Ya, silahkan."


Mereka pun kemudian melakukan tugasnya, memeriksa Eylina dengan seksama dan tak lupa juga mengganti botol infus Eylina yang akan habis.


"Apa ada yang bisa kami bantu lagi, Nona?"


"Tidak ada Suster, terimakasih."


"Baiklah kalau begitu, jika Nona Eylina memerlukan sesuatu, Nona tinggal memencet tombol ini saja. Nanti salah satu dari kami akan segera kemari." Salah satu suster itu menjelaskan dengan sangat ramah.

__ADS_1


"Terimakasih Suster."


"Sama - sama Nona, permisi ...." Kedua perawat itu pun kemudian berlalu dari sana dan keluar. Eylina menatap kepergian mereka hingga mereka menghilang di balik pintu putih itu.


"Aww ..." pekik Eylina.


"Ada apa Lin?" tanya Sista yang sejak tadi siaga disamping sahabatnya itu.


"Nggak apa - apa, Sis."


"Sakit banget ya? Jangan banyak gerak dulu, elah ... lo mau apa sih? Biar gue ambilin."


"Haus ...." rengek manja Eylina pada sahabatnya.


"Bilang dong, Nona. Sista disini siap mengambilkan apa yang Nona Muda inginkan," gadis itu kemudian membungkukkan badannya, bergaya ala pelayan profesional, yang secara spontan membuat Eylina dan yang lainnya pun tertawa.


"Aw ..." Eylina meringis. Karena tertawa, ia membuat tubuh dan perutnya sendiri menjadi terguncang.


"Udah ah Sis, jangan ngajakin bercanda ah ... gue lagi nggak bisa gerak gini, awas lo kalau gue udah sembuh!"


"Iya ... iya, maafin gue. Tante ... Eylina ngancam Sista," Sista ganti merengek pada Santi.


"Kalian ini, dari dulu selalu seperti ini. Berantem, ntar akur lagi. Ibuk kangen lihat pemandangan seperti ini. Ibuk kangen suasana rumah yang berisik karena kalian."


"Aaa ... Tante, Sista juga kangen sekali." Gadis itu lalu memeluk Santi, begitupun Dara. Sementara Eylina hanya bisa tersenyum dan mengulurkan tangannya yang langsung di raih dan digenggam oleh ketiga wanita yang ada di samping ranjangnya.


Suasana hangat yang seperti ini yang selalu dirindukan oleh Eylina. Hal ini juga yang membuatnya selalu bersyukur, walaupun dulu ia hidup dengan sangat susah dengan segala keterbatasan ekonomi. Namun kebersamaan mereka mampu melahirkan kekuatan bagi keempat wanita tangguh itu.


Malam itu mereka bercerita panjang lebar, mengobrol kesana kemari. Mengingat kejadian lucu, senang dan juga saat - saat sedih yang pernah mereka alami bersama.


Dan tiba - tiba kegiatan mereka terhenti saat seseorang membuka pintu. Dialah Morgan, ia datang bersama keluarganya, termasuk Wiratmadja dan Ayu.


Melihat hal itu, wajah Eylina memucat seketika.


Papa? Mama? Kenapa Morgan membawa mereka kesini, sedangkan masih ada Ibu disini?

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2