
"Eylina ..." panggil Morgan dari ujung pintu.
Dimana dia?
Morgan meletakkan tas kerjanya di sofa, melepas jasnya dan melonggarkan ikatan dasinya lalu mencari gadis itu.
Ia mulai mencari di kamar mandi dan ruang ganti, lelaki itu bahkan membuka satu persatu pintu lemari besar yang ada di ruangan itu.
Kemana perginya? Rupanya kau senang sekali menggodaku ya ... awas saja kalau sudah ketemu!
"Sayang ... kau dimana?" teriaknya memenuhi seisi ruangan.
"Aku disini ..." jawab Eylina.
Morgan melangkahkan kakinya dan keluar dari jendela kamarnya.
Gadis yang ia cari itu ternyata ada di balkon. Ia tengah asik menikmati pemandangan dari balkon kamarnya dengan tanpa beban.
Eylina menoleh, wajahnya tersenyum ceria seolah baru saja tidak terjadi apa - apa.
"Kemari lah!" Eylina menarik tangan Morgan dan menggelayut manja di lengannya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Apa kau tidak melihatnya? Langit begitu cerah malam ini, bulannya juga begitu indah ... apa kau tidak ingin menikmatinya?" jawab Eylina dengan antusias.
"Mana?"
"Itu ..." jari Eylina menunjuk ke arah bulan yang sedang bersinar dengan terang. Ia bahkan sedikit berjinjit.
Cup ...
Sebuah ciuman mendarat di pipinya. Membuat gadis itu tersipu. Meski mereka sudah sering melakukannya, namun entah kenapa, Eylina selalu tersipu saat Morgan melakukan ciuman secara tiba - tiba.
"Emmm ... kau mencari kesempatan, ya?" ucapnya manja.
"Tapi kau menyukainya, kan?" goda Morgan. Ia menarik dan mendekap tubuh gadis itu ke dalam dada bidangnya.
"Suka ..." Eylina menganggukkan kepalanya. Ia merekatkan pelukannya. Merasakan kehangatan dari tubuh kekar lelaki itu.
Aku sangat menyukainya Morgan, kau adalah lelaki pertama yang memperlakukan ku semanis ini.
Angin malam berhembus pelan, membuat tirai - tirai tipis di kamar mereka melambai - lambai dan juga membuat udara terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Morgan mendaratkan beberapa ciuman di pucuk kepala istrinya. Sementara tangannya membelai rambut Eylina yang sudah mulai memanjang dari sebelumnya.
Mereka meleraikan pelukannya, dan saling menatap satu sama lain. Tatapan yang sangat dalam.
Dua orang yang saling mencintai terkadang tak butuh kata - kata untuk mengungkapkan perasaannya. Melalui tatapan mata saja, semuanya terasa lebih tersampaikan.
Tangan Morgan membelai pipi halus Eylina, gadis itu nampak sangat mempesona dengan kecantikan wajahnya yang tersorot oleh cahaya bulan malam ini. Rambutnya tergerai indah, dan sesekali terangkat karena hembusan angin.
"Jangan pernah berusaha untuk berpaling dariku ataupun meninggalkanku Eylina," ucapnya seraya menarik tubuh gadis itu dan memeluknya dari belakang. Menikmati hembusan angin dan keindahan malam ini.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," bisiknya tepat ditelinga Eylina.
Kalimat ini terasa sangat merdu, ini lebih merdu dari segala jenis irama musik apapun. Hingga bisa membuat Eylina terbuai dan memejamkan matanya. Jantungnya bergetar dan tubuhnya menghangat.
Aku mencintaimu ...
Kalimat itu terngiang - ngiang indah di telinganya. Eylina pun berbalik.
"Kau tidak berbohong?" Eylina menatap ke dalam mata hitam suaminya.
"Apa kau masih meragukannya?"
"Tidak ..." Eylina menggeleng pelan.
Hanya saja aku masih merasa takut, Morgan. Kau ini adalah seseorang yang kedudukan dan tingkat kastanya jauh di atasku. Aku hanya ingin memastikan, jika kau tidak akan pernah membuang ku suatu saat nanti.
"Lalu kenapa? Ada apa denganmu? Apa kau masih berpikir untuk berpisah dariku suatu saat? Dengar ya, sedetikpun aku tidak akan pernah membiarkan mu terlepas dariku, aku mencintaimu, Eylina. Apa kau berencana akan meninggalkanku suatu saat nanti? Apa kau tertarik pada orang lain? Apa itu Rey? Atau Gavin?" tanya Morgan khawatir. Cintanya sudah terlalu dalam kepada Eylina. Ia jelas tak ingin kehilangan gadis itu dari genggamannya.
__ADS_1
Eylina hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Jika benar kau tertarik pada salah satu dari mereka, akan benar - benar ku keb*ri mereka tanpa ampun, kau tahu?"
"Hihihi ... kau ini bicara apa? Aku istrimu Morgan, aku juga mencintaimu ... sangat mencintaimu juga," jawab Eylina. Ia memiringkan kepalanya dan mendongak melihat suaminya.
"Kau panggil aku apa tadi?"
"Morgan ..."
"Lagi ..."
"Morgan ... Morgan ku ... Morgan nya Eylina, sudah puas?"
"Tidak ... aku tidak mau dipanggil seperti itu!"
Morgan berpura - pura merajuk dan menggunakan gaya andalan Eylina yang selalu memonyongkan bibirnya.
Cup ...
Eylina menempelkan bibir tipisnya pada bibir suaminya.
"Apa kau mencoba merajuk? Hahaha ... lakukan saja," Eylina melepaskan tangan Morgan dan mengayunkan kakinya, berlari kecil menjauhi lelaki itu.
Hem ... dasar nakal kau ya?
"Mau kemana kau?" Morgan lebih cepat meraih tangan Eylina yang belum jauh darinya. Ia menarik dan memeluk pinggang gadis itu dari belakang, tangannya menggelitik bagian yang ramping tersebut hingga membuat Eylina tertawa cekikikan.
"Kenapa kau sekarang menjadi nakal sekali, hah? Siapa yang mengajarimu hingga menjadi seperti?"
"Aw ... sayang, sakit," pekik Eylina karena telinganya digigit dengan gemas oleh suaminya.
"Rasakan! Kurasa aku perlu menghukum dan menghajar mu malam ini. Akan ku buat kau susah berjalan besok pagi, bagaimana, hem?"
"Tidak mau, aku tidak mau ... kemarin kan sudah?" tolak Eylina dengan manja.
"Kalau begitu lakukan perintahku!"
"Katakan dengan keras jika kau mencintaiku, dan tidak akan meninggalkanku,"
"Aku sudah mengatakannya tadi."
Bukankah itu terdengar berlebihan? Lihatlah berapa usianya? Lelaki dewasa seperti ini merajuk seperti seorang bocah berusia lima tahun.
"Aku tidak mendengarnya, kapan kau mengatakannya?"
"Sayang ... jangan keterlaluan," rayu Eylina dengan manja. Ia membalikkan badannya dan menatap suaminya. Ia mengeluarkan jurus andalannya.
"Tidak ... tidak, hipnotis mu itu sudah tidak mempan lagi. Ayo cepat katakan! Oya, aku punya berita bagus untukmu," bujuk Morgan.
"Benarkah? Berita apa?"
"Lakukan dulu perintahku, baru aku akan menjawabnya."
"Mmm ..." Mata Eylina menatap manja.
"Ayo cepat! Mengatakan pada suamimu sendiri apa salahnya?"
"Aku mencintaimu," lirih Eylina.
"Kenapa tidak bersemangat?"
"AKU MENCINTAIMU," teriak Eylina dengan lantang.
"Hahaha ..." Morgan tertawa lebar, karena merasa menang.
"Mmm ... dasar jahat!" Eylina memukul dada Morgan dengan manja, lalu menenggelamkan dirinya disana. "Kau bilang kau punya berita bagus untukku?" lanjutnya.
"Ya, aku sudah dapat bodyguard untukmu," kata Morgan dengan lembut seraya meleraikan pelukan gadis itu.
"Oya? Mmm ... apa kau sendiri yang mencarinya? Apa dia cantik?"
__ADS_1
Kenapa aku merasa menyesal telah meminta sopir dan bodyguard perempuan?
"Tentu saja, dia cantik dan pintar bela diri,"
"Aku tidak mau! Aku tidak jadi meminta bodyguard lagi!" Gadis itu terlihat kesal sekali.
Pantas saja tidak ingin bodyguard laki - laki, ternyata dia suka dengan bodyguard perempuan. Dan apa itu tadi? Dia bahkan memuji bodyguard itu, cantik dan pintar bela diri? Menyebalkan sekali, huh ....
Gerutu Eylina dalam hati.
"Hey, hahaha ... apa kau cemburu? Dia bahkan belum mulai bekerja, tapi kau sudah cemburu." goda Morgan.
Siapa yang cemburu, besar kepala sekali dia ...
"Tidak, untuk apa aku cemburu? Dia hanya seorang bodyguard kan?"
"Sudahlah ... besok dia akan datang, aku yakin kau pasti suka saat melihatnya."
"Suka? Maksudnya?"
"Besok kau juga akan tahu, aku mandi dulu. Kau turunlah, nanti aku menyusul. Dua bocah cerewet itu pasti sudah menunggu dengan kelaparan dibawah sana," Morgan mengusap pucuk kepala Eylina dan mencium lembut kening gadis itu.
Ia lalu melangkah meninggalkan istrinya yang masih terdiam disana. Gadis itu menatap punggung kekar suaminya yang berjalan menjauh.
"Hey, sexy ... aku menginginkanmu lagi malam ini," kata Morgan setelah menoleh ke arah istrinya, ia mengerlingkan sebelah matanya.
Eylina sampai tersipu dibuatnya, panggilan itu terdengar sedikit nakal baginya. Tapi entah kenapa ia menyukainya. Mungkin karena yang memanggilnya adalah suaminya sendiri.
Lelaki itu selalu bisa membuat jantung Eylina berdebar - debar.
Gadis itu bahkan masih mematung ditempatnya walau suaminya sudah menghilang dari pandangannya.
Lebih baik aku turun saja, gumamnya. Ia lalu berbalik ke arah jendela dan menutupnya.
Setelah itu Eylina pun keluar kamar dengan berlari - lari kecil.
"Kak Eylin lama banget sih?"
Saat sampai disana, seorang gadis kecil sudah merajuk.
"Maafkan Kakak ya? Kakak tadi ada urusan sedikit dengan Kak Morgan," bujuk Eylina seraya mengusap kepala Luna.
"Urusan, ehem ... ehem, ya? Hihihi ...." goda Emily.
"Nggak lah, Kakak memang ada urusan Emil," jawab Eylina seraya memberi kode melalui matanya. Namun tak bisa dipungkiri, wajahnya memerah karena ucapan Emily.
"Oh ... iya, iya ... terus kak Morgan mana?"
"Masih mandi,"
"Nah kan bener," celetuk Emily, yang langsung membuat wajah kakak iparnya semakin memerah.
"Emily!" Eylina menatap adik iparnya dengan mata membulat.
Gadis ini ya, bisa - bisanya sembarangan bicara, sementara ada anak dibawah umur disini.
"Iya ... iya, yaudah. Hehehe ..."
Lucu banget sih kakak ipar, wajahnya merah ... hahaha,
"Luna? Luna kalau udah lapar makan duluan aja, sini kak Eylin ambilin."
"Emily juga mau dong di ambilin sama kakak ipar," kata gadis itu dengan manja.
"Idih ... Kak Emil apaan sih, geli tau dengernya ..." seru Luna.
"Sssttt ... udah ... udah, Luna ... ayo makan!"
Tak berselang lama setelah itu, Morgan pun bergabung bersama mereka dan menikmati hidangan yang telah disajikan oleh para pelayan.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1