Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Memohon


__ADS_3

Ia yang sedari tadi sudah duduk berlutut itu lalu menyatukan kedua tangannya dan menatap wajah tampan seorang pria menyebalkan yang ada dihadapannya.


Bibirnya kemudian tersenyum merekah.


"Tuan muda, aku mohon jangan mengurungku disini lagi. Aku berjanji akan lebih patuh dan lebih cekatan melaksanakan perintah Tuan."


Bagaimana? bagaimana hah? apa itu sudah cukup? Harga diriku sudah terjun bebas sekarang. Batin Eylina mulai kesal karena pria yang ada di hadapannya tidak merespon.


Hahaha ... gemas sekali melihatmu seperti itu. Ayo, tunjukkan lagi wajah kesal yang kau selimuti dengan senyuman itu hahaha ....


Baiklah, baiklah. Kurasa aku memang sudah keterlaluan. Morgan berusaha menahan tawanya.


"Baiklah, bangun dan duduklah disini." Morgan menepuk ruang kosong disebelahnya.


Eylina pun berdiri dan menuruti apa yang dikatakan oleh Morgan. Dengan jantung yang berdebar tak karuan ia mencoba tetap menjaga sikapnya agar tak kelepasan.


Lelaki itu melepaskan ikatan rambut Eylina, hingga membuat rambut hitam legam itu terurai dengan indah.


Tangannya menyelipkan beberapa rambut yang menutupi pipi Eylina ke belakang telinga gadis itu.


Apa sebenarnya yang ingin dilakukannya? Uuh ... jantungku kenapa tidak bisa berdegup dengan normal?


Eylina hanya mampu diam tak berkutik.


"Aku tidak akan mengurung mu jika kau mau mematuhi semua peraturan ku." Tangan Morgan masih membelai rambut Eylina, bahkan ia beberapa kali mengusap lembut pipi gadis itu dengan punggung tangannya.


Entah apa yang ada di dalam pikirannya, matanya tak berkedip memandangi wajah cantik Eylina yang polos tanpa sentuhan make up.


Hey Tuan, bisakah kau berhenti memainkan tanganmu disitu. Kumohon jangan membuatku semakin berdebar - debar seperti ini. Eylina.


"Bagaimana? Apa kau sanggup?" Suara Morgan membuyarkan lamunan Eylina.


"Ah, apa?" Gadis itu gelagapan menanggapi pertanyaan Morgan.


"Jadi kau tidak mendengarkan ku dari tadi? Berani sekali kau ya?" Morgan kini semakin mendekatkan wajahnya, membuat gadis itu memejamkan matanya dengan rapat. Ia berkata dengan nada suara yang rendah, tapi hal itu justru terasa lebih menakutkan bagi Eylina.


Sial, kenapa jantungku bergetar seperti ini saat berdekatan dengannya. Morgan menundukkan pandangannya dan berusaha menguasai perasaannya.


Fuuhhh ....


Lelaki itu kemudian meniup pipi Eylina.

__ADS_1


"Buka matamu, memangnya apa yang kau harapkan? Hahaha ...."


Ah, ya Tuhan. Dia benar - benar bisa membuatku tidak waras. Eylina membuka matanya, dan pipinya memerah.


Baru saja ia membuatku berdebar - debar hingga kakiku terasa lemas dan sekarang ia seolah membanting ku dengan begitu keras.


Seseorang tolong jelaskan padaku, apakah dia termasuk manusia normal?


Lelaki itu lalu menarik tangan Eylina dan membawanya keluar.


"Tuan mau membawa saya kemana?" Eylina mendadak menjadi takut. Ia berusaha mensejajarkan dirinya dengan lelaki yang menggandengnya itu. Mereka menuruni anak tangga itu satu persatu.


"Kemana lagi?" Hanya itu kata yang keluar dari bibir Morgan.


Di saat yang bersamaan, saat Eylina dan Morgan berjalan melewati ruang keluarga. Dari sisi yang lain Emily dan Luna juga sedang berjalan ke arah yang sama.


"Kak Eylin ...." panggil kedua gadis itu secara bersamaan. Mereka berlari kecil menghampiri kakak iparnya.


"Wah ... wah rupanya kau menjadi idola baru bagi mereka." Morgan tersenyum tipis.


"Hai Emily, hai Luna." Eylina tersenyum dan menyambut uluran tangan kedua adik iparnya.


"Kak Eylin cantik banget." Celetuk Luna.


Mereka semua kemudian berjalan bersama ke meja makan. Dan mama sudah berada disana. Tidak ada senyuman yang menghiasi wajahnya. Ia justru nampak sedang kesal, namun juga sedih.


Entah kenapa Eylina merasa iba padanya. Bagaimanapun, ia juga sama - sama seorang perempuan. Yah, tentu saja tidak salah jika ibu mertuanya menginginkan wanita yang terbaik untuk mendampingi putranya.


Wanita terhormat yang pantas untuk dibanggakan dan layak untuk melahirkan para penerus keluarga Wiratmadja.


Tenang saja ma, semua ini akan segera berakhir. Dan mama bisa menikahkan kembali putra tercinta keluarga ini dengan gadis terhormat pilihan mama.


Namun Entah kenapa, hati Eylina terasa begitu sakit. Karena jika dirinya berpisah dengan Morgan berarti ia juga berpisah dengan kedua adik iparnya yang sangat baik ini.


Belum lagi jika kebenaran itu terungkap. Entah harus bagaimana ia akan bersikap nanti. Membayangkannya saja sudah membuatnya takut.


Ia tidak sanggup rasanya jika harus mendapat kebencian dari dua adik ipar yang kini sangat menyayanginya itu


"Selamat malam Ma."Eylina mencoba menyapa dan tersenyum.


"Hemm." Hanya itu yang keluar dari mulut Ayu. Ia bahkan tak menoleh pada menantunya tersebut.

__ADS_1


Dasar licik, jangan berpura - pura bersikap manis padaku. Ayu.


Namun Eylina tetap berusaha menjaga senyumnya.


Makan malam bersama keluarga yang harusnya terasa hangat itu pun menjadi canggung. Karena Ayu terus menunjukkan ketidaksukaannya pada menantunya.


Namun malam itu juga tidak terlalu buruk, karena Emily dan Luna secara bergantian berusaha mencairkan suasana.


Yah, mereka tentu saja menyayangi wanita yang telah melahirkan mereka. Meski kadang Ayu bersikap dengan tidak semestinya.


Dan Morgan, ia nampak tersenyum tipis melihat sikap dewasa yang ditunjukkan Eylina saat menghadapi mamanya. Tanpa sadar ia telah mengagumi gadis itu. Mungkin sudah lebih jauh dari itu.


Saat acara makan malam itu berakhir nampak Pak Gun datang dari arah ruang tamu bersama Willy dan miss Anna.


"Permisi Tuan Muda, tuan Willy dan Miss Anna sudah datang." Lelaki itu kemudian menunduk.


"Ah ya pak Gun, antar mereka ke kamarnya. Emmm ... oh ya Willy nanti tunggu aku di ruang kerjaku."Dengan gaya dinginnya, Morgan memerintah dua orang itu.


"Baik Tuan Muda."


"Morgan ...."


"Ssttt ... jangan bicara sekarang." Morgan melakukan gerakan mengusir Willy yang baru saja akan berbicara padanya.


"Baiklah Tuan Muda." Willy meniru gaya pak Gun membungkukkan badan kemudian berlalu dan mengikuti langkah kaki pak Gun.


Sedangkan Anna hanya terkekeh melihat tingkah rekan kerjanya.


"Bagaimana dia bisa bersikap seperti itu pada sahabatnya sendiri hah?" Willy yang merasa kesal itu menggerutu pada Anna namun bukannya mendapat jawaban. Ia justru mendapat tatapan tajam dari pak Gun.


"Hehehe ... tenanglah pak Gun, aku hanya bercanda." Willy tersenyum. Berharap laki - laki itu melupakan perkataannya.


Ini juga, dia hanya seorang kepala pelayan tapi tatapannya bahkan sangat menakutkan. Dari mana Paman Wira mendapatkan orang sepertinya. Bahkan bukan hanya pak Gun saja, semua orang yang bekerja pada paman pasti sangat patuh dan juga bersikap dingin. Mereka juga sangat profesional. Eh apa aku termasuk di dalamnya? tidak ... tidak. Kurasa aku masih seperti orang - orang yang lainnya. Aku suka membaur dan bercanda. Willy bergumam dalam hatinya.


"Silahkan Miss Anna, ini kamar anda. Dan yang disampingnya lagi, itu adalah kamar anda tuan Willy." Pak Gun tersenyum tipis.


"Terimakasih pak Gun." Kata Anna.


"Ya, terimakasih pak Gun, aku akan meletakkan barang - barang ku dan akan menunggu saja diruang kerjanya." Willy tersenyum.


Sementara pak Gun hanya menundukkan kepala tanpa berkata lagi, kemudian berlalu dan kembali pada pekerjaannya.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2