Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Mengunjungi Sista (Part 1)


__ADS_3

Triiiiing ....


Alarm di kamar Morgan berbunyi.


Eylina sengaja mengatur waktunya tepat pukul 05.00.


Gadis itu mengerjapkan matanya dan memindahkan tangan Morgan yang melingkar di pinggangnya sejak semalam.


Ia lalu mematikan alarm tersebut kemudian menggeliatkan badannya.


Aww ... badanku remuk semua rasanya. Gumamnya.


Ia lalu membuka selimut tebal yang melapisi tubuh polosnya.


Astaga ... apa saja yang dia buat semalam?


Eylina menggelengkan kepalanya saat melihat banyak sekali tanda merah baru di dadanya.


Ia lalu berjalan dengan gontai ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Eylina merasa lebih segar sekarang setelah mengguyur seluruh bagian tubuhnya dengan air hangat. Ia bersiap - siap di ruang ganti serta menyiapkan pakaian untuk suaminya.


Dan meletakkannya di sofa dalam ruangan itu.


"Sayang, bangunlah!" Kata Eylina dengan lembut seraya duduk di tepi ranjang di samping suaminya.


Ia menepuk bahu Morgan dengan lembut.


"Sayang ...."


Tidurmu pulas sekali sepertinya.


Eylina membelai lembut wajah tampan suaminya. Lelaki itu masih terlelap pagi ini. Wajah tampannya nampak polos dan menggemaskan dimata gadis itu.


Ya, Eylina mulai sangat mengagumi lelaki yang telah resmi menjadi suaminya tersebut.


"Sayang ...." Panggil Eylina dengan lembut seraya terus mengusap pipi suaminya.


"Mmmhhh ...." Morgan meraih tangan istrinya dan menciumnya.


"Jam berapa ini?" Tanya lelaki itu seraya mengerjapkan matanya.


"Pukul 05.30." Jawab Eylina dengan tersenyum saat lelaki itu membuka matanya.


Tuhan ... cantik sekali. Apa dia adalah jelmaan dari bidadari? Gumam Morgan seraya memandangi paras istrinya.


"Kau cantik sekali." Ucap Morgan seraya menciumi tangan istrinya. Ia takjub akan keindahan yang nampak nyata di depan matanya.


"Terimakasih sayang ... cepatlah mandi, kau bilang akan berangkat pagi - pagi sekali." Wajah Eylina bersemu merah mendapat tatapan dari suaminya.


Ya Tuhan ... matanya indah sekali. Jantung Eylina berdebar - debar karenanya.


"Baiklah, mmuah ...." Morgan bangun dan menyambar pipi Eylina dengan bibirnya. Ia kemudian berlalu ke kamar mandi dengan tubuh polos yang memperlihatkan bentuk ototnya dengan jelas.


*****


Morgan dan Eylina terlihat menuruni tangga dengan bergandengan tangan.


Pak Gun yang melihat hal itupun bergegas menghampiri keduanya.


"Selamat pagi Tuan Muda." Sapa lelaki paruh baya tersebut.


"Pagi pak Gun, kami akan pergi dan tidak sarapan dirumah pagi ini. Sampaikan hal itu jika ada yang menanyakan ku."


"Baik Tuan. Apa Tuan membutuhkan sesuatu?"


"Kurasa tidak."

__ADS_1


"Baiklah Tuan, hati - hati dijalan." Kata kepala pelayan tersebut seraya membungkukkan badannya. Lelaki itu memandang kepergian tuan mudanya dengan tersenyum simpul.


Tuan muda sudah banyak berubah sekarang. Terimakasih Nona karena telah mengembalikan tuan muda kami seperti yang dulu. Batin pak Gunawan.


"Rey, kita kerumah sakit dulu!" Perintah Morgan saat sekertaris Rey sudah berada dibelakang kemudi.


"Baik Tuan." Jawab Rey disertai anggukan kepala.


"Oh ya ... apa kau bawa barang yang ku minta kemarin?"


"Tentu saja Tuan." Lelaki yang berada di belakang kemudi itupun meraih paper bag hitam yang ia letakkan di kursi sebelahnya.


Ia lalu menyerahkannya pada Morgan.


"Bagus, yasudah jalankan mobilnya." Kata Morgan seraya mengambil tas kecil tersebut dari tangan Rey.


"Baik Tuan." Rey pun melajukan mobil tersebut menuju tempat tujuan yang dimaksud.


"Sayang, ini untukmu." Morgan menyerahkan paper bag itu kepada Eylina.


"Apa ini?" Gadis itu mengernyitkan dahinya.


"Bukalah!"


Eylina pun mengikuti instruksi dari suaminya, ia membuka tas tersebut lalu membelalakkan matanya saat melihat isi dalam tas itu.


Wow ... bagus sekali .... ini seperti yang di TV kemarin.


"Sayang ... apa ini untukku?" Eylina mencoba memastikan.


"Telingamu ini kenapa sebenarnya? Bukankah sudah kubilang tadi? Itu untukmu." Morgan menggigit kecil telinga Eylina.


"Aw ... telingaku tidak bermasalah. Hanya saja aku terkejut."


Kenapa harus menggigit telingaku sih? Sakit tau ....


"Tentu saja sayang ... terimakasih." Lagipula siapa juga yang akan ku hubungi? mungkin hanya Dara dan juga Sista. Lanjut Eylina dalam hati. Ia tersenyum manis pada suaminya.


Ya Tuhan ... entah kebaikan apa yang pernah kulakukan hingga aku mendapat anugerah tak terhingga seperti ini. Mendapatkan cintanya saja aku sudah sangat bersyukur. Batin Eylina.


"Apa kau tau cara menggunakannya?" Tanya Morgan seraya merangkul istrinya dan merapatkan posisi mereka.


Oh iya ... ponsel ini jauh berbeda dengan ponsel butut ku. Batin Eylina.


"Hehehe ...." Eylina menggelengkan kepalanya.


"Hahaha ... sudah kuduga. Sini ponselnya!"


Morgan meraih ponsel keluaran terbaru yang ada ditangan Eylina dan membuka pembungkusnya. Ia mengotak - atik ponsel tersebut cukup lama. Sementara Eylina mengamati segala yang dilakukan suaminya tanpa mengedipkan mata.


"Ini ... sudah bisa digunakan. Oya sebentar, aku belum memasukkan nomorku." Lelaki itu terlihat sedang mengetik angka - angka di ponsel baru Eylina.


Pangeran ku? Hey, nama apa itu?


"Sayang, kenapa kau menulis namamu seperti itu?"


"Memangnya kenapa? Apa kau tidak suka?"


Lelaki itu langsung menoleh pada istrinya.


"Tidak ... tidak. Itu cukup bagus." Dan sedikit lebay kau tau? Lanjutnya dalam hati.


"Ini ... jika ada yang tidak kau pahami, kau bisa bertanya pada Emily. Ponsel ini hampir sama seperti punyanya." Morgan menyerahkan ponsel itu pada Eylina.


"Terimakasih sayang."


"Hanya itu?"

__ADS_1


Cupp ....


Eylina sudah paham apa yang diminta suaminya. Ia mendaratkan ciuman di pipi lelaki tersebut beberapa kali.


"Sering - seringlah seperti ini." Morgan lalu menghujani istrinya dengan begitu banyak ciuman singkat di wajahnya.


Mereka kemudian saling merangkul dan tenggelam dalam perasaan masing - masing.


Mereka bahagia bisa saling memiliki satu sama lain.


Terlebih lagi Morgan, ia merasa sangat beruntung bisa mendapatkan cinta dari Eylina.


Sekertaris Rey membelokkan mobil yang dikendarainya ke rumah sakit tempat Sista dirawat.


Mereka semua lalu turun setelah mobil itu berhenti dengan sempurna. Eylina bahkan tidak menunggu sekertaris Rey membukakan pintunya. Ia langsung turun, membuat Morgan pun melakukan hal yang sama.


Ia menyadari, istrinya sudah menahan diri sejak kemarin.


Mereka pun bergegas ke kamar tempat Sista berada setelah memperoleh informasi dari pihak rumah sakit.


Ada satu penjaga di luar kamar tersebut. Penjaga itupun langsung membukakan pintu saat melihat kedatangan tuan mereka.


"Sista ...." Eylina langsung berhambur ke arah sahabatnya yang tengah duduk diatas ranjang pasien dan tak begitu menikmati sarapannya. Di dekatnya ada dua penjaga yang berdiri dengan posisi sempurna dan wajah yang datar.


Sementara Morgan dan Rey, mereka duduk di sofa yang ada di sudut ruangan dekat pintu.


"Eylin ...." Gadis itu pun menyambut Eylina seraya tersenyum dengan matanya yang masih sembab.


"Gimana keadaan lo? Habis nangis lo ya?"


Tanya Eylina dengan khawatir. Ia kemudian duduk di samping sahabatnya.


"Maafin gue ya Sis, lo pasti kesepian disini. Tapi tenang aja, gue hari ini bakal temenin lo." Kata Eylina seraya mengusap bahu sahabatnya.


"Ngapain minta maaf? Gue bersyukur punya sahabat kayak lo. Gue udah nggak apa - apa Lin, nggak perlu dijagain kali. Cuma kegores dikit doang kok." Jawab Sista seraya tersenyum.


"Nggak papa gimana? Nyawa lo hampir melayang kemarin."


"Gue baik - baik aja Eylin. Oya, itu penjaga suruh pulang aja gih. Risih gue ditungguin kayak gini." Bisik Sista.


"Iya ntar gue bilangin sama tuan Morgan."


Eylina menatap lekat sahabatnya.


"Sayang ... aku harus berangkat sekarang."


Yang sedang dibicarakan pun datang dan berdiri di belakang Eylina.


"Ah iya ...." Gadis itupun berdiri dari duduknya.


"Jaga dirimu baik - baik, aku akan kesini segera setelah urusanku selesai." Lelaki itu lalu mencium kening istrinya dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Hati - hati." Eylina tersenyum manis pada suaminya sebelum lelaki itu melangkahkan kakinya.


Sekertaris Rey mengumpulkan ketiga pengawalnya setelah Morgan melangkah keluar.


"Jaga nona muda dengan baik!" Begitu perintahnya secara singkat.


"Baik." Ketiga pengawal tersebut kemudian menundukkan kepalanya.


Rey melirik sekilas ke arah gadis yang terbaring di ranjang pasien. Di saat bersamaan Sista pun menengok ke arahnya.


"Ck ...." Lelaki itu mencebik seraya menggelengkan kepalanya.


Apa maksudmu? Sista mengernyitkan dahinya.


💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2