Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Rasa Cemburu (Part 2)


__ADS_3

Sore itu Eylina baru saja selesai mandi.


Ia mengambil secara asal pakaian di lemari dan memakainya.


Ia sedang sangat malas hari ini sehingga tidak memakai riasan apapun dan hanya mengikat rambutnya dengan asal. Hingga nampak lehernya yang jenjang dan putih dihiasi beberapa anak rambutnya yang masih tersisa.


Ia berniat keluar dan berjalan - jalan ditaman belakang. Namun baru saja ia keluar dari kamar, Morgan datang dari arah berlawanan. lelaki itu terlihat sedang berjalan ke arahnya.


"Tuan." Sapa Eylina sambil tersenyum.


"Mau kemana kau? Kenapa wangi sekali, dan apa maksudmu memakai pakaian seperti ini dan mengikat rambutmu tinggi - tinggi begini. Kau ingin memperlihatkan lehermu ini pada semua orang hah?" Morgan melipat tangannya di dadanya.


"Aku hanya ingin berjalan - jalan ditaman belakang saja, Tuan. Mencari udara segar, hehehe ...."


Kau ini kenapa sih? Batin Eylina.


"Apa kau ingin menggoda para pelayan disana?"


Ya Tuhan, ini orang kenapa sih? dari tadi aku seperti tidak ada benarnya. Begini salah, begitu salah. Aku sampai kehilangan semangatku hari ini. Tadi dituduh menggoda Gavin, dan sekarang dituduh menggoda para pelayan? Eylina.


"Tuan, apa maksud Anda." Eylina mengernyitkan dahinya.


Sementara tanpa berkata apa - apa lagi, Morgan menarik tangan gadis itu dan membawanya masuk kembali ke dalam kamar. Ia lalu menutup dan mengunci pintu tersebut.


Ia menjatuhkan tubuh Eylina di sofa. Sedangkan dirinya tetap berdiri dihadapan gadis itu dengan melipat tangannya.


"Apa kau sengaja berdandan seperti itu hah? Kau ingin memikat para lelaki yang berada di rumah ini? Setelah menggoda Gavin, siapa lagi sasaran mu sekarang hah?" Morgan berkata dengan nada tinggi.


"Tuan, aku bahkan tidak merias wajahku ataupun menyisir rambutku hari ini." Eylina mencoba mengatakan kebenarannya.


Morgan lalu mendekatkan wajahnya ke depan wajah Eylina, membuat gadis itu dengan reflek memejamkan matanya dengan cepat.


Sial!! dia benar. Wajahnya polos tanpa make up sedikitpun.


Argh ... kenapa aku kesal sekali. Batin Morgan.


"Hey, bodoh. Buka matamu! Kau pikir aku akan melakukan apa? Apa kau sebegitu berharapnya? Hahaha ... jangan bermimpi!"


"Tentu saja tidak Tuan, mana mungkin aku berharap seperti itu. Aku hanya berharap urusan kita cepat selesai dan aku bisa kembali pada kehidupanku yang dulu lalu menemukan cinta sejati ku. Aku akan menikah dengannya, mencintainya dan melahirkan anak - anaknya. Dan kami akan hidup bahagia bersama selamanya." Eylina bahkan tersenyum membayangkannya.


"Kau? Apa maksudmu hah? Mana bisa kau menikah dengan orang lain?" Suara Morgan yang keras itu membuyarkan lamunan Eylina dan membuatnya tersentak.


"Setelah kita bercerai, bukankah aku masih bisa menikah dengan orang lain?"


"Kau! Jaga bicaramu!" Morgan membungkam mulut Eylina dengan tangannya dan duduk disamping gadis itu.

__ADS_1


Eylina terkejut atas perlakuan Morgan dan menatap mata lelaki itu.


Untuk beberapa saat pandangan mata mereka bertemu.


Sial! matanya membuat jantungku ingin melompat keluar, kenapa matanya indah sekali? Seseorang, kumohon tampar aku sekarang. Batin Morgan.


Astaga, dia tampan sekali jika dilihat dari dekat seperti ini. Huuaa ... jangan sampai aku terpesona. Hey, yang di dalam dadaku. Kenapa kau berdegup kencang sekali. Eylina.


Morgan lalu melepaskan tangannya, ia kemudian berdiri dan berjalan mondar - mandir di depan Eylina. Laki - laki itu terlihat mengusap wajahnya dengan kasar beberapa kali.


*Dia ini sedang kenapa sih ya Tuhan*?


batin Eylina.


"Lupakan! Maksudku ... ya, tentu saja kau bisa memilih lelaki pilihanmu. Itu urusanmu, haha ... lagipula apa peduliku. Kita hanya menikah secara kontrak bukan?" Lelaki itu bahkan merasakan nyeri di dadanya mendengar perkataannya sendiri.


"Tentu saja, aku sudah tidak sabar menunggu hari itu." Eylina tersenyum merekah.


"Hey, tutup mulutmu dan berhenti membahas hal itu, sejak kapan kau berani banyak bicara seperti itu hah? Menyebalkan. Siapkan air untukku dan lakukan tugasmu!"


Morgan berusaha mengalihkan pembicaraan.


Hah? aku harus melakukan tugas itu lagi? Kukira aku sudah bebas dari tugas menggelikan itu, dasar menyebalkan.


Eylina berlalu dan menyiapkan segala kebutuhan mandi ala tuan muda. Kemudian melaksanakan tugasnya dengan baik.


Lelaki itu entah kemana perginya. Dia sudah tidak ada dikamar saat Eylina keluar dari ruang ganti.


Kemana dia? Dasar lelaki aneh. Ah, lebih baik aku ke kamar Emily dari pada harus berurusan dengannya lagi.


Eylina melangkahkan kakinya dan membuka pintu kamar tersebut.


"Dikunci?" Gadis itu terlihat masih berusaha membuka pintu kamarnya yang sengaja dikunci oleh Morgan.


Dasar gila, kenapa mengunci pintunya?


Apa aku akan dikurung lagi disini? ya Tuhan, aku benar - benar bisa gila jika seperti ini.


Aku harus benar - benar bicara padanya, dan menyudahi hubungan yang gila ini.


Setelah putus asa, Eylina pun menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia merebahkan dirinya disana, memejamkan matanya.


Bagaimana takdir bisa mempermainkan ku sekejam ini. Saat kecil hidupku sudah sangat susah karena ayah meninggalkan kami demi wanita murahan itu. Aku bahkan harus bekerja saat anak - anak lainnya masih asik bermain. Lalu sebuah kenyataan pahit itu menamparku saat aku mulai punya sedikit uang untuk ku tabung, bahkan aku kembali harus bekerja dengan keras demi kesembuhan ibu. Bekerja di dua tempat, bukankah itu sangat gila? Entah kekuatan dari mana yang dulu menemaniku hingga aku bisa melewati semuanya. Dan sekarang aku terjebak dalam genggaman lelaki tidak waras itu. Hhh ... entah bagaimana caranya aku bisa lepas darinya.


Eylina larut dalam pikirannya, sebelum akhirnya suara pintu yang terbuka itu menyadarkannya.

__ADS_1


Itu dia, kurasa aku harus benar - benar bicara padanya.


Eylina berdiri dan menghampiri lelaki yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut.


"Tuan."


"Ada apa?" Mata tajam milik Morgan itu melirik ke arah Eylina.


Haduh, lirikan matanya saja membuat nyaliku ciut. Eylina meremas ujung gaunnya.


"Kenapa Tuan mengunci pintunya? hehehe ...."


"Karena kau mulai nakal." Dengan tanpa beban lelaki itu mengatakannya lalu duduk di sofa.


"Ah, aku tidak mengerti maksud Tuan hehehe ...." Eylina tersenyum polos. Senyum yang tanpa ia sadari telah mampu membuat lelaki yang ada dihadapannya gagal move on sejak lama.


"Aku mengijinkan mu keluar dari kamar ini bukan untuk menggoda para pelayan atau Gavin, kau mengerti?"


"Itu jelas tidak benar Tuan, mana mungkin aku menggoda mereka?"


Haha sudah gila ya? itu terlalu mengada - ada kau tahu.


Eylina gemas sekali ingin menendang kaki lelaki itu, sekarang juga.


Tapi ia menahannya, bukankah ia harus bersikap baik agar urusannya lancar?


"Ah ... iya. Tuan tidak akan mengurungku disini lagi kan?" Gadis yang duduk berlutut dihadapannya itu mengedip - ngedipkan matanya.


Ayolah, aku bisa kehilangan kewarasan ku jika kau mengurungku lagi. Eylina berharap dalam hatinya.


Apa lagi yang dia lakukan. Sorot matanya bahkan membuatku lemah. Apa dia punya ilmu sihir yang bisa menghipnotis ku?


Morgan mengeraskan rahangnya, bukan karena emosi. Tapi ia sedang mencoba mengendalikan gejolak yang ada dalam dirinya.


"Tentu saja aku akan kembali mengurung mu disini." Morgan mengalihkan pandangannya. Jantungnya bahkan terus berdegup kencang jika harus berlama - lama menatap mata gadis yang ada dihadapannya.


"Hehehe ... anda pasti bercanda kan Tuan. Mana mungkin seorang tuan muda yang baik hati akan mengurung istrinya di kamar seperti ini."


"Baiklah ... aku akan bermurah hati padamu. Kalau begitu memohonlah dengan benar." Morgan masih tak menatap gadis itu.


Apa lagi ini? Memohon dengan benar, bagaimana maksudmu? Batas kesabaran ku bahkan sudah hampir habis karena menghadapi mu setiap hari. Bagaimana ada manusia aneh sepertimu di bumi ini.


Sabar Eylin, sabar saja. Bersikap manis lah dan semua akan beres.


Eylina menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Ia lalu memasang senyumnya yang paling manis dan memulai aksinya.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2