
Setelah Morgan selesai membersihkan badan, mereka berdua turun ke bawah untuk makan malam.
Eylina menggandeng tangan Morgan dengan mesra, kakinya menuruni satu persatu anak tangga yang meliuk dengan indah itu.
Kenapa ramai sekali? Pikir Eylina saat matanya menangkap pemandangan diruang tengah.
Di sana selain ada mertua dan kedua adik iparnya, juga ada Bella, Gavin dan juga orang tua mereka.
"Sayang, kenapa ramai sekali? Apa ada acara khusus?" tanya Eylina pada lelaki di sampingnya.
Namun Morgan hanya mengedihkan pundaknya seraya mencebik. Lelaki itu seolah tak peduli pada apapun selain istrinya.
"Hai Kak," sapa Emily dan Luna secara bersamaan saat kedua orang itu sampai di ruang tengah yang luas dengan beberapa sofa serta meja ditengahnya.
"Hai," balas Eylina ceria.
"Selamat malam Pa, Ma ... selamat malam semua," sapa Eylina pada semua orang. Jantungnya berdebar - debar. Ia mencoba tersenyum meski sedikit kaku.
Tidak disangka, semua orang menoleh padanya dan tersenyum. Termasuk Bella dan ibu mertuanya.
Deg ...
Ya Tuhan, apa aku tidak sedang bermimpi? Ibu mertua terlihat sangat cantik sekali jika tersenyum seperti ini. Dan Bella, apa ini adalah wanita yang sama seperti saat itu? Dia bahkan tersenyum padaku, cantik sekali.
Batin Eylina.
Ia menyunggingkan bibirnya lebih lebar untuk membalas senyum mereka. Tapi tiba - tiba hatinya menjadi bergetar. Senyum yang tadi ia rekahkan kini semakin memudar. Ada apa ini? Keluarga Tuan Herlambang datang kemari setelah keluarga ini tahu tentang kondisinya.
Mungkinkah ....
Ah ... tidak, apa saja yang kupikirkan.
Eylina lalu duduk disisi suaminya dan menggenggam erat jemari Morgan. Entah kenapa, ia tiba - tiba merasa takut akan kehilangan lelaki itu. Terlebih lagi saat melihat Bella, wanita itu nampak sangat anggun malam ini.
Genggaman tangan Eylina nampaknya lumayan kuat hingga Morgan mengernyitkan dahinya seraya menatap wanita yang ada disampingnya.
Ada apa denganmu rubah kecilku? Hahaha ... apa kau takut aku berpaling pada Bella? Baiklah ....
"Gavin, bagaimana kabarmu?" tanya Morgan, ia mengalihkan pandangannya dari Eylina.
"Aku baik - baik saja Kak, kak Morgan dan kakak ipar bagaimana? Apa ada kabar bahagia untukku?"
"Kabar baik apa yang kau tunggu? Bukankah aku yang seharusnya menanyakan hal itu padamu? Apa kedatangan mu kemari bermaksud meminang adikku?"
"Ah ... itu ...." Lelaki itu tidak bisa menjawab, ia menggaruk kepalanya meski tidak sedang gatal.
"Hahaha ...." tawa semua orang menjadi pecah dibuatnya.
"Gavin masih harus menunggu, Morgan. Ya ... lebih tepatnya mengantre," ujar Herlambang.
Mengantre? Apa maksudnya?
Morgan menatap semua orang dengan wajah bingung. Sampai matanya menangkap sosok cantik yang duduk di ujung sofa. Gadis itu tersenyum dengan tatapan yang ramah, senyum yang sangat berbeda. Bella nampak lain dari yang dulu.
"Bella, bagaimana kabarmu?" tanya Morgan saat mata mereka tak sengaja bertemu.
__ADS_1
"Baik ...," jawab Bella seraya menyunggingkan senyumnya.
Aw ...
Morgan meringis dan menatap istrinya. Pinggangnya terasa sakit karena cubitan Eylina begitu kuat.
Gadis itu nampak membulatkan matanya seolah sedang mengancam Morgan.
Hahaha ... apa itu? Kau cemburu? batin Morgan.
"Kedatangan Paman Herlambang kesini untuk memberikan undangan khusus pada kita semua," sambung Wira.
"Undangan?" Morgan mengalihkan pandangannya.
"Ya, aku akan menikah dalam waktu dekat ini, Morgan. Ku harap kalian berdua juga datang, ya?" ucap Bella. Ia melempar senyum pada Morgan dan juga Eylina.
"Oh ... ya, aku dan Eylina pasti datang," jawab Morgan, yang sengaja dibuat se-ramah mungkin.
Ih ... menyebalkan sekali sih, gumam Eylina.
"Kakak ipar, bagaimana kabarmu?" tanya Gavin seraya tersenyum pada Eylina yang dari tadi diam.
"Hai Gavin, kabarku baik," jawab Eylina, ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Morgan.
"Kakak ipar sibuk apa sekarang?"
"Ah ... tidak ada, aku hanya sibuk menjadi pendengar setia cerita Emily dan Luna. Hahaha ...," tawa Eylina pecah bersama dengan Gavin dan kedua adik iparnya.
Melihat hal itu Morgan meraih wajah gadis itu dan menghadapkannya padanya. Lelaki itu membulatkan matanya.
Apa? Kenapa menatapku seperti itu? Kau saja menyapa Bella, lalu kenapa aku tidak boleh menyapa Gavin.
"Siapa?"
"Kak Morgan lah, siapa lagi yang over posesif disini."
Emily menjulurkan lidahnya lalu tertawa.
Hahaha ... Emily, kau memang adik ipar yang bisa diandalkan.
Eylina tersenyum ke arah gadis itu.
"Kalian ini membahas apa?" tanya Wira penasaran.
"Papa, enggak kok Pa. Kami hanya bercanda, habisnya kak Morgan tuh, posesifnya kebangetan sama kak Eylin. Masa kak Eylin ngobrol sama Gavin aja di cemburuin. Hahaha ...," jelas Emily.
"Mana ada seperti itu? Jangan mengarang cerita!" elak Morgan.
"Hahaha ...." semua orang tertawa melihat ulah mereka.
Kau beruntung Eylina, semoga kau dan Morgan selalu bahagia. Aku tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi. Batin Bella.
Gadis itu tersenyum dan menunduk.
"Ya sudah, mari kita makan dulu," ajak Wira, setelah Pak Gunawan datang dan mengatakan malam sudah siap.
__ADS_1
Semua orang sudah berdiri dan meninggalkan ruang tengah itu. Hanya tersisa Morgan dan Eylina disana yang saling melempar pandangan seolah bermusuhan.
"Kakak ipar, ayo kita makan," ajak Gavin.
"Ah, iya ... silahkan duluan," gadis itu tersenyum merekah.
"Dasar nakal! Kenapa kau genit sekali?" Morgan nampak kesal.
"Kapan?"
"Kau terus mencari perhatian dari Gavin, apa aku tak cukup untukmu hah?"
"Apa yang kau katakan? Aku hanya mengobrol biasa, lagipula ada Emily dan Luna juga. Kau sendiri, kenapa perhatian sekali pada Bella?"
Eylina terlihat kesal dan memonyongkan bibirnya.
"Apa? Jadi kau cemburu?" goda Morgan, ia tersenyum setelah Eylina mengungkapkan hal itu. Ya, dia suka sekali saat gadis itu cemburu padanya. Setidaknya dia merasa dicintai, bukan hanya mencintai secara sepihak.
"Tidak ..."
"Yakin?"
"Tentu saja,"
"Baiklah, berarti tidak masalah jika aku menyapanya kan?"
Morgan mengedihkan bahu.
"Apa maksudmu?"
"Hahaha ... apa kau takut jika aku berpaling?"
Eylina menundukkan kepalanya karena malu mengakuinya. Nampak imut sekali dimata Morgan. Lelaki itu lalu meraih dagu Eylina.
"Hahaha ..." Morgan tergelak saat mata mereka bertemu. Ia menarik kedua pipi Eylina dengan gemas dan menggoyang - goyangkannya.
"Aw ... ini sakit," Eylina memegangi kedua pipinya.
"Salah sendiri, kenapa kau menggemaskan sekali." Morgan meraih gadis itu kedalam pelukannya.
"Rupanya kau belum mengenalku dengan baik, iya kan?"
Jujur saja, aku belum bisa percaya padamu sepenuhnya. Semua tentangmu masih seperti misteri untukku. Apalagi tentang Alice, dan kehidupanmu di masa lalu. Tapi, aku tidak punya keberanian untuk menanyakannya.
"Aku mencintaimu, Eylina. Sangat mencintaimu." Morgan mempererat pelukannya.
"Ehem ... ehem, aduh ... mesra amat ya? Sampai nggak ingat waktunya makan," sindir seseorang di belakang Morgan, yang seketika langsung membuat mereka melepaskan pelukan satu sama lain.
"Makan dulu yuk, peluk - peluk nya ntar aja. Kak Eylin bisa pingsan, jika hanya makan cinta." Emily langsung menarik lengan kakak iparnya dan membawanya ke meja makan.
"Kak Morgan darimana?" tanya Gavin.
"Biasa ...." sindir Emily, yang langsung mendapat tatapan dari Morgan.
"Sudah ... sudah, ayo makan dulu. Kalian ini seperti Tom and Jerry kalau sudah berkumpul. Ayo Herlambang, mari kita makan semua," ajak Wira.
__ADS_1
Semua orang pun menikmati makan malam mereka. Suasana nampak hangat di meja makan ini. Ayu tak terlihat banyak bicara, namun wajahnya juga tidak se-muram biasanya. Sesekali ia nampak melirik ke arah Eylina, namun sesekali juga menatap pada Bella. Entah apa yang masih tersembunyi di dalam hatinya.
💗💗💗💗💗💗