
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kau mengacuhkan ku dari tadi?" tanya Morgan keheranan melihat tingkah istrinya yang tidak mau disentuh sama sekali.
Eylina bahkan tidur dengan memunggungi suaminya. Ia tidak menjawab sama sekali ocehan suaminya.
Tadi setelah membersihkan diri, ia langsung meminum vitamin dan berbaring tanpa sepatah kata pun.
Setiap Morgan mencoba berbicara dan menyentuhnya, Eylina selalu menepisnya dan uring - uringan.
"Sayang, jangan membuatku bingung dan nyaris gila seperti ini," Morgan meraih pundak istrinya agar menghadap padanya.
"Aku lelah seharian ini, jadi kumohon biarkan aku beristirahat," jawab Eylina dengan ketus.
Sejak hamil mood Eylina memang sering berubah - ubah, tapi selama ini tidak pernah sampai seperti ini. Biasanya hanya ngambek sedikit lalu dengan pelukan suaminya, ia kembali tenang dan ceria.
Tapi malam ini, bahkan sudah hampir dua jam Morgan merayu dengan berbagai cara tapi tidak membuahkan hasil juga.
"Sayang, apa aku punya salah padamu?" tanya Morgan masih dengan suara lembutnya.
Namun mendengar hal itu, Eylina justru terisak di bawah selimutnya.
"Kau menangis? Baiklah aku minta maaf jika aku telah membuat kesalahan padamu, tapi kumohon katakan padaku apa salahku!" pinta Morgan. Ia lalu mendekap tubuh Eylina yang memunggunginya. Mengusap perut istrinya secara perlahan.
Tidak ada penolakan seperti sebelumnya, tapi juga tidak merespon. Eylina masih sedikit terisak.
"Kenapa kau pergi cepat - cepat tadi? Padahal aku ingin memperkenalkan mu pada Jessica,"
Jantung Eylina terasa diremas, sakit sekali mendengar Morgan dengan fasih menyebutkan nama perempuan lain dihadapannya.
"Jadi namanya Jessica? Kau mesra sekali dengannya, apa kau punya hubungan di belakangku selama ini? Atau dia adalah salah satu mantan terindah mu?" tanya Eylina dengan lancar tanpa tersendat. Ada nada kesal disana, tapi ia tak membuka selimutnya dan menampakkan wajahnya.
Apa? Jadi dari tadi dia marah karena cemburu?
Sebuah senyum tipis muncul dibibir Morgan saat mendengar pertanyaan istrinya.
"Jadi kau cemburu padanya? Dia cantik bukan? Baiklah, lain kali aku akan memperkenalkan mu padanya,"
Dia ini sudah tidak mencintaiku lagi atau bagaimana? Aku bahkan mengandung anaknya, tapi bisa - bisanya dia melirik wanita lain. Tidak, wanita itu pasti sudah kenal lama dengannya. Mereka bahkan tidak segan mencium pipi dan merangkul.
Hati Eylina terasa perih dan nyeri mengingat suaminya memeluk dan mencium pipi Jessica saat acara pernikahan Rey tadi.
"Tidak perlu! Aku tidak ingin mengenalnya!" jawab Eylina dengan nada kesal.
Bisa - bisanya mau mengenalkan selingkuhannya padaku.
__ADS_1
"Kau yakin tidak mau mengenalnya lebih dekat? Kalian pasti cocok," ujar Morgan seraya membuka selimut yang menutupi wajah istrinya dan melihat wajah cantik yang sedari tadi disembunyikan.
Dengan matanya yang sembab dan sedikit bengkak, Eylina menatap tajam bak musuh pada suaminya.
"Jadi kau benar menangis sejak tadi?" Morgan membelai wajah Eylina yang masih basah karena air mata.
"Tidak perlu peduli padaku!"
"Jadi kau merasa cemburu, ya?"
"Tidak, aku tidak peduli," jawab Eylina ketus.
Tapi dimata Morgan, semakin mantan gadis itu marah ia semakin merasa gemas. Terlebih lagi melihat bibirnya yang mengerucut kedepan, sungguh membuatnya betah berlama - lama melihatnya.
Hidung Eylina bahkan sudah merah seperti tomat karena menangis sejak tadi.
Jika saja istrinya tidak sedang hamil, Morgan ingin sekali mengerjai dan melihat kecemburuan istrinya lebih lama lagi. Tapi karena sadar dan peduli pada kondisi istrinya, ia pun akhirnya tersenyum dan mulai menjelaskan.
"Lihatlah mataku!" pintanya.
Eylina yang sedang marah tentu tidak mudah menurut begitu saja. Ia justru membuang mukanya ke samping.
"Hey ... hahaha ... apa kau benar - benar cemburu malam ini?"
"Jadi kau sangat cemburu pada Jessica? Baiklah ku ceritakan padamu, dia adalah salah satu sahabat dekatku. Dia juga sahabatnya mendiang Alice. Dan satu lagi yang paling penting yang harus kau tahu, dia sudah berkeluarga," terang Morgan.
"Lalu kenapa kau mesra sekali padanya? Kau bahkan menyentuh dan menciumnya," tanya Eylina masih kesal.
"Baiklah aku minta maaf, harus ku akui bahwa ini adalah kebiasaan kami sejak lama. Tapi untukmu aku akan menghindari hal ini agar tidak terjadi lagi."
"Ini tidak adil! Kau bahkan melarang ku walau hanya mengobrol dengan teman - temanmu. Tapi kau sendiri justru mesra sekali dengan kawan perempuanmu," protes Eylina.
"Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi," sesal Morgan.
"Aku akan pergi darimu jika kau masih melakukannya!" ancam Eylina. Entah sejak hamil kenapa dia berani berkata - kata.
"Jangan katakan itu! Aku tidak akan mengijinkan mu pergi,"
"Salahmu sendiri kau jahat sekali,"
"Aku sudah minta maaf sejak tadi,"
Mendengar suara penyesalan dari suaminya, Eylina juga menjadi tidak tega. Tapi jujur saja hatinya masih terasa sakit sekali.
__ADS_1
Morgan meraih bahu Eylina hingga membuat istrinya itu terlentang. Ia melihat wajah Eylina yang masih kesal dengan seksama.
Lucu sekali dimatanya tapi dia kasihan juga, "Apa kau masih marah?"
Tidak menjawab, Eylina hanya merespon dengan mengigit bibir bawahnya.
Melihat hal itu, Morgan tidak bisa menahan hasratnya. Ia menciumnya dengan singkat.
"Kau tahu jika perbuatan mu ini bisa membangunkan anaconda yang sedang tidur?"
"A-apa maksudmu?"
"Kau sudah menikah, sudah berpengalaman tapi kenapa bisa masih se-polos ini, hah? Aku gemas sekali padamu."
Morgan mulai mengambil posisinya, ia mulai mendekatkan bibirnya. Namun Eylina menghalanginya dan menutup hidungnya.
"Ada apa?"
"Aku tidak suka bau mulutmu!" protesnya.
Mendengar hal itu, Morgan lalu melakukan tes bau mulut dengan menghembuskannya ke telapak tangannya.
Tidak ada baunya, ia masih ingat jika dirinya sudah menggosok gigi dan bahkan menggunakan cairan pencuci mulut tadi.
"Sayang tapi aku sudah menggosok gigi,"
"Aku mencium baunya,"
"Baiklah aku akan menggosok gigi lagi, tunggu sebentar!"
Morgan lalu bergegas ke kamar mandi dan melakukan apa yang diminta istrinya.
Dengan gerakan cepat ia melakukannya, ia juga bahkan mencuci kembali wajahnya.
Lihatlah, kegilaan apa ini! Bahkan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 dinihari.
Morgan keluar dari kamar mandi, ia naik ke tempat tidur dan mendapati istrinya sudah terlelap di bawah selimutnya.
Melihat hal itu tentu ia tak sampai hati membangunkan wanita cantik yang ada disampingnya tersebut.
Ia menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan untuk meredakan gejolak yang tertunda malam ini. Sekilas ia meraba Jhonny nya yang sudah lunglai di dalam celananya karena gagal mendapat jatahnya.
Lebih dari satu jam berusaha memejamkan mata, akhirnya ia pun berhasil menembus alam mimpinya.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗