
"Rey, kenapa mereka lama sekali?" tanya Morgan dengan gusar. Morgan yang sudah tidak sabar itu mondar mandir di depan ruangan operasi. Ia berkacak pinggang dan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar karena sedikit frustasi.
"Tenanglah Tuan, tim dokter sedang melakukan yang terbaik untuk Nona Muda,"
"Seenaknya saja kau menyuruhku tenang! Kau bahkan tidak tau betapa aku mencemaskan wanitaku!"
"Maafkan saya Tuan, saya mengerti Tuan Muda sedang cemas. Minumlah dulu Tuan," Rey menyodorkan sebotol air mineral pada Morgan.
Morgan menerimanya dan langsung meneguk air tersebut untuk membasahi kerongkongannya. Ia kemudian duduk di bangku yang tak jauh dari sana.
"Apa saja yang mereka lakukan, kenapa lama sekali?" Morgan kembali berdiri, ia kembali berjalan mondar mandir dan memijat pelipisnya.
"Mereka pasti sedang melakukan yang terbaik semampu yang mereka bisa, Tuan." Hanya itu yang bisa Rey perbuat untuk menenangkan Morgan. Ia ikut berdiri di dekat Tuan Mudanya. Lebih dari Morgan, Rey berkali - kali lipat lebih pusing. Urusannya banyak sekali, tapi saat ini ia justru tidak bisa kemana - mana karena Morgan memintanya untuk menemaninya. Dengan sangat terpaksa sekertaris itu melimpahkan semua urusan perusahaan pada para staf bawahannya.
Dari jarak yang tak terlalu jauh, empat orang wanita tengah berjalan sedikit cepat. Dan mereka semakin mempercepat langkahnya saat melihat Morgan dan Rey tengah berdiri di depan sebuah ruangan.
Bu Santi, Dara, Sista dan seorang perawat yang memandu ketiga wanita itu pun akhirnya sampai di depan ruangan itu.
"Nak Morgan," panggil Santi seraya menepuk bahu menantunya.
"Ibu?" Morgan menoleh ke arah wanita paruh baya itu.
"Eylina kenapa, Nak? Ibu tanya nak Sista, tapi katanya nak Sista juga bahkan tidak tau apa - apa. Nak Sista bilang, dia hanya diminta menjemput Ibu sama Dara saja." Wajah Santi menunjukkan guratan kekhawatiran akan keadaan putrinya.
"Mari duduk dulu Bu," Morgan menuntun ibu mertuanya untuk duduk di kursi tunggu.
Sementara yang lainnya mengekor dibelakang Morgan. Santi lalu duduk disana dengan tangannya yang menggenggam lengan Morgan. Tak lupa, Dara dan Sista juga mengambil tempatnya masing - masing.
"Ada apa sebenarnya, Nak?"
"Eylina sedang menjalani operasi pengangkatan mioma, Bu."
"Apa itu?"
"Suatu penyakit yang ada di dalam rahim Eylina. Penyakit itu harus diangkat agar tidak mengganggu kesuburan Eylina, Bu."
"Apa penyakit itu berbahaya, Nak? Apa tidak ada jalan lainnya?"
__ADS_1
"Tidak juga Bu, dokter bilang tidak berbahaya. Tapi untuk Eylina, mioma ini sudah mengganggunya. Terakhir kali dia mengalami haid, Eylina sempat pingsan karena nyeri hebat di perutnya." Morgan berusaha menjelaskan dengan setenang mungkin agar ibu mertuanya tidak merasa khawatir. Walaupun dirinya sendiri juga sangat khawatir, namun ia tahu jika dirinya menunjukkan kekhawatirannya, tentu ibu mertuanya bisa menjadi lebih khawatir dari pada dirinya.
"Semoga saja operasinya berjalan lancar ya, Nak. Eylin tidak pernah cerita apapun pada ibuk tentang hal ini."
"Ya, Morgan juga berharap demikian. Semoga saja semuanya lancar, kita sama - sama doakan yang terbaik untuk Eylina," Morgan tersenyum pada ibu mertuanya.
Syukurlah Bu Santi datang, setidaknya Tuan Muda lebih bisa menahan dirinya. Rey menghembuskan napas lega.
Sista yang berada disamping Santi pun terlihat bingung dan tidak percaya jika sahabat karibnya itu menderita mioma, Eylina tidak pernah menceritakan apapun tentang ini. Bahkan hingga kemarin saja, Eylina terlihat santai saja seperti biasanya. Ia memang tahu, Eylina sering mengeluh kalau nyeri haidnya terasa semakin menjadi - jadi dari waktu ke waktu. Tapi ia tidak sampai berpikir bahwa Eylina menderita mioma.
Kok bisa jadi gini sih Lin, gumamnya.
Sementara Dara, gadis itu belum mengerti tentang apa yang terjadi. Tapi gadis itu terlihat sedang sedikit cemas karena mendengar kata operasi, sebuah kata yang masih terasa menakutkan baginya. Ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kakak semata wayangnya. Apapun yang sedang terjadi di dalam sana, Dara berharap semuanya akan baik - baik saja setelah ini.
Hening.
Semua orang tak ada lagi yang bersuara setelah itu. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing - masing.
Morgan dengan kekhawatirannya akan istrinya. Sementara Rey memikirkan urusannya yang semakin menggunung dari hari ke hari.
Sista dan Dara juga menundukkan kepalanya, mereka sama - sama mengharapkan yang terbaik untuk Eylina.
Melihat hal itu, Morgan langsung berdiri dan menghampiri dokter Mira.
"Bagaimana operasinya?" Morgan menyerbunya dengan sebuah pertanyaan.
"Semuanya berjalan lancar, Tuan. Nona Eylina masih dibersihkan. Sebentar lagi perawat akan memindahkannya ke ruang perawatan," jawab dokter Mira seraya tersenyum.
"Syukurlah," Morgan menangkupkan kedua tangannya di wajahnya. Ia lalu berjalan ke arah mertuanya dan kembali duduk disana.
"Operasinya berjalan lancar dan sudah selesai, Bu," kata Morgan seraya menggenggam tangan mertuanya.
"Syukurlah, Nak. Ibuk senang mendengarnya," Santi tersenyum.
Sista dan Dara juga berekspresi sama, keduanya saling tersenyum dan memandang.
Mereka tak sabar melihat Eylina. Dan tak lama setelah itu, beberapa perawat datang mendorong ranjang untuk menjemput Eylina. Perawat itu kemudian masuk keruangan operasi dan memindahkan Eylina.
__ADS_1
Dengan hati - hati para perawat itu mengangkat tubuh Eylina dan memindahkannya. Sebisa mungkin mereka meminimalisir guncangan pada tubuh Eylina. Salah satu perawat yang lain kemudian menutupi tubuh Eylina dengan sebuah selimut.
Eylina tidak bereaksi apa - apa, karena pengaruh biusnya masih ada. Sehingga ia belum bisa merasakan apa - apa.
Setelah dipindahkan, ranjang Eylina pun didorong oleh para perawat itu. Eylina dibawa keluar dari ruangan itu. Semua orang yang ada di depan ruangan operasi pun seketika berdiri saat melihat para perawat mengeluarkan ranjang itu.
"Sayang ...." panggil Morgan, wajahnya antara masih khawatir dan juga senang akhirnya bisa kembali melihat wajah istrinya.
Eylina mengulas senyumnya dengan lebar, terlebih lagi saat melihat ibu dan adiknya juga berada disana. Gadis itu mengulurkan tangannya pada Morgan, yang seketika disambut oleh lelaki tampan itu. Morgan menciumi punggung tangan lembut Eylina yang sedikit tercampur aroma obat yang khas. Tapi hal itu tentu tidak menjadi masalah bagi Morgan.
"Aku mengkhawatirkan mu," kata Morgan dengan manja.
"Sudah kubilang semua akan baik - baik saja,"
"Maaf Tuan, tapi kami harus segera membawa Nona Eylina ke ruang perawatannya. Karena diluar sini bisa saja banyak bakteri, kuman dan virus," terang salah seorang perawat senior.
"Kau benar, baiklah ... bawa istriku ke ruangannya," perintah Morgan.
Para perawat itu kemudian mendorong kembali ranjang itu melewati lorong rumah sakit, menuju ke ruangan khusus untuk anggota keluarga Wiratmadja. Diikuti oleh Morgan dan rombongannya di belakangnya.
Sesampainya disana, Eylina pun langsung dipindahkan lagi ke ranjang yang ada di ruangan itu. Perawat itu kemudian memeriksa dan memastikan selang infus dan yang lainnya.
"Selamat beristirahat, Nona. Kami permisi dulu," pamit salah seorang perawat seraya menundukkan kepalanya. Diikuti oleh perawat yang lainnya.
"Ya, terimakasih," jawab Eylina.
Perawat - perawat itupun kemudian pergi, mereka menutup pintu dengan sangat pelan.
Saat ini Eylina bisa sedikit bernapas lega, setidaknya satu langkah penting telah berhasil ia lewati.
"Rey, bawakan kursi itu kesini," perintah Morgan. Lelaki itu menghampiri istrinya yang terbaring di ranjang pasien, dan berdiri disampingnya.
Ia mengusap kepala Eylina dan menciumi keningnya. Tidak peduli ada ibu mertua serta adik iparnya disana. Ia juga melupakan keberadaan Rey dan Sista yang dari tadi setia mengikutinya.
Rey datang dan meletakkan sebuah kursi di samping tempat Morgan berdiri.
"Silahkan Tuan," kata Rey.
__ADS_1
Morgan lalu duduk disana. Sementara ibu mertuanya dan juga Dara memilih mengalah. Mereka duduk di Sofa bersama dengan Sista dan juga sekertaris Rey. Walaupun Santi juga sangat ingin menanyakan kabar putrinya, namun ia tetap menahannya. Ia memberikan ruang untuk Eylina dan suaminya. Lagipula melihat Eylina diperlakukan sangat baik oleh Morgan justru membuat Santi menjadi sedikit terhibur dan bisa melupakan kekhawatirannya.
💗💗💗💗💗💗