
Semua orang berangkat ke rumah sakit pagi itu. Morgan dan Eylina berangkat satu mobil dengan sekertaris Rey dan Sista.
Sementara Tuan Wira beserta istri dan anak-anaknya berangkat dengan mobil lain. Mereka diantar oleh Pak Gunawan.
Seluruh keluarga terlihat antusias ingin melihat perkembangan janin yang dikandung Eylina hari ini.
"Aku tidak sabar ingin melihat aktifitas baby boy di dalam sini. Seperti apa tingkahnya?" Morgan nampak tak bisa mengontrol suasana hatinya.
"Rey, aku hebat kan? Hahaha ... aku akan segera memiliki anak dalam waktu dekat ini, kau bagaimana? Apa kau sudah mulai menabung?"
Pertanyaan dari Morgan membuat lelaki yang sedang fokus menyetir mobil hampir tersedak salivanya sendiri.
Ia lalu melirik seorang gadis yang tengah duduk bersebelahan dengannya, yang disaat bersamaan Sista juga sedang melirik ke arahnya.
"Hahaha ... jika hanya lirik-lirikan seperti itu tidak akan bisa jadi anak Rey. Kau pikir membuat anak seperti mentransfer sebuah dokumen?"
Mendengar perkataan suaminya, Eylina pun geli sendiri. Ia tidak bisa membayangkan akan seperti apa malam pertama sekertaris Rey.
Oh iya, ia baru ingat ... apakah sahabatnya sudah melakukan hal itu?
Tiba-tiba Eylina menjadi sangat penasaran. Apa Sista akan mati gaya? Atau mereka akan romantis seperti saat ia melepaskan kegadisannya? Atau justru sama-sama malu-malu? Atau bahkan sama-sama kaku mengingat Rey yang seperti itu.
Uuu gemas sekali batin Eylina. Saat itu saja ia tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Sista saat sahabatnya itu dilamar dengan kaku oleh sekertaris suaminya.
"Rey, jangan-jangan kau belum memberikan hak istrimu?"
__ADS_1
Lagi-lagi perkataan Morgan membuat Rey hampir kehilangan fokusnya. Tapi ia juga tidak bisa menjawab atau membalas ledekan tuannya. Karena apa yang dikatakan Morgan adalah benar.
Dengan polosnya ia tertidur saat istrinya sedang mandi. Ada rasa bersalah dalam diri Rey.
"Sayang, itu adalah urusan pribadi mereka. Tidak seharusnya kau mencampurinya. Semua pasangan baru butuh belajar, bukan?" kata Eylina mencoba menetralisir keadaan.
"Justru itu, sayang. Sudah kubilang, jika dia tidak bisa atau tidak tahu caranya, dia bisa bertanya padaku,"
"Mana bisa begitu, semua orang punya caranya sendiri."
"Seperti apa? Seperti aku yang memperlakukanmu begini?" Morgan meraih dagu istrinya dan mengecup bibirnya.
Hal itu membuat dua orang yang duduk didepan menjadi semakin kikuk dan salah tingkah.
Beruntungnya rumah sakit yang dituju sudah didepan mata, sehingga situasi canggung tidak menjebak mereka lebih lama lagi.
Dengan bersamaan mereka berjalan memasuki loby rumah sakit. Sebagian besar pegawai rumah sakit menyambut mereka dengan gembira, sementara sebagian yang lain tetap menjalankan tugas mereka sesuai bidangnya masing-masing.
Dokter Mira yang sejak tadi sudah ikut menyambut mereka pun memandu keluarga itu ke ruang USG.
"Bagaimana Nona? Apa ada keluhan?"
"Tidak ada, Dokter. Hanya terkadang saya merasakan pegal di bagian tulang belakang,"
"Itu wajar Nona, karena janin akan semakin membesar seiring waktu dan menekan ke segala tempat. Yang penting jangan lupa minum vitamin kehamilan, kalsium dan juga tablet penambah darahnya, juga jangan lupa untuk tetap menjaga pola makan sehat serta cukup bergerak," jelas dokter Mira, kemudian tersenyum. Sementara Eylina dan yang lainnya manggut-manggut mendengarnya.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita lihat perkembangan pertumbuhannya, silahkan berbaring Nona," lanjutnya dokter Mira lagi.
Eylina menurut dan naik ke atas ranjang pemeriksaan dengan dibantu oleh suaminya.
Setelah mengaplikasikan gel, dokter Mira pun mulai menggerakkan alatnya ke kanan dan ke kiri, melihat dengan seksama sebuah kehidupan di dalam rahim Eylina.
"Janinnya aktif Tuan, lihatlah ... dia kembali menunjukkan tongkatnya seperti waktu itu. Perkembangannya juga sesuai dengan usia kehamilannya,"
"Ih ... lucu banget kak calon bayinya," celetuk Luna yang ada disamping Emily.
"Iya dong, kan calon ponakannya Emil,"
"Itu calon cucunya Papa sama Mama," sahut mama Ayu.
"Calon anaknya kak Morgan, udah-udah ah kalian berisik. Lihat tuh dia jadi marah,"
Sista dan Rey yang ada di sudut ruangan juga ikut tersenyum melihatnya.
Entah dorongan apa yang membuat Rey meletakkan tangannya di bahu istrinya dan mengusapnya. Seolah mengatakan "Kita berdua juga bisa,"
Sista tersenyum kearah suaminya, manis sekali. Membuat jantung Rey terbatuk-batuk melihatnya. Namun ada juga raut kesedihan disana, lantaran mereka berdua sama-sama tidak memiliki orang tua untuk mereka bagi kebahagian.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing hingga tak menyadari jika pemeriksaan Eylina telah selesai.
"Terimakasih dokter Mira, kami pamit dulu kalau begitu," ujar Wira seraya tersenyum dan menyalami dokter wanita yang telah bertahun-tahun mengabdikan diri di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Sama-sama Tuan, hati-hati dijalan," balas dokter Mira seraya tersenyum ramah.
Ia juga mengantarkan keluarga Tuan Wira hingga ke luar gedung rumah sakit.