
Setelah mengantarkan Sista, Morgan dan Eylina pun berpamitan.
Mereka melambaikan tangan dari dalam mobil ke arah ketiga wanita yang ada didepan toko sebagai tanda perpisahan. Dan setelah itu mobil pun melaju dengan lembut.
"Sayang, apa kau sudah makan?" Tanya Eylina setelah beberapa saat mobil yang ia tumpangi melaju meninggalkan toko kue ibunya.
"Mmm ..." Morgan menggelengkan kepalanya seraya mengerucutkan bibirnya.
"Bagaimana kalau kita makan dulu? Aku lapar sekali." Kata Eylina memohon.
"Baiklah ... Rey, cari restoran terdekat dari sini." Perintah Morgan.
"Baik Tuan."
"Sayang, mmm ... tapi aku tidak ingin makan di restoran." Kata Eylina sedikit ragu.
"Lalu?" Tanya Morgan kemudian. Sesaat lelaki itu menatap wajah gelisah Eylina, sebelum akhirnya bibirnya menyambar pipi istrinya dengan gemas.
"Aku ingin makan bakso beranak di pinggir Jalan X." Eylina ragu - ragu mengatakan maksudnya. Ia sudah sangat lama ingin makan di tempat itu, namun apalah daya. Harga bakso tersebut terlampau mahal untuk Eylina pada saat itu.
"Apa? Bakso apa tadi?" Tanya Morgan seraya mengernyitkan dahinya.
"Bakso beranak."
"Makanan macam apa itu? Tidak! Kau bisa sakit perut jika makan makanan yang dijual di kedai terbuka dipinggir jalan. Aku tidak yakin makanan itu bersih. Banyak kuman dan debu yang bertebaran dimana - mana kau tau?" Kata Morgan dengan tegas yang seketika itu juga membuat gadis disampingnya kehilangan semangatnya dan menunduk.
"Baiklah." Jawab Eylina dengan lirih.
Dia menyadari kini dirinya bukanlah Eylina yang dulu. Yang bisa bebas makan dimana saja. Ia sekarang adalah istri dari seorang Presdir dari perusahaan paling besar di negri ini. Untuk sesaat ia menatap kosong kedepan, mengenang kebebasannya di masa dulu.
"Sayang maafkan aku, maksudku ... masih ada banyak makanan lain bukan? Pilihlah restoran manapun yang kau mau. Asal jangan makanan yang dijual di pinggir jalan, oke? Aku hanya tidak ingin kau sakit. Atau nanti biar ku suruh pak Gunawan membuatkan makanan seperti itu untukmu, bagaimana?" Kata Morgan, ia berusaha mengembalikan keceriaan Eylina setelah melihat wajah muram gadis itu. Ia lalu merangkul dan mengusap kepala Eylina dengan lembut.
"Hey ... tidak perlu merajuk seperti itu. Wajah cantikmu jadi hilang nanti." Lanjut Morgan seraya tersenyum hangat karena Eylina tak meresponnya. Ia meraih dagu gadis cantiknya dan menghadapkannya ke atas hingga mempertemukan kedua mata mereka.
Oh astaga ... kenapa aku selalu dihadapkan pada situasi sulit seperti ini. Batin Morgan.
"Ya ... ya ... baiklah. Rey cari tempat yang dimaksud oleh istriku tadi!"
Lelaki itu akhirnya mengalah karena tak tega melihat mata gadis yang sangat dicintainya itu mengiba. Bukan hanya itu, kemungkinan terburuk dan yang paling menakutkan baginya adalah ia bisa saja kehilangan jatahnya malam ini karena gadis itu pasti akan mengabaikannya nanti. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dirinya harus tidur meringkuk sendirian malam ini.
Nona muda bahkan tidak mengatakan apapun. Tapi tuan muda menjadi tak berdaya dibuatnya. Batin Rey.
__ADS_1
"Terimakasih sayang." Seketika mata Eylina pun berbinar, ia lalu memberikan ciuman di pipi suaminya dan kembali tersenyum ceria."
"Hahaha ... aku ingin lebih dari ini." Kata Morgan, ia lalu mengerlingkan matanya.
"Tidak mau!"
"Baiklah, aku tidak akan membayar makananmu."
"Hey ... tidak sayang, aku hanya bercanda. Aku tidak punya uang, bagaimana aku bisa membayarnya." Konyol sekali, aku memang istrimu tapi aku bahkan tidak memiliki uang sepeserpun. Lanjutnya dalam hati.
"Hahaha ... jangan seperti itu. Maafkan aku. Aku melupakan hal itu." Morgan lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa kartu debit.
"Ini, gunakan sepuas mu. Beli apapun yang kau inginkan. Perhiasan, perawatan tubuh, baju atau apapun yang kau suka. Termasuk makanan apa yang kau bilang tadi? Belilah sesukamu." Lelaki itu menyerahkan kartu tersebut ke tangan Eylina.
"Sayang, aku hanya bercanda. Kurasa ini semua tidak perlu. Semua kebutuhanku sudah tercukupi dengan baik selama ini. Perhiasan dan pakaian serta aksesoris yang kau sediakan sudah lebih dari cukup. Aku tidak menginginkan apapun lagi." Eylina mengembalikan kartu itu ke tangan suaminya seraya tersenyum.
"Lalu apa gunanya aku bekerja keras jika kau tidak mau menikmati hasilnya hem?" Lelaki itu memencet hidung Eylina dengan gemas.
Jika wanita lain yang ku sodori kartu - kartu itu pasti mereka akan dengan senang hati menerimanya. Tapi ada apa denganmu? Dasar gadis aneh. Di masa seperti ini masih ada gadis yang menolak uang. Morgan mengusap - usap kepala Eylina.
Gadis itu terlihat sedang berpikir.
"Baiklah, akan ku simpan dulu." Kata gadis itu seraya tersenyum hangat.
"Memang seharusnya begitu kan? Aku tetap berkewajiban memberimu nafkah." Meski di dalam rumahku kau tidak pernah kekurangan apapun. Lanjut Morgan dalam hatinya seraya menatap lembut mata gadis cantik yang ada di sampingnya. Lalu memeluk dan merapatkan posisi mereka
Dunia memang sungguh aneh. Dulu aku bekerja keras untuk mendapatkan uang, tapi rasanya uang yang kumiliki tak pernah cukup untuk membiayai kehidupanku serta ibu dan adikku. Dan kini, aku bahkan rasanya sudah tak membutuhkan uang lagi untuk diriku sendiri. Tapi suamiku malah memberiku kartu debit sebanyak ini. Kartu yang mungkin tidak akan pernah ku gunakan. Untuk apa lagi? Tuan Morgan bahkan memberikan segalanya sebelum aku memintanya. Jangankan urusan makan minum, segala gaun mewah, sepatu, perhiasan, hingga aksesoris semua sudah ia sediakan bahkan sebelum ia mencintaiku. Ibu dan adikku juga sudah terjamin hidupnya. Toko kue itu cukup besar, dan rumah yang ditinggali ibu juga sangat bagus.
Lalu akan ku gunakan untuk apa lagi uang yang diberikannya?
Eylina merangkul pinggang suaminya dan terhanyut dalam pikirannya.
Hingga kemudian suara seorang dibelakang kemudi membuyarkan lamunannya.
"Nona, apa nama kedai bakso itu?" Tanya Rey.
"Oh ... itu, namanya bakso beranak 'Pak Wan'." Jawab Eylina sedikit tergagap.
"Itu dia ...." Lanjutnya seraya menunjuk sebuah kedai bakso yang dimaksud.
Setelah mobil berhenti sempurna, mereka pun turun. Semua orang yang ada di kedai tersebut menatap kedatangan mereka dengan mulut yang menganga karena terkejut.
__ADS_1
Mereka tentu tidak menyangka, putra seorang pengusaha nomor satu di negeri ini singgah di kedai bakso kecil di pinggir jalan seperti ini.
"Silahkan Tuan, silahkan duduk ... silahkan Nona ...." Istri dari pemilik kedai tersebut dengan sigap melayani mereka.
Astaga ... mimpi apa aku semalam hingga kedatangan pelanggan super spesial seperti ini. Guanteng - ganteng sekali ya Tuhan, istrinya juga cantik sekali.
Wanita berusia sekitar 40 tahun itu menatap takjub seraya terus mengulas pada ketiga orang yang baru saja masuk ke kedainya.
"Apa yang spesial disini?" Tanya Morgan setelah dirinya duduk.
"Oh ... ini Tuan daftar menunya." Wanita itu menyerahkan menu pada masing - masing pelanggannya dengan tangan sedikit gemetar.
Mmm ... dari aromanya sepertinya enak. Batin Morgan.
Aroma lezat dari bakso yang berpadu dengan kuah panas serta pelengkapnya itu menyeruak dari sisi dalam dapur dan menggoda indra penciumannya.
"Bu, saya ingin bakso beranak yang seperti ini ya." Kata Eylina seraya menunjuk gambar pada menu.
"Baiklah ... aku juga, dan kau Rey?"
Kata Morgan. Ia hanya mengikuti istrinya.
"Saya juga sama Tuan."
Jawab Rey, meski ia tidak tahu gambar yang mana yang ditunjuk oleh nona mudanya.
"Baik Tuan ... akan segera saya sajikan."
Tak berselang lama kemudian, bulatan daging dengan bumbu racikan khas serta berpadu dengan kuah panas yang harum dan gurih yang menggugah selera itupun tersaji di atas meja mereka.
Mata Eylina berbinar menatap hidangan dalam mangkok tersebut. Ia sudah menelan ludahnya, membayangkan betapa nikmatnya makanan gurih, panas dan pedas itu akan menggoyang lidahnya.
Ia beserta suami dan sekertarisnya itupun mulai membelah gumpalan besar dalam mangkok mereka masing - masing.
Eylina sangat bersemangat tatkala melihat isi dalam gumpalan besar tersebut yang memperlihatkan banyaknya sambal serta bakso kecil - kecil yang menyembul keluar saat gumpalan bakso besar itu terbelah.
Namun berbeda dengan yang dirasakan oleh Morgan dan sekertarisnya.
Kedua lelaki itu bahkan saling pandang dengan wajah bingung. Seolah menuntut penjelasan.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1