Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Bella side


__ADS_3

"Hhaaaaaah ... sial!". Bella berteriak dan memukul kemudinya.


"Awas kau gadis murahan. Bisa - bisanya kau merebut Morgan dariku hah!" Nafasnya terdengar ngos - ngosan karena emosinya.


Perempuan itu melajukan mobilnya dengan sangat kencang di jalanan yang lengang. Ia bahkan nampak menerobos lampu merah saat sudah mendekati rumahnya.


Mobil itu memasuki gerbang rumahnya, Bella turun dan berjalan tergesa - gesa.


"Kak Bella, dari mana?" Sapa Gavin yang sedang duduk diruang keluarga.


"Diam kamu!" Bella terus berjalan dan tak menoleh sedikitpun.


"Kak Bella dari rumah kak Morgan?"


Dari mana dia tahu?


Bella menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Darimana kamu tahu?"


"Emily ...."Jawab Gavin dengan santai. Ia bahkan tak mengentikan aktivitasnya yang sedang memakan popcorn. Matanya pun tetap fokus pada layar televisi besar yang ada di hadapannya.


"Ah iya ... tentu saja. Seharusnya aku tidak perlu menanyakannya. Bukankah memang kalian selalu ikut campur urusan kami. Kalian berdua pernah bilang apa saja pada Morgan hah?" Bella melipat tangannya dan berjalan mendekati Gavin.


"Nggak ada ...."


"Kamu pikir aku bodoh hah? Jika bukan karena mulut kalian yang suka mengadu itu. Aku pasti sudah menjadi istri Morgan sejak beberapa tahun yang lalu dan hidup bahagia dengannya sekarang". Gadis itu semakin berapi - api.


"Cukup kak! Kakak itu sebenarnya tidak mencintai kak Morgan. Itu hanya obsesi kakak saja karena kak Morgan susah sekali ditaklukan selama ini. Dia menjadi incaran banyak wanita dan kakak pun merasa tertantang untuk memilikinya. Hanya sekedar itu saja bukan? Kakak mencoba menaklukannya hanya untuk memuaskan ambisi kakak semata. Sedangkan sebenarnya kakak pun bisa bahagia walau nggak bersama dengan kak Morgan. Bukankah hal itu benar? Sadar kak! masih banyak orang yang menyayangi kak Bella. Dan lagipula kak Morgan juga sudah beristri, tidak sepantasnya kakak mengganggu kebahagiaan mereka". Gavin berdiri dan mencoba menjelaskan. Berharap kakak tirinya itu sadar.


"Diam kamu!" Bella meninggalkan Gavin dan berlari ke kamarnya. Lalu membanting pintu itu dengan keras setelah dirinya masuk dan melemparkan tasnya ke sembarang tempat.


Gadis itu memporak porandakan semua alat make up yang tertata rapi di atas meja riasnya. Hingga menimbulkan suara yang gaduh.


Ia memandangi cermin yang ada dihadapannya.


"Aku cantik Morgan! Aku sempurna! Jika dibandingkan Alice atau gadis murahan itu. Apa matamu buta hah?" Bella mengatakannya dengan berteriak.


"Kak ... kak Bella? Kak ... buka pintunya Kak!". Gavin yang mendengar suara pecahan barang itupun seketika berlari dan menggedor pintu kamar Bella.


"Pergi kamu! Dan jangan pernah ikut campur urusanku!"


"Gavin nggak akan pergi sebelum kak Bella membuka pintunya."


Setelah beberapa saat menunggu, Bella pun membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


Keadaannya sangat kacau, rambutnya berantakan.


"Kak ... cukup! Gavin mohon cukup kak. Berhenti mengejar kak Morgan dan buka hati kakak untuk orang yang benar - benar mencintai kakak".


"Kenapa kamu peduli denganku hah?" Bella menatap Gavin dengan nanar.


"Karena Gavin mau kak Bella bahagia dengan apa yang sudah kakak miliki. Coba lihat sekitar kakak! masih banyak orang - orang yang menyayangi kak Bella. Lihat kak Martin kak, berapa lama dia bertahan dan menunggu kepastian dari kakak? Gavin mohon sama kakak, berhenti menuruti ego dan ambisi kakak, cobalah rasakan apa yang hati kakak katakan. Sebelum semuanya terlambat dan membuat kakak menyesal".


"Hiks ... hiks ... hiks ...." Bella terduduk dan terisak. Air matanya meleleh di pipi mulusnya.


Pria tampan itu kemudian berlutut, untuk memberikan dukungan pada kakak tirinya. Untuk pertama kalinya selama mereka tinggal bersama, ia bisa memeluk kakak yang ia sayangi itu.


Meski dia hanyalah adik tiri yang tak diharapkan bahkan sangat dibenci.


Namun Gavin sangat menyayangi Bella.


"Kenapa kamu harus peduli sama aku, hiks ... hiks ...." suara isak tangis Bella terdengar dengan jelas.


"Karena Gavin nggak punya siapa - siapa selain keluarga ini." Tangan kekar pemuda itu membelai rambut kakaknya yang kusut.


Ya, walaupun sejak dulu dirinya tak pernah mendapat perlakuan baik dari ibu dan kakak tirinya. Namun tetap saja, hanya mereka dan ayahnya lah keluarga yang ia punya. Karena ibu kandungnya meninggal saat melahirkannya.


Bella pun membalas pelukan adik tirinya itu untuk pertama kalinya. Ia merasakan sebuah kehangatan yang begitu tulus dari laki - laki yang telah sejak lama ia benci itu.


Tak berapa lama kemudian, perempuan itu terlihat sedikit lebih tenang. Meski sesekali suara isak tangisnya masih terdengar.


"Percaya sama Gavin, kakak bisa bahagia walau nggak sama kak Morgan. Percayalah kak, yang kakak rasakan itu bukan cinta. Tapi hanya sebuah ambisi semata." Lelaki itu menangkup wajah mungil kakaknya yang terlihat kacau.


"Kakak nggak tau Vin, kakak akan mencoba."


Gavin membantu kakak tirinya untuk berdiri dan kembali ke kamarnya.


Ia memberikan segelas air untuk Bella yang langsung diterima dan diminum habis.


Kasihan kak Bella, Gavin tau kakak kesepian dan kurang perhatian. Karena mama dan papa jarang sekali berada dirumah. Lelaki itu memandangi wajah cantik kakak tirinya dengan iba.


"Gavin panggil bi Sum dulu buat beresin kekacauan ini."


Gavin berlalu setelah meletakkan gelas yang berada ditangannya ke atas nakas.


Sementara Bella menatap punggung adik lelakinya yang berlalu dan menghilang di balik pintu.


Benarkah ini hanya sebuah ambisi ku?


Bella menundukkan kepalanya. Rasanya ia tidak percaya akan apa yang Gavin katakan. Sementara di dalam hatinya nama Morgan seolah sudah melekat kuat disana.

__ADS_1


*****


Di kediaman Wiratmadja


Morgan menggandeng tangan istrinya dan membawanya ke kamar.


"Kau ini kenapa?" Morgan menjatuhkan tubuh Eylina di sofa.


"Ma ... maksud Tuan?" Eylina menatap bingung pada lelaki yang kini berada di hadapannya seolah sedang menghakiminya.


"Bagaimana kau bisa membiarkan dirimu dihina seperti itu hah?" Berbicara dengan nada yang mulai meninggi.


"Aku ... aku ...." Eylina meremas gaun yang dipakainya.


"Dimana keberanian mu itu? Jika kau dulu pernah berani memakiku dan sekertaris Rey, kenapa hari ini kau diam saja saat mereka menghinamu dan menertawakan mu?"


"Karena aku bukan siapa - siapa." Eylina berkata dengan lirih dan tertunduk bersamaan dengan air matanya yang menetes. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit.


Aku tahu tempatku Tuan, aku tahu dimana seharusnya aku berada. Jika bukan karena sebuah kesepakatan yang kusetujui saat itu, aku juga tidak akan berada disini dan menjadi istrimu kan? *D*an bukankah yang mereka katakan itu memang benar adanya?


"Diam lah!" Morgan memberikan sebuah sapu tangan pada Eylina.


"Terimakasih Tuan ...." Gadis itu menerimanya dan mengusap air mata yang masih menetes itu.


"Setelah ini, jangan biarkan seorangpun merendahkan mu lagi dan jangan pernah menundukkan kepalamu seperti itu! Tegakkan kepalamu jika bertemu dengan siapapun. Apa kau mengerti?" Morgan masih berkata dengan tanpa ekspresi.


"Baik Tuan"


"Sekarang cepat lakukan tugasmu!" Morgan membuka jasnya dan semua pakaian yang melekat ditubuhnya.


"Aaaa ... apa yang akan Tuan lakukan". Eylina berteriak karena terkejut dan menutup kedua matanya dengan telapak tangannya.


"Kau pikir aku akan melakukan apa hah? Ambilkan pakaian ganti untukku! Buang pikiran mesum mu itu dasar bodoh."


Perkataan Morgan membuat pipi Eylina bersemu merah karena malu.


Hhh ... dasar bodoh. Apa yang kau pikirkan Eylin. Dia tidak mungkin berselera melihatmu, lihat dirimu! Ingat siapa dirimu dan siapa dirinya. Kasta kalian berbeda jauh.


Eylina merutuki dirinya sendiri. Ia kemudian berlalu dan masuk ke ruang ganti.


Morgan menatap punggung Eylina yang menghilang dibalik pintu ruangan itu dan tergelak.


Kenapa wajahmu lucu sekali, gadis bodoh.


Tawanya kemudian terhenti. Ada gelenyar aneh dalam dirinya. Jantungnya sedikit bergetar mengingat wajah gadis itu.

__ADS_1


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2