Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Pemeriksaan Dokter (Part 1)


__ADS_3

"Permisi Tuan, saya membawakan bubur dan minuman hangat untuk nona muda." Pak Gun masuk dengan membawa nampan berisi makanan.


"Ya, terimakasih pak Gun. Letakkan saja disitu." Morgan menunjuk dengan ekor matanya. Sementara tangannya masih tetap menggenggam tangan Eylina.


"Ada lagi yang bisa saya bantu Tuan?"


"Tidak ada pan Gun, oh iya ... nanti kalau Rey datang bersama dokter Adam, suruh langsung kesini segera!"


"Baik Tuan, saya permisi dulu." Lelaki paruh baya itu lalu menundukkan kepalanya kemudian keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan sangat pelan.


"Sayang, kau harus sarapan dulu ya? Sebentar lagi Rey datang bersama dokter." Morgan dengan cekatan membantu Eylina untuk duduk dan menyandarkannya di kepala tempat tidur.


"Sayang, aku tidak apa - apa. Aku bisa makan sendiri." Eylina mencegah Morgan yang akan menyuapinya dan meminta mangkok yang dipegang oleh Morgan.


"Tidak! Kau sedang sakit, diam dan menurut lah. Oke?" Morgan bersikukuh ingin menyuapi gadis itu. Ia mengusap puncak kepala Eylina sesaat sebelum akhirnya fokus pada makanan yang ada di dalam mangkok.


Ya Tuhan, dia yang saat ini benar - benar berbeda jauh daripada saat pertama kali aku bersamanya. Sebenarnya mana kepribadiannya yang sesungguhnya?


Tuan Morgan yang dulu angkuh dan tak punya hati atau justru tuan Morgan yang sangat hangat dan penuh cinta seperti sekarang ini?


Aku jadi penasaran dengan masa lalunya.


Batin Eylina.


Ia terharu melihat perhatian dan kekhawatiran Morgan saat ini. Lelaki itu bahkan dengan telaten merawat dirinya dan menyuapinya.


Namun tetap saja, ada hal yang sangat ingin Eylina ketahui. Yang merupakan sisi lain dari suaminya. Mereka memang telah menautkan hati masing - masing, namun Eylina belum sedikitpun mengetahui apa - apa tentang suaminya.


"Bagaimana? Apa buburnya enak?" Morgan tersenyum hangat. Ia sangat menikmati perannya saat ini.


"Mmm ...," Eylina hanya mengangguk karena di dalam mulutnya masih ada makanan.


"Tunggu, apa semalam kau lupa makan?"


Tanya Morgan mulai menyelidik, setelah mengingat cerita dari Emily.


"Hey, kenapa diam? Sayang, jadi benar kau semalam melupakan makan malam?" Morgan meletakkan mangkok bubur ke atas nakas lalu meraih dagu Eylina.


"Apa kau masih memikirkan foto itu?"


"Tidak sayang, aku percaya padamu. Lagipula kau sudah menceritakan kebenarannya kan? Aku memang lupa makan malam, tapi aku sekarang baik - baik saja. Kau tidak perlu khawatir." Eylina menatap hangat kedalam mata suaminya.


"Kau baru saja pingsan, bagaimana aku tak mengkhawatirkan mu?"


"Aku tidak apa - apa sayang, hanya saja aku tidak mengerti kenapa haid ku belum juga berhenti. Dan masih sering nyeri perut, sementara ini sudah hari ke tujuh."


Eylina sedikit merasa takut.


"Benarkah? Lalu sekarang bagaimana? Maksudku, apa perutmu masih terasa nyeri?"

__ADS_1


"Sedikit ...," Eylina tersenyum kecut.


Tok ... tok ... tok


"Masuk ...," perintah Morgan pada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Permisi Tuan, sekertaris Rey dan dokter Adam sudah datang."


"Ya, pak Gun ... suruh mereka masuk."


Pak Gun lalu memberi jalan dan mempersilahkan kedua orang yang baru saja datang itu untuk masuk.


Dengan cekatan dokter bernama Adam itu membuka tasnya dan mengambil alat yang diperlukan.


"Permisi Tuan, saya akan memeriksa nona muda," ucap dokter Adam dengan sedikit takut. Ia takut jika ucapannya akan disalah artikan oleh lelaki yang disebut tuan muda itu. Tangannya bahkan sudah gemetar saat ini. Keringat dingin mulai melancarkan serangannya di pelipisnya.


"Ya, periksa keadaannya!" Lelaki itu lalu berdiri dan berpindah posisi.


Syukurlah, tuan muda tidak salah menanggapi perkataan ku. Batin dokter Adam. Ia bernafas sedikit lega.


Dengan seksama lelaki yang berprofesi sebagai dokter umum di rumah sakit swasta milik keluarga tuan Wira itu memeriksa keadaan Eylina.


Morgan nampak berusaha menahan dirinya yang dari tadi sudah ingin menghajar dokter itu lantaran dianggap berani menyentuh - nyentuh istrinya selama pemeriksaan.


Untung saja kau dokter dan sedang dibutuhkan oleh istriku saat ini. Jika tidak aku bahkan akan melempar mu keluar dari jendela itu. Beraninya menyentuh tubuh istriku.


Batin Morgan dengan kesal. Ia bahkan sudah mengepalkan tangannya sejak tadi.


Jangankan disentuh oleh laki - laki lain, dilihat atau dilirik saja tidak boleh.


Dan sekarang, dokter Adam bahkan berani menyentuh dan mengetuk - ngetuk perut Eylina. Meski hal itu adalah wajar, namun hal itu bermakna lain bagi Morgan.


Selama aku menangani pasien, aku tidak pernah merasa deg - degan seperti ini. Dan sekarang, menangani nona muda benar - benar membuat adrenalin ku terpacu. Tapi jika aku tidak memeriksanya dengan benar, aku bisa saja hanya tinggal nama saat pulang nanti.


Dokter Adam membereskan alat - alatnya setelah pemeriksaan.


"Bagaimana? Apa yang terjadi pada istriku? Kenapa dia pingsan?" Morgan menyerang lelaki itu dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


Dokter Adam terlihat menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia juga menyeka keringat di dahinya. Entah apa sebabnya lelaki itu berkeringat, sedangkan ruangan itu cukup dingin.


"Sejauh pemeriksaan saya, nona muda baik - baik saja Tuan. Hanya saja, tensi darahnya sangat rendah." Dokter Adam mulai menjelaskan.


"Apa ucapan mu bisa dipercaya? Lalu bagaimana dia bisa sampai pingsan pagi ini?"


"Sebentar Tuan, Nona ... bisa anda ceritakan kondisi dan keluhan anda saat ini?" Dokter Adam mulai mencari informasi tambahan.


"Ya, aku saat ini sedang dalam masa haid. Dan sudah satu minggu tak kunjung berhenti, bahkan volume darah yang keluar pun masih banyak. Dan aku merasakan nyeri yang lebih hebat dari biasanya Dokter."


"Baiklah, melihat dari keterangan nona muda sepertinya nona muda pingsan karena serangan nyeri hebat pada bagian perut dan panggulnya Tuan. Untuk wanita normal biasanya memang mengalami nyeri saat haid, tapi sangat bervariasi. Tapi berdasarkan apa yang nona muda katakan, sepertinya nona muda membutuhkan pemeriksaan lanjutan dari dokter yang ahli di bidangnya untuk mengetahui penyebabnya."

__ADS_1


Dokter Adam menjelaskan gambaran singkatnya pada Eylina dan Morgan.


"Pemeriksaan lanjutan, maksudmu?"


Morgan mengernyitkan dahinya.


"Pemeriksaan ke dokter spesialis kandungan, Tuan. Karena hal ini berhubungan dengan organ reproduksi, yang sudah bukan merupakan keahlian saya," terang dokter Adam dengan ramah.


"Baiklah. Rey, buat janji sekarang juga!"


Perintah Morgan.


"Tapi Tuan, pagi ini kita ada meeting yang sangat penting."


Rey menjawab dengan sangat hati - hati.


"Tidak ada kata tapi Rey, tunda semuanya sampai istriku membaik."


"Baik Tuan."


"Nona, ini adalah obat pereda nyeri dan juga vitamin penambah darah. Harap diminum tepat waktu." Dokter Adam menyerahkan beberapa obat pada Eylina.


"Terimakasih Dokter."


Dokter Adam pun lalu berdiri, agar Morgan bisa kembali duduk di samping istrinya.


"Sayang, aku tidak apa - apa. Kau bisa pergi dahulu dan menyelesaikan semua urusanmu. Aku bisa menunggumu saat pulang nanti."


"Apa yang kau bicarakan hah? Tidak ada urusanku yang lebih penting dari dirimu," Morgan berkata sangat lembut dengan tatapannya yang hangat. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan saat lelaki itu berbicara pada dokter Adam dan juga Rey tadi.


"Sayang, tapi aku tidak ingin menjadi beban atau penghalang urusanmu." Eylina masih berusaha membujuk suaminya. Karena baginya hal ini tidaklah darurat. Lagipula suaminya adalah seorang yang sangat penting di perusahaannya. Urusan penting yang dikatakan Rey, tentu bukanlah urusan sembarangan batinnya.


"Jangan banyak membantah, sudah kubilang tidak ada yang lebih penting darimu. Tunggu disini sebentar, jangan banyak bergerak, Aku akan siap - siap." Morgan lalu mengecup kening Eylina.


"Kalian bisa pergi sekarang!"


Tuan muda itu menghampiri ketiga orang yang berdiri sejajar tak jauh darinya.


"Baik Tuan." Ketiganya lalu membubarkan diri.


"Rey, siapkan mobilnya!" Kata Morgan saat sekertarisnya berada di ujung pintu.


"Baik Tuan."


Lelaki itu kemudian menutup pintu kamar tersebut dengan sangat pelan.


Morgan pun berlalu dan menghilang dibalik ruang ganti.


Kurasa kau sedikit berlebihan menanggapi ini semua, Tuan. Eylina mengedihkan bahunya.

__ADS_1


Namun di bibirnya, sebuah senyuman terukir. Ia tidak menyangka lelaki itu akan memperlakukannya seperti ini.


💗💗💗💗💗💗


__ADS_2