Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Makan Malam


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok ....


Suara ketukan pintu terdengar nyaring saat Eylina baru saja ingin menjatuhkan tubuhnya di sofa dan meluruskan kakinya yang terasa sedikit pegal.


Haishh ... siapa sih?


Eylina melangkahkan kakinya dengan gontai dan membuka pintu dengan malas.


"Bi Astri? Mereka siapa?" Ia mengernyitkan dahinya.


"Selamat sore Nona, ini Miss Anna. Beliau adalah designer sekaligus makeup artis. Dan ini adalah tuan Willy, seorang penata rambut profesional. Mereka berdua adalah orang - orang andalan keluarga."


Bi Astri memperkenalkan dua orang yang berdiri di kanan dan kiri tubuhnya.


Keduanya kemudian menundukkan kepala.


Ah ya ampun, mereka menundukkan kepala padaku. Aku tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya.


Eh ... tapi untuk apa mereka kesini? Eylina hanyut dalam pikirannya.


"Nona? ... Nona Muda?" Bi Astri.


"Ah ... eh iya. Senang bertemu dengan kalian. Maaf aku tidak tahu, sebenarnya apa tujuan Miss Anna dan Tuan Willy kemari?" Eylina bertanya dengan wajah bingung.


"Nona Muda, jangan panggil saya dengan sebutan Tuan Willy. Cukup panggil saya Willy saja." Lelaki dengan jenggot tipis itu tersenyum.


"Ah, baiklah. Willy bisa anda jelaskan?"


"Kami diutus tuan muda untuk membantu Nona bersiap - siap." Willy tersenyum dengan senyum khasnya.


"Bersiap - siap? untuk apa?"


"Ehem." Morgan datang dan mengejutkan keempat orang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Morgan." Willy menoleh lalu tersenyum lebar mendapati sahabatnya datang.


"Kenapa kalian masih disini?"


"Ah .. itu ...." tidak menemukan jawaban yang tepat, Willy kemudian menggaruk kepalanya.


"Cepat lakukan tugas kalian!" Lelaki yang disebut Tuan Muda itu kemudian melangkahkan kaki dengan santai, memasuki kamarnya dan mendudukkan dirinya di sofa.


"Mari Nona." Anna mengajak Eylina masuk agar ia bisa segera melaksanakan tugasnya.


Mereka kemudian masuk dan memulai tugasnya masing - masing.


*****


Morgan tercengang melihat gadis yang berada di depan matanya saat ia keluar dari ruang ganti.


Tubuh tinggi dengan lekuk hampir sempurna, berbalut gaun berwarna hitam elegan dengan detail yang simpel membuat Eylina menjelma bak seorang dewi kecantikan.


Untuk beberapa saat lelaki yang berstatus menjadi suaminya itu tertegun memandanginya. Entah apa yang ada dalam pikirannya.


Sebelum akhirnya suara nyaring seorang lelaki yang berjalan menghampirinya itu membuyarkan lamunannya.


"Bagaimana? Apa kau puas dengan pekerjaan kami?" Willy merangkul bahu sahabatnya.


"Hemm ... ya ... kalian boleh pergi dan urus anak buah kalian. Mama pasti tidak suka kalian berada disini sementara Emily dan Luna ditangani oleh orang lain."

__ADS_1


"Hahaha ... tenang saja. Mereka sudah sangat handal sekarang." Willy menepuk bahu Morgan untuk meyakinkan lelaki itu.


"Ya ... ya ... ya. Terserah kau saja. Dan ingat, tugas utamamu sekarang adalah mengurus dia." Morgan menunjuk dengan ekor matanya.


"Tenang saja, aku akan melaksanakan tugasku dengan baik. Asalkan ...." Willy mengisyaratkan dengan jarinya, asal ada uang semua pasti lancar.


"Dasar kau, mata duitan. Itu urusan Rey. Minta padanya, berapa yang kau butuhkan." Dengan entengnya Morgan berkata.


Ia lalu melangkahkan kakinya menghampiri gadis yang sedang duduk di depan cermin.


"Kau sudah siap?"


"Sudah Tu ... ah maksudku sudah suamiku." Eylina kemudian tersenyum dan berdiri.


Sebenarnya ada acara apa sih?


Gadis itu menggandeng tangan Morgan dan mengikuti langkah lelaki tersebut.


*****


"Selamat datang Herlambang." Wira beserta istri dan kedua putrinya menyambut tamu yang datang ke kediaman mereka.


"Hehehe ... senang bisa datang ke rumahmu. Maafkan aku, tidak bisa hadir di pesta pernikahan putramu." Seseorang yang seumuran dengannya itupun menjabat tangannya.


"Tidak masalah, Bella sudah menyampaikan hal itu. Bukan begitu Bella?" Wira menoleh ke arah perempuan yang nampak elegan dengan dibalut gaun panjang berwarna maroon.


"Tentu saja paman." Bella tersenyum semanis mungkin.


"Ngobrolnya nanti saja, ayo masuk dulu." Ayu tersenyum lalu menggamit lengan Bella dan mengajaknya masuk kedalam menuju ruang tamu mewah nan luas. Dengan berbagai pajangan berkelas.


Mulai dari lukisan yang dilukis oleh seniman ternama. Guci - guci besar yang ditata apik serta beberapa pajangan limited edition yang didatangkan khusus dari berbagai penjuru dunia.


Dasar wanita murahan. Beraninya kau bersanding dengan Morgan.


Darah Bella terasa mendidih melihat kemesraan antara Eylina dan Morgan.


"Ah iya ... ini dia menantuku, Herlambang. Gadis yang dipilih langsung oleh Morgan." Wira dengan bangga memperkenalkan Eylina di depan sahabatnya.


"Iya ... gadis yang dipilih dari sebuah ajang pencarian jodoh. Bukankah itu sangat memalukan?" Ayu tiba - tiba saja menyahuti perkataan suaminya. Matanya memandang Eylina, seolah merendahkan.


Bagus ... rasakan kau gadis murahan. Kuharap kau tau kedudukan mu. Bella tersenyum licik.


Sakit sekali ya Tuhan.


Eylina menahan air matanya yang hampir jatuh mendengar perkataan dan tatapan menyakitkan dari ibu mertuanya.


"Cukup Ma, jika kalian tidak bisa menghargai istriku. Aku tidak akan makan dimeja yang sama dengan kalian." Morgan meraih tangan Eylina dan hendak melangkahkan kakinya.


Namun suara Herlambang menghentikannya.


"Jangan begitu Morgan. Kami tidak mempermasalahkan siapa dan darimana istrimu berasal. Tenanglah!" Herlambang mencoba menenangkan amarah yang sudah berkobar di dada Morgan.


Lelaki paruh baya yang memiliki sifat tak beda jauh dari Papanya itupun tersenyum hangat pada Morgan dan Eylina.


"Terimakasih paman."


Tak berselang lama seorang kepala pelayan datang.


"Permisi Tuan Besar, makan malam sudah siap." Pak Gun berkata dengan sopan.

__ADS_1


"Ya ... terimakasih pak Gun. Ayo, kita makan malam dulu." Sebagai tuan rumah, ia mempersilahkan para tamunya untuk segera ke meja perjamuan.


Semua orang pun mengikuti dibelakangnya.


Bella nampak kesal melihat Morgan membela Eylina tadi. Ia menatap tajam pada gadis yang berjalan di depannya seraya bergandengan tangan bersama lelaki yang menjadi pujaannya.


Ia sengaja duduk di depan Morgan, sementara Eylina berada disisi kiri suaminya.


Bella sengaja ingin memperlihatkan bahwa dialah yang pantas menjadi istri dari pewaris tahta Globalindo Group.


Ia berusaha mengambilkan makanan untuk Morgan. Namun saat ia akan meletakkan makanan itu di piringnya, lelaki itu menghentikannya melalui isyarat tangannya. Seolah menunjukkan dimana posisi perempuan tersebut.


Morgan lalu menoleh pada Eylina, membelai rambutnya.


"Sayang, ambilkan makanan untukku." Sebuah sandiwara yang dikemas rapi oleh Morgan, bahkan terkesan sangat natural.


"Tentu saja." Sudah kepalang tanggung, Eylina pun berusaha memainkan perannya dengan bagus. Ia tersenyum hangat menatap suaminya.


Hhhh ... entah kapan sandiwara ini akan berakhir. Melihat matamu yang seperti itu, hatiku menjadi bergetar. Eylina.


Huuuhhhh!! ... sial, sial, sial. Dasar wanita murahan. Wanita licik, bagaimana kau bisa merebut hati Morgan hah? Sementara aku yang bertahun - tahun mengharapkan dan mendekatinya dengan cara apapun tak pernah berhasil membuatnya menoleh padaku. Awas kau! Bella meremas gaunnya dan mengepalkan tangannya di bawah meja.


"Wah ... wah ... kalian sangat serasi sekali." Ujar Herlambang.


Papa? ihh tidak seharusnya papa bilang begitu. Aku pa, aku yang pantas duduk bersanding dengan Morgan, bukan gadis itu! Hati Bella yang sudah kesal itu semakin di tambah kesal karena papanya memuji pasangan tersebut.


"Hahaha ... ayo, ayo kita makan dulu." Ajak Wira pada para tamunya.


Kita lihat, apa kau memang benar - benar pantas berada disisi putraku. Ayu tersenyum licik.


Semua yang berada di meja makan pun mulai menyantap makanannya.


Ayu terus melirik ke arah menantunya.


Bagaimana gadis ini bisa makan dengan cara yang benar seperti ini? selama ini dia bahkan makan dengan cara yang aneh dan menjijikkan. Sial! Ayu menahan geram.


Oh ... siapa gadis ini? Jeng Ayu bilang dia gadis yang aneh dan cara makannya pun menjijikkan. Tapi kulihat dia sangat luwes dan anggun seperti anak - anak bangsawan lainnya. Hesti, istri Herlambang itu terlihat mengamati Eylina yang tengah menyantap makan malamnya.


Jadi ini alasannya? Tuan Morgan menyuruhku terus menghafal dan berlatih cara makan yang benar. Aku bahkan merasa jengkel padanya, karena setiap hari menyuruhku menghafalnya. Rupanya dia ingin menyelamatkan harga diriku. Terimakasih. Eylina.


Aku tau ini adalah rencana mama untuk menjatuhkan mu kak Eylin. Aku tidak sengaja mendengar mama berbicara ditelepon waktu itu, entah dengan siapa. Tapi kurasa itu pasti tante Hesti.


Syukurlah kakak bisa menunjukkan pada mereka bahwa kakak pantas untuk kak Morgan. Emily.


Mereka kenapa sih? semua orang pada lihatin kak Eylin. Luna yang tidak mengerti apa - apa itu mengedihkan bahunya. Masa bodoh dengan situasi di sekelilingnya. Ia memilih melanjutkan acara makannya.


Bella mengambil tisu di atas meja dan hendak membersihkan bibir Morgan yang terkena saus. Namun Morgan malah melengos dan menoleh pada Eylina.


"Hahaha, sayang ... lihatlah kemari! sepertinya ada saus di bibirmu." Morgan membersihkan setitik saus yang bahkan hampir tidak terlihat menempel dibibir Eylina dengan tisu.


"Terimakasih, tapi kurasa di bibirmu juga ada saus." Eylina hendak mengambil tisu namun Morgan mencegah tangannya. Dan memberikan tisu bekas yang ia gunakan untuk membersikan bibir Eylina tadi.


"Gunakan ini saja." Eylina mengernyitkan dahinya, dan menuruti kata - kata Morgan.


Apa - apaan sih ... ini memang sandiwara. Tapi kurasa ini terlalu berlebihan. Apa maksudnya coba? Eylina.


Cih ... lama - lama aku muak berada disini menyaksikan kemesraan kalian. Apa sih istimewanya gadis ini dibanding aku hah? Bella sudah hampir kehilangan kesabarannya. Darahnya yang sudah mendidih dari tadi semakin membuat dadanya terasa sesak dan panas.


💗💗💗💗💗💗💗

__ADS_1


__ADS_2