
Ruangan ini sangat terasa sunyi dan sepi. Ya, ruangan paling khusus dari gedung besar milik Globalindo Group. Hanya ada dua orang disini, yang satu sibuk dengan berkasnya dan satu lagi sedang terlihat berpikir.
"Apakah anda ingin langsung pulang, Tuan?" tanya Rey setelah membereskan semua berkas di atas meja. Ia memasukkan beberapa map ke dalam tas kerja miliknya.
"Hmm ... aku lelah sekali Rey." Morgan memijat pelipisnya. Sejak pagi ia disibukkan dengan banyak hal di perusahaannya.
"Apa anda ingin minum sesuatu dulu sebelum pulang, Tuan?"
"Kurasa itu ide yang bagus. Antar aku ke Cafe Cairos, udara disana sangat sejuk saat sore begini. Kurasa kapan - kapan aku perlu mengajak istriku kesana. Aku bahkan lupa mengajaknya jalan - jalan. Kasihan sekali dia, setiap hari hanya berada dirumah. Ia tentu kesepian, karena akhir - akhir ini Emily sedang sibuk dengan Gavin. Sementara Luna harus sekolah."
Lelaki itu berdiri dari tempatnya, ia berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan luar dari dalam ruangannya. Bersamaan dengan itu, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya.
Bibirnya tersenyum lebar melihat nama yang tertera di layar ponselnya, seperti tau saja jika dirinya baru saja dibicarakan.
Dasar rubah kecil, apa kau tau kalau sekarang aku sedang memikirkan mu hah?
Morgan mengusap ponselnya untuk menerima panggilan tersebut.
"Hai sayang, ada apa? Apa kau sudah merindukanku?"
"Tentu saja, tapi bukan itu maksudku menelepon mu, sayang. Apa yang diatas meja ini dokumen penting yang lupa kau bawa?" jawab dari seseorang diseberang sana.
"Itu? Tidak, itu tidak penting. Itu hanya salinannya saja, kau simpan saja di laci ku!"
"Oh, baiklah ... selamat bekerja, sayang. Kau tidak lupa makan, kan?"
"Tentu saja tidak, kau jaga kesehatanmu baik - baik. Ingat ... lusa adalah jadwal operasi mu,"
"Tentu saja, aku tidak sabar menunggu hal itu. Baiklah ku tutup teleponnya, karena Emily dan Luna ada dikamar sekarang**."
"Hei, kenapa kau membiarkan mereka masuk? Mereka bisa membuat kekacauan nanti,"
"Tidak masalah, aku akan membereskannya. Aku kesepian di kamar sendirian. Cepatlah pulang jika urusanmu sudah selesai. Aku merindukanmu ... jangan lupa, carikan aku bodyguard sayang. Daahh ... aku mencintai mu ...."
Sambungan telepon terputus begitu saja sebelum Morgan menjawab dan membalas kalimat cinta dari istrinya.
Lelaki itu tersenyum lebar, tidak ... lebih tepatnya dia tertawa seraya menggelengkan kepalanya atas ulah istrinya.
__ADS_1
Rubah kecil yang menjadi tawanannya saat itu, kini menjadi semakin berani dan sangat nakal.
Sudah satu minggu ini, Eylina tidak berhenti mengatakan pada Morgan untuk tidak lupa mencarikan bodyguard sekaligus sopir perempuan untuknya. Dan setiap harinya gadis itu selalu menagih hal tersebut.
Morgan benar - benar dibuat pusing karenanya, pasalnya semua orang yang direkomendasikan oleh Rey serasa tidak ada yang membuatnya terkesan. Walaupun orang - orang tersebut juga berasal dari dalam perusahaannya sendiri. Tapi rasanya Morgan belum menemukan sosok yang benar - benar pas untuk bisa ia percayai menjaga hartanya yang paling berharga.
Lelaki itu nampak berpikir seraya menatap kosong ke arah luar jendela ruangannya.
"Rey, apa ada lagi orang yang menurutmu pas menjadi pengawal istriku?" tanyanya seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya. Lelaki itu kembali duduk di kursi kekuasaannya.
"Saya belum menyeleksinya lagi, Tuan. Tapi saya rasa masih ada," sudah lebih dari dua puluh orang yang ku rekomendasikan tapi semuanya ditolak mentah - mentah. Dan sekarang aku harus mencari dan menyeleksi mereka lagi. Lanjut Rey dalam hatinya. Ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Ini tugas yang sangat merepotkan baginya.
Mengurus perusahaan terasa lebih mudah rasanya jika dibandingkan harus mengabulkan perintah dan keinginan Morgan serta istrinya yang terkadang tidak masuk akal. Seperti saat dirinya harus memakan bakso super pedas waktu itu, yang membuatnya harus bolak balik ke kamar mandi setelahnya.
"Carikan yang benar - benar berkualitas, Rey! Aku tidak ingin sembarangan orang. Kau tahu Eylina sangat berarti untukku," perintah Morgan dengan tanpa beban.
"Baik Tuan,"
"Baiklah, kita ke cafe itu sekarang." Morgan beranjak dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
Semua orang yang berpapasan dengannya, secara otomatis akan menyapa, menunduk, bahkan membungkukkan badannya. Namun sekali lagi, Morgan bahkan tidak pernah sekalipun membalas mereka walau hanya dengan senyuman sekalipun.
Di temani sinar senja yang masih terang, mobil itu melaju menjauhi gedung megah tempat mereka menghabiskan waktu seharian ini.
Nampak pohon - pohon dipinggir jalan raya bergoyang - goyang diterpa angin, hingga membuat dedaunan saling bergesekan satu sama lain dan menjatuhkan bagian diantara mereka yang telah kering.
Namun sebelum dedaunan itu menyentuh jalanan, angin telah lebih dulu menerbangkan mereka ke segala arah.
Mata Morgan memperhatikan aktivitas orang - orang dipinggir jalan yang terpampang jelas di depan matanya. Sejenak ia mengingat gadis yang dicintainya. Bagaimanakah dulu Eylina menjalani hidup yang sangat keras bersama ibu dan adiknya? Ia menundukkan wajahnya dan tersenyum getir.
Aku berjanji tidak akan membiarkanmu mengalami penderitaan lagi, Eylina.
Morgan memandangi jalanan yang ia lewati. Saat mobil mulai berkurang kecepatannya, matanya menangkap sesosok gadis memakai topi sedang beraksi seperti di film laga. Gadis itu nampak sedang beradu pukulan dan tendangan dengan seorang lelaki yang nampak seperti seorang preman.
Morgan terus menyaksikan pertunjukan yang ada di seberang jalan, dimana ia berada saat ini. Dengan tangan terlipat di depan dada, ia menyandarkan tubuhnya di bagian samping mobilnya. Sementara Rey, ia sibuk dengan ponselnya karena ada beberapa pesan yang masuk.
Gadis itu nampak terpelanting, namun dengan cepat ia kembali bangkit dan berusaha menghajar lelaki tersebut. Hal itu membuat Morgan merasa takjub. Di sana juga nampak seorang wanita paruh baya yang sedang ketakutan dan memegangi sebuah tas di pangkuannya.
__ADS_1
Setelah cukup lama terlibat baku hantam, gadis itu akhirnya menjadi pemenang atas perkelahian itu. Ia menghampiri wanita paruh baya yang terduduk di trotoar dengan tubuh yang gemetaran karena ketakutan.
"Rey, aku ingin gadis itu!" kata Morgan seraya menunjuk ke arah seberang jalan, ia tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Maksud Tuan? Bukankah Tuan sudah punya Nona Eylina?" Rey mencoba memastikan.
"Apa yang kau pikirkan, Rey? Cepat bawa gadis itu kemari!"
"Baik Tuan."
Rey pun bergegas pergi ke seberang jalan untuk menemui gadis yang dimaksud oleh Morgan. Ia berjalan cepat agar tak kehilangan gadis yang tengah berjalan sambil memapah wanita paruh baya yang baru saja menjadi korban penjambretan itu.
"Hei, Nona ..." panggilnya dari belakang.
Gadis itu pun menoleh ke arahnya serta mengernyitkan dahinya dan sedikit menyipitkan matanya karena sinar matahari sore yang menyorot kearahnya.
Apa dia memanggilku?
Gadis itu celingukan ke kanan dan ke kiri untuk memastikan siapa yang sedang dipanggil oleh lelaki yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.
Aroma ini, aku seperti mengenalnya, harum sekali ya ampun ....
Gadis itu memejamkan matanya, menikmati aroma maskulin yang keluar dari tubuh lelaki yang sedang berjalan mendekatinya. Aroma yang tertiup angin dan singgah pada indera penciumannya itu seperti menghipnotisnya. Sangat Harum dan juga membuai.
"Hei, apa kau tidak mendengar ku?" tanya Rey pada gadis yang memakai topi yang ada dihadapannya. Tubuh gadis itu hanya setinggi pundaknya, di tambah ia mengenakan topi, sehingga lelaki itu tak bisa melihat wajahnya.
Gadis itu tersentak dan tersadar dari hipnotisnya. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat lelaki yang tengah berbicara padanya. Suara yang terdengar, terasa tidak asing di telinganya.
"Kau?" gadis itu mengernyitkan dahinya.
"Kau?" tak kalah terkejutnya. Rey pun bereaksi sama.
💗💗💗💗💗💗
Happy weekend teman - teman ....
Selamat menikmati double up hari ini.
__ADS_1
Jangan lupa komen yang banyak 😁