
Aku masih bingung dengan perasaanku. Sejak saat aku mengetahui bahwa gadis cerewet yang membuatku terkesan dengan segala yang ada padanya adalah Amel kecil yang kucari.
Perasaan ini semakin aneh. Aku menginginkannya berada disamping ku, tapi aku tidak bisa memastikan jika ini adalah cinta. Karena aku tidak tahu cinta itu seperti apa.
Sekian lamanya aku hidup, aku tidak pernah memikirkannya ataupun ingin mempelajarinya.
Cinta hanya akan membuatku menjadi manusia aneh dan bodoh seperti yang kulihat pada tuan muda.
Aku semakin takut akan perasaan itu saat kulihat tuan muda begitu gila karena kehilangan cinta pertamanya.
Bertahun-tahun aku melihat tuan muda seperti itu benar-benar membuatku takut sendiri. Takut karena khawatir padanya, juga takut pada diriku sendiri.
Tapi saat aku mengingat pesan dari mendiang ibunya Amel, aku menjadi bimbang. Janji tetaplah janji, sesuatu yang harus ditepati. Dia telah menitipkan putrinya padaku, dan aku mengiyakannya saat itu.
Hingga akhirnya seseorang datang dan membuatku menjadi penasaran dan menyukainya.
Perempuan yang lain dari pada yang lain. Aku melihat banyak duka dan kesedihan di saat aku pertama kali melihatnya.
Dan satu hal yang paling berkesan darinya adalah, dia sangat setia pada persahabatannya dengan nona muda.
Semakin hari aku semakin penasaran. Aku bahkan sangat suka melihatnya marah-marah dan kesal karena ku.
__ADS_1
Selama ini, bahkan tidak ada seorang pun yang berani membantahku, terlebih lagi seorang bawahan. Tapi dia sungguh berbeda, dia selalu melawan dan beradu argumen denganku.
Tapi aku memang payah, aku bahkan tidak berani walau hanya mendekatinya. Mungkin aku telah melukai hatinya, karena setiap dia mulai melunak dan mencoba membangun hubungan baik denganku, aku justru menghindarinya. Aku bahkan sering sekali menyentil telinganya jika dia banyak melamun.
Hingga pada Tuhan geram padaku, sehingga hal yang paling tidak ku sangka itu terjadi.
Duniaku serasa berhenti saat aku mengetahui jika dia adalah gadis yang kucari selama ini. Entah keberuntungan apa namanya. Aku bingung, aku senang dan aku tidak tahu harus berbuat apa.
Dan akhirnya aku memberanikan diri untuk mulai berbicara banyak padanya dan mulai mengorek informasi tentangnya. Mencari tahu bagaimana dia menjalani kehidupannya.
Tapi sesuatu yang juga membuatku sedih adalah saat mengetahui bahwa dua orang baik yang dulu mengantarkan ku mencari tempat tinggal yang baru itu kini telah tiada.
Dia juga bahkan pernah salah mencintai seseorang dan hampir menikah dengan orang itu.
Saat ini mungkin aku bisa dibilang jahat, karena aku sangat senang sekali mengingat dia tidak jadi menikah. Hingga sekarang aku bisa memilikinya seutuhnya. Sepertinya aku mulai gila.
Semakin dia sering menatapku dan berkata lembut padaku, aku semakin tidak ingin kehilangannya.
Tapi sekali lagi, aku tidak tahu harus memulai menciptakan hal romantis itu darimana.
Hingga aku mulai mengingat bagaimana cara tuan muda memperlakukan nona muda selama ini.
__ADS_1
Aku berinisiatif, tapi bahkan baru menggenggam tangannya saja dahi dan tanganku sudah berkeringat.
Aku memeluknya, dan berusaha menyalurkan segalanya meski tanpa kata-kata. Tapi Amel ku rupanya tidak bisa merasakan yang coba ku sampaikan.
Entah dia ingin menggodaku atau mengajakku bercanda. Tapi sepertinya dia memancingku agar aku mengatakan cinta padanya.
Aku juga ingin mengatakannya, karena sesuatu pasti butuh ungkapan.
Tapi bibirku sungguh terasa kaku saat itu, dan jika boleh jujur, aku sangat tidak ingin kehilangannya lagi.
Aku mencoba mencium bibirnya seperti yang tuan muda lakukan, tapi aku gugup, aku tidak tahu harus diapakan bibir itu.
Aku ingin berlama-lama, tapi sesuatu yang terasa sesak di dalam sana menggangguku.
Sepertinya aku menginginkannya, tapi seperti apa aku harus memulainya.
Akhirnya aku melepaskannya. Bibir Amel terasa lembut, hingga membuatku terus memikirkannya. Bahkan saat ini pun aku merasa tidak bisa tidur karenanya.
Amel ku tengah tidur dengan membelakangi ku. Jujur saja aku kasihan melihatnya, karena sudah hari kedua tapi aku belum memulai menjamahnya. Berulang kali aku membolak balikkan tubuhku karena gelisah, tapi Amel sepertinya tak terganggu.
Mungkin dia memang sudah benar-benar tidur pulas.
__ADS_1