
Hari terus berganti, Morgan berusaha keras untuk membuat Eylina bahagia.
Apapun yang diinginkan gadis itu, ia kan selalu melakukan dan menurutinya.
Tapi Eylina bukanlah tipe orang yang serakah, tidak banyak yang dia minta.
Salah satu hal besar yang ia inginkan adalah menggelar acara amal dirumah bersama anak yatim piatu.
Dan hari ini setelah hampir tiga minggu direncanakan, akhirnya acara itu bisa dilaksanakan.
Karena sangat bahagia, Eylina sudah bersiap - siap sejak pagi. Sedangkan suaminya masih terlelap di bawah selimut.
Eylina yang sudah rapi itupun turun ke bawah untuk melihat persiapan acara ini, namun saat ia hendak ke dapur, matanya tak sengaja menangkap dua sosok lelaki. Mereka adalah Rey dan ayah mertuanya.
Kedua orang itu nampak sangat akrab sekali, bahkan Eylina mendengar sekertaris Rey memanggil ayah mertuanya dengan sebutan Paman.
Gadis itu penasaran hingga tidak bisa menahan diri untuk mencuri dengar percakapan mereka.
"Apa yang kau katakan, Rey? Tidak perlu berterimakasih seperti itu," kata Wira seraya menepuk bahu pemuda dihadapannya.
"Tentu saja Paman, jika Paman tidak mengambil dan mengasuhku mungkin aku tidak akan punya kehidupan yang seperti ini sekarang, aku tidak tahu siapa orang tuaku, aku tidak punya saudara, tidak punya tempat tinggal. Tapi Paman datang seperti seorang malaikat dalam kehidupanku," kata Rey.
"Kau telah menyelamatkan nyawaku waktu itu, jika tidak ada dirimu mungkin aku sudah celaka karena tertabrak mobil yang melaju kencang saat itu."
__ADS_1
"Paman bicara apa? Orang sebaik Paman pasti akan dilindungi oleh Tuhan. Saat itu Rey hanya menjadi perantara tangan Tuhan yang menyelamatkan Paman. Jadi Paman tidak harus berterimakasih."
"Hal yang sama pun juga telah Tuhan lakukan. Aku hanyalah perantaraNya. Tuhan lah yang merawat mu, Rey. Lagipula kau adalah anak kecil yang baik saat itu. Kulihat dari sorot matamu, kau adalah anak yang bisa memikul tanggung jawab. Karena itulah Paman memilihmu dan melatih mu secara khusus untuk mendampingi putra Paman."
"Untuk hal itu, Rey akan berusaha semampu yang Rey bisa, Paman."
"Terimakasih, Rey. Oh ya, cepatlah mencari jodoh! Sesekali pikirkanlah dirimu sendiri, Nak. Jangan melulu memikirkan perusahaan dan keluargaku!" Kata Wira menasehati. Pemandangan ini sungguh sudah seperti seorang ayah yang menasehati putranya. Sangat dekat sekali.
Eylina masih mencoba mencerna apa yang baru saja di dengarnya.
Ia tiba - tiba merasa kasihan pada Rey, lelaki itu nampak sangat bengis dari luar, tapi hatinya begitu rapuh. Eylina tidak menyangka jika sekertaris Rey yang begitu ditakuti dan disegani itu adalah seorang yatim piatu.
"Kak, Eylin? Ngapain diam disini?" tanya Luna membuyarkan lamunan kakak iparnya.
"Oh ... Luna kira ada apa,"
"Ya sudah, kakak naik ke atas dulu kalau begitu. Mau bangunin kak Morgan."
Eylina kemudian berlalu dan naik kembali ke kamarnya untuk membangunkan suaminya.
Sesampainya disana, ia langsung membangunkan lelaki itu dan menyuruhnya untuk bersiap - siap karena sebentar lagi pasti anak - anak yatim yang diundang olehnya akan berdatangan bersama ibu pengasuh dan para pengurus panti asuhan.
Benar saja, setelah selesai bersiap - siap, para undangan pun mulai berdatangan kerumah utama.
__ADS_1
Di halaman yang sangat luas telah dipasang tenda - tenda, juga meja jamuan di beberapa titik lengkap dengan para pelayan yang berjaga.q
Para pelayan yang lain dan juga puluhan orang - orang khusus yang disewa oleh Morgan untuk mengamankan acara pagi ini telah siaga di tempatnya masing - masing.
Mereka menyambut anak - anak yang berdatangan itu dengan sangat baik. Anak - anak dengan berbagai macam usia yang ada dihalaman menatap takjub pada bangunan megah yang ada dihadapan mereka.
Senyum ceria menghiasi wajah mereka sejak tadi. Suluruh anggota keluarga Wira duduk di tempat yang sudah disediakan. Hari ini orang - orang terdekat seperti Herlambang beserta keluarganya, juga teman - teman Morgan juga ikut meramaikan acara.
Setelah semua kursi terisi, acara pun segera dimulai. Mulai dari sambutan, acara doa, makan bersama dan juga pemberian santunan pun terlaksana dengan baik.
Eylina dan Morgan menyalami satu persatu anak - anak yang berpamitan itu dengan ramah seraya memberikan bingkisan sebagai oleh - oleh untuk mereka.
Hingga ditengah - tengah acara salaman itu, Eylina nampak memucat. Ia bahkan hampir oleng. Namun beruntung Sista dan Rey yang berdiri dibelakangnya dengan sigap menangkap tubuh Eylina.
"Eylina?" pekik Morgan yang melihat istrinya ambruk dan ditangkap oleh kedua orang dibelakangnya.
Acara pun berubah, semua yang hadir disana pun secara bersamaan menoleh kearah Eylina berada.
Ayah, ibu mertua dan yang keluarga yang lain pun dengan sigap datang menghampiri dan meminta anak - anak untuk mundur.
Sementara Morgan dengan sigap langsung mengangkat dan membawa Eylina masuk kedalam.
"Rey, minta mereka menyelesaikan acara ini dengan sempurna! Tetap bagikan apa yang seharusnya mereka dapatkan hari ini," perintah Morgan. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju rumah.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗