
"Baiklah ayo kita pergi dari sini, aku tidak tahan berada disini. Ramai sekali." Morgan memakai kembali benda - benda yang menjadi bagian dari penyamarannya. Begitu juga Eylina.
Mereka berjalan keluar dari restoran itu dengan tangan saling menggenggam.
Sementara para pekerja perempuan di restoran tersebut melihat kepergian mereka dengan tatapan memuja. Mereka tentu membayangkan, andai saja mereka yang menjadi Eylina. Betapa beruntungnya gadis yang digandeng mesra oleh tangan lelaki tampan tersebut. Pikir para perempuan itu.
Namun senyum mereka lenyap seketika dan wajah mereka menjadi pucat saat seseorang dengan postur tubuh tinggi besar mendatangi mereka.
"Simpan apa yang kalian lihat hari ini untuk diri kalian sendiri. Jika ada dari kalian yang mengambil foto Tuan Muda dan Nona Muda, maka segera hapus foto tersebut dan jangan coba - coba menyebarkannya di media sosial apapun! Mengerti?" Ucap lelaki tersebut dengan tatapan membunuh.
B ... b ... baik Tuan." Ucap salah satu diantara mereka, yang merupakan supervisor restoran tersebut. Wanita yang terlihat berumur sekitar 30 tahun itu terlihat bergetar tubuhnya. Ia juga merasakan sesak di dadanya karena tatapan dari lelaki tersebut. Wanita itu menjawab dengan menundukkan kepalanya, lebih baik tidak menatap mata lelaki itu batinnya.
"Kembali pada pekerjaan kalian."
Ucap lelaki itu sebelum melangkahkan kakinya.
Para pekerja restoran itu akhirnya bisa bernafas lega setelah Rey keluar meninggalkan restoran tersebut. Lelaki itu mengikuti langkah Morgan dengan sedikit berlari.
Langkahnya yang lebar membuatnya dengan cepat bisa menyusul bahkan mendahului kedua orang tersebut. Ia berhenti di pintu utama, lalu dengan cepat mengambil ponselnya dan menghubungi orang yang ia tugaskan menjaga mobil mewah yang ia bawa tadi.
Dan tak lama kemudian mobil tersebut sudah berada di hadapannya. Seseorang berseragam rapi kemudian keluar dan menyerahkan kunci mobil pada sekertaris Rey seraya membungkukkan badannya.
"Silahkan Nona." Rey membukakan pintu untuk Eylina, hal yang sama juga ia lakukan pada Morgan setelah itu.
Ia kemudian masuk dan duduk dibelakang kemudi setelah memastikan semuanya aman.
"Tuan, kemana tujuan kita kali ini?" Tanyanya sebelum menjalankan mobilnya.
"Kita ke tempat, siapa kau bilang tadi sayang?" Morgan mengernyitkan dahinya seraya mengingat nama yang tadi disebutkan oleh Eylina.
"Sista sayang." Gadis itu melepaskan semua atribut penyamarannya. Kemudian tersenyum pada lelaki di hadapannya.
"Ah ya, itu dia. Rey kau dengar itu?"
"Tentu Tuan, Nona bisa anda sebutkan dimana alamatnya?"
"Ah ya ... tentu saja, alamatnya di Jalan bla ... bla ... bla ...." Eylina menyebutkan alamat lengkap tempat tinggal sahabatnya.
Rey terlihat terdiam, lelaki itu seperti sedang mengingat sesuatu sebelum akhirnya melajukan mobilnya.
Dengan perlahan mobil itu meninggalkan gedung megah tersebut. Sekertaris Rey melajukan mobil itu mengikuti petunjuk yang ada di ponselnya.
"Sekertaris Rey, apa anda sudah makan?" Tanya Eylina memecah keheningan. Ia berusaha melihat lelaki yang tengah fokus pada kemudinya.
"Hey sayang, untuk apa kau bertanya padanya. Dia bisa mengurus dirinya sendiri." Lelaki itu meraih kedua pipi Eylina dan menghadapkan wajah gadis itu padanya.
"Sayang, aku hanya bertanya saja. Bukankah tadi dia tidak ikut makan bersama kita? jika dia belum makan pasti perutnya terasa lapar."
"Kenapa kau perhatian sekali padanya hah?"
Oh ya Tuhan, kenapa hal seperti saja bisa menjadi salah paham. Eylina memijit keningnya.
"Sayang, mana ada seperti itu? Aku hanya .... "
Morgan kemudian meraih gadis itu sebelum ia menyelesaikan kalimatnya dan menenggelamkannya di dada bidangnya. Lelaki itu tidak peduli pada penjelasan Eylina.
"Jangan banyak bergerak! Bisa - bisanya kau mengkhawatirkan orang lain." Tangan Morgan menghalangi wajah Eylina yang hendak menoleh ke arah sekertaris Rey.
Mengalah saja Nona agar semuanya tidak semakin buruk. Apa yang dikatakan tuan muda memang tidak bisa dibantah.
Batin Rey.
__ADS_1
Gadis itu menghela nafas panjang, berusaha melepaskan diri pun percuma karena tenaganya juga tak sebanding dengan tenaga suaminya. Ia pun merilekskan posisinya dan balas memeluk pinggang suaminya.
"Nah begitu, kau sangat manis jika menurut." Lelaki itu kemudian mendaratkan ciuman dipuncak kepala Eylina.
Gadis itu hanya diam dan menikmati saja perlakuan dari suaminya.
Dalam hatinya merasa terharu, ia tidak pernah merasa sangat dicintai bahkan dicemburui seperti ini sebelumnya.
Semakin lama ia merasa semakin nyaman hingga matanya menjadi berat karena Morgan terus mengusap kepalanya dengan lembut.
Membuat Eylina terasa seperti sedang di nina bobo.
Tak terasa matanya semakin terpejam, ia terbawa semakin jauh ke dalam dunia mimpi.
Morgan menatap gadis yang tertidur di dalam dekapannya seraya tersenyum.
Lelaki itu lalu mencium puncak kepala Eylina dengan sangat dalam.
Tak berselang lama, ia pun sama seperti Eylina. Terlelap dalam mimpinya dengan perasaan yang bahagia.
Rey melirik dua orang di kursi penumpang itu seraya tersenyum tipis dan kemudian kembali fokus pada kemudinya.
Hingga hampir 40 menit berlalu, mobil mereka semakin dekat pada tempat tujuan.
Eylina mulai mengerjapkan matanya, badannya terasa pegal.
Aku tertidur? Eh dia juga?
Eylina melirik lelaki yang sejak tadi mendekapnya. Ia mencoba berganti posisi dan melepaskan pelukan Morgan.
"Sampai dimana ini?" Ucap Eylina sambil mengucek matanya.
"Oh iya, anda benar. Aku ingat jalan ini."
Eh ini kan jalan yang waktu itu dia melindas ponselku. Batin Eylina.
"Saya juga mengingatnya Nona."
"Apa?"
Apa dia juga ingat kejadian malam itu?
"Tentu saja Nona." Jawab Rey dengan santai.
Eh, apa dia bisa membaca pikiranku? kenapa bisa pas sekali.
"Lalu?"
"Kita sudah sampai Nona, mobil ini tidak bisa masuk kesana. Jalannya sempit sekali."
"Ah ya, aku akan bangunkan suamiku. Anda urus saja sendiri mobil ini."
Menjengkelkan sekali. Dia bahkan masih enggan minta maaf padaku. Eylina menggerutu dalam hatinya.
Gadis itu lalu menepuk pipi Morgan dengan lembut.
"Sayang, sayang ... bangunlah! sayang."
"Mmmm ...."
Lelaki itu berusaha membuka matanya.
__ADS_1
"Kita sudah sampai sayang."
"Oya?" Dengan mata yang belum terbuka sempurna, Morgan meraih istrinya dan mencium keningnya.
"Tuan, mobil kita tidak bisa masuk kedalam sana. Rumah Nona Sista ada di ujung gang sempit itu."
"Baiklah, apa lagi? Kita jalan kesana."
"Baik Tuan." Rey dengan cekatan membukakan pintu untuk Morgan dan Eylina.
Mereka bertiga berjalan menyusuri gang sempit tersebut.
Hingga ke ujung gang. Namun Eylina nampak keheranan karena banyak orang tengah bergerombol di depan rumah sahabatnya.
Bahkan diantara mereka ada yang nampak sedang menggedor - gedor pintu rumah tersebut seraya memanggil nama sahabatnya.
Ada apa ini? Batin Eylina cemas.
"Sayang, kenapa banyak orang disana?" Tanya Morgan.
"Aku juga tidak tahu sayang." Eylina mempercepat langkahnya. Dan menghampiri salah seorang wanita yang ada disana.
"Buk, ada apa ya? Kenapa banyak orang disini?"
"Eh, mbak Eylin. Itu lho mbak, tadi barusan ada teriakan dari dalam. Kenceng sekali mbak, sepertinya suara mbak Sista. Tapi kami ketuk pintunya nggak dibuka - buka."
"Sayang, sepertinya terjadi sesuatu sama Sista." Ucap Eylina dengan tubuh bergetar karena khawatir.
"Rey, cepat buka pintunya!" Perintah Morgan.
"Baik Tuan." Lelaki itu kemudian memberikan isyarat untuk para ibu - ibu yang sedang bergerombol di depan pintu agar mereka menepi.
Rey terlihat sedang bersiap, dan dengan sekali tendangan saja pintu itu sudah terbuka.
Eylina sangat terkejut melihat isi dalam rumah Sista yang nampak sangat berantakan. Kertas undangan nampak berserakan dimana - mana. Nampak juga sepasang pakaian pengantin yang digantung dan telah terkoyak disana sini.
Perasaan Eylina semakin cemas. Ia lalu memanggil - manggil nama sahbatnya dan mencarinya dikamar.
"Sista ...." Teriaknya histeris saat melihat keadaan sahabatnya terkulai tak berdaya dengan tangan bersimbah darah.
Mendengar teriakan Eylina, Morgan dan Rey kemudian menyusul gadis itu.
"Rey, cepat angkat gadis itu!" Perintah Morgan.
Lalu dengan tanpa menjawab, Rey pun bergegas dengan cepat mengangkat tubuh Sista yang sudah terlihat sangat lemas dan tak sadarkan diri. Dengan setengah berlari lelaki itu membawa gadis itu menuju mobil yang terparkir di ujung gang.
Lelaki itu kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Kurang dari sepuluh menit mereka telah sampai, petugas rumah sakit itu dengan cekatan membawa gadis yang tak sadarkan diri itu ke dalam ruangan gawat darurat.
Eylina terlihat tidak bisa mengontrol dirinya, ia terus menangis sambil memanggil nama sahabatnya. Gadis yang tengah menunggu di depan ruangan UGD itu terlihat terisak.
Apa sebenernya yang terjadi sama lo Sis? bagaimana wanita sekuat lo bisa hilang akal sampai berniat mengakhiri hidup lo seperti itu? Maafin gue yang baru sempet jenguk lo, gue harap ini semua belum terlambat. Ya Tuhan, selamatkan Sista.
Eylina.
"Sayang, minumlah!" Morgan duduk disamping Eylina seraya menyodorkan sebotol minuman.
Sementara sekertaris Rey sedang mengurus administrasi, tentu saja ia juga bertugas untuk memastikan jika gadis yang ia bawa tadi ditangani dengan baik dirumah sakit ini.
💗💗💗💗💗💗
__ADS_1