
Sinar mentari secara perlahan mulai memancarkan pesona cahayanya. Menembus setiap kisi - kisi jendela rumah besar yang berdiri dengan megah dihamparan tanah yang begitu luas.
Cahaya yang memberi kehangatan bagi seisi bumi yang baru saja usai melewati malam dingin yang panjang.
Hiruk pikuk para pelayan yang bekerja sudah mulai terlihat di seluruh penjuru rumah.
Mulai dari bagian kebersihan taman dan halaman hingga kesibukkan di dapur. Semua seolah bekerja sesuai irama yang telah tertata.
Semua penghuni rumah itu sedang bersiap - siap untuk acara hari ini.
Ya, hari ini adalah hari yang cukup penting bagi seorang Morgan Wiratmadja. Karena hari ini untuk pertama kalinya, secara resmi ia ditunjuk oleh Wira untuk meresmikan gedung apartemen super megah dengan fasilitas lengkap dan super mewah yang merupakan icon baru milik Globalindo Group.
****
Morgan nampak sedang mondar - mandir diruang ganti bersama Willy.
"Harusnya kemarin aku membeli setelan jas baru untuk acara hari ini." Dirinya sejak tadi tidak berhenti menggerutu. Ia merasa tidak puas dengan semua pakaian yang ada di lemarinya.
"Morgan, bukankah yang ini sangat bagus?" entah sudah berapa kali Willy mencoba memilihkan setelan jas untuknya.
"Aku tidak begitu suka teksturnya." Lelaki itu kemudian melemparkan jas itu ke wajah Willy.
Sial, apa matanya sudah buta? Ini jas keluaran bulan lalu dan bahkan ini sangat terbatas jumlahnya di dunia, banyak orang yang bahkan hanya bisa bermimpi untuk memilikinya. Sementara dia melemparkannya begitu saja.
Willy menangkap jas yang hampir jatuh itu.
Morgan mengobrak - abrik isi lemari tersebut. Namun matanya tak menemukan sesuatu yang memuaskan. Melemparkan apa saja yang diambilnya dari lemari tersebut.
"Ya sudah, mana jas yang kau pilih tadi?" Tangannya menengadah meminta barang yang dimaksud.
Sial, dimana benda itu tadi.
Willy mencari jas yang dimaksud oleh Morgan. Ya, lelaki yang disebut Tuan Muda itu entah sudah berapa banyak jas yang ia lemparkan dan akhirnya membentuk gundukan di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Sementara Eylina sedang ditangani oleh Anna. Gadis itu tengah duduk di depan cermin.
"Miss Anna, boleh aku bertanya?"
"Silahkan Nona." Anna tersenyum ramah kemudian melanjutkan pekerjaannya.
"Sebenarnya ada acara apa hari ini?"
"Ah, hari ini adalah hari yang dinanti - nantikan banyak orang Nona. Icon baru dari perusahaan Globalindo Group akan diresmikan langsung oleh tuan Morgan." Anna menghentikan aktivitasnya dan memberi sedikit penjelasan. Bahkan wajah Anna sangat antusias, seolah dirinya sendiri juga sedang menantikan hari yang ditunggu - tunggu ini.
Aneh sekali, kenapa nona muda bahkan tidak tahu ada acara apa hari ini. Batin Anna.
Wah, pasti ini acara yang sangat penting. Tapi jika memang ini sangat penting, kenapa tuan Morgan harus mengajakku? Apa dia tidak takut jika aku akan bertingkah memalukan nanti? Eylina.
__ADS_1
"Sudah siap Nona, anda terlihat sangat cantik." Anna tersenyum.
"Ah, Miss Anna. Jangan begitu." Eylina mencoba berdiri dan melihat ke dalam cermin.
Ya Tuhan, apa ini memang diriku? cantik sekali. Gadis itu memutar badannya, mengagumi sosok yang berada dalam cermin.
"Terimakasih Miss Anna, riasan mu sangat bagus. Begitu juga dengan tatanan rambutnya." Eylina tersenyum lebar.
Nona Muda, anda sungguh manis. Batin Anna.
"Terimakasih Nona." Anna menundukkan kepalanya.
"Ah ya, Anna. Kau pasti haus, ini minumlah!" Eylina memberikan Anna segelas minuman.
"Nona, tidak seharusnya anda melakukan ini." Aku bisa saja kehilangan pekerjaanku jika tuan muda tahu istri tercintanya melayani seorang makeup artisnya. Lanjut Anna dalam hati. Ia pun segera menerima minuman yang diberikan oleh Eylina. Wajahnya berubah menjadi pias, matanya kemudian melirik pintu ruang ganti. Ia berharap tak ada yang melihat hal ini.
Syukurlah, tuan muda tidak keluar dan melihat hal ini.
Anna menarik nafas panjang dan menghembuskannya.
Ada apa dengan Anna? Wajahnya seperti ketakutan. Batin Eylina.
Ceklak ....
Lelaki dengan dibalut setelan jas hitam itu keluar dari ruang ganti. Ia nampak sangat menawan, dengan segala pesonanya.
Eylina tertegun memandangi lelaki yang kini sedang berdiri di depan cermin.
Sial, kenapa dia tampak cantik sekali. Morgan lalu menggelengkan kepalanya, untuk mengembalikan kesadarannya.
****
Setelah semuanya siap, Morgan dan Eylina pun berangkat ke tempat tujuan dengan diantar oleh sekertaris Rey. Sementara Ayu dan kedua putrinya sudah lebih dulu berangkat.
Suasana di dalam mobil sangat hening, Rey hanya fokus pada kemudinya. Sementara Morgan dan Eylina masih merasa canggung setelah kejadian semalam.
Eylina terlihat beberapa kali meremas gaunnya, matanya menatap pada jendela mobil. Sementara Morgan, ia merasakan dadanya terus berdebar sejak tadi. Pikirannya entah sudah berkeliaran kemana saja.
****
Setelah menempuh perjalanan sekitar 50 menit, akhirnya mobil yang membawa mereka sampai di depan lobby gedung super besar dan mewah.
Mata Eylina membelalak saat ia turun dari mobil.
Waaa ... megah sekali. Apa gedung ini juga milik perusahaan tuan Wira? Elina berusaha menahan dirinya agar tak bersikap konyol.
Ia menggamit tangan Morgan dan berjalan dengan anggun di atas karpet yang telah disiapkan khusus untuk menyambut kedatangan calon Presdir Globalindo. Eylina berjalan seperti saat Jenny pernah mengajarinya dulu.
__ADS_1
Morgan dan Eylina nampak sangat serasi hingga membuat semua mata yang berada disana tertuju padanya dan juga gadis yang menggandeng tangannya tersebut.
Betapa beruntungnya Eylina, karena bisa mendapatkan ruang di hati pria sedingin es seperti Morgan.
Begitulah yang ada dalam pikiran orang - orang tersebut.
"Jangan pernah menundukkan kepalamu, kau ingat?" Morgan berbisik ditelinga Eylina.
"Ya, tentu saja aku ingat." Eylina berkata sambil menjaga agar senyumnya tetap terkembang.
Ah, deg - degan ya Tuhan. Bukankah mereka semua orang - orang berkelas semua? mereka bahkan menundukkan kepala padaku juga. Aku merasa seperti seorang putri kerajaan sekarang, hihihi ... jika mereka tahu, aku adalah serpihan debu jalanan mungkin mereka akan langsung meludahi ku. Batin Eylina.
Sementara Morgan bahkan tak terlihat membalas senyum orang - orang yang menyapanya. Baginya itu hanyalah basa - basi yang membuang waktunya.
Rey memandu lelaki tersebut ke sebuah ruangan yang disiapkan khusus untuk keluarga Wiratmadja.
Di ruangan itu sudah ada Emily, Luna dan juga Ayu. Mereka tengah duduk menunggu sejak beberapa menit lalu.
"Nak, apa kau sudah siap?" Ayu mencoba memastikan.
"Tentu saja Ma." Morgan menjawabnya dengan mantap.
Lelaki yang mulai mencintai kesibukannya itu kemudian tersenyum.
"Tuan Muda, apakah anda ingin minum sesuatu?" Rey menawarkan
"Tidak perlu Rey."
"Baiklah Tuan, saya permisi keluar dulu."
Rey berpamitan.
"Ya, pergilah."
Morgan menjatuhkan dirinya di sebuah kursi yang telah disediakan. Sementara Eylina membaur bersama Emily dan Luna.
"Kak Eylin cantik banget." Ujar Luna.
"Ya iyalah, kakak iparnya Emil gitu lho." Timpal Emily.
"Apaan sih kak Emil?"
Eylina hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua adik iparnya.
Gadis aneh, bagaimana kau bisa pintar sekali mengambil hati Emily dan Luna.
Batin Morgan. Sebuah senyum tipis muncul di bibirnya.
__ADS_1
Entah kenapa ada rasa bahagia melihat kedekatan mereka.
💗💗💗💗💗💗