
Ini adalah pagi pertama yang berbeda bagi sepasang suami istri yang baru saja selesai melaksanakan tugas negara semalam.
Keduanya kini tengah berada di ruang makan untuk menunggu hidangan sarapan yang sedang disiapkan oleh bi Ani di dapur.
"Kak, aku bantuin bi Ani ya?" tanya Sista yang merasa sedikit canggung karena perang semalam.
Ya, begitulah mereka. Bukannya merasa semakin saling dekat tapi justru merasa semakin canggung satu sama lain.
Terlebih lagi, tadi pagi mereka sama-sama bangun tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuh polos masing-masing.
"Ya," jawab Rey menganggukkan kepalanya.
Namun baru saja Sista akan berdiri, bi Ani sudah datang duluan dari arah dapur.
Wanita paruh baya itu membawa nampan berisi makanan yang akan disajikan di atas meja makan.
"Bi, Bibi bisa?" tanya Sista yang melihat wanita itu nampak kerepotan.
"Bisa Non, Bibi sudah biasa," jawabnya ramah seraya berjalan mendekat dan mulai meletakkan satu persatu makanan ke atas meja.
Fokus bi Ani sedikit terusik saat melihat ada tanda merah di leher Sista. Hingga tak sengaja wadah sup yang ia bawa menyenggol tangan Sista dan membuatnya ketumpahan kuah sup yang masih sangat panas.
"Aw ...." pekik Sista seraya segera meraih tisu dan membersihkan cairan panas yang tadi mengenai tangannya.
"Aduh, Non. Maafkan Bibi, Bibi tidak sengaja, Non," pinta bi Ani yang merasa sangat bersalah karena kecerobohannya. Ia juga membantu Sista membersihkan tumpahan kuah panas yang baru saja mengenai majikannya.
"Nggak papa kok, Bi. Lagipula ini hanya terkena sedikit saja,"
"Mana?" tanya Rey seraya meraih tangan istrinya yang masih diusap dengan tisu oleh pemiliknya.
__ADS_1
"Nggak papa kok, Kak,"
"Ikut aku! Biar ku oleskan salep untuk meredakan rasa terbakarnya,"
"Tidak usah, ini tidak apa-apa, Kak,"
Tapi lelaki itu tentu saja tidak akan mendengar rengekan istrinya begitu saja. Rey membawa Sista ke kamar dan mendudukkannya di sofa.
Mata Sista mengikuti kemanapun suaminya bergerak. Sesekali ia mengedipkannya dan membuang muka saat Rey menoleh padanya.
Hingga saat lelaki itu duduk disampingnya, ia menjadi salah tingkah sendiri. Rey memegangi tangannya, membersihkannya lalu mengoleskan sesuatu disana.
"Kenapa kau diam saja?" tanya Rey di sela-sela aktivitasnya.
Matanya terus berkedip-kedip menggemaskan, batin Rey saat melirik mata istrinya yang terlihat berkedip beberapa kali sambil mengamati tangannya yang sedang dirawat olehnya.
"Aku ...." baru akan bicara, tapi mata Rey terasa mengunci segala sendi dan juga otot-otot nya. Lidahnya terasa kaku dan matanya terasa tak bisa berpaling dari sosok tampan dihadapannya.
Demi apapun, entah keberanian apa yang membuat Rey mengatakan hal itu. Sepertinya sesuatu telah merasukinya.
Wajahnya masih datar, tapi Sista bisa melihat dengan jelas jika ada gairah yang mungkin sebentar lagi akan membara dan siap membakar keduanya.
"Kak, apa yang kau bicarakan?" jawab Sista dengan sedikit wajah malu yang sedang berusaha ia sembunyikan.
Pipinya sudah merah sekali, membuat Rey ingin mengigitinya saat ini juga.
Ia baru tahu jika perasaan aneh yang selalu berhasil membuat orang waras menjadi gila, itu benar-benar ada dan sedang melandanya saat ini.
"Kau malu?" tanyanya seraya memfokuskan pandangan matanya pada perempuan dihadapannya.
__ADS_1
"Kak," serasa tak bisa mengatakan apa-apa, hanya suara itu yang bisa lolos dari bibirnya.
Sepertinya Sista sudah membuat Raja rimba yang dingin menjadi bergairah dan siap menerkamnya kapanpun.
Rey mencoba meraih dagu Sista dan membuat perempuan itu menatap matanya.
Ya Tuhan ... menghadapi suamiku sendiri, kenapa se-merinding ini? Bagaimana aku bisa berani menggodanya semalam?
Bulu-bulu halus di tubuhnya menjadi berdiri saat tangan itu mulai meraih tubuhnya dan membuatnya wajahnya lebih dekat lagi dengan wajah suaminya.
Sista memejamkan matanya saat aroma mint berhembus dan menerpa wajahnya.
Kurang dari satu detik, sesuatu yang terasa lembut menempel pada bibirnya yang dingin karena jantungnya yang berdegup tak sesuai irama.
Decapan demi decapan tercipta, membentuk irama yang mengiringi kegiatan dari sepasang lelaki dan perempuan ini.
Seperti meminum sebuah minuman yang membuat orang kecanduan, seperti itulah yang dirasakan oleh seorang yang biasa dipanggil sebagai sekertaris oleh tuannya ini.
Ia begitu menikmati bibir ranum yang sejak semalam mulai mengganggu pikirannya.
Dan merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia rasakan, membuat pikiran Rey tak bisa berhenti untuk membayangkannya lagi dan lagi.
Hingga saat ini pun ia berusaha untuk mendapatkannya lagi. Ia membaringkan tubuh istrinya diatas sofa lembut yang sedang mereka tempati sekarang.
Menanggalkan satu persatu kain yang menjadi penghalang diantara mereka, hingga akhirnya membuat mereka sama-sama polos.
Rey memandu kegiatannya pagi ini hingga keduanya kembali merasakan ledakan rasa seperti halnya yang mereka rasakan semalam.
ππππππ
__ADS_1
Authornya lagi kurang fit sayangΒ² kuh π°π°