
"Apa para dokter memperlakukanmu dengan baik?" tanya Morgan.
"Tentu saja, mereka sangat ramah, sayang." Eylina tersenyum dengan wajahnya yang sedikit pucat.
"Selain dokter Mira ada siapa saja di dalam sana tadi?" Morgan mengusap punggung tangan istrinya. Nadanya lembut tapi sedikit menginterogasi.
"Ada banyak, aku juga tidak mengenal mereka, sayang. Tapi mereka semua memperlakukan ku dengan baik.
"Oya? Apa mereka laki - laki?"
"Mmm ... ya, ada laki - laki dan juga perempuan," jawab Eylina sedikit ragu - ragu.
"Mereka melihat perut indah mu? Apa mereka bersikap kurang ajar padamu? Beraninya mereka!" Morgan berdiri dan mengepalkan tangannya saat mengucapkan kalimat terakhir. Membayangkannya saja sudah membuat darahnya mendidih.
"Hey, kau ini kenapa? Itu kan memang pekerjaan mereka, sayang. Mereka melakukan pekerjaan dengan profesional. Ayo duduklah!" Eylina meraih tangan suaminya dan menariknya, ia juga berusaha keras menahan rasa ingin ketawanya.
"Aku tetap tidak suka! Mereka sudah lancang sekali membuka dan melihat bagian tubuhmu. Itu milikku! Apa mereka juga mengintip bagian tubuhmu yang lain?"
"Kau ini berbicara apa? Tentu saja, tidak! Aku hanya dibius setengah badan saja. Aku bisa melihat apa yang mereka lakukan, sayang."
"Jangan berbohong!"
"Sudahlah, sayang. Lagipula aku ini hanya milikmu, bukankah begitu. Tidak perlu membahas yang tidak penting, oke? Ya sudah, aku ingin bertemu ibu," pinta Eylina dengan manja.
"Baiklah," Morgan mengusap puncak kepala Eylina, kemudian menoleh ke arah ibu mertuanya dan berjalan menghampirinya.
"Bu, Eylina ingin bicara," katanya dengan sopan.
"Iya, nak Morgan." Santi pun berdiri dari duduknya. Ia melangkahkan kakinya ke arah putrinya. Wajahnya menyunggingkan senyum khasnya, meraih tangan Eylina dan menggenggamnya seraya mengambil posisi duduk di samping ranjang putrinya itu.
"Buk, maafin Eylin ya? Eylin tidak memberi kabar ke Ibuk," Eylina merasa bersalah karena merahasiakan keadaannya.
"Tidak apa - apa, Nak. Tidak usah dipikirkan soal itu. Sekarang fokus sama kesembuhan mu ya?" Santi mengusap puncak kepala putrinya. Ia sangat tahu watak dari Eylina, gadis itu sejak dulu memang suka menyimpan masalahnya sendirian. Eylina lebih memilih membaginya dengan Sista, karena ia tidak ingin membebani ibu dan adiknya.
"Doakan Eylin, ya Buk,"
"Tentu saja, Eylin. Ibuk selalu doakan yang terbaik untuk anak - anak Ibuk. Kamu dan juga Dara, Ibuk selalu mendoakan kalian. Begitu juga Sista, Ibuk sangat menyayangi kalian semua. Ibuk berharap hidup kalian bertiga bahagia dan diberkati oleh Tuhan," kata Santi dengan lembut.
Eylina pun tersenyum mendengar kata - kata ibunya. Ia menikmati belaian kasih sayang dari tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.
Sista benar, Ibuk sekarang terlihat cantik dan sehat.
"Kak Eylin," panggil Dara yang baru saja datang. Gadis itu berdiri disamping ibunya. Ia tersenyum pada kakaknya.
"Dek ... kamu tambah cantik sekarang," puji Eylina.
"Kak Eylin bisa aja," Dara sedikit tersenyum dan tersipu, namun matanya masih menyimpan sebuah perasaan lain. Ia menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kenapa, Dek?" tanya Eylina seraya meraih tangan adiknya. Eylina sangat hapal sekali pada gadis cantik yang kini mulai beranjak dewasa itu.
"Nggak apa - apa,"
"Ada apa sih? Nggak mau cerita sama kakak?"
"Mmm ... Dara kangen sama kak Eylin," kata gadis kecil itu dengan lirih. Bersamaan dengan itu, air matanya meleleh membasahi pipinya yang bersih.
"Sini ...." Eylina merentangkan sebelah tangannya yang tidak tertancapi jarum infus. Ia ingin memeluk adik semata wayangnya. Dan dengan segera, Dara menjatuhkan dirinya di atas tubuh kakaknya. Ia terisak di di dalam pelukan kakaknya.
"Dara kangen sekali sama kak Eylin,"
Isak tangis gadis kecil itu membuat Eylina terasa pilu. Ia paham sekali apa yang dirasakan oleh adiknya itu. Gadis kecil itu tentu sangat merindukan saat - saat bersama kakaknya seperti dulu. Bercerita bersama, membagi senang dan sedih bersama - sama. Makan bersama, tidur bersama dan semua yang pernah mereka lakukan bersama.
Beberapa saat yang lalu kerinduannya sedikit terobati dengan adanya Sista yang ikut tinggal bersamanya dan juga ibunya. Namun tak berselang waktu yang lama, Sista pun juga pergi meninggalkan rumah itu untuk bekerja.
Morgan yang menyaksikan drama itu pun menundukkan kepalanya. Ia tentu merasa iba pada adik iparnya yang usianya sama dengan Luna. Luna hari ini memiliki kakak ipar yang sangat menyayangi dirinya, namun disisi lain ada seorang adik yang rindu akan kehadiran kakaknya.
Eylina mengusap punggung adiknya. "Jangan nangis dong, Dek."
"Dara kesepian, Kak." Gadis itu melepaskan pelukannya, ia menyeka air matanya.
"Kakak ngerti, kapan - kapan kak Eylin nginep disana ya," kata Eylina menghibur adiknya.
"Beneran?"
"Iya dong, sama kak Sista juga."
"Iya ... jangan nangis lagi!" Eylina mengusap lembut pipi adiknya. Ia tersenyum pada gadis itu. Di dalam hatinya, Eylina merasa kasian pada Dara. Ibu dan adiknya tentu sangat kesepian setelah dirinya pergi meninggalkan mereka.
....
Setelah mengobrol panjang lebar ibu, Dara dan Sista keluar bersama sekertaris Rey. Saat ini matahari sudah berada tepat diatas kepala. Sangat terik, menandakan waktu makan siang telah tiba. Mereka semua keluar untuk mengisi perutnya. Morgan sengaja meminta Rey untuk membawa mertuanya beserta yang lainnya untuk keluar. Ia ingin menikmati kebersamaannya dengan istri tercintanya.
Lelaki itu duduk di samping Eylina, menggenggam tangan gadis itu dan menciuminya.
"Sayang, apa kau tidak merasa lelah?"
"Lelah apa?"
"Beristirahatlah dulu disana, kau pasti lelah menemani dan menungguku sejak tadi pagi," Eylina menunjuk ke arah kamar tidur.
"Kau mengusirku?"
"Tidak, sayang. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan," kata Eylina seraya menatap lembut mata suaminya serta mengusap pipi Morgan dengan punggung tangannya.
"Tidur disana denganmu?" Morgan menatap nakal dan memainkan alisnya.
__ADS_1
"Jangan mengada - ada! Aku saja tidak bisa bergerak saat ini." Eylina membulatkan matanya dan memukul bahu kekar suaminya. Ia gemas sekali pada lelaki tampan itu. Dimana pun mereka berada, yang diingat hanya urusan ranjang saja.
"Kalau begitu cepatlah pulih," jawab Morgan dengan enteng. Ia menggeser kursinya lebih mendekat, kemudian memajukan wajahnya.
"Mau apa?" Eylina mengerutkan alisnya.
Tanpa menjawab, Morgan menempelkan bibirnya di bibir Eylina. Membuat gadis itu membelalakkan matanya seketika. Ini dirumah sakit, dengan keadaannya yang baru keluar dari ruang operasi pun dirinya diserang oleh ciuman? Eylina tidak habis pikir dengan suaminya itu. Dengan satu tangan ia mencoba mendorong Morgan agar menyudahi kegilaannya.
"Aku hanya mencium mu, apa itu dilarang?" kata Morgan mulai merajuk.
"Tapi ini dirumah sakit, sayang. Jangan bertingkah seperti ini! Lukaku saja masih basah, aku juga tidak bisa bergerak."
"Maafkan aku," Morgan menjatuhkan kepalanya diatas dada Eylina dan memeluk tangan gadis itu.
"Maafkan aku juga, aku tidak bermaksud melarangmu seperti itu." Eylina mengusap lembut kepala Morgan. "Aaww ...."
Morgan langsung mengangkat kepalanya saat mendengar suara pekikan Eylina.
"Ada apa?" tanyanya khawatir.
"Tidak apa - apa, hanya terasa sedikit nyeri ditangan ku." Eylina mengusap lembut tangannya yang tertancapi jarum infus itu. Ia meringis merasakan nyeri.
"Sakit ya? Mana?" Morgan dengan pelan meraih tangan Eylina lalu mengusap dengan lembut. Entah kenapa rasanya berbeda. Eylina tersenyum memandang suaminya. Ia terharu atas sikap perhatian dari Morgan. Lelaki itu selalu memperlakukannya dengan sangat hangat dan juga telaten sekali.
"Kenapa tersenyum seperti itu?"
"Tidak apa - apa, terimakasih,"
"Kenapa kau mengucapkan terimakasih seperti ini? Bagaimana? Apa sudah lebih baik?" tanya Morgan yang langsung dibalas anggukkan kepala oleh Eylina.
Tok ... tok ... tok
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Masuk!" kata Morgan.
"Permisi Tuan, kami mau memeriksa keadaan Nona Eylina." Dua perawat datang dan membuka pintu itu.
"Hemm, lakukan tugas kalian dengan baik!" Morgan berdiri dan memundurkan badannya. Ia memberi ruang untuk kedua perawat tadi.
ππππππ
Sedikit pemberitahuan temanΒ²
Untuk pembaca lama mungkin udah baca bab yang menceritakan tentang foto Alice (Bab sebelum Eylina pingsan)
Semalam thor baca - baca lagi, ternyata bab itu udah dihapus sama pihak manga. Karena memang dulu sebenarnya bab itu niatnya nggak jadi thor terbitkan. Udah thor hapus waktu itu, tapi ternyata masih diterbitkan juga sama adminnya.
__ADS_1
Dan semalam thor buka - buka, dan baca lagi, baru ngeh kalau ternyata bab itu udah dihapus juga sama adminnya.
Nah buat yang belum baca bab itu, kalau kalian penasaran sama isi bab nya, kalian bisa baca di part yang judulnya PINGSAN. Udah thor jadikan satu disana. Ini kejadian semalam sebelum Eylina pingsan.