
Morgan keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang cukup santai.
Ia hanya mengenakan kaos putih polos yang nampak pas ditubuhnya hingga menampakkan otot lengannya, dipadu dengan celana jeans dan sepatu kets.
Ia sengaja tidak ingin menampakkan kemewahannya, atas permintaan Eylina. Meski sebenarnya yang dipakainya saat ini juga bernilai tidak sedikit. Jam tangan yang dikenakannya saja bisa untuk membeli rumah sederhana.
Beberapa hari lalu Eylina sengaja meminta suaminya agar tidak terlalu menampakkan kemewahan yang dimilikinya saat bersamanya dengan alasan agar mereka terlihat lebih serasi antara satu dengan yang lainnya.
Karena Eylina yang kurang terbiasa dengan barang mewah dan perhiasan yang gemerlap, jadi dengan sedikit terpaksa Morgan juga beradaptasi menyesuaikan diri agar keduanya merasa nyaman.
Lelaki itu tahu betul dari mana Eylina berasal, ia juga tidak ingin mengecewakan gadis itu.
Jadi menurutnya, sedikit mengalah tidak akan menjadi masalah.
"Sayang, apa yang akan kau lakukan?" Morgan berlari mendekati dan mencegah Eylina yang hendak turun dari tempat tidur.
"Ada apa sayang? Bukankah katamu kita akan ke rumah sakit sekarang?" Gadis itu sampai mengernyitkan dahinya melihat suaminya berlutut dihadapannya dan menaikkan kembali kakinya yang sudah menjejak dilantai.
"Tunggu, apa ada barang yang ingin kau bawa?" Lelaki itu nampak mengedarkan pandangan mengelilingi seluruh sudut kamar.
"Mmm ... iya, aku ingin membawa tas dan ponsel ku."
"Tas yang mana?"
Lelaki itu tentu bingung, tas mana yang akan dibawa. Karena Eylina punya banyak sekali tas yang disimpan diruang ganti, tentu saja itu merupakan salah satu fasilitas darinya untuk gadis itu.
"Tas yang diatas meja itu saja." Eylina menunjuk tas hitam kecil yang ada diatas meja rias.
"Ini? Sayang apa kau tidak bosan memakai tas ini terus? Ada banyak tas didalam sana, kenapa kau hanya memakai ini. Apa kau tidak suka modelnya? Atau kau ingin merek tas tertentu?" Morgan menyerahkan tas itu pada istrinya.
"Aku merasa nyaman dengan tas ini sayang."
Gadis itu tersenyum setelah menerima tas dari tangan suaminya. Lalu kembali beringsut dan hendak turun dari ranjang.
"Kau ini mau apa hah? Telingamu benar - benar minta digigit ya?" Morgan memajukan wajahnya, hendak menggigit telinga gadis itu. Membuat Eylina menutup bagian tubuhnya tersebut.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" Eylina terkejut karena suaminya mengangkat tubuhnya.
Hhh ... untuk apa sih? Aku masih bisa berjalan ya Tuhan ... kurasa dia ini memang terlalu berlebihan, jika seperti ini aku seperti seorang pesakitan sungguhan.
__ADS_1
Batin Eylina.
Sementara Morgan tak menghiraukan lagi apa yang dikatakan istrinya.
Ia membawa tubuh gadis itu keluar dan menuruni anak tangga satu persatu.
"Sayang, turunkan aku!" Bisik Eylina lirih.
"Diam dan menurut lah." Lelaki itu lalu mencium kening gadis yang ada di gendongannya.
"Kak Morgan ... Kak Eylin ...," panggil Emily dengan setengah berlari ke arah mereka.
"Ada apa?" tanya Morgan dengan datar.
"Kak Eylin kenapa? Kok digendong? Kak Eylin sakit? Semalam kak Eylin nggak keluar dari kamar sama sekali, kak Eylin juga nggak ikut makan malam. Saat pak Gun mengantarkan makanan juga lampu kamar kak Eylin udah mati. Jadi pak Gun pikir kakak udah tidur. Kak Eylin nggak papa kan?"
Emily bertanya dan berbicara panjang lebar. Gadis itu juga ikut cemas sejak semalam.
"Sssttt ... berisik sekali! Minggir sana, kakak iparmu tidak apa - apa. Kami hanya sedang bermain drama romantis saja."
Morgan mengusir dengan isyarat.
"Tidak ada apa - apa dasar cerewet. Sudah, kakak mau pergi. Oya, minta pak Gun menyiapkan sarapan untuk kubawa."
Morgan lalu melanjutkan langkahnya.
Emily nampak sedikit kesal karena tidak pernah mendapat jawaban yang memuaskan dari kakaknya, namun meski begitu ia tetap melaksanakan apa yang tadi dikatakan kakaknya.
Ia pergi ke belakang dan meminta pak Gun menyiapkan sarapan pagi untuk kakak laki - lakinya.
Tak butuh waktu lama, gadis itu pun berlari - lari kecil menyusul kakaknya ke luar.
"Haduh ... capek banget, nih kak sarapannya." Emily berhenti di samping mobil Morgan yang telah disiapkan oleh sekertaris Rey. Gadis itu menyerahkan kotak makan pada kakak iparnya.
"Maaf ya Emil aku merepotkan mu." Eylina menerima benda tersebut dan tersenyum.
"Nggak apa - apa, kak Eylin mau kemana sih?" tanya gadis itu, nafasnya masih ngos - ngosan.
"Kami hanya ingin ...,"
__ADS_1
"Kami ingin pergi berkencan, sudah sana. Lebih baik kau olahraga, agar stamina mu lebih baik." Morgan menyela kalimat istrinya sebelum Eylina menyelesaikannya. Lelaki itu mengusap kepala adik perempuannya, sebelum masuk ke dalan mobil.
Bagi Morgan, segala tentang Eylina adalah hal yang perlu ia jaga. Kekurangan apapun yang ada dalam diri Eylina adalah miliknya, tidak ada seorangpun yang boleh mengetahuinya. Termasuk dari mana gadis itu berasal, hingga saat ini ia masih menyembunyikannya.
Dan tak berselang lama setelah itu, sekertaris Rey melajukan mobil tersebut menembus udara pagi yang sangat dingin dan menusuk hingga ke tulang.
Jantung Eylina berdebar - debar, sejak tadi ia tidak bisa merasa tenang. Entah apa yang terjadi dalam dirinya saat ini. Ia hanya berharap, semoga bukan sesuatu yang buruk.
Sejenak ia menundukkan kepalanya, ia baru menyadari jika diatas pangkuannya ada sekotak makanan untuk suaminya dan untuk sekertaris Rey, mungkin.
Kedua lelaki itu tentu belum sempat mengisi perutnya setelah semalaman membiarkannya kosong.
"Sayang, kau belum sarapan?" tanya gadis itu seraya menoleh ke arah suaminya.
"Aku bisa sarapan nanti sayang," jawab Morgan lalu mengusap pipi Eylina.
"Kenapa? Kau bisa jatuh sakit nanti. Mmm ... makanlah!" Eylina menyodorkan sepotong sandwich pada suaminya.
Akhirnya mau tidak mau, Morgan pun menggigit makanan tersebut. Eylina menyuapi suaminya sampai sandwich itu habis, lalu menyodorkan air mineral kemasan pada lelaki tersebut.
"Sekertaris Rey, anda mungkin juga belum sarapan? Pak Gun membawakan beberapa sandwich dalam kotak ini. Anda bisa memakannya nanti ...," kata Eylina seraya meletakkan kotak tersebut di kursi yang ada di sebelah Rey.
"Terimakasih Nona," jawab Rey, matanya melirik sekilas kearah kaca yang ada di samping atas kepalanya lalu kembali fokus pada kemudinya.
Ternyata anda memiliki kepribadian yang hangat nona. Anda selalu memperdulikan orang - orang disekitar anda. Pantas saja tuan muda sangat mencintai anda.
Batin Rey. Sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Hari ini mereka cukup beruntung karena jalanan lumayan lengang sehingga perjalanan mereka menjadi lebih cepat dari biasanya.
Rey membelokkan mobil tersebut ke halaman rumah sakit, nampak belum banyak aktivitas ditempat itu karena hari masih sangat pagi.
Nampak beberapa perawat datang menjemput Eylina dengan membawa kursi roda saat mobil yang dikemudikan Rey berhenti di depan lobby rumah sakit.
Eylina yang melihat hal itupun mengernyitkan dahinya.
Kenapa harus pakai kursi roda segala sih? Ya ampun aku hanya haid biasa saja, tapi kenapa mereka memperlakukanku secara berlebihan seperti ini?
Batin Eylina.
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗