Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda

Menikah Kontrak Dengan Tuan Muda
Mathias (Part 2)


__ADS_3

Malam itu juga para dokter datang ke rumah sakit. Tanpa perlu bertanya banyak hal, para dokter dan tim medis segera menyiapkan segala hal untuk operasi dini hari ini.


Lampu penanda berwarna merah telah menyala, menandakan operasi sedang dilakukan.


Rey bersama dua orang anak buahnya menunggu di depan ruang operasi.


Sekertaris itu sangat berharap jika Mathias bisa kuat dan berhasil melewati situasi ini. Rey ingin bertanya banyak hal pada lelaki itu. Lebih dari itu, Rey ingin mendapatkan sesuatu yang bisa ia jadikan sebagai petunjuk untuk menemukan anak dan istri dari lelaki tersebut.


"Hubungi Anton! Untuk kali ini, jangan pernah biarkan Jordan lolos! Kali ini jangan libatkan pihak berwajib! Aku ingin membawa permainan ini pada titik dimana tuan muda yang akan memegang kendali atas nasib b*jingan itu." perintah Rey pada seorang anak buahnya yang langsung diiyakan oleh lawan bicaranya.


Rey menghembuskan napasnya dengan kasar, kemudian merogoh ponselnya di dalam saku mantelnya. Ia terlihat menekan nomor seseorang dan menempelkan ponselnya di telinganya.


"Sekertaris Ji, maaf aku mengganggu. Aku ada berita penting."


"Katakan Rey," sahut sekertaris Ji yang berada di ujung telepon.


"Mathias tertembak, aku menemukannya di sebuah rumah tua, bla ... bla ... bla," Rey menjelaskan dengan detail apa yang ia temukan hari ini.


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"


"Mathias masih berada di ruangan operasi. Semoga saja ia masih bisa bertahan. Yang menjadi PR sekarang adalah tentang istri dan putra Mathias. Aku tidak ingin mereka bernasib sama dengannya. Tapi aku juga belum mendapatkan petunjuk apapun untuk mulai bertindak."


"Apa rencana mu sekarang?"


"Aku menugaskan beberapa anak buah untuk menyelidiki tentang ini. Semoga semua baik - baik saja."


"Ya, Rey ... semoga semua masih bisa kita kendalikan. Besok pagi, kau fokus saja pada urusan ini. Untuk urusan perusahaan, aku bisa mengatasinya untuk sementara waktu."


"Terimakasih sekertaris Ji."


"Apa tuan muda sudah tahu tentang hal ini?"


"Tidak, maksudku tuan muda belum tahu tentang hal ini. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya, mungkin besok pagi baru aku akan menyampaikan hal ini padanya."


"Baiklah, kau juga jangan lupa istirahat, Rey. Untuk mengalahkan musuh kita, kita harus dalam kondisi prima supaya tetap bisa berpikir dengan jernih."


"Tentu saja sekertaris Ji. Baiklah kalau begitu, selamat malam."


Rey menutup saluran teleponnya setelah mendapat jawaban dari sekertaris Ji dari ujung telepon.

__ADS_1


Lelaki bertubuh tegap itu kembali ke tempat duduknya tadi. Ia menjatuhkan tubuhnya disana.


"Sekertaris Rey,"


"Ya?" lelaki itu mengernyitkan dahinya ke arah anak buahnya.


"Tidak, maksudku ... apa sekertaris Rey tidak ingin istirahat? Kami akan berjaga disini," ujar seorang diantara mereka.


"Tidak, jika kalian ingin bergantian beristirahat silahkan saja."


"Tidak, kami sudah cukup tidur."


Mereka kemudian mengalihkan pandangan matanya ke bawah, seperti menemukan sebuah harta karun di bawah sana.


Mana mungkin mereka bisa memejamkan mata, sementara atasan mereka saja lebih memilih berjaga dan siaga.


Waktu terus bergulir, menit - menit menegangkan telah berganti. Setelah selama hampir dua jam, akhirnya lampu penanda berubah menjadi warna hijau yang menandakan jika operasi telah selesai dilakukan.


Seorang dokter keluar sebagai perwakilan. Dari mimik wajahnya, nampaknya dokter itu telah melakukan tugasnya dengan baik.


"Bagaimana?" tanya Rey seraya bangkit dari tempat duduknya.


"Baiklah, kau boleh pergi."


"Saya pamit dulu."


Sepeninggal dokter tadi, Rey juga meninggalkan rumah sakit tersebut. Tapi sebelum itu ia telah berpesan pada dua orang bawahannya agar tidak lalai dalam menjaga Mathias. Ia juga meminta agar Robin mengirimkan dua orang lagi agar mereka bisa bergantian.


Rey melajukan mobilnya meninggalkan bangunan dua lantai yang berwarna serba putih itu tepat pada pukul 03.30.


Jalanan masih nampak sepi saat ini. Jika dirasakan sebagai orang normal, tentu saja ia sangat letih dan mengantuk. Tapi ia adalah sekertaris Rey, seorang laki - laki dengan tanggung jawab yang entah ada berapa banyak jumlahnya.


Lelaki itu memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.


"Nak Rey? Astaga! Apa yang terjadi nak Rey?" tanya bi Ani yang terkejut saat membuka pintu rumah dan mendapati mantel majikannya terdapat bekas lumuran darah yang sudah mengering.


"Tidak terjadi apa - apa, Bi. Rey sangat letih, bisakah Bibi membuatkan ku makanan yang hangat?"


"I ... iya, baiklah ... bibi akan buatkan makanan hangatnya."

__ADS_1


Melihat wanita paruh baya itu masih dalam keadaan bingung, Rey pun tersenyum kearahnya.


"Rey tidak apa - apa, Bi. Rey baru saja menolong seseorang yang mengalami kecelakaan," ujar Rey menjelaskan.


"Syukurlah, kalau begitu. Bibi ke belakang dulu kalau begitu."


Bi Ani pun kemudian berlalu meninggalkan majikannya yang masih berdiri disana.


Rey memandang kepergian bi Ani dengan tersenyum, meskipun ia tidak pernah merasakan memiliki ibu kandung, tapi dengan adanya bi Ani saat ini sudah seperti mengobati kerinduannya akan hal itu.


Usai menutup pintu, Rey bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri. Setelah itu ia pun keluar dan menuju meja makan. Di sana sudah tercium aroma sedap dari dapur.


Bi Ani sangat hapal sekali bagaimana membuat mood dirinya kembali membaik.


Sup iga sapi buatan wanita itu tak pernah gagal membuat Rey tersenyum puas setelah memakannya.


"Nak Rey, ini bibi buatkan sup iga," katanya seraya meletakkan satu mangkuk besar di atas meja makan.


"Terimakasih, Bi. Bibi duduklah! Temani Rey makan disini." Rey lalu mengambil mangkuk dan menuangkan sup ke dalamnya kemudian memberikannya pada bi Ani.


"Kenapa jadi nak Rey yang repot?"


"Sudahlah, Bi. Terimakasih sudah membuatkan sup selezat ini."


Bi Ani tersenyum lalu mulai menyendok makanannya.


"Nak Rey, bagaimana kabar tuan besar?"


"Uhuk ... uhuk ...."


Pertanyaan bi Ani membuat Rey terkejut dan tersedak. Wanita paruh baya itu lalu memberikan segelas air padanya dan langsung di teguk olehnya.


"Maafkan bibi ya, nak Rey," ujar wanita itu merasa bersalah.


"Tidak apa - apa, Bi. Rey hanya sedikit kaget, sudah lama sekali bibi tidak menanyakan kabar beliau. Tuan Wira kabarnya sangat baik, hanya saja di perusahaan sekarang sedang ada sedikit masalah. Tapi bibi tidak perlu khawatir, ini hanya masalah kecil." Rey tersenyum di akhir kalimatnya.


Sungguh jika sudah seperti ini, rasanya tidak ada sekat antara majikan dengan pelayan. Bi Ani orang yang sangat keibuan dan lemah lembut, dia juga sangat rajin. Rey sangat menyukainya. Bagi Rey, ia sudah seperti seorang ibunya sendiri.


Bi Ani tahu apapun tentang Rey. Masa lalu Rey pun ia juga tahu. Karena saat ia pertama kali datang ke rumah utama, bi Ani lah yang mempersilahkannya masuk dan juga mengurusnya. Tepatnya sebelum pria itu dikirimkan di sebuah asrama oleh tuan Wira.

__ADS_1


__ADS_2