
"Apa yang kau lihat?" tanya Morgan penasaran.
"Sekertaris Rey datang sama bodyguard, Untuk apa?"
Ya, Eylina merasa heran karena beberapa bulan ini dirumah utama ditambahkan banyak penjaga.
Semua anggota keluarga yang keluar dari rumah juga dikawal dengan ketat, setidaknya selalu ada tiga sampai empat orang pengawal. Tapi setiap kali ia bertanya pada suaminya, lelaki itu tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan.
"Tidak ada apa - apa, mungkin setelah ini mereka akan berlatih bersama sahabat mu," jawab Morgan dengan asal.
Namun yang namanya firasat memang tidak bisa dibohongi. Eylina sering merasa tingkah suaminya menjadi aneh dan sangat posesif sejak ia keluar dari rumah sakit.
Ia sekarang tidak diperbolehkan keluar rumah sendirian. Bahkan meski sudah ada Sista sekalipun. Jangankan keluar dari lingkungan kediaman, berada di halaman yang terbuka saja tidak diperbolehkan, kecuali di taman belakang.
Tapi tidak ada gunanya juga dia bertanya jika Morgan tidak mau membagi informasi ini padanya.
Melihat istrinya yang seperti kecewa setelah mendengar jawaban darinya, Morgan pun berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membuat istrinya takut jika mengetahui situasi beberapa bulan terakhir ini.
"Oh iya, kau belum kenal teman - temanku kan? Mereka sangat lucu, kau masih ingat Willy? Dia adalah orang yang sangat menjengkelkan. Rey bahkan membencinya, karena di dalam pikirannya hanya ada uang dan uang. Dia tidak pernah punya pasangan, sama seperti Rey. Satu lagi temanku yang bernama Aaron, dia sangat gila! Bayangkan saja, dia berumur sama denganku tapi mencintai wanita yang lebih tua darinya. Itu konyol sekali bukan? Oh ya, ada lagi temanku yang namananya Alex. Dia kebalikan dari Aaron, Alex lebih suka gadis yang usianya jauh dibawahnya ...." Morgan berbicara panjang lebar, kesana kemari dengan penekanan - penekanan yang seperti dibuat - buat.
Sungguh dia tidak pandai membujuk, akhirnya ia memilih untuk mengakhiri segala ocehannya yang terdengar garing.
Hhh ... maafkan aku Eylina. Tapi kau tidak perlu tahu sisi lain kehidupan keluargaku yang menegangkan.
__ADS_1
Untuk sesaat suasana menjadi canggung antara dirinya dan istrinya.
"Kenapa ceritanya berhenti?" tanya Eylina mencairkan suasana.
"A ... apa? Apa kau tertarik dengan hal yang ku ceritakan tadi?"
"Tentu, kau bisa ceritakan apapun padaku. Bukankah aku adalah istrimu? Yang artinya aku adalah bagian darimu?"
Kata - kata Eylina benar - benar membuat Morgan menjadi terdiam. Wanita di hadapannya adalah bagian dari hidupnya, tapi salahkan jika ia hanya ingin membagi hal yang membahagiakan saja pada istrinya?
Lelaki itu menggandeng tangan Eylina dalam diam. Mereka berjalan mengelilingi bangunan besar itu setelah selesai berbelanja di toko pakaian tadi.
Eylina juga membeli sebuah ponsel baru untuknya dan satu lagi yang akan dia berikan untuk sahabatnya.
Morgan dan Eylina lalu pulang setelah mengisi perutnya di salah satu restoran yang ada disana.
Namun baru saja ia sampai di batas ruang tamu dan ruang keluarga, ia mendengar suara orang berbicara di sana. Eylina pun menghentikan langkahnya.
"Mama harap menantu yang Papa banggakan itu tidak membuat malu keluarga kita!" kata Ayu dengan nada emosi.
"Maksud Mama apa sih, Ma?"
"Bella saja yang baru menikah dua bulan lalu, sudah hamil sekarang. Sedangkan menantu Papa?"
__ADS_1
"Mama, setiap orang itu pasti berbeda. Morgan dan menantu kita juga sedang berusaha. Kita doakan saja yang terbaik, Eylina juga kan harus benar - benar pulih dulu, Ma. Jangan terus memojokkannya! Lagipula usia pernikahan mereka juga belum lama, kan?"
Ayu menghela napasnya, ia lalu membenarkan posisi duduknya.
"Mama tau, tapi seharusnya dia juga bisa seperti Bella, bisa sangat membanggakan," katanya lirih.
Eylina yang mendengar percakapan mertuanya itupun menundukkan kepalanya.
Sakit memang, bahkan hingga saat ini pun ibu mertuanya masih sering menunjukkan sikap tidak suka padanya. Walaupun tidak separah dulu, tapi tetap saja hal inj menjadi beban bagi dirinya.
Eylina melangkahkan kakinya dengan gontai menuju kamarnya dan meletakkan barang belanjaannya begitu saja diatas sofa.
Ia melihat kalender yang ada di atas nakas. Beberapa bulan ini ia selalu melingkari tanggal - tanggal setiap dia mengalami menstruasi, sebagai penanda.
Eylina mengusap perutnya yang datar dan tersenyum. Semoga saja Tuhan segera memberinya berkah yang bernyawa di dalam rahimnya.
Saking terlarutnya dalam lamunan, ia sampai tak menyadari jika suaminya telah berdiri di dekatnya. Hingga sebuah tangan kekar menempel ditangannya yang sedang memegangi perutnya, barulah ia sadar.
"Sayang? Kapan kau datang?" tanyanya gugup dan heran.
"Kau pasti melamun, kan?"
"Ehm ... tidak, aku hanya sedang memeriksa kalender bulanan ku saja."
__ADS_1
"Jangan terlalu dipikirkan! Apa kau lupa perkataan dokter Mira? Kau harus bahagia, bahagia dan bahagia, agar bisa menghasilkan keturunan yang sehat," kata Morgan seraya menjatuhkan dirinya di samping istrinya dan memeluk pinggang rampingnya.
💗💗💗💗💗💗