
"Kau mau makan?" tanya Morgan.
Eylina pun mengangguk,keduanya lalu sama - sama tersenyum. Ada sebuah perasaan yang membuncah antara satu sama lain diantara keduanya.
Morgan lalu menoleh pada sekertarisnya, "Rey, ambilkan makanan Eylina!" perintah kemudian.
Rey menganggukkan kepalanya dan langsung membawakan makanan yang di bawanya dari rumah tadi. Ia menyerahkan bubur spesial itu ke tangan Morgan.
Suami Eylina itu pun melakukan tugasnya dengan senang hati. Ia menyuapkan sendok demi sendok hingga bubur itu hampir tandas, hanya tersisa sedikit saja.
Masakan dari rumah memanglah terasa berbeda. Rasanya sangat khas sekali, entah bagaimana koki - koki itu melakukannya. Bahkan bubur yang dibeli dari hotel tadi sore pun rasanya tidak ada apa - apanya jika dibandingkan dengan yang buatan rumah ini.
Tepat setelah Eylina selesai dengan makan malamnya, dua orang perawat kembali datang. Mereka membawa nampan kecil yang berisi obat dan vitamin khusus untuk Eylina.
Mereka memberikan obat tersebut untuk diminum Eylina, lalu menyuntikkan sebuah cairan juga ke dalam selang infus yang tertancap di punggung tangan Eylina.
Gadis itu merasakan nyeri bercampur sedikit panas di dalam kulitnya, meski perawat itu melakukannya dengan sangat hati - hati. Ia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya.
"Suster, aku merasa tidak nyaman dengan benda ini, bisakah kalian melepaskannya?" Eylina menunjuk bagian bawah tubuhnya yang terpasangi selang kateter.
"Sabar ya Nona, besok jika Nona sudah bisa duduk dan berdiri, serta bisa berjalan ke kamar mandi, kami akan melepaskannya."
"Begitu ya? Baiklah, terimakasih."
"Sama - sama, Nona. Kami permisi dulu." Kedua perawat itu pun pamit dari hadapannya. Mereka juga menunduk sopan pada orang - orang yang sedang ramai duduk di sofa yang ada disudut ruangan.
Eylina memainkan bibirnya, monyong ke kanan dan ke kiri. Ia sesekali juga menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Menatap sekelilingnya, lalu menatap keluar jendela.
Gadis itu sedang bosan. Tentu saja, ia hanya terbaring disini dari tadi pagi. Tidak bisa kemana - mana. Tidak bisa mandi, tidak bisa berbuat apa pun. Bahkan mau makan dan minum saja harus mengandalkan orang lain.
"Kau kenapa?" Morgan yang sedari tadi mengamati ekspresi Eylina pun akhirnya membuka suara.
__ADS_1
"Tidak apa - apa, sayang." Eylina menyunggingkan senyum lebarnya. Seperti saat ia masih ditindas Morgan saat itu. Dan Morgan tau itu adalah sebuah sandiwara.
"Apa kau bosan?"
"Hemm," gadis itu mengangguk dengan sorot matanya yang sendu.
"Sabar ya, setelah kau sembuh aku akan membawamu kemanapun kau mau. Mmm ... apa kau mau sesuatu? Ah ... aku tau, aku akan menceritakan sebuah kisah untukmu, bagaimana?"
"Memangnya aku anak kecil?" Eylina menatap suaminya seraya menautkan kedua alisnya.
"Jadi kau tidak mau? Ya sudah, sayang sekali. Padahal ini adalah kisah yang sangat bagus. Tapi karena kau tidak mau mendengarnya, jadi ku simpan sendiri saja." Morgan kemudian mencebik.
Kisah apa sih? Ada - ada saja ...
"Baiklah, coba ceritakan! Aku akan mendengarnya," kata Eylina seraya memencet - memencet pipi suaminya.
"Oke, dengarkan baik - baik! Suatu hari ada seorang gadis yang keras kepala, tapi dia adalah seorang yang pekerja keras. Saat itu, sepertinya Tuhan sedang mengujinya. Tuhan memberinya sebuah masalah, yang mungkin itu adalah puncak dari segala masalahnya. Gadis itu kebingungan, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Dan pada akhirnya temannya menawarkan sebuah ide bla ... bla ... bla ...."
Morgan bercerita panjang lebar seperti seorang ayah kepada anaknya. Sementara Eylina menyimak cerita itu dengan seksama. Namun semakin di dengar, cerita itu semakin mirip dengan jalan hidup yang dijalaninya sendiri. Mulai dari awal masalahnya, bertemu suaminya, diselamatkan oleh Rey, menikah, dan lainnya. Ia pun akhirnya menutup mulut Morgan dengan telapak tangannya saat mendengar jika lelaki kaya yang diceritakan Morgan itu telah menyimpan sebuah perasaan pada gadis yang diceritakan suaminya tadi.
tanyanya menyelidik.
"Kau benar, itu adalah kisah kita. Kisah yang paling indah sepanjang hidupku," jawab Morgan dengan tersenyum seraya mengetuk pelan hidung mancung istrinya.
"Jadi kau diam - diam sudah tertarik padaku?" goda Eylina. Sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Benar sekali Nona cantik, aku tertarik padamu, dan sekarang aku semakin tergila - gila padamu. Jangan pernah terpikirkan untuk meninggalkanku ataupun mengakhiri hubungan denganku, karena sampai akhir nafasku pun aku tidak akan mengijinkannya, kau tahu?"
Morgan membelai anak rambut Eylina yang sedikit berantakan serta menggenggam dan menciumi punggung tangannya.
"Terimakasih sudah memungut ku dan mencintaiku." Eylina berkata dengan sorot matanya yang terlihat seperti dilapisi kaca, yang sekali saja di kedipkan maka cairan bening itu akan tumpah dari matanya.
__ADS_1
Dipikirkan seperti apapun, memang perjalanan hidupnya sungguh tidak masuk di akal. Ia yang selama ini berada di lingkungan masyarakat dengan kasta paling rendah, yang bahkan tidak berani bermimpi dan mengharapkan dilirik oleh kaum bangsawan. Tapi entah bagaimana bisa Tuhan mempertemukannya dengan seorang yang bahkan seperti seorang pangeran kerajaan, yang sangat digilai oleh banyak wanita dari kalangan kelas atas.
Mustahil! Hanya itu yang ada dibenak Eylina selama ini. Tapi nyatanya dia sendiri justru mengalaminya. Dari sekian banyaknya wanita, justru ia yang terpilih. Dia yang dinikahi, meski perjalanan awalnya sungguh tidak menyenangkan. Tapi kenyataannya kini tuan muda tampan itu telah jatuh cinta padanya. Memperlakukannya bak seorang ratu, apa yang yang ia inginkan, kini bisa ia dapatkan hanya dengan menjentikkan jari saja.
Eylina tertegun dan menatap kosong ke langit - langit kamar itu. Hingga sebuah sentuhan lembut di pipinya membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan menatap suaminya.
"Aku mencintaimu Eylina dan aku tidak akan pernah bosan untuk mengatakannya." Morgan menatap mata hitam Eylina dengan penuh arti.
Mereka hanyut dalam perasaan mereka masing - masing, hingga tak menyadari jika ada seseorang yang berdiri di dekat mereka.
"Papa senang melihat kalian seperti ini."
Morgan dan Eylina sontak saja menoleh ke arah sumber suara.
"Papa? Sejak kapan Papa disini?" tanya Morgan.
"Baru saja, tapi Papa cukup bisa mendengar apa yang kalian ucapkan."
Perkataan Wira membuat putra dan juga menantunya memerah pipinya.
"Papa berharap kalian bisa menjaga komitmen kalian sampai rambut kalian sama - sama memutih nanti, bahkan walaupun salah satu dari kalian telah pergi. Papa harap, apa yang ada dalam hati kalian tetap terjaga dan tetap suci." Wira menepuk bahu Morgan kemudian meraih kedua tangan sejoli yang sedang saling menggenggam itu.
"Pernikahan itu suci, Nak. Papa harap kalian bisa menjaga kesucian itu sampai maut memisahkan. Jangan pernah untuk mencoba bermain - main, ataupun keluar dari poros ikatan kalian. Karena sekali kalian keluar, kalian akan susah untuk kembali pada poros yang tepat seperti semula. Kau paham, Morgan? Menjaga apa yang telah kita miliki itu jauh lebih susah, Nak. Lain halnya ketika kita masih mengejarnya. Ketika hal itu belum kita dapatkan, maka kita akan terus mengejarnya sekuat tenaga untuk bisa mendapatkannya. Tapi ketika sudah menjadi milik kita, sering kali kita akan dihinggapi rasa bosan. Perjalanan awal kalian baru dimulai, dan perjalanan itu masih sangat panjang dan jauh sekali. Papa harap kalian bisa saling memahami, dan juga bisa bersabar serta saling menjaga komunikasi diantara kalian dengan baik. Karena seringkali sebuah hubungan yang telah terjalin bertahun - tahun itu kandas hanya karena kurangnya komunikasi."
Wira menatap kedua orang itu secara bergantian.
"Terimakasih, Pa. Morgan tau hal itu. Papa juga pasti tau Morgan orang yang seperti apa. Morgan akan menjaga istri Morgan dengan seluruh hidup Morgan." Lelaki itu bukan hanya meyakinkan Papanya dan juga istrinya, ia juga meyakinkan dirinya sendiri.
"Baguslah kalau begitu. Ya sudah, Papa dan yang lainnya mau pulang dulu. Eylina, jaga dirimu baik - baik! Cepat sembuh dan segeralah kembali ke rumah." Pria paruh baya itu tersenyum.
Eylina mengulurkan tangannya pada mertuanya. Ia lalu menyalami dan mencium punggung tangan lelaki paruh baya itu.
__ADS_1
Hal inilah yang tanpa Eylina sadari, telah menjadi nilai lebih pada dirinya. Salah satu hal yang membuat Wira kagum pada Eylina. Gadis itu sangat sopan dan sangat menjaga norma - norma kesopanan tersebut. Hal yang jelas tidak pernah ia temukan dalam diri gadis - gadis bangsawan yang bahkan tingkat derajatnya jauh diatas Eylina.
💗💗💗💗💗💗