
Hari yang ditunggu oleh Eylina pun akhirnya tiba. Pagi ini semua telah dipersiapkan dengan baik. Ia pun juga sudah bersiap - siap sejak tadi. Eylina tengah berdiri di depan cermin dan memulas wajahnya dengan make up tipis.
Ia tersenyum kearah cermin. Ya, tersenyum dengan bayangannya sendiri. Eylina memandang takjub pada pantulan dirinya yang nampak anggun di dalam cermin. Mungkin benar apa yang dikatakan suaminya, ia kini menjadi jauh terlihat cantik dengan kulitnya yang bersinar.
Gadis itu lalu membalikkan badan dan berjalan ke arah tempat tidur.
"Sayang," panggilnya dengan lembut, Eylina duduk di tepi tempat tidur dan sedang berusaha membangunkan suaminya. Tangannya menepuk pipi Morgan dengan pelan. Tapi bukannya bangun, lelaki itu justru hanya menggeliat dan malah menarik pinggang Eylina lalu melingkarkan tangannya disana. Morgan menenggelamkan wajahnya di pangkuan Eylina.
"Sayang, ayolah ... kita harus kerumah sakit kan?" bujuk Eylina seraya membelai lembut kepala suaminya. Mengusap lembut pipinya dan memainkan jemarinya disana. Menusuk - nusuk pipi suaminya yang terasa sedikit empuk dan kenyal itu.
Mendengar hal itu Morgan langsung membuka matanya dan menengadahkan wajahnya. Lelaki itu nampak imut dengan wajahnya yang benar - benar masih menahan kantuk. Ia bereaksi seperti seorang balita yang manja pada ibunya. Dengan sedikit malas, Morgan pun duduk dan memeluk istrinya dari belakang. Pria yang masih mengantuk itupun menopangkan dagunya di atas bahu Eylina.
"Maaf, aku sedikit lupa," katanya dengan mata yang kembali terpejam. Sementara tangannya menyusup di balik blouse yang dipakai Eylina. Jemarinya bergerilya menyusuri perut ramping Eylina dan berhenti pada dua buah benda yang terbungkus kain. Lelaki itu memainkan dua buah benda kesukaannya.
"Emmhh ... sayang, ayolah hentikan!" pinta Eylina dengan manja seraya berusaha menghentikan aksi suaminya.
"Sebentar saja, biarkan aku memainkannya! Kenapa semakin lama rasanya bagian ini semakin halus saja? Kau pakai apa?" Morgan membuka matanya dan menciumi perpotongan leher Eylina. Hembusan nafasnya terasa sangat hangat di kulit gadis itu, sehingga membuatnya menggeliat menahan rasa geli.
"Pakai apa lagi? Aku tidak pakai apa - apa lagi selain apa yang sudah kau sediakan,"
"Oya? Kau tidak membeli produk tambahan apapun?"
"Tidak,"
"Jadi kau belum pernah menggunakan kartu debit yang kuberikan padamu waktu itu?" Morgan kembali bertanya. Tangannya masih berada di dalam pakaian istrinya.
Eylina menggeleng. Ia lalu meraih tangan Morgan agar berpindah dari sana. Sentuhan tangan itu membuat Eylina sedikit terbuai. Gadis itu sampai menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak dari dalam dirinya.
"Sayang, cukup!"
"Bolehkah aku meminta satu kali saja?"
"Jangan mengada - ada, sayang! Ayo, cepatlah bersiap - siap!"
"Eemmhh ... baiklah,"
Morgan mengakhiri permainan kecilnya dengan meninggalkan jejak di bahu Eylina.
"Sayang? Sudah kubilang jangan meninggalkan jejak seperti ini," protes Eylina dengan nada manjanya.
"Kenapa? Apa kau takut orang lain tahu kalau kau sudah bersuami?"
"Bukan begitu, aku hanya malu jika Papa dan Mama melihatnya."
"Oya? Bukan karena malu pada Rey atau laki - laki lain?"
"Ck ... hey, pria aneh! Sudah cukup ya, kenapa kau selalu menuduhku sembarangan. Bagaimana jika aku mewujudkan tuduhan mu itu, hah?" kata Eylina seraya berdiri dan berkacak pinggang di depan suaminya. Ia berbicara dengan nada sok galak, kemudian menarik hidung Morgan.
"Berani sekali kau bersikap galak seperti itu, hem?" Morgan menarik istrinya dan merebahkannya di atas tempat tidur.
"Hahaha ... sayang, aku hanya bercanda. Lepaskan aku!" Eylina mencoba memberontak.
__ADS_1
"Bercanda? Benarkah? Tapi kau membuatku tersinggung,"
Morgan menind*h dan mengunci tubuh Eylina dengan kedua tangannya. Membuat gadis itu tak bisa bergerak lagi. Kemudian ia membungkam dan melum*t bibir ranum Eylina. Morgan melakukan aksinya dengan sedikit brutal karena gemas sekali pada istrinya.
Rasakan kau! Bibirmu itu suka sembarangan sekali kalau berbicara.
Setelah puas merasai bibir istrinya yang manis, ia pun melepaskan gadis itu dan tergelak kencang seraya berjalan ke kamar mandi.
Sementara Eylina memonyongkan bibirnya, karena ulah suaminya penampilannya menjadi sangat kacau sekarang. Pakaiannya tersingkap kemana - mana. Lipstik yang menghiasi bibirnya juga memudar. Akhirnya mau tidak mau ia pun harus merapikan kembali penampilannya.
Setelah semuanya beres, Morgan dan Eylina pun turun kebawah.
Pak Gunawan sudah menunggu di ujung tangga dengan sebuah kotak berisi makanan yang dipesan oleh Morgan.
Lelaki itu tidak sarapan dirumah karena Eylina harus berpuasa sebelum menjalani operasinya. Jadi ia memilih untuk membawa makanan itu diperjalanan.
"Selamat pagi Tuan Muda," sapa kepala pelayan itu seraya menundukkan kepalanya.
"Pagi Pak Gun, apa Rey sudah datang?"
"Sudah Tuan, sekertaris Rey masih di ruang kerja anda, Tuan Muda."
"Baiklah, katakan padanya aku sudah siap!"
"Baik Tuan," Pak Gun bergegas melaksanakan perintah Morgan.
"Pak Gun, kotak makannya biar saya bawa." Eylina menghentikan langkah kepala pelayan itu.
Eylina dan Morgan menunggu di ruang keluarga. Sementara anggota keluarga yang lain sedang sarapan di ruang makan.
Tak berselang lama setelah itu, sekertaris Rey pun datang.
"Selamat pagi Tuan Muda, selamat pagi Nona," sapa sekertaris Rey.
"Mmm ... kau sudah siapkan mobilnya, Rey?"
"Sudah Tuan, apakah Tuan ingin berangkat sekarang?"
"Ya, tentu saja." Morgan lalu berdiri dan menggandeng Eylina keluar rumah. Sementara Rey mengekor dibelakang Tuan Mudanya.
Setelah sampai dihalaman, Eylina pun langsung masuk ke dalam mobil. Sedangkan suaminya masih berada diluar bersama Rey. Mereka terlihat berbincang - bincang dan nampak sedikit serius. Namun Eylina tak bisa mendengar apapun yang mereka bicarakan.
Tak lama setelah itu kedua lelaki itupun masuk ke dalam menyusul Eylina. Rey melajukan mobilnya setelah memastikan semuanya dengan baik.
Mobil yang mereka tumpangi pun semakin menjauh dari kawasan rumah. Eylina meremas jemarinya dengan gelisah. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dalam pelukan suaminya.
"Ada apa?" tanya Morgan kemudian.
"Tidak apa - apa sayang," jawab Eylina, gadis itu mendongak dan tersenyum. Tapi terlihat jelas dimata Morgan, jika gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kau pikir aku bodoh begitu?" kata Morgan, tangannya memencet dan menarik hidung Eylina. "Apa yang kau sembunyikan?"
__ADS_1
"Sayang sudah kubilang, aku tidak apa - apa? Aku hanya sedikit gugup saja."
"Benarkah? Ya sudah ... tenangkan dirimu! Semua akan baik - baik saja," kata Morgan sambil mengusap lembut kepala Eylina serta menciumi keningnya.
"Oh iya ... kenapa Sista tidak ikut bersama kita? Kau bilang dia bodyguard ku. Seharusnya dia selalu ada disisi ku, kan?"
"Rey sedang memberinya tugas khusus. Nanti juga dia akan menyusul," jawab Morgan dengan tanpa beban. Lelaki itu menatap lurus kedepan.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Hingga mobil yang mereka tumpangi memasuki area rumah sakit yang merupakan rumah sakit terbaik di kota itu.
Beberapa perawat sudah nampak berjaga di depan loby dengan membawa kursi roda. Mereka langsung menyambut kedatangan Eylina saat gadis itu turun dari mobil.
Kenapa pakai kursi roda segala sih? Aku bisa berjalan sendiri, kan? Bahkan bisa berlari. Dia ini memang terlalu berlebihan sekali!
"Sayang, aku berjalan sendiri saja ya?" tawar Eylina. Ia berbisik ditelinga suaminya. Namun bukannya mendapat jawaban yang diinginkan, Eylina justru mendapat tatapan tajam dari suaminya.
"Jika kau tidak mau menurut, aku bahkan akan menggendong mu masuk ke dalam sana," ancam Morgan dengan berbisik. Membuat Eylina sedikit terkejut. Gadis itu kemudian menghela napas panjang dan menghembuskannya. Ia lalu melangkah dengan pasrah dan duduk di kursi roda yang dibawakan oleh perawat tadi.
Morgan mendorong kursi roda itu, sementara Rey bertugas membawakan tas Eylina. Jangan dibayangkan! Ini sungguh keterlaluan, padahal bisa saja tas itu diletakkan dipangkuan Eylina. Tapi Morgan justru menyuruh lelaki malang itu untuk menentengnya. Dengan alasan jika istrinya tidak boleh membawa beban berlebihan.
Lorong yang sedikit panjang telah mereka lewati. Hingga akhirnya sampailah di ruangan dokter Mira. Seperti yang sebelumnya, dokter Mira menyambut kedatangan mereka di depan ruangannya dengan senyum yang lebar.
"Selamat pagi Nona Eylina, selamat pagi Tuan Muda," sapanya.
"Pagi Dok," jawab Eylina seraya tersenyum.
"Mari - mari ... silahkan masuk." Dokter Mira merentangkan sebelah tangannya dan mempersilahkan Morgan serta istrinya untuk masuk.
"Bagaimana Nona, anda sudah siap?" tanya dokter Mira dengan ramah setelah ia duduk di kursinya.
"Tentu saja Dokter," jawab Eylina dengan mantap, ia juga mengulas senyum manisnya.
Eylina sempat melakukan penawaran saat itu. Dia meminta agar jadwal operasinya dimundurkan hingga dirinya siap. Lalu setelah berpikir panjang, kemudian gadis itu meminta untuk dibuatkan jadwal operasi kembali. Dan sekarang, hari yang telah diminta oleh Eylina itupun tiba.
"Baiklah, kita tunggu sebentar lagi ya? Ruangan operasi sedang disiapkan."
"Suster, bawa Nona Eylina ke ruangan VVIP, agar Nona bisa beristirahat dulu disana," perintah dokter Mira.
"Permisi Tuan Morgan," kata Suster itu. Ia hendak meraih gagang kursi roda Eylina.
"Tidak perlu! Aku yang akan mendorongnya sendiri."
"Baik Tuan,"
Suster itu pun kemudian menuruti perintah Morgan. Ia berjalan mengekor dibelakang Morgan yang tengah mendorong Eylina ke ruangan perawatan VVIP. Ruang perawatan khusus yang hanya diperuntukkan bagi anggota keluarga Wiratmadja.
💗💗💗💗💗💗
Bersambung dulu teman - teman, ruang operasinya masih disiapkan 🤭
Eh bukan ... bukan ...😁 tapi tangan thor yang lagi capek ngetiknya ✌️
__ADS_1